Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
48 - MENJELANG PERNIKAHAN


__ADS_3

Hari terus berjalan dengan begitu cepat, terus bergulir tiada terhenti.


Sejak pertemuan terakhir Zafira dan Fariz di pinggir danau, setelah itu mereka tidak pernah satu kali pun bertemu kembali. Zafira sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya yang selalu didampingi Ronald, membuat Fariz enggan untuk bertemu Zafira.


Fariz pun terus menyibukkan diri di kantor dan sengaja menghabiskan waktu berkutat dengan pekerjaan. Dan tak jarang pria itu pergi keluar kota memantau kantor-kantor cabang pembantu di beberapa kota. Dengan begitu, fikirannya sedikit teralihkan, tidak selalu harus memikirkan Zafira. Dia ingin perlahan-lahan menarik diri dari Zafira dan mengikis semua perasaan terhadap gadis itu, dengan sengaja tidak ingin menemuinya kecuali di saat hari akad nikah dan resepsinya nanti.


Zafira sudah berulang kali meminta sahabatnya itu untuk ikut bersamanya mempersiapkan pesta pernikahannya namun dengan seribu alasan Fariz menolaknya. Dan saat Zafira mengundangnya di acara seserahan pun pria itu tidak datang dan terpaksa berbohong kalau dirinya sedang berada di luar kota, padahal tidak. Sakit memang rasanya harus menahan rindu pada seseorang yang dicinta, tetapi pria itu berusaha menahan semua kerinduan serta rasa sakit itu seorang diri.


Satu bulan sudah Fariz tidak bertemu dengan gadis yang dicintainya. Tidak bisa berdekatan dengannya, memandangi wajah cantiknya serta makan bersama seperti hari-hari kemarin.


Rasa rindu sudah begitu menyesakkan rongga dadanya. Setiap hari pria itu hanya bisa memandangi wajah Zafira melalui layar ponsel serta foto-foto yang ada di kamar serta di kantornya. Namun tekad pria itu untuk mengikis perasaan cintanya telah bulat. Dia tidak ingin berharap sesuatu pun lagi kepada gadis itu, karena dia tahu, setelah ini Zafira bukanlah gadis yang pantas dicintainya namun telah berubah status menjadi istri seseorang.


Sementara Zafira, dia tidak merasakan rindu seperti yang dirasakan sang sahabat. Wajar saja tidak ada rindu di hatinya meski pun dia dan Fariz telah satu bulan tidak bertemu. Jadwalnya padat. Fikirannya terkuras. Selain menyelesaikan pekerjaan kantor yang belum dirampungkan sebelum dia mengajukan cuti, dia juga sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pernikahannya.


Mulai dari menyusun konsep dekorasi yang semuanya bernuansa putih, memilih tempat resepsi yang telah disepakati Zafira dan Ronald yang akan diadakan di outdoor, memilih cincin dan kue pernikahan. Fitting gaun pengantin dan masih banyak hal-hal lain yang harus dipersiapkan gadis itu sehingga membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk berleha-leha, sehingga secara otomatis membuatnya sedikit melupakan Fariz.


Jumat pagi, di kediaman Arga.


Waktu telah menunjukkan pukul 07:00.


Satu bulan begitu cepat berlalu. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari ini adalah acara akad nikah serta resepsi pernikahan Zafira, yang sengaja dilaksanakan pada hari Jumat. Mengingat Zafira lahir pada hari Jumat pagi, maka dia pun memilih hari Jumat pagi untuk melangsungkan pernikahannya. Semoga saja gadis itu mendapat keberkahan dalam pernikahannya ini.


Akad nikah sengaja dilakukan di rumah orang tua Zafira dan resepsi akan dilanjutkan di salah satu gedung ter-elit tidak jauh dari rumah mereka. Nanti kedua pengantin akan menggunakan mobil pengantin untuk mengantarkan ke gedung resepsi yang akan diiringi oleh beberapa mobil keluarga.


Rumah Arga yang mewah dan besar pun sekarang terlihat semakin cantik dan terang benderang. Nuansa putih menghiasi seluruh ruangan, melambangkan kesucian.


Perpaduan unsur-unsur bernuansa alam seperti kain putih, dedaunan, bermacam jenis bunga, dikemas dalam desain elegant menghiasi setiap sudut ruangan serta plapon rumah.


Meja, kursi dan seluruh ruang pengantin pun telah dihiasi dengan pita, bunga, kain putih bermotif renda, lampu hias serta dedaunan hijau menambah kesan elegant dalam acara akad nikah di rumah mewah milik orang tua Zafira itu.

__ADS_1



Untuk menciptakan suasana agar menjadi segar dan hidup, tidak lupa, di beberapa sudut ruangan ditaruh berbagai macam tanaman dalam pot yang terlihat menghijau dan menyegarkan mata saat menatapnya.


Di rumah Arga, tampak hadir kakak kandungnya, Bram Mahendra Wibawa beserta istri, anak sulung laki-lakinya, menantu dan dua orang cucunya, yang datang langsung dari Thailand demi menjadi saksi pernikahan anak kembar sang adik.


Arga telah mempercayakan sang kakak, Bram sebagai saksi pernikahan Zafira. Dia ingin Bram menjadi orang terpenting dalam acara sakral anaknya. Namun ada satu keluarga yang kurang, Cesillia, anak kedua sekaligus anak bungsu Bram, yang tidak tampak di sana dan tidak dapat menghadiri pernikahan Zafira karena tengah berada di Jepang melakukan pertemuan penting dengan rekan bisnisnya.


Berbanding terbalik dengan keadaan di rumah Rico, suasana di sana tampak begitu sunyi. Tina dan Rico telah lebih dulu pergi ke rumah Laras. Setelah shalat subuh, keduanya langsung berangkat ke rumah Laras yang berjarak hanya kurang dari lima menit jika menggunakan mobil dan lebih dari sepuluh menit jika berjalan kaki.


Meskipun mereka tahu, jika Zafira akhirnya tidak menikah dengan Fariz, tetapi mereka tetap merestui dan ikut berbahagia dengan pernikahan putri sahabat mereka itu.


Bagi Tina dan Rico, semua telah menjadi rencana Allah. Jika sang putra tidak menikah dengan Zafira, itu berarti keduanya tidak berjodoh. Tina dan Rico sangat percaya dengan hal itu. Terbukti dengan kehidupan mereka sendiri, yang berjodoh hanya karena Tina bersahabat dengan Laras dan Rico bersahabat dengan Arga. Perantara kedua sahabat itulah yang secara tidak sengaja mempertemukan mereka dan membuat mereka berdua berjodoh hingga akhirnya menikah.


Di sebuah kamar, Fariz duduk di lantai di sudut tempat tidur, menyandarkan tubuh pada pinggiran ranjang dengan tatapan kosong menatap ke tembok.


Pria itu telah memakai jas lengkap dengan dasi. Sedari tadi dia telah siap berangkat menuju rumah Zafira namun tiba-tiba saja hatinya mendadak berdenyut. Sakit dan begitu perih. Suasana hatinya menjadi sangat kacau. Dia merasa tidak sanggup menghadiri pernikahan Zafira. Dia tahu, sesampainya di rumah Zafira nanti, dia pasti akan berpura-pura tersenyum bahagia di tengah keramaian, padahal hatinya tengah berduka.


Dunia seketika terasa gelap. Semangat hidup mendadak sirna. seluruh tulang menjadi terasa sangat lemah seakan tubuh tak mampu lagi untuk berdiri apalagi melanjutkan kehidupan.


Air mata Fariz tak berhenti mengalir. Satu bulan ini, dia telah mencoba sekuat tenaga mengikis perasaannya terhadap Zafira dan berusaha keras melupakan cintanya pada gadis itu. Tetapi semuanya tidak membuahkan hasil. Di detik-detik akad nikah Zafira, justru hatinya semakin takut dan kalut.


Seumur hidup, baru kali ini dia merasakan sehancur ini. Tidak ada yang dapat dia lakukan selain mengurung diri di kamar meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.


Puluhan tahun dia mencintai Zafira, meskipun Zafira telah terang-terangan menolak cintanya, namun pria itu tidak peduli. Dia terus memupuk cintanya untuk gadis pujaan, dengan harapan suatu hari nanti, hati Zafira bisa berubah mencintai dirinya dan bersedia menjadi istrinya.


Namun harapan itu hanyalah sebuah harapan. Tidak ada satu pun yang terwujud. Hingga hari ini nyatanya Zafira tetap tidak berubah bahkan telah memutuskan memilih Ronald menjadi suaminya.


"Tok, tok, tok,"

__ADS_1


Suara ketukan dari pintu kamar, satu sosok masuk dengan langkah pelan.


Tampak Zafran berdiri menatap sedih sahabat yang kini tengah patah hati, duduk di lantai bersandar di pinggir ranjang.


Zafran ikut duduk di sebelah Fariz dan menepuk pelan bahu sang sahabat yang sama sekali tidak bergeming dengan kedatangannya.


"Kamu harus kuat Riz! Aku tahu ini sangat menyakitkan untukmu, tapi kita tidak bisa melawan takdir. Mungkin Zafira bukan jodohmu. Jadi aku harap kamu bisa menerima ini dengan ikhlas," Zafran mencoba menguatkan sahabatnya.


Fariz hanya diam mendengarkan nasehat Zafran. Zafran memang sangat baik, sudah seperti saudaranya. Tidak pernah pergi meninggalkannya dalam kondisi apapun. Tidak berhenti menasehatinya serta terus memberinya semangat agar dirinya tetap kuat dan ikhlas.


"Kamu percaya jodoh kan? Jika memang Zafira jodohmu maka akan ada satu jalan yang membuatmu bisa bersatu dengannya. Tapi kalau jalan itu memang sudah tertutup, maka hanya satu yang dapat Kamu lakukan. Mengikhlaskannya,"


Fariz masih membisu. Matanya masih tidak beralih pada tembok di depannya.


"Tadi tante Tina yang menyuruhku ke sini. Katanya kamu tidak berniat pergi ke acara Zafira. Padahal tante Tina sudah membujukmu," ujar Zafran memberitahu.


"Aku akan pergi ke sana tapi nanti. Kamu duluan saja. Aku pasti akan menyusul," Fariz menjawab pelan.


"Ini sudah pukul tujuh. Acaranya dimulai pukul delapan. Seharusnya kamu sudah berada di rumah sejak tadi. Tante Tina dan om Rico saja dari setengah enam sudah ada di rumah," Zafran mengingatkan.


"Iya, jangan khawatir. Aku pasti ke sana. Sekarang aku masih butuh waktu untuk menguatkan hatiku. Aku harap, kamu mengerti," Fariz berujar dengan nada penuh permohonan.


Zafran menganggukkan kepala mengerti perasaan sang sahabat.


"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu kamu di rumah. Sebelum jam delapan kamu sudah harus ada di sana. Kalau tidak, aku akan menjemputmu lagi ke sini," Zafran beranjak sambil kembali menepuk pundak Fariz, kali ini terlihat lebih keras.


"Ingat! Jodoh itu di tangan Allah! Percaya padaku, Allah telah mengatur jodohmu. Jadi kamu pasrahkan saja semuanya kepada Allah. Jika memang Zafira jodohmu, maka jalan itu pasti terbuka! Jika jalan itu telah terbuka, maka bersiaplah menjadi suami dari gadis impianmu. Jika benar jalan itu terbuka, jika benar keajaiban itu ada dan kamu benar-benar menjadi suami Zafira, maka aku orang pertama yang akan merasa tenang karena saudara kembarku berada di tangan yang tepat," Zafran tersenyum menghibur hati Fariz.


Pria tampan itu meninggalkan pesan seolah-olah memberi isyarat kepada sang sahabat jika suatu saat nanti Zafira akan menjadi jodohnya.

__ADS_1


Fariz tidak menggubris perkataan Fariz. Dia tahu, seperti kemarin-kemarin, Zafran hanya ingin menghibur, meniupkan angin segar dan memberinya semangat agar tetap kuat dan tidak larut dalam kesedihan. Begitulah Zafran, selalu menjadi penguat di saat Fariz terluka karena ulah saudara kembarnya.


...*******...


__ADS_2