Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
84 - MAKIN NAKAL


__ADS_3

To : Kak @Pisces27.


Makasih udh ngasih Tips Koin. Satu Minggu bisa tiga kali ngasih Tips Koin. Saldoku bertambah lagi🙏


Tar, aku mau kirimin hadiah kecil bt kak @Pisces27, klo gak salah pernah kutanya kotamu di Jatim?


Next, setelah Novel ini END, Insya Allah aku akan ngirimin ke alamat rumahmu...


Pembaca kayak kak @Pisces27 ini yg harus dijadiin contoh untuk para pembaca lainnya, pembaca terbaik dan gak pelit dlm mensupport para Author.


Dia udh ngasi Like, Komen, Subscribe, Vote, Bintang 5, hadiah bahkan Tips. Lengkap pokoknya. Luar biasa. Thanks ya kak ❤️


Jangan kyk kebanyakan pembaca ya... Maaf ya... byk pelitnya..🤧 Gak tau ya, kalo menulis itu gak gampang🙄


Padahal sama sekali gak rugi lho memberi support kepada para Author. Bukan cuma aku ya tapi semua Author lainnya, itu merupakan amal Jariyah. Bagi yg muslim, pasti taulah apa itu amal Jariyah.


So, jangan pelit-pelit untuk ngasih support kepada seluruh Author yang udah kalian baca tulisannya sampe ratusan episode, biar pahala kalian jg bertambah ❤️


Kyk kak @Pisces27, secara gak langsung dia udh dpt amal Jariyah meskipun hanya sekedar membaca novel.


Dan makasih jg bt pembaca yg lain, yg udh ngasih bintang 5, Subscribe dan ngasih byk hadiah🙏


*****


Keesokan pagi, pukul 05:00.


Zafira terbangun dari tidur. Hari ini dia terbangun lebih siang dikarenakan tadi malam jam tidurnya banyak tersita untuk mengurusi Fariz yang sedang demam.


Pelan, kelopak mata gadis itu bergerak lalu terbuka. Dan tampak posisi mereka masih sama seperti semula. Kepala Fariz masih di dalam dadanya. Kedua tangannya masih di kepala sang suami, sedangkan tangan kiri Fariz masih merangkul erat di pinggangnya. Zafira mendadak merasakan geli karena merasakan dadanya tersentuh hidung Fariz sehingga memantik udara hangat dari hempasan nafas pria itu. Aneh rasanya. Tetapi Zafira sangat menikmatinya. Entah mengapa, setelah hidup bersama satu rumah dengan Fariz, perasaannya semakin bertumbuh subur dan hatinya pun merasa semakin nyaman berada di dekat pria itu.


Fariz tampak sangat erat merangkul pinggang Zafira, seolah tidak ingin melepaskannya lagi. Zafira dengan gerakan lambat memegang tangan Fariz, lalu menyingkirkan dari tubuhnya. Dia menarik bantal ke bawah dan ikut melorotkan tubuh turun ke bawah, mensejajarkan kepala dengan kepala sang suami.


Gadis itu memiringkan tubuh berhadapan dengan pria tampan yang tampak masih terlelap tidur. Dia langsung meraba kening Fariz. Benar saja, suhu badan pria itu sudah tidak panas lagi. Memang benar di dalam info kesehatan yang sering dia baca di internet atau pun ditonton di televisi, tidur yang cukup merupakan salah satu obat paling mujarab untuk mempercepat penyembuhan di saat demam serta mengembalikan stamina tubuh. Info itu akurat, pagi ini demam Fariz sudah turun atas bantuan obat serta tidur yang cukup.


"Selamat pagi, Fariz," ucap gadis itu di depan muka sang suami.


Gadis itu sengaja mengucapkan selamat pagi karena ingin memenuhi janji yang dibuatnya kemarin bersama Fariz, bahwa setiap pagi akan selalu membangunkan suaminya dengan ucapan itu.


Mendengar sebuah suara yang mengalun lembut menelisik masuk ke gendang telinga yang tentunya tidak dapat menipu indera pendengarannya, pria tampan itu langsung membuka kedua kelopak mata. Memicingkan penglihatannya. Menatap wajah menawan yang ada di depan hidungnya.


"Hmm, selamat pagi istriku..," suara serak pria itu menjawab ucapan selamat pagi sang istri.


"Alhamdulillah panasmu sudah turun. Aku senang melihatmu sudah mulai membaik," Zafira tersenyum hangat.

__ADS_1


Senyuman itu bagaikan sebuah lukisan mahakarya yang tercipta alami dari sosok seorang Zafira.


"Itu karena kamu. Kalau kamu tidak mengurusku dan tidak bersedia memelukku sampai aku tertidur, mungkin pagi ini sakitku akan semakin parah," ucap pria tampan itu memandang lekat gadis di hadapannya.


Gadis itu tersenyum seraya menyibak selimut yang menutupi tubuh keduanya hingga terbuka lebar. Dia mengangkat tubuh. Sedikit beringsut mengarah ke kaki Fariz. Matanya meneliti memar yang ada di kaki suaminya, mengusapnya pelan.


"Kakimu sudah lebih baik? Tidak sakit lagi?," tanyanya menoleh pada Fariz seperti seorang dokter bertanya pada pasiennya.


"Alhamdulillah tidak," sahut pria itu masih betah berbaring karena dengan posisi seperti itu dia dapat dengan mudah menatap wajah gadis yang duduk di ujung kakinya.


Benih cinta di hatinya semakin bermekaran ketika terbangun dari tidur. Bagaimana tidak? Karena sosok pertama yang dilihatnya adalah Zafira, gadis cantik yang selama ini hanyalah menjadi bunga tidurnya. Tetapi pagi ini, sosok itu sudah menjelma menjadi istri cantik yang hadir dalam dunia nyata, yang akan selalu ada di hadapannya, memberikan ucapan selamat pagi tatkala dia membuka mata di pagi hari.


"Masih mau berbaring seperti ini? Atau perlu aku bawakan kursi roda?," gurau Zafira sambil menyisir rambut panjangnya dengan jari lalu menaruh sebagian rambut di bagian depan, untuk menutupi dadanya. Iya, gadis itu tidak memakai bra. Sengaja, rambut panjangnya ditaruh di depan dada demi menutupi dari pandangan liar sang suami.


Fariz yang faham dengan isi di kepala Zafira, langsung melancarkan godaan.


"Jangan ditutupi seperti itu. Aku lebih suka melihatnya jika tanpa ditutupi rambutmu," seringai nakal terbersit dari sudut bibir pria beralis tebal itu.


"Fariizz.., Apa yang kamu katakan? Matamu ini memang liar!," Zafira melotot seraya mencubit lengan pria itu, sengaja sedikit memelintirnya


"Aduuh.., Lepaskan," Fariz mengaduh menahan sakit di lengannya.


"Makanya, matamu itu dijaga. Baru saja bangun tidur, sudah melihat yang aneh-aneh," Zafira melepaskan cubitannya.


"Tetap tidak boleh! Itu namanya mencuri. Melihat tanpa seizin pemiliknya," larang Zafira, sambil menarik helai demi helai rambut indahnya, membenahi letaknya. Merapikan di depan dada.


"Terus kapan pemiliknya mengizinkanku melihatnya secara langsung?," Fariz bertanya semakin berani dengan sorot mata tidak terlepas dari wajah gadis itu.


Zafira tercekat. Mulutnya membuka lebar. Matanya pun sontak menatap tajam pada pria yang masih betah berbaring.


"Mesum!," Zafira mendelik.


"Katakan, kapan aku bisa melihatnya?," ulang Fariz memaksa.


"Nanti. Tunggu saatnya!," ucap Zafira asal.


"Nanti? Nanti kapan? Aku sudah tidak tahan ingin melihatnya," Fariz berkata dengan begitu jujur, mengungkapkan hasratnya.


Kembali gadis itu tercekat. Kali ini kedua matanya semakin membulat lebar, semakin menajamkan sorot matanya pada pria yang memasang wajah tanpa dosa setelah mengucapkan kata vulgar itu.


"Iiihh mesum! Lama-lama aku bisa gila melayani pembicaraanmu yang semakin hari semakin konyol. Sudah, ayo bangun. Kita shalat subuh. Pagi ini aku menjadi bangun agak siang karena mataku mengantuk, semalaman sibuk melayani pasienku yang sedang sakit," sungut Zafira turun dari ranjang, berjalan menuju meja.


Pria itu sontak terkekeh mendengar kalimat terakhir Zafira yang mengatakan bahwa dia sibuk melayani pasiennya.

__ADS_1


"Minumlah air putih ini," gadis itu kembali duduk di sisi tempat tidur, memberikan satu gelas air berisi air putih yang memang sudah dia sediakan sebelum tidur.


Satu perubahan lagi yang terjadi dalam kehidupan pria itu. Setiap pagi, selain mendapat ucapan selamat pagi, dia juga akan disuguhkan air putih oleh Zafira. Bukan itu saja, nanti setelah di meja makan, dia juga akan disiapkan teh hangat oleh istri cantiknya itu. Dia sangat bersyukur bisa menikahi Zafira. Selain memang Fariz sangat mencintainya, dia juga sangat menikmati perhatian serta pelayanan Zafira, yang baginya sangat baik dan tulus.


"Air putihmu mana?," pria itu bertanya.


"Ini," kata Zafira mengambil satu gelas air putih lagi.


"Aku ingin minum dari bekasmu saja,"


"Kamu kan sudah punya gelas sendiri, minum saja dari gelasmu," ujar Zafira memberi saran.


"Tidak mau. Kurang nikmat," tolak Fariz.


"Dari dulu kebiasaanmu tidak berubah. Selalu ingin meminum bekasku. Tidak jijik?," tanya gadis itu bingung.


"Tidak sama sekali. Air liurmu pun aku sanggup menelannya," Fariz kian melancarkan serangan demi serangan untuk merayu Zafira.


"Astaghfirullahaladzim Fariz. Bisa-bisanya ya baru bangun tidur perkataanmu sudah sejorok ini," Zafira menggeleng-gelengkan kepala sementara hatinya menjadi bergidik mendengar setiap rayuan yang meluncur dari bibir suaminya. Dia merasa, hasrat Fariz sudah benar-benar di ujung tanduk.


Fariz tersenyum senang melihat muka Zafira yang tampak memerah. Menahan kesal atau menahan malu? Fariz tidak bisa membedakannya, yang jelas dia sangat terhibur setiap kali melihat semburat wajah lucu yang selalu muncul di saat Zafira tengah kesal atau pun cemberut. Wajah kesal itu, merupakan mainan serta hiburan baru bagi Fariz.


Menit selanjutnya, Zafira langsung meminum air di gelasnya. Untung saja gelas itu berukuran besar sehingga Zafira masih bisa menyisakan cukup banyak air di dalam gelas itu.


"Ini, sesuai permintaanmu. Ambillah. Jangan tidak dihabiskan," Zafira menyodorkan air putih itu pada pria yang sekarang sudah mengangkat tubuh lalu merubah posisinya menjadi duduk.


Tidak sampai setengah menit, Fariz sudah menghabiskan air di dalam gelas tanpa menyisakan setetes pun.


"Eemm, nikmat sekali air dari bekas bibirmu. Manis. Apalagi itu, pasti sangat manis," ekor mata Fariz melirik nakal pada dada Zafira, yang membiarkan rambutnya tergerai sebagian di depan dada.


Lagi dan lagi Fariz sengaja meluncurkan percikan-percikan hasrat kepada sang istri. Mungkin dengan begitu, hasrat sang istri yang saat ini masih dingin dan kaku, lambat laun akan terpancing dan berkobar, yang ujungnya akan meminta pertanggungjawaban kepadanya untuk memberikan sentuhan serta kehangatan. Fikiran Fariz semakin hari semakin kotor. Apalagi setelah tadi malam dia merasakan hangatnya dada Zafira dan menyesap kelembutan wangi semerbak dari balik dadanya, membuatnya tidak mampu melupakan wangi dari dada itu. Jika saja dia belum membuat kesepakatan dengan Zafira, mungkin saja tangannya sudah menyentuh area dada gadis cantik itu. Namun dia masih berusaha menahan segala gejolak yang membara, demi menghindari jangan sampai Zafira menjadi berang atas tindakannya.


"Deg"


Darah Zafira berdesir panas, mendengar perkataan Fariz. Apalagi saat sorot mata Fariz menatap nakal pada bagian dadanya, refleks membuat gadis itu semakin banyak menyibak helaian rambut panjangnya ke depan dada.


Gidikan ngeri mengalir di hatinya. Bila satu hari nanti, dia sudah siap melayani Fariz, apa yang akan dilakukan Fariz di dadanya? Itu merupakan hal yang pertama bagi Zafira. Gadis itu hanya mampu membayangkan dan sama sekali belum pernah merasakan sensasi apa yang akan dia dapatkan saat dia benar-benar telah memutuskan menyerahkan semua miliknya kepada pria itu.


"Iiih.., Aku mau ambil wudhu'. Malas melayani pembicaraan yang tidak berbobot!," ucap Zafira ketus sambil mengibaskan dengan sengaja rambut belakangnya di depan muka Fariz, lalu meninggalkannya.


Dengan langkah cepat, Zafira menaruh gelas bekas minum ke atas meja, lalu berjalan menuju kamar mandi yang masih saja diiringi senyuman serta tatapan nakal dari suaminya.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2