
Tiga hari sudah Zafira dan Fariz menghabiskan waktu di rumah mama Laras.
Hari ini mereka berencana menginap di rumah mama Tina. Karena jarak rumah keduanya tidak berjauhan. Hanya memakan waktu beberapa menit, jadi kedua pengantin baru itu sepakat untuk bergantian menginap di rumah orang tua Fariz.
Betapa bahagianya mama Tina serta papa Rico melihat kedatangan anak serta menantu kesayangannya.
Seperti biasa, setiap ke rumah mama Tina, Zafira selalu mencium tangan, pipi serta memeluk wanita sahabat karib mamanya itu.
Sama seperti yang terlihat hari ini, tanpa sungkan Zafira langsung mencium dan memeluk sahabat mama yang saat ini telah menjadi mama mertuanya.
"Assalamu'alaikum tante. Bagaimana kabar tante?," ucap Zafira memberi salam.
"Wa'alaikumsalam sayang. Alhamdulillah baik. Tapi ada yang aneh..," sahut Tina melepas pelukan.
"Apanya yang aneh tante?," Zafira menundukkan kepala mengamati seluruh anggota tubuhnya. Mulai dari tangan, perut hingga kaki. Gadis itu tidak menemukan satu pun keanehan dari dirinya.
"Mengapa panggilan tante masih saja kamu pakai? Tante sekarang adalah mama mertuamu dan sudah menjadi mamamu sendiri. Jadi panggilanmu pun harus diganti menjadi mama," pinta mama Tina memberi penjelasan pada menantu cantiknya itu.
"Ooh, iya, hehe, hehe," Zafira tertawa kikuk, mengelus-elus rambutnya sendiri sambil melirik suaminya yang berdiri di samping, yang dilirik hanya mengangkat bahu. Zafira merasa tidak enak kepada mertuanya.
"Baiklah, mama. Mulai hari ini Zafira tidak akan memanggil tante lagi," ucapnya masih dengan tertawa kaku yang membuat Fariz menjadi ikut tertawa melihat kekikukan dari gestur tubuh sang istri.
"Nah, itu baru benar," mama Tina tersenyum penuh suka cinta.
Mama Tina memandangi anak serta menantunya secara bergantian dengan sorot mata memancarkan kebahagiaan. Fariz akhirnya dapat mewujudkan mimpinya, hidup bersama gadis yang sangat dicintai yang telah dinantikan hampir seumur hidupnya. Hal itu yang membuat mama Tina merasa sangat bahagia, tidak pernah berhenti mengucap syukur kepada Allah karena telah memberikan satu kebahagiaan yang teramat besar untuk sang putra.
Setelah tiga hari berada di rumah mama Tina, kedua pengantin itu pun pamit untuk pulang ke rumah mereka.
*****
Tak terasa, sepuluh hari telah berlalu. Masa pacaran setelah menikah antara Zafira dan Fariz sudah menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Keduanya semakin dekat dan mulai lebih berani untuk saling menyentuh satu sama lain. Walaupun hanya sentuhan-sentuhan kecil seperti saling menggenggam tangan di saat mau tidur. Saling membelai rambut bahkan pipi di saat sedang berada di atas tempat tidur. Tetapi untuk sebuah ciuman belum juga terwujud. Fariz masih takut melakukannya. Takut melanggar janjinya kepada sang istri.
__ADS_1
Selama sepuluh hari pun, Zafira dan Fariz tetap tidur satu ranjang dengan selimut yang sama. Hanya saja keduanya masih belum melakukan apapun. Fariz masih bersabar menunggu kata siap dari sang istri, sedangkan Zafira terus memupuk hati untuk menumbuhkan benih cinta untuk sang suami. Meskipun keduanya belum melakukan hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri, tetapi setidaknya mereka telah jauh lebih intim. Saat tidur pun, tak jarang Fariz memeluk tubuh Zafira. Dan yang lebih membahagiakan lagi, Zafira tidak satu kali pun berusaha menepis apalagi menolak pelukan Fariz. Dia membiarkan saja tubuhnya disentuh sang suami jika hanya sebatas memeluk dan merangkul. Sengaja membiarkan dan memberi kebebasan kepada Fariz untuk menyentuhnya, itu merupakan salah satu cara bagi Zafira agar cepat menumbuhkan getar-getar cinta di hati kepada suaminya.
Dan ternyata usaha Zafira sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Hatinya selalu berdesir tiap kali bersentuhan dengan Fariz. Apalagi di saat merasakan pelukan Fariz, dia mengakui kehangatan menyebar di sekujur tubuhnya dan debaran pun mengalun indah dari balik dinding hatinya.
Berbeda sekali saat mereka masih menjadi sahabat. Perasaan berdesir serta berdebar itu tidak pernah dia rasakan. Murni rasa kepada sahabat. Hanya saat kejadian di tepi danau beberapa bulan lalu mengingatkan Zafira tentang sesuatu. Ya, dia ingat saat itu, perasaan aneh mulai muncul di hatinya saat mendengarkan degup jantung Fariz untuk pertama kali. Tetapi perasaan itu menguap dan menghilang begitu saja dikarenakan perhatiannya selalu teralihkan karena adanya Ronald. Namun saat ini, setelah sepuluh hari menikah dengan sahabatnya itu, perasaan nyaman, damai, degup jantung yang keras serta debaran aneh di hati semakin besar bertumbuh, menjalar, mengaliri setiap denyut nadinya.
Sementara Fariz yang semakin hari merasa semakin bebas menyentuh tubuh gadis itu, semakin memiliki keyakinan, bahwa tidak lama lagi, dia pasti akan mendapatkan semuanya. Hati, cinta, tubuh Zafira. Fikiran itulah yang selalu membuatnya bisa tetap bersabar menunggu Zafira dengan tulus ikhlas menyerahkan segala miliknya kepada suaminya.
Seperti yang terlihat pagi ini. Suami istri itu sudah bersiap akan berangkat kerja. Keduanya sudah mulai menjalankan aktivitas seperti semula. Ini hari pertama mereka masuk kerja kembali setelah lebih dari satu minggu cuti.
"Mulai hari ini, aku yang akan menjadi sopirmu. Setiap berangkat dan pulang kerja, aku yang akan mengantar dan menjemputmu. Aku tidak mau membiarkan istriku lelah harus menyetir sendiri," ucap Fariz ketika dalam perjalanan mengantar Zafira ke kantor.
"Terima kasih Fariz. Kamu memang sangat baik," ucap Zafira mengangguk, tersenyum sesaat melihat ke arah suaminya.
Semakin bertambahnya usia pernikahan mereka, gadis itu semakin memahami sifat serta karakter Fariz. Gadis itu merasa, Fariz seorang laki-laki sempurna. Suami yang tidak tergantikan dengan laki-laki mana pun di dunia ini. Baik, lembut, perhatian, mapan, tampan, setia dan yang paling utama, memiliki cinta yang begitu besar untuk dirinya. Semua itu telah membuat hati Zafira mulai luluh dan semakin menyayangi Fariz dari ujung rambut hingga kaki. Saking sayangnya kepada sang suami, dia tidak ingin menggores luka sedikit pun di hati pria itu. Hatinya kian terikat dan tidak dapat lepas dari sosok yang telah banyak memberinya cinta serta kasih sayang. Hari-harinya terasa semakin indah sejak menikah dengan pria bermata teduh itu. Dan Zafira pun semakin yakin, kalau pilihan mama serta keluarganya merupakan pilihan yang sangat tepat dan bisa membuatnya bahagia seumur hidup.
Dua puluh menit menempuh perjalanan dari rumah, gadis itu pun telah sampai di gedung pencakar langit, dimana perusahaan milik keluarganya berada.
"Aku masuk dulu ya," ucapnya pamit kepada sang suami dengan senyuman begitu hangat, lalu memutar tubuh hendak meninggalkan Fariz yang masih berdiri di samping mobil.
"Apakah kamu melupakan sesuatu?," pertanyaan Fariz sontak menghentikan langkah gadis berpostur tubuh tinggi itu. Zafira menoleh, lalu memutar kembali tubuh menghadap sang suami.
"Apa? Tasku sudah kubawa. Handphone-ku sudah ada di dalam tas. Dan kotak makan siangku pun sudah aku bawa," gadis itu mengangkat sedikit ke atas paper bag yang ada di tangannya, menunjukkan kepada Fariz.
"Terus, apa lagi yang aku lupakan?," Zafira bertanya bingung.
"Kamu melupakan tanganku," ucap Fariz mengangkat tangannya dan mengulurkannya ke hadapan Zafira.
Reaksi tertegun sangat jelas terlihat di wajah Zafira. Dia faham maksud Fariz. Fariz benar, dia melupakan hal yang satu itu.
"Ini hari pertama kita masuk kerja setelah lebih dari satu minggu cuti. Kalau kamu tidak keberatan, mulai hari ini setiap kamu berangkat dan pulang kerja, jangan pernah melupakan tanganku," sambung pria itu kembali yang membuat Zafira menganggukkan kepala tanda mengerti.
__ADS_1
Tanpa ragu-ragu Zafira segera meraih tangan suaminya lalu menempelkan di antara hidung dan bibir.
Fariz sangat senang mendapati sikap Zafira yang sudah banyak perubahan. Zafira sudah tidak sungkan-sungkan lagi untuk membungkukkan tubuh di hadapannya demi menjalankan kewajiban seorang istri, mencium tangan suaminya sebagai rasa hormat dan patuh kepada suaminya.
Tatkala Zafira tengah menunduk mencium tangan kanannya, di saat itu tangan kiri Fariz bergerak menyentuh kepala Zafira. Mengelus lembut rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih sudah menjadi istri yang baik untukku. Selamat bekerja. Jangan terlalu lelah. Nanti sore aku akan menjemputmu kembali," pesan Fariz kemudian.
"Iya. Kamu juga jangan telat makan. Wadah nasimu ada di jok belakang. Mulai hari ini, setiap hari aku akan memasakkanmu untuk makan siangmu di kantor. Aku hanya akan libur memasak saat kamu ingin makan siang denganku di luar," ujar Zafira menjelaskan.
Zafira baru ingat, dia belum memberitahukan kepada Fariz perihal bekal makan siang yang setiap hari akan dia persiapkan untuk pria itu.
Tadi selesai shalat Subuh, Zafira bergegas ke dapur dan mulai memasak yang pastinya dibantu oleh pelayan setianya, bi Senah. Rupanya gadis itu benar-benar menepati janjinya. Dia memasak dalam porsi banyak untuk semua pekerja di rumahnya. Empat orang. Bi Senah dan mang Karman serta satu orang Security dan pelayan wanita yang baru saja datang ke rumah mereka dua hari lalu atas perintah Fariz. Dimana dua orang tersebut masih saudara bi Senah dan mang Karman.
"Apa?," mata Fariz membulat.
"Kamu memasakkanku untuk makan siangku di kantor?," tanya pria itu tidak percaya.
"Iya? Memangnya mengapa? Kamu tidak mau? Malu seorang Direktur Utama membawa bekal makan siang ke kantor? Ya sudah kalau kamu malu. Aku akan mengambilnya dan memberikan pada Zafran," Zafira berjalan mendekati mobil dan hendak membuka pintu mobil.
"Eeh, kamu mau apa? Mengapa mau mengambil makananku? Aku akan memakannya di kantor," Fariz menahan Zafira yang hendak membuka handle pintu lalu pelan menarik tubuh gadis itu dan menyandarkannya di mobil.
"Dug, Dug, Dug"
Serentak jantung mereka sama-sama berpacu keras. Desiran darah mengalir semakin deras. Kepala keduanya bertemu, nyaris menempel. Hanya terpisah tujuh centi meter. Kepala Zafira terdongak melihat pria di atas wajahnya. Sedangkan kepala Fariz tertunduk menatap gadis yang telah tersandar di body mobil.
Sepasang mata indah Zafira menatap lekat manik mata pria di depannya yang juga sedang menatap tak berkedip kepadanya. Nyanyian hati pun kembali berdendang di antara kicauan burung di pagi hari. Bernyanyilah kau hati. Senandungkanlah kidung cinta yang indah agar rasa yang bersemayam di dalam dada semakin bersemi lalu tumbuh bermekaran di taman hati.
"Zafira, kamu cantik sekali. Aku sangat mencintaimu..," suara Fariz terdengar memburu menatap semakin sayu gadis yang berada di bawah kungkungannya.
...*******...
__ADS_1