
Fariz yang masih berloncatan seperti orang gila seketika menghentikan gerakan, dengan nafas agak tersengal berjalan mendekati Zafran.
"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Zafira sampai membatalkan pernikahannya dengan pria licik itu?," pintanya pada Zafran dengan mengatur nafasnya yang masih terlihat turun naik. Menatap serius pada Zafran, dengan sorot mata penuh keingin-tahuan.
Mata Zafran yang sedari tadi terus mengecek jam yang melingkar di tangannya, yang jarumnya kian merapat hampir ke angka delapan, tanpa membuang waktu segera menceritakan semua.
Dari mulai sang papa menyuruh anak buahnya memata-matai Ronald, sampai kejadian tadi di ruang rias saat Citra menemui Zafira dan menceritakan tentang hubungannya dengan Ronald, yang telah memasuki babak yang sangat serius, yakni mengandung anak pria itu. Dan di penghujung cerita, Zafran tidak lupa menceritakan perang dunia ketiga antara Zafira dan Ronald, hingga berakhir dengan pengusiran yang dilakukan Zafran terhadap pria penipu itu.
Mendengar itu, Fariz menjadi terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia tidak menyangka calon ayah mertua serta calon kakak iparnya telah melakukan perjuangan sebesar itu untuknya. Betapa beruntung dirinya memiliki orang-orang sebaik Arga dan Zafran, yang telah menjadi malaikat penolong di detik-detik kehancuran hidupnya.
Tanpa fikir panjang, saking bahagia dirinya, Fariz langsung memeluk Zafran dan dengan sekuat tenaga mengangkat ke atas tubuh sahabatnya itu. Sehingga kini tubuh Zafran yang besar dan tinggi menjadi terangkat ke atas seperti seorang ayah menggendong buah hatinya. Mengangkat tubuh Zafran saja bisa setinggi itu, bagaimana jika nanti Fariz menggendong dan mengangkat tubuh Zafira?
Hmm, bayangkan dulu ahh🤣
Lagi dan lagi Alluna dibuat tercengang dengan kelakuan Fariz. Dia membulatkan mata melihat Zafran yang sudah seperti anak kecil, telah berada di atas udara akibat gendongan Fariz yang teramat tinggi.
Kali ini, gadis itu tidak dapat lagi menahan tawa, sehingga dia pun tergelak dengan sangat keras tanpa menutupi mulutnya seperti yang dilakukan tadi. Gelakan Alluna yang memenuhi seisi ruangan, membuat Fariz tersadar kalau ternyata di sana ada seorang gadis yang tengah menonton aksi mereka.
Fariz seketika menghentakkan dan menurunkan tubuh Zafran begitu saja ke lantai sehingga nyaris membuat tubuh sahabatnya limbung.
"Aku berhutang nyawa padamu, Fran. Terima kasih banyak. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Kamu saudaraku dan juga sudah menjadi malaikatku! Aku benar-benar sangat berterima kasih! Aku bahagia sekali," cerocos Fariz begitu senangnya, tanpa melihat perubahan di raut muka Zafran, yang telah memerah.
"Kurang ajar kamu! Hampir saja aku jatuh!," teriak Zafran berang menatap kesal pada pria yang terus saja tertawa seperti orang gila.
"Jangan marah seperti itu kakak ipar! Kamu harus mengerti, hatiku sekarang sedang bahagia. Sangat, sangat bahagia! Jadi aku tidak berminat melayani kemarahanmu," sahut Fariz santai, tidak peduli dengan bentakan Zafran.
Zafran hanya bisa bersabar, sambil menggelengkan kepala, menarik nafas panjang. Seperti inilah kalau menghadapi orang yang sedang dimabuk cinta. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat geli bahkan marah.
"Sudah! Jangan kebanyakan bicara! Waktunya mepet! Cepat ganti jasmu!," Zafran mendorong keras tubuh Fariz ke arah kamar mandi hingga tubuh Fariz mau tidak mau ikut terdorong hingga masuk ke dalamnya. Zafran lalu menutup kembali pintu kamar mandi dengan rapat.
__ADS_1
Alluna masih berdiri di tempatnya semula sambil tak hentinya tersenyum menonton tingkah kedua sahabat itu. Zafran berjalan ke arah Alluna dan berdiri di samping gadis itu.
"Kamu tidak bosan kan?," Zafran melirik Alluna yang berada di sampingnya sambil menikmati senyuman yang masih tersungging di bibir sang gadis.
"Tidak. Justru sebaliknya. Aku sangat terhibur dengan kelakuan kalian berdua. Benar-benar lucu. Kalian sudah seperti saudara," ucapnya jujur yang membuat Zafran merasa senang karena tanpa harus menjadi badut, dia ternyata bisa menjadi pria penghibur juga untuk gadis itu.
Setelah beberapa menit menunggu, pintu kamar mandi pun terbuka. Dan muncullah seseorang di balik pintu dengan senyum sumringahnya, memakai jas putih serta bawahan putih. Sangat tampan dan menawan.
Dan tanpa menunggu waktu lebih lama, Zafran langsung menarik tangan Fariz, sedikit menyeretnya agar segera meninggalkan kamar dan pergi ke rumah, dimana Zafira berada.
Tetapi pria tampan itu tidak melupakan gadis cantik yang sejak tadi setia menemaninya. Dengan satu tangannya lagi, menyambar cepat tangan Alluna yang masih berdiri di tempat semula, mengajaknya mengikuti langkahnya. Alluna yang mengerti dengan tindakan Zafran pun segera menarik langkah berjalan mengikuti ayunan kaki Zafran.
Ketiganya berlarian, terburu-buru melangkahkan kaki berjalan ke teras rumah.
Dan kembali, Alluna dengan ketulusan hati menjadi sopir cantik bagi Zafran, untuk mengantarkan calon adik iparnya menuju kediaman pengantin wanita.
"Alluna..," panggil Zafran dari samping kemudi.
"Terima kasih sudah bersedia menjemput dan mengantarkan pengantin pria untuk adikku," Zafran berkata tulus, sedikit memiringkan tubuh menghadap ke gadis cantik itu.
"Ya, sama-sama. Aku melakukannya ikhlas. Semoga adikmu serta sahabatmu diberikan keberkahan serta kebahagiaan dalam pernikahan mereka. Aamiin," ucap gadis itu tersenyum dengan wajah yang begitu tenang.
"Aamiin," ucap Zafran, dan terdengar ucapan yang sama dari belakang mereka. Siapa lagi kalau bukan si calon pengantin.
"Sangat baik. Sangat cantik. Aku menyukai gadis seperti kamu. Setelah pernikahan Zafira, aku akan memperkenalkanmu dengan mama dan papa. Aku yakin, mama pasti sangat menyukai gadis sepertimu," bisik Zafran tersenyum menaruh sebuah rasa kepada gadis yang telah mengobarkan perasaan aneh di hatinya.
Sementara di kediaman orang tua Zafira, semua telah diatur serapi dan senyaman mungkin. Zafira telah duduk di kursi mempelai pengantin menunggu kedatangan mempelai pria.
Tidak hanya Zafira, semua tamu sudah duduk rapi menunggu pengantin pria yang belum juga menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
Untuk sebagian tamu, mereka tidak tahu, jika pengantin pria telah berubah nama serta wajah. Biarkan saja, apapun yang akan menjadi pemikiran serta anggapan para tamu, yang penting pernikahan tetap berlangsung meski pun pengantin pria-nya berbeda. Yang jelas, pengantin pria yang saat ini akan menikahi Zafira, adalah sosok yang sangat baik, jauh lebih segalanya daripada pengantin pria yang pertama.
Persis di hadapan Zafira, berseberangan dengannya, ada Arga serta pak Penghulu. Di samping kiri serta kanan kursi mempelai, masing-masing telah duduk saksi dari mempelai wanita, yakni Bram. Dan dari mempelai pria, yakni Tyan. Rico mempercayakan Tyan sebagai saksi mempelai pria karena Rico sudah tidak memiliki saudara kandung. Kakak kandung satu-satunya telah lama meninggal saat Rico masih duduk di bangku SMP.
Zafira duduk lemas. Tertunduk tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Dia terhanyut dengan lamunan yang menyesakkan dadanya. Hati gadis itu merasa resah. Sebenarnya dia merasa tidak bahagia dengan pernikahan yang sebentar lagi akan segera dilaksanakan.
Tadi saat di ruang rias, sang mama, sang papa, sang oma serta sang paman, Bram, telah memberikan begitu banyak wejangan serta puluhan nasehat untuk dirinya agar bersedia menikah dengan Fariz.
Awalnya Zafira menolak pernikahan yang terkesan terburu-buru ini. Dia ingin diberi sedikit waktu, beberapa bulan untuk mempertimbangkan permintaan para keluarga. Namun sang mama mengatakan, tidak ada waktu untuk mempertimbangkan semuanya dalam situasi seperti saat ini. Dimana semua tamu sudah hadir dan menanti acara prosesi akad nikah agar segera dilaksanakan.
Demi meyakinkan hati Zafira, sang mama pun memberikan satu jaminan untuk hidup Zafira ke depan. Laras menjamin hidup Zafira, Insya Allah akan berbahagia setelah menikah dengan Fariz. Dan jikalau suatu hari nanti, Zafira merasa tidak berbahagia dengan pernikahannya, maka Laras adalah orang pertama yang akan menemani serta mendampingi Zafira untuk mengurus gugatan cerai di Pengadilan.
Sebenarnya, Zafira ingin menenangkan hati terlebih dahulu. Namun tidak ada waktu lagi, karena pernikahan harus tetap dilanjutkan meskipun dengan pria lain. Pria pilihan keluarga, bukan pilihan hatinya.
Dia merasa, semua ini seperti mimpi. Rasanya masih tidak percaya dengan kejadian yang hanya dalam hitungan menit telah merubah segalanya.
Dia sama sekali tidak pernah berangan-angan akan menikah dengan Fariz. Jangankan berangan-angan, memikirkan hal itu saja tidak pernah. Namun semua menjadi kian nyata sekarang, setelah detik demi detik jarum jam terus berdetak merapat ke angka delapan. Angka delapan adalah sebuah jawaban, kalau pria yang akan menjadi suaminya adalah Fariz, bukanlah Ronald.
Di saat Zafira tengah tertunduk di kursi pengantin berperang dengan perasaan ragu serta kebingungan, di saat yang sama, akhirnya calon pengantin pria tiba di kediaman Zafira, yang didampingi Zafran di sebelahnya, menyusul Alluna di belakangnya.
Namun sebelum masuk ke ruang prosesi akad nikah, Zafran terlebih dahulu membawa Fariz ke ruang rias untuk memberi polesan sedikit di wajah pria yang akan menjadi pengantin dadakan itu, yang tentunya Alluna tetap setia mengikuti kemana pun kaki Zafran melangkah. Gadis itu sudah seperti ajudan Zafran, terus mengekor di belakang pria yang baru dikenalnya tidak lebih dari tiga puluh menit itu.
Setelah wajah pengantin pria dipoles, rambut serta jasnya ditata serapi mungkin, ketiganya pun segera memasuki ruang akad nikah dan melihat semua orang telah berkumpul di sana.
Tina dan Rico pun sudah menunggu kedatangan putra semata wayang mereka di ambang pintu dengan perasaan haru. Dan saat melihat Fariz sudah muncul di depan pintu, keduanya pun langsung mengambil-alih tugas Zafran, masing-masing berdiri di samping Fariz.
Zafran dengan isyarat mata sambil sedikit menganggukkan kepala, mengajak Alluna untuk duduk di kursi, di deretan paling depan. Keduanya kini duduk bersebelahan.
Karena prosesi akad nikah beberapa menit lagi akan segera dilaksanakan, membuat Zafran tidak sempat memperkenalkan Alluna kepada sang mama yang saat ini duduk tepat di sampingnya. Kursi yang diduduki mama Laras dan Alluna hanya dipisah oleh Zafran. Pria tampan itu berada di tengah-tengah di antara kedua wanita cantik, yang berbeda generasi.
__ADS_1
...*******...