
Zafira belum mau melepaskan cubitannya, jarinya masih menempel kuat di kulit perut sang pria. Mata Zafira sengaja dibuat melotot seperti ibu tiri yang menyiksa anaknya, sementara bibirnya digigit menahan tawa melihat muka Fariz yang terlihat meringis menahan sakit.
"Zafira, lepas. Aduh sakit," Fariz memohon sambil meringis.
Melihat ringisan di wajah Fariz, barulah gadis berwajah cantik itu melepaskan jarinya dari perut Fariz.
Setelah Zafira melepaskan cubitannya, pria itu langsung memegang perutnya.
"Sakit sekali jarimu ini. Terlihat halus tapi menyakitkan," ringis Fariz mengusap-usap perut sebelah kanan seraya menatap takut-takut pada gadis di depannya.
"Rasakan! Makanya jangan berani-berani denganku! Siapa yang berani berfikiran jorok tentangku, maka aku akan menyiksanya!," Zafira memasang muka sangar tetapi jutsru menjadikan wajahnya terlihat begitu menggemaskan di mata Fariz. Pria itu terus memandangi Zafira tanpa berkedip menikmati wajah lucu dan cantik itu.
"Mengapa menatapku seperti itu? Mau aku tambah lagi?," ancam Zafira mengacungkan ibu jari dan telunjuk membentuk jepitan ke arah Fariz bermaksud mencubit lagi saat dilihatnya Fariz menatapnya tak berkedip.
"Tidak, tidak! Cukup. Ampun! Cubitanmu itu pedas sekali, Zafira. Perutku jadi sakit karena ulahmu. Atau jangan-jangan kulitku jadi terkelupas karena kukumu," ringis Fariz menahan pedas sambil terus mengusap bekas cubitan Zafira.
Alis Zafira seketika berkerut mendengar ucapan Fariz. Dia menatap muka sang pria yang tampak masih menahan sakit. Gadis itu baru sadar kalau cubitannya tadi memang sangat keras. Untung saja semua kukunya pendek. Jika tidak, pasti kulit laki-laki itu akan terkelupas.
"Coba aku lihat. Apa benar kulitmu mengelupas seperti yang kamu katakan?," Zafira bertanya ingin tahu.
Dia berjalan memutar dari belakang tubuh Fariz. Berdiri di samping kanan sang pria dan langsung menyambar baju Fariz di bagian cubitan tadi lalu menyingkap sedikit ke atas. Menyembul-lah sedikit perut kotak-kotak pria itu yang kulitnya tampak putih dan bersih.
Tanpa ragu-ragu Zafira memasukkan tangan kanan di balik baju itu lalu menggerakkan dan meraba perut Fariz yang baru saja menjadi korban cubitannya. Meraba perlahan dan berulang ulang, kemudian mengelus lembut berulang kali dengan jari-jarinya yang lentik dan halus.
"Deg, Deg, Deg"
Jantung Fariz bergema menunjukkan keterkejutan. Dadanya seketika hendak meledak.
__ADS_1
Kembali mata sang pria terbuka lebar saat perutnya diraba jemari halus itu. Sekujur tubuhnya meradang terasa terbakar. Hawa panas menyambar ke seluruh aliran darah akibat usapan tangan Zafira.
Rasanya jantung Fariz berhenti berdetak sepersekian detik, nafasnya tertahan di rongga dada saat tangan gadis itu meraba lembut kulit perutnya apalagi rabaan itu sampai berulang ulang semakin membuat hati pria itu menjadi kacau balau dibuatnya.
Mengapa Zafira sekarang jadi kelihatan agresif? Sembarangan menyentuh dan meraba apalagi di daerah tubuh Fariz yang cukup terlarang membuat sesuatu di bagian bawah Fariz bereaksi dan mengembang.
( Ternyata si Fariz, meski Sholeh tetapi teman kecilnya itu tidak bisa diajak Sholeh ) 😜🫢🫢
Tetapi Zafira tidak menyadari sikapnya. Dia masih terlihat biasa tanpa beban. Dia bersikap begitu karena menunjukkan kekhawatiran atas cubitannya yang keras, takut kulit Fariz memang benar mengelupas disebabkan ulahnya, tanpa berfikir jika tindakannya yang menyentuh dan meraba itu bisa saja mengakibatkan Fariz kejang bahkan pingsan.
Fariz refleks melihat ke bagian bawah kepunyaannya. Matanya tercengang mendapati teman kecilnya itu berubah menjadi besar dan mengembang seolah mau minta keluar dari dalam celana selutut yang dipakainya.
Pria itu menjadi cemas, matanya langsung mengamati mata Zafira, takut jika mata gadis itu melihat ke benda miliknya yang berada di bawah, yang saat ini tengah terbakar panas dan mulai mengencang. Tetapi keberuntungan masih berpihak pada pria itu, ternyata Zafira tampak masih sibuk mengelus perut Fariz tanpa menyadari kalau benda pusaka Fariz sedang terbangun dampak dari elusan jemari Zafira di perutnya.
"Untung saja Zafira tidak melihatnya. Kalau sampai dia melihat milikku yang kurang ajar ini, yang mengeras tanpa tahu tempat, matilah aku! Tamatlah riwayatku! Zafira pasti akan menghabisiku!," batin Fariz dengan muka pias merasa begitu panik serta takut.
Bukan takut karena dia telah melakukan kesalahan pada gadis itu, bukan karena alasan itu. Tetapi takut karena seumur hidup baru kali ini dia merasakan benda miliknya bereaksi akibat sentuhan seorang gadis yang membuat tubuhnya terasa kejang dan nyaris pingsan.
Karena alasan itulah Fariz menjadi panik dan takut, takut Zafira mengetahui hal itu. Sedangkan selama ini Fariz selalu bersikap sopan kepada gadis itu, tidak pernah bersikap kurang ajar apalagi sampai menunjukkan miliknya mengembang seperti malam ini. Jika malam ini tiba-tiba Zafira melihat benda miliknya yang tiba-tiba mengeras, pasti gadis itu akan berfikiran yang macam-macam kepadanya. Dan tidak akan mempercayainya lagi sebagai sahabat.
"Aku mohon Zafira. Cepat lepaskan tanganmu dari perutku! Jangan mengelusnya seperti itu! Kamu mengelus perutku tapi milikku di bawah yang menegang," Fariz kembali membatin cemas dengan muka semakin pias.
Pria itu merasa kesal pada benda miliknya yang masih saja tidak mau mengecil. Muka pria itu semakin tegang dan memerah menahan gejolak dari bawah disebabkan Zafira masih mengelus perutnya.
Dan syukurlah penderitaan Fariz berakhir juga ketika gadis itu menarik tangannya dari balik baju pria yang wajahnya terlihat semakin pucat pasi. Menahan gejolak si teman kecil yang semakin membuncah sekaligus merasa takut jika yang disembunyikannya ketahuan oleh Zafira.
"Tidak luka. Hanya merah sedikit. Besok-besok akan aku tambah lagi jika kamu berani berfikiran jorok tentangku!," ucap gadis itu dengan santai melepas elusannya dari perut sang pria yang sudah terbakar hawa panas menyusupi tubuhnya.
__ADS_1
Zafira kembali menurunkan baju Fariz yang tersingkap, merapikannya kembali seperti semula.
Saat tangan halus itu telah keluar dari dalam bajunya, barulah jantung Fariz mulai kembali normal. Hatinya seketika tenang. Nafasnya juga sudah bisa berhembus teratur.
Pria itu kembali melihat ke bawah, syukurlah si teman kecilnya sudah tidak besar lagi. Telah mengecil seperti sedia kali. Celananya pun kini tidak mengembang lagi. Akhirnya muncul senyum di bibir sang pria. Sekarang posisinya aman karena semua sudah normal.
Setelah mengatur hati, jantung serta nafas, akhirnya pria itu pun menjawab.
"Kamu itu selalu berfikir negatif padaku. Siapa yang berfikiran jorok? Aku tidak berfikiran jorok tentangmu. Tapi aku...," kalimat pria itu terputus, matanya mengamati Zafira yang sedang berdiri dan lekat menatapnya.
Dan dengan cepat Zafira mengejar kalimat yang terputus itu.
"Tapi aku, apa?," tanya Zafira cepat memandang penasaran laki-laki di depannya.
"Tapi aku merasa tegang," sahut Fariz jujur.
Zafira terkejut mendengar jawaban Fariz. Mulutnya menganga.
"Hah? Tegang? Tegang apanya?," Mata Zafira kembali membesar, membulat menatap Fariz dengan tajam.
Fikiran Zafira tiba-tiba menjadi kotor. Dia membayangkan kalau benda milik Fariz menegang setelah berpelukan dengannya. Itulah yang langsung terfikir di kepalanya. Zafira menjadi bergidik memikirkan hal itu.
"Tidak, tidak!," Zafira berusaha membuang fikiran kotornya, sambil mengerutkan kedua alis memejamkan mata, kemudian memukul-mukul pelan kepala kanan dan kiri dengan kedua ujung tangan.
"Ya Allah, mengapa aku bisa membayangkan hal jorok itu? Hiiiiii..," batin Zafira merinding dan seluruh bulu halus di sekujur tubuhnya menjadi berdiri membayangkan kepunyaan Fariz.
...*******...
__ADS_1