Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
07 - KEKECEWAAN


__ADS_3

"Aneh, kalian sudah sama-sama dewasa tapi mengapa masih saja suka berantem?," Zafira mengomel sambil terus membersihkan memar di bibir Fariz.


Aliran darah Fariz semakin tak karuan, mengalir sangat deras berpacu dengan detakan jantungnya yang tak lagi normal, berdegup keras.


Matanya tanpa berkedip menatap wajah cantik Zafira yang ada tepat di depan mukanya, Fariz mengamati wajah itu setiap inci, dari alis yang terukir panjang tanpa pensil alis, mata bening nan teduh, hidung mancung, serta bibir yang begitu indah.


Fariz melihat kesempurnaan wajah itu, memaksa hatinya tak bisa berpaling pada wajah gadis mana pun yang ada di dunia ini.


Di mata Fariz, hanya Zafira lah yang mengisi hatinya sejak bertahun-tahun lalu, meskipun banyak teman sekelas, adik dan kakak kelas bahkan siswi dari sekolah yang berbeda sekolah dengan Fariz pun banyak yang menyukai dan mengejar siswa pintar itu, yang selalu menjadi juara dan idola di kelasnya.


Namun semua kelebihan Fariz, ternyata tidak berlaku di mata Zafira, gadis itu tidak pernah merasa terpesona dengan semua kelebihan Fariz, yang tidak hanya tampan tetapi juga baik dan pintar.


Fariz terus menatap Zafira dengan sorot mata penuh rasa, namun yang ditatap tidak menyadari. Entahlah, apakah Zafira memang tidak menyadari tatapan Fariz atau Zafira memang tidak ingin peduli.


Apa mungkin, karena hati Zafira tidak memiliki rasa yang spesial untuk Fariz sehingga membuat gadis itu tidak pernah mengindahkan apapun yang dilakukan Fariz.


Saat keduanya duduk saling berhadapan, Fariz fokus memandangi Zafira, sementara Zafira fokus membersihkan memar bekas pukulan Ronald, sebuah hardikan mengejutkan mereka.


"Oh, ternyata dugaanku benar, kalian memang punya hubungan!," hardik Ronald yang telah berdiri di dekat meja.


Zafira sontak menarik tangannya yang masih menempel di sudut bibir Fariz, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Ronald. Fariz melihat reaksi Zafira yang tampak gelagapan saat Ronald muncul di depan mereka.


Ada rasa ngilu di hati Fariz melihat sikap Zafira yang mendadak menjaga jarak dengannya setelah kedatangan Ronald yang tiba-tiba, namun tidak ada yang bisa dilakukan Fariz selain diam dan memandang Zafira dengan tatapan pilu.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian tidak malu bermesraan di depan umum?," Ronald kembali bertanya dengan muka menyeringai.


"Seperti yang kamu lihat, kita tidak melakukan apa-apa, aku hanya membersihkan luka sahabatku," Zafira menjawab santai, karena memang Zafira tidak merasa bermesraan dengan Fariz jadi gadis itu tidak merasa melakukan kesalahan.


Kemudian gadis cantik itu melanjutkan ucapannya dengan menajamkan tatapannya ke arah Ronald yang berdiri sekitar Empat meter dari tempatnya duduk saat ini.


"Kamu yang sudah berbohong padaku, tadi kamu mengatakan mau turun menemui mama kamu, tapi buktinya apa? Kamu menemui Citra kan?," desis Zafira dengan sorot mata menusuk pada sang pembasket.

__ADS_1


Sejenak Ronald terperangah, matanya langsung melirik tajam kepada Fariz yang duduk satu meja dengan Zafira. Dia yakin, Fariz telah menceritakan insiden yang terjadi di bawah.


"Zafira, ternyata kamu mudah sekali dibohongi oleh temanmu sekaligus pengagum beratmu ini. Aku sudah pernah menceritakan padamu kalau antara aku dan Citra sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Hubungan kami sudah lama berakhir. Tadi setelah menemui mamaku, aku berniat naik lagi ke sini, tapi saat aku mau naik, tidak sengaja aku bertemu Citra. Dan seperti biasa, dia berusaha merayuku supaya mau menemaninya berbelanja, tapi aku menolaknya. Dan sekarang terbukti kan? Aku masih naik ke sini untuk menemuimu? Jika memang aku masih memiliki hubungan dengan Citra, pasti saat ini aku sedang bersama Citra dan tidak akan naik ke sini lagi," Ronald bercerita panjang, berusaha meyakinkan Zafira dengan kebohongan yang dia karang dengan seapik mungkin.


Bola mata Zafira berputar, ke kiri dan ke kanan, mencoba mencerna jalan cerita yang dijabarkan Ronald.


Setelah beberapa menit berfikir, akhirnya gadis itu pun mempercayai kata-kata Ronald dan mengakui jika penjelasan si pembasket itu memang masuk akal.


"Baiklah, aku percaya dengan semua yang kamu katakan," akhirnya Zafira mengalah.


Terlihat Ronald menyunggingkan senyum dengan menarik sebelah bibir ke atas, senyuman yang mengisyaratkan jika dia merasa menang karena Zafira dengan mudah mempercayai semua perkataannya.


Fariz yang mendengar ucapan Zafira langsung berdiri dari duduk dan berjalan mendekati gadis itu.


"Zafira! Apa yang kamu katakan? Kamu percaya dengan segala kebohongan playboy ini?! Ayo kita pulang," Fariz memegang tangan Zafira dan hendak mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Heh! Lepaskan tangan Zafira!," bentak Ronald menyingkirkan tangan Fariz yang masih memegang tangan Zafira, lalu menarik tubuh sahabat Zafira itu menjauh dari Zafira.


Kaki Fariz terseret beberapa langkah akibat tarikan tangan Ronald yang sangat keras.


Ronald merasa kesulitan bernafas, mulutnya tampak tersengal dan mulai kehilangan oksigen. Ronald berusaha melepaskan cekalan Fariz dari lehernya namun ternyata tenaga Fariz cukup kuat menempel di leher pembasket itu.


"Sudah kukatakan padamu, aku akan membunuhmu kalau sampai kamu menyakiti hati Zafira!!," Fariz membisikkan kata itu di balik telinga Ronald sehingga Zafira tidak bisa mendengar apa perkataan Fariz.


Zafira yang masih duduk di tempatnya, langsung berdiri dari kursi, tangannya menarik keras tangan Fariz.


"Fariz! lepaskan! Kamu punya malu tidak?! Ini tempat umum!," teriak Zafira membuat Fariz terkejut dan dalam hitungan detik langsung melepaskan cekalannya.


Suara gaduh yang terdengar dari arah meja Zafira membuat para pengunjung mengalihkan pandangan ke arah ketiga orang yang tengah berdiri.


Satu persatu mata orang yang ada di dalam resto menelanjangi Zafira, Fariz serta Ronald secara bergiliran dengan tatapan heran.

__ADS_1


Tampak dua orang pelayan resto berjalan tergesa-gesa mendekat ke arah keributan.


"Ada apa ini mbak, mas? Tolong jangan membuat onar di sini," ucap seorang pelayan laki-laki menatap curiga pada Zafira, Fariz dan Ronald.


"Oh, maaf mas, tidak ada apa-apa, hanya ada sedikit kesalah-fahaman, maaf ya, aku akan segera menyelesaikan semuanya..," Zafira sedikit membungkukkan tubuh kepada kedua pelayan resto.


Kedua pelayan resto tersebut mengangguk serta mengerti dengan penjelasan Zafira dan segera meninggalkan mereka untuk menyelesaikan kesalah-fahaman yang terjadi.


"Kalian ini ya! Gak punya malu! Ini tempat umum, mengapa kalian malah ingin berkelahi di sini?," Zafira menajamkan mata, menatap secara bergantian pada Fariz dan Ronald.


"Fariz, sekarang kamu pulang! Aku tidak mau melihat kalian ribut di sini. Aku akan pulang bersama Ronald," perintah Zafira, pelan menarik ujung baju Fariz.


"Zafira, apa yang kamu katakan! Mengapa kamu masih mau pulang bersama si licik ini? Dia sudah membohongimu dan kamu masih mempercayainya?," teriak Fariz masih berusaha menyadarkan Zafira.


"Sudahlah Fariz, aku sudah cukup dewasa untuk berfikir mana yang benar, mana yang salah. Dan aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu tidak perlu terlalu ikut campur urusanku. Sekarang aku minta kamu pulang! Kalau tidak, aku tidak mau berteman denganmu lagi!," ancam Zafira menatap Fariz dengan sorot mata tajam.


Fariz merekatkan rahang berusaha menahan diri menghadapi sikap Zafira. Fariz meremas dan menggenggam keras kelima jari kanannya, lalu memukulkannya ke udara, mengisyaratkan jika dia menahan kekesalan kepada Zafira.


"Baiklah kalau itu mau kamu! Aku akan pergi!," jawab Fariz kesal, berbalik dan melangkah cepat, pergi meninggalkan Zafira.


Sambil terus melangkahkan kaki keluar resto, Fariz merasakan sedih dalam hati karena sahabatnya lebih memilih pulang bersama Ronald daripada pulang bersamanya.


Namun dia tidak bisa menyalahkan Zafira serta memaksa Zafira untuk menyukai dirinya. Bukankah Zafran pun telah berulang kali menasehati supaya tidak terlalu berharap kepada saudara kembarnya karena pasti Fariz lah yang akan terluka.


Fariz berjalan gontai meninggalkan resto, hatinya terasa remuk mendapat perlakuan Zafira yang dengan tegas menyuruhnya pergi bahkan mengancam akan memutuskan tali pertemanan.


Hati Fariz semakin sakit mengingat perkataan Zafira tadi. Jangankan untuk mengucapkan kata "terima kasih", diajak pulang bersamanya pun Zafira tidak mau.


Apapun yang terjadi pada dirinya hari ini, bibir terluka, disuruh pergi oleh gadis pujaan hati, namun dia tetap tidak menyesali. Setidaknya dia telah berjuang keras untuk menunjukkan kepada Zafira tentang jati diri Ronald, meskipun perjuangan Fariz tidak ada artinya di mata gadis cantik itu.


"Ternyata sesakit ini rasanya menyukai seseorang yang tidak menyukai kita? Zafira, seandainya kamu tahu, aku lebih tulus dari Ronald, apa mungkin kamu akan menyukaiku?," rintih hati Fariz nelangsa.

__ADS_1


Fariz terus berjalan semakin jauh dari resto dengan membawa segala kekecewaan yang dipendamnya di hati.


...*******...


__ADS_2