Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
27 - MERASA IBA


__ADS_3

Zafira terus berlari, dan kebetulan di ruang tengah serta ruang tamu sedang sepi, mungkin seisi rumah sedang menunaikan shalat magrib, sehingga Zafira tidak perlu berpamitan lagi dengan Tina atau siapa pun yang berada di sana.


Zafira segera masuk ke mobil dan menancap gas meninggalkan Fariz yang telah sampai di dekat mobil.


"Zafira, Zafira tunggu!," pinta Pria itu masih sempat menepuk kaca mobil namun Zafira tidak menghiraukan.


Fariz terburu-buru masuk ke dalam mobil Pajero Sport miliknya lalu tak kalah cepat, segera menginjak rem.


Security yang sedang berdiri di depan pagar terburu-buru membukakan pagar dan merasa heran melihat mobil Zafira yang melaju dengan kecepatan tinggi yang disusul mobil Fariz di belakangnya. Security itu hanya menggelengkan kepala sambil menutup kembali pagar rumah dan bergumam dalam hati.


"Ada apa mbak Zafira terburu-buru meninggalkan rumah? Pasti sedang ribut dengan mas Fariz. Sepertinya ada sesuatu di antara mereka. Apa mereka saling suka ya?," hati Security itu bertanya-tanya sambil tersenyum simpul.


Di jalan, Zafira masih menangis sambil melihat kaca spion sebelah kanan mengawasi situasi di belakang. Matanya bisa menangkap ada mobil Fariz yang mengikutinya.


Terjadilah susul menyusul antara kedua mobil mewah itu. Honda Civic berwarna putih milik Zafira berada di depan, sementara Pajero Sport hitam milik Fariz berada di belakang sekitar sepuluh meter.


Zafira terus menangis. Gadis itu merasa sangat sedih mengapa Fariz bisa berbuat sekasar itu padanya padahal selama ini Fariz pria yang sangat baik, lembut serta sangat memperhatikan dan memprioritaskan dirinya, namun hari ini dalam sekejap sikap Fariz berubah drastis, Zafira merasa tidak mengenali diri Fariz.


Saking kacau fikirannya serta menahan perasaan sedih yang mendalam, Zafira tidak memperhatikan jalan pulang ke rumah. Dia menyetir sambil melamun dan menangis sehingga membuat kerja otaknya tidak sinkron dengan yang dilakukannya.


Gadis itu mengarahkan mobil bukan menuju rumah tetapi mangambil arah yang berlawanan dengan rumah. Padahal jika dia pulang sesuai rute yang biasa dia lewati, pasti sekarang dia sudah sampai di rumah, karena jarak antara rumahnya dengan rumah Fariz hanya memakan waktu lima menit sampai sepuluh menit.


Fariz yang berada di belakang pun menjadi bingung, mengapa Zafira mengambil rute yang berlawanan dengan rumahnya.


"Kamu mau kemana? Ini bukan jalan ke rumah. Apa jangan-jangan kamu tidak sadar kalau jalan yang kamu lewati bukan jalan pulang ke rumah?," batin Fariz semakin cemas.


Fariz menekan klakson berulang kali berusaha menyadarkan Zafira jika gadis itu salah mengambil jalan namun kecepatan mobil Zafira tetap tidak berkurang, terus melaju dengan kencang.


Melihat gadis yang dicintainya tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mau tidak mau Fariz ikut menekan gas lebih dalam semakin mempercepat laju kendaraannya bermaksud mengejar serta mendahului mobil Zafira.


Sekitar Lima menit Fariz berusaha menyusul mobil Zafira dan akhirnya usaha pria itu berhasil. Sekarang posisi mobil Fariz telah berada di depan mobil Zafira.


Fariz agak memperlambat laju kendaraan dengan maksud agar Zafira bisa ikut memperlambat kecepatannya.

__ADS_1


Pria itu mengintip dari kaca spion dalam dan spion sebelah kanan, tampak mobil Zafira mulai mengurangi kecepatan. Gadis itu terpaksa memperlambat laju kendaraan karena mengikuti mobil Fariz yang berjalan pelan di depannya.


Kini, Fariz menyalakan lampu Hazard untuk memberi kode kepada Zafira agar memperlambat kecepatan kendaraan serta berhati-hati.


Mata pria itu tetap fokus melihat posisi mobil Zafira dari kaca spion kanan dan kiri serta spion dalam secara bergantian.


Setelah Fariz melihat mobil Zafira sudah berjalan pelan di belakang mobilnya, Fariz mematikan lampu Hazard dan menggantinya dengan menyalakan lampu sein kiri untuk memberi tanda kepada Zafira bahwa dirinya akan segera memberhentikan mobil.


Fariz menginjak rem perlahan-lahan dan matanya tetap tidak lepas tertuju pada kaca spion melihat mobil di belakangnya yang tampak telah ikut memberhentikan mobilnya.


Kini, kedua mobil mewah itu berhenti di pinggir jalan yang bukan jalan protokol sehingga jarang dilalui kendaraan dan suasana juga cukup sepi apalagi waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aktivitas di kawasan itu pun sudah mulai berkurang, hanya beberapa mobil serta sepeda motor yang tampak masih melintas di sana.


Fariz segera keluar dari mobil dan berlari menghampiri mobil putih yang masih terparkir dengan kaca masih tertutup.


"Tuk, tuk, tuk"


"Zafira, buka pintunya!," pria tampan itu mengetuk kaca mobil dari luar dengan muka terlihat panik.


Fariz bisa melihat dari luar kaca, gadis itu masih meletakkan kedua tangan di atas setir dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun pada pria yang terus mengetuk kaca mobil.


"Tuk, tuk, tuk"


"Zafira, kamu dengar aku? Aku ingin berbicara denganmu," panggil Fariz kembali mengetuk kaca mobil tetapi gadis itu tetap tidak mempedulikan panggilan Fariz.


"Tuk, tuk, tuk, tuk,"


"Aku mohon keluarlah Zafira. Aku menyesal sudah memperlakukanmu dengan kasar. Aku tidak sengaja. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Tolong buka pintunya sebentar saja, Zafira," Fariz mencoba menarik handle pintu mobil tetapi masih terkunci.


"Zafira! Aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi. Aku khilaf. Tolong maafkan aku," ucap Fariz penuh sesal.


Fariz terus memanggil Zafira dan meminta gadis itu untuk keluar dari mobil namun Zafira sengaja me-nuli-kan pendengarannya.


Zafira masih sakit hati dengan perlakuan kasar yang dilakukan Fariz. Seumur hidup, baru kali ini Fariz bersikap tidak baik padanya.

__ADS_1


Hati Zafira merasa sangat sedih karena Fariz yang dia kenal adalah sosok yang selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang namun dalam hitungan detik tiba-tiba menjadi orang asing. Kasar dan tempramen. Pada dasarnya Fariz adalah pria yang sangat sabar, berbeda sekali dengan yang terjadi di kamar tadi.


Jika mengingat kejadian itu, rasanya Zafira tidak ingin memaafkan pria itu lagi. Dia begitu terkejut menerima sikap kasar Fariz yang selama ini belum pernah dilihatnya.


Fariz tidak berhenti mengetuk kaca mobil dan terus memanggil nama Zafira dari luar, tetapi gadis itu masih enggan membuka kaca mobil dan membiarkan saja Fariz berdiri di luar.


Fariz masih mencoba mengintip dari luar kaca, tampak Zafira sedang mengusap air matanya. Pria itu semakin merasa bersalah karena telah membuat Zafira meneteskan air mata. Seumur hidupnya, baru satu kali ini dia membuat gadis itu menangis.


Jika waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan pernah membuat gadis yang dia cinta mengurai air mata. Betapa besar rasa cinta Fariz pada Zafira sehingga hanya dengan melihat Zafira menangis mampu membuat hati pria itu sangat terluka.


"Zafira, berhentilah menangis. Aku mengaku salah dan aku minta maaf. Aku tahu, kali ini kamu pasti benar-benar kecewa padaku. Maafkan aku.., Aku berjanji, ini untuk pertama dan terakhir kali aku melakukan hal itu. Aku mohon jangan menangis lagi," ucap Fariz penuh penyesalan dan masih mengamati Zafira dari balik kaca.


Lima belas menit berlalu. Zafira masih bertahan di dalam mobil tanpa memberi kesempatan Fariz untuk bisa berbicara dengannya.


Karena merasa lelah menunggu dan suaranya pun sudah mulai serak karena terus mengajak Zafira berbicara dari luar, namun Zafira tidak kunjung membuka pintu mobil, akhirnya Fariz menyandarkan punggung ke kaca mobil. Dan beberapa menit kemudian tubuh Fariz terlihat melorot ke bawah dan duduk di aspal.


Zafira langsung menoleh ke samping kanan dan melihat kepala Fariz telah menghilang dari balik kaca.


Lebih kurang Lima menit Zafira berdiam diri di dalam mobil, sementara Fariz terduduk di aspal menyandarkan tubuh di pintu mobil menunggu sampai Zafira berubah fikiran dan mau keluar dari dalam kendaraannya.


Satu menit kemudian, gadis itu pun membuka full kaca mobil kemudian menjolorkan sedikit kepala melihat ke arah bawah.


Tampak pria itu sedang duduk terpekur menyandarkan tubuh serta kepala di pintu mobil dengan menekuk kedua kaki ke atas dan menaruh kedua tangan di atas lutut. Pandangan matanya menatap kosong pada beberapa kendaraan yang melintas di depannya.


Zafira merasa iba melihat keadaan Fariz. Hatinya terenyuh. Meskipun gadis itu masih merasa sedih atas perlakuan kasar Fariz di kamar tadi, yang telah menepis tangannya hingga membuat nasi yang dengan susah payah dibelinya terbuang begitu saja ke lantai, namun melihat keadaan sang sahabat yang duduk terpekur membuat hati gadis itu seketika mencair.


Dan sesakit apapun hatinya saat ini kepada Fariz, dia tetap tidak tega membiarkan Fariz dengan keadaan seperti itu. Duduk di aspal seperti seorang gelandangan yang tidak memiliki tempat tinggal.


Dan tanpa fikir panjang bibir Zafira langsung memanggil sahabatnya.


"Fariz!," suara Zafira terdengar pelan memanggil dari atas kepala Fariz.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2