
"Zafira, aku sudah meminta maaf padamu, aku khilaf dan tidak sengaja melakukannya. Mengapa kamu masih berfikiran seperti itu padaku?," Fariz mencoba meyakinkan bahwa apa yang dilakukannya bukanlah suatu kesengajaan.
Zafira tidak menjawab. Dia memilih membisu, mulutnya malas bergerak untuk menjawab perkataan Fariz. Hanya matanya terus menatap Fariz dengan sorot mata masih menyisakan rasa kesal serta sakit hati.
"Baik, mungkin semua yang kamu katakan itu benar. Aku memang jahat. Aku memang laki-laki kasar dan tempramental. Aku tahu, aku bukan laki-laki yang baik. Aku tidak pernah bisa membuatmu merasa nyaman berada di dekatku. Mungkin karena alasan itulah yang membuatmu tidak pernah bisa jatuh cinta padaku dan lebih memilih mencintai Ronald dari pada belajar mencintaiku. Mungkin karena alasan itu juga yang membuatmu selalu menolak cintaku dan menentang perjodohan yang sudah disepakati orang tua kita," ucap Fariz lirih tertunduk di antara semilirnya hembusan angin yang menerpa muka kusutnya.
Zafira terperanjat. Matanya melebar. Ucapan Fariz ibarat busur panah yang melesat menghujam teramat dalam, tepat mengenai sasaran menembus dari permukaan kulit hingga ke relung hati. Dada gadis itu mendadak sakit. Dia tidak menyangka jika perkataannya membuat Fariz menarik kesimpulan yang salah, menganggap dirinya sebagai pria tempramental dikarenakan kalimat yang baru saja dicetuskan Zafira.
Manik mata gadis itu meneliti guratan muka Fariz yang semakin tertunduk murung. Hati gadis itu pun ikut sedih. Dia menyesal telah mengeluarkan kalimat yang tak pantas diucapkan pada saat suasana hati sang pria sedang tidak baik. Perkataannya pasti membuat Fariz menjadi menyalahkan dirinya atas kejadian di kamar tadi dan merasa dirinya adalah laki-laki yang kasar serta tempramental.
"Bu-bukan seperti itu maksudku. Maafkan aku Fariz, aku salah bicara. Aku masih terbawa sakit hati sampai mengucapkan kata yang tidak pantas didengar dan tidak sesuai kenyataan. Bagiku, kamu laki-laki yang sangat baik dan perhatian. Selama ini kamu selalu memperlakukanku dengan lembut, tidak pernah satu kali pun menyakiti hatiku. Tapi kejadian di kamar tadi membuatku shock dan merasa kalau kamu sudah berubah menjadi laki-laki kasar. Aku masih sulit menerimanya hingga membuatku mengeluarkan kalimat yang tidak seharusnya aku ucapkan. Aku minta maaf..," sekelebat sesal muncul di wajah gadis itu memandangi pria di depannya yang berdiri tak bergeming.
Fariz memejamkan mata kemudian memijit dahi dengan ujung jari. Tidak dapat disembunyikan dari muka itu betapa berat beban yang kini tengah dihadapinya. Beban terberat dalam hidupnya adalah harus melepaskan Zafira untuk pria lain.
Jika ada pilihan dalam hidupnya, Fariz lebih baik memilih melihat Zafira tidak menikah seumur hidupnya dari pada dia harus melepaskan gadis yang teramat dicintai hidup bersama pria lain. Dan dengan keyakinan pasti, Fariz pun akan melakukan hal yang sama, memilih tidak akan menikah dengan gadis mana pun.
Melihat Fariz hanya berdiri terpaku terus memijat dahi, gadis itu pun kembali berbicara melanjutkan kalimat yang mungkin bisa difahami sang pria.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menuduhmu yang bukan-bukan, aku hanya kelepasan bicara. Hal sebenarnya, kamu adalah laki-laki yang paling baik di dunia ini sama seperti papa, Zafran dan.., dan.., Ronald," ucap Zafira ragu-ragu menyelesaikan kata terakhir, takut akan menyakiti hati pria di hadapannya.
__ADS_1
"Nyut"
Benar saja, hati Fariz berdenyut ngilu mendengar nama Ronald yang ikut serta disebut Zafira. Rasa ngilu itu begitu menyakiti hatinya.
Ingin rasanya Fariz menutup mulut Zafira agar tidak menyebut apalagi menyandingkan nama Ronald di antara Zafran, Arga serta dirinya. Karena Ronald tidak pantas dikatakan sebagai laki-laki baik seperti yang selama ini disanjung dan dipuja-puja Zafira. Padahal yang sebenarnya, Fariz begitu yakin jika kekasih Zafira merupakan serigala berbulu domba. Zafira telah dibutakan oleh cinta penuh sandiwara yang dilakoni Ronald hingga Zafira tertipu dengan sandiwara yang begitu manis diciptakan oleh laki-laki bermuka dua itu.
Fariz menarik nafas panjang mencoba berbesar hati menerima segala pemikiran Zafira tentang Ronald yang dianggapnya baik.
"Tidak perlu meminta maaf. Hal wajar jika kamu merasa sakit hati dan kecewa dengan sikapku yang tidak pernah kamu temui seumur hidupmu baik dari Zafran mau pun dari om Arga. Kamu begitu disayang oleh seluruh keluargamu. Tapi sikapku tadi pasti membuatmu sedih. Aku yang harusnya meminta maaf karena telah membuatmu shock dan telah membuang nasi yang telah susah payah kamu bawa untukku. Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Apa kamu masih mau memaafkanku?," permintaan maaf tulus keluar dari bibir pria beralis tebal itu.
Mata Zafira lekat tertuju memandang Fariz lalu mengangguk. Hati kecilnya berkata bahwa Fariz memang persis seperti saudara kembarnya, Zafran dan sang papa, Arga, sangat menyayangi dan selalu mengucapkan maaf setiap kali melakukan kesalahan padanya.
"Iya, aku sudah memaafkanmu," Zafira memunculkan senyum tipis di bibirnya.
Jika mengingat itu, rasa ketakutan yang besar semakin memporak porandakan hidup Fariz dan kesedihan terasa semakin keras mencengkeram hatinya.
Zafira mengangguk dan tetap melukis senyum di bibir yang tampak memucat itu.
"Lupakan semua. Aku tidak akan mengingatnya lagi. Anggap itu tidak pernah terjadi. Aku sudah memaafkanmu.., Dan akan selalu memaafkanmu..," ucap gadis itu tulus dari dasar hati yang paling dalam.
__ADS_1
Setelah pertemuan dan pembicaraan mereka malam ini, Zafira telah memutuskan untuk melupakan sikap kasar Fariz yang sempat membuatnya kecewa, menangis serta sakit hati.
Dia tidak akan mengingat kejadian itu lagi dan akan menganggap itu hanyalah angin lalu yang hanya singgah sekejap menghembuskan butiran debu ke wajahnya dan segera menghilang kembali tertiup sang angin.
Gadis itu tahu, sifat sang sahabat tidaklah seperti itu. Sepuluh tahun bukan waktu yang pendek untuk dirinya mengenal sifat dan watak Fariz, karena itulah apapun yang dilakukan Fariz terhadap dirinya, meski Fariz telah membuatnya bersedih dan menangis sekalipun, namun zafira akan selalu memaafkannya dan akan selalu begitu.
Ucapan Zafira seketika membuat Fariz terkesima. Bagaimana Fariz bisa berhenti mencintai gadis itu jika perkataan Zafira selalu mampu membuat hatinya tenang dan damai. Setiap kata yang meluncur dari bibir Zafira sanggup menenangkan hati Fariz yang sedang kalut. Setiap kalimat yang diucapkan Zafira bagaikan air yang bisa menyiram rasa panas di hatinya dan menyejukkan rongga dadanya.
Itulah salah satu kelebihan Zafira yang menjadikan Fariz tidak bisa berhenti mencintai gadis itu dan semakin terkungkung oleh cinta yang tidak pernah menemukan tepian untuk berlabuh.
"Kamu sangat baik. Terima kasih kamu selalu memberi ruang maaf untukku..," ucap Fariz menajamkan kedua manik mata pada wajah pucat Zafira namun tetap memancarkan kecantikan yang mampu membuat hati Fariz kian terikat dan tak mampu melepaskan diri dari gadis itu.
Zafira mengangguk dan kembali menjawab.
"Ruang maafku akan selalu terbuka dan tidak akan pernah tertutup untukmu, Fariz. Dan aku berharap kamu juga melakukan hal yang sama untukku," ucap Zafira menelan saliva, kerongkongan gadis itu terasa mulai tercekik karena dia ingin melanjutkan pembicaraan yang lebih serius dengan pria itu.
Dengan terpatah-patah, Zafira berusaha meneruskan kembali sebuah kalimat yang terasa begitu sulit untuk dia ucapkan.
"Dan.., Dan seharusnya.., aku yang meminta maaf padamu, Fariz.., Karena.., karena telah menyakiti hatimu dengan rencana..," Zafira menghela nafas sejenak seraya memperhatikan gurat wajah Fariz yang tanpa ekspresi, kemudian gadis itu kembali melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Dengan rencana pernikahanku dan Ronald. Aku.., aku minta maaf..," ucap gadis itu kembali dengan suara begitu pelan penuh kehati-hatian. Dia tidak ingin jika ucapannya akan membuat Fariz semakin sakit hati dan terluka.
...******...