
Zafira berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. Matanya tak juga berpindah dari sana setelah jarum jam berdetak beberapa detik. Dia masih berusaha menenangkan jantung serta hatinya yang mengalun berirama dag dig dug. Perasaan ini lebih menegangkan daripada harus ujian skripsi yang dikelilingi banyak dosen. Jika boleh memilih, dia lebih memilih ujian skripsi yang diawasi puluhan dosen daripada harus memulai sesuatu yang selama ini tidak pernah dilakukannya.
"Bagaimana caraku memeluknya? Aku bingung harus memulai dari mana? Mengapa aku menjadi gemetaran seperti ini? Selama ini aku tidak pernah sebingung dan segemetar ini saat memeluk Fariz. Mengapa sekarang otakku jadi begitu bodoh? Hanya untuk memeluk saja, aku harus menguras fikiran untuk mencari cara bagaimana memulainya? Mengapa aku tidak bisa berfikir? Apa karena aku terlalu gugup? Ya Allah bantu aku," desahnya dalam hati sambil melirik pria yang terlentang di sebelahnya.
Setelah lebih dari lima menit mengatur nafas dan menenangkan hati. Gadis itu pun merubah posisi tidur. Memiringkan tubuh ke kiri menghadap Fariz. Dia melihat Fariz sama sekali tidak menunjukkan reaksi. Hanya matanya tampak berkedip membentur sudut tembok yang ada di depan.
Zafira sedikit mengangkat kepala lalu menggeser bantalnya lebih naik ke atas. Tubuhnya ikut bergerak naik ke atas mengikuti bantal dan kembali merebahkan kepalanya di atas benda empuk itu. Dia sengaja memposisikan tubuhnya lebih tinggi dari sang suami agar mudah untuk memeluk kepalanya. Setelah itu, dengan perasaan ragu, menggunakan tangan kanan, gadis itu membalikkan badan Fariz yang masih terlentang untuk berbalik menghadapnya.
Sebelum memeluk Fariz, Zafira sempat menarik nafas panjang lalu menghempaskannya pelan untuk menenangkan perasaannya.
"Aku mohon jantungku.., Berhentilah mempersulitku.., Untuk kali ini saja, cobalah untuk tenang.., Fariz akan mendengar semua kalau kamu tetap bersuara keras. Tolong aku. Kali ini cobalah bersahabat denganku..," gadis itu berusaha menenangkan debaran di jantungnya, mengerutkan kedua kelopak mata dan memejamkannya.
Kini kedua pengantin baru itu telah saling berhadapan. Namun kepala Zafira lebih tinggi di atas, sementara kepala sang pria berada bersejajar dengan dada sang gadis.
Zafira terlihat meluruskan dan merenggangkan tangan kirinya di sisi bagian atas kepala Fariz. Kemudian menekuknya memegang ujung rambut Fariz. Dengan berbagai perasaan yang berkecamuk melanda hati serta fikiran, dan dengan mengumpulkan seluruh keberanian, perlahan-lahan tangan kanan gadis itu meraih kepala Fariz dan mendekapnya ke dalam dada. Mengelus rambut hitam itu pelan, berulang-ulang.
"Deg"
Jantung Fariz sontak berdenyut. Pria itu terperanjat saat merasakan kepalanya sudah berada di dalam dada Zafira. Fariz tidak percaya kalau saat ini dia terkungkung di dalam dekapan gadis berkulit putih itu. Tubuhnya menjadi bergetar seakan di-aliri arus listrik, panas membakar. Irama jantungnya yang tadi normal sekarang sudah seperti boom waktu yang beberapa detik lagi segera meledak. Pria itu tidak menyangka jika Zafira akan memeluknya ke dalam dadanya. Pemikiran awalnya, Zafira akan memeluk tubuhnya dari samping menggunakan tangannya. Tetapi ini justru Zafira yang mendekap kepalanya ke dada. Rezeki itu memang tidak pernah tertukar. Malam ini dia mendapatkan rezeki besar. Walau pun tidak bisa bebas menyentuhnya, setidaknya dia sudah sangat bersyukur bisa merebahkan kepala dalam dada sang istri.
Terdiam dan membeku di balik dada sang istri, Fariz meneguk saliva kasar yang sulit ditelan, menahan segala gejolak yang menghempas naluri kelelakian-nya. Tetapi dia tidak ingin mengingkari janji. Dia tidak akan melanggar kesepakatan yang baru saja dia sepakati dengan sang istri. Masih untung, Zafira masih bersedia mendekapnya. Bukan untung, tetapi sangat beruntung dan menjadi moment yang tidak akan pernah terlupakan dari ingatan pria itu.
__ADS_1
Jika ingin menuruti hasratnya, rasanya dia ingin mengurungkan niatnya untuk tidur. Dia ingin sekali melakukan yang lebih dari ini. Menyentuh dan meraba seluruh tubuh halus gadis itu. Apalagi aroma wangi dari dada Zafira terlalu mengganggu indera penciumannya. Tetapi otak warasnya kembali mengingatkan, bahwa dia tidak boleh melanggar janji. Dia tidak mau jika Zafira akan benar-benar marah kali ini jika sampai dia melanggar janji.
Fariz memejamkan mata, menyesap panjang udara dari celah-celah dada Zafira. Ternyata Zafira sewangi ini. Fikirnya.
Beberapa waktu lalu, Fariz sudah pernah mencium aroma wangi dari jemari, leher, rambut Zafira. Dan malam ini, giliran dada sang gadis yang menjadi santapan liar indera penciumannya. Luar biasa. Tidak ada nikmat Allah seindah ini.
Rupanya, tidak hanya jemari, rambut, leher Zafira yang menebarkan keharuman. Bahkan bagian tubuh dada Zafira yang tertutup pun menyebarkan aroma yang begitu wangi, yang telah menjadi candu bagi Fariz. Sepertinya tidak ada satu penawar pun yang mampu menghilangkan candu itu selain Zafira.
Fariz tidak tahan untuk terus berdiam diri seperti patung tak bernyawa. Tangan kirinya pun sedikit bergerak lalu melingkar mesra di pinggang Zafira. Meskipun mereka berada dalam satu selimut yang ruang geraknya sedikit sempit, tetapi Fariz masih bisa menggerakkan tangannya dengan bebas di balik selimut. Sehingga tangan itu sudah memeluk sempurna di pinggang ramping itu.
"Deg"
Kali ini jantung Zafira-lah yang berdegup. Sekuat tenaga, dia memejamkan mata berusaha menenangkan degupan di dalam dadanya.
Suaranya dibuat setenang mungkin, padahal jantungnya sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi selain bernyanyi dag dig dug menandakan kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Kehangatan mengalir dalam tubuh Fariz mendapatkan sentuhan selembut itu dari tangan Zafira. Rasa nyaman serta damai pun mengalir di hati ketika menikmati aroma wangi yang menyeruak dari balik daster Zafira.
Pria di balik dada hanya terlihat menganggukkan kepala menjawab perkataan Zafira. Anggukan itu bergesekan dengan kedua benda di dada Zafira. Gadis berkulit putih itu hanya mampu menggigit bibir dan sedikit meringis merasakan sensasi yang seumur hidup belum pernah dirasakannya. Entah sensasi apa itu, yang jelas terasa begitu menyentakkan jiwanya. Zafira sedikit menarik dadanya menjauhi kepala Fariz agar kepala yang ditumbuhi rambut hitam dan tebal itu tidak terlalu menempel di benda miliknya.
"Aduuhh bodoh! Mengapa aku memeluknya seperti ini? Seharusnya aku tidak menaruh kepalanya di dadaku. Mengapa aku menjadi sangat bodoh? Kemana otak pintarku selama ini? Aku lulusan Cum Laude tapi mengapa urusan laki-laki aku begitu bodoh! Bodoh, bodoh," rutuk Zafira mengumpati kebodohannya sendiri tetapi tidak mungkin dia menarik diri, dia tidak mau sikapnya membuat Fariz merasa tersinggung.
__ADS_1
"Tik, tik, tik"
Jarum jam sudah berputar selama sepuluh menit.
"Sudah tidur belum?," Zafira sudah tidak sabar ingin segera melepaskan pelukannya.
Jika posisi mereka seperti ini terus, dia dapat memastikan jantungnya benar-benar akan tumbang dari tempatnya.
"Hmmm," suara mengantuk terdengar dari balik dada Zafira.
"Selamat tidur," suara pria itu kembali terdengar.
Fariz memang sudah didera rasa mengantuk. Aroma segar dari celah dada Zafira seperti obat tidur baginya. Membuatnya terasa sangat mengantuk dan ingin segera tidur. Dia berharap saat bangun esok pagi, kepalanya masih berada dalam dekapan wanitanya.
Zafira merasa lebih tenang mendengar sahutan dari dalam dekapannya. Suaranya serak. Itu tandanya, sebentar lagi Fariz pasti akan segera tertidur.
Gadis itu terus mengelus rambut hitam Fariz, dengan tujuan agar pria itu lekas tertidur agar dia bisa segera mengambil langkah cepat untuk melepaskan diri dari suasana yang benar-benar telah membuatnya tak berdaya.
Beberapa menit kemudian, Fariz telah tertidur di balik dada Zafira. Dan entah kapan, rupanya Zafira pun telah ikut tertidur dengan posisi yang tidak sempat diubah. Masih memeluk kepala suaminya.
Malam semakin larut. Tak ada lagi suara pembicaraan di kamar itu. Hanya ada suara nafas halus keluar dari sela bibir kedua pengantin baru itu. Tak ada yang menyangka, jika hanya dalam hitungan dua hari, masuk tiga hari, keduanya sudah bisa sedekat ini. Tidur dalam satu selimut dengan saling berpelukan. Sahabat yang dulunya hanya menjadi teman main, makan dan bercengkerama, nyatanya malam ini telah menjadi pasangan suami istri yang siap mengarungi biduk rumah tangga. Semoga suatu hari nanti, Zafira benar-benar bisa menyadari perasaannya kepada sang suami dan mengungkapkan kata cinta kepada pria yang telah menunggunya hingga berpuluh tahun itu.
__ADS_1
Terkadang menjalin sebuah persahabatan dapat membuat kita mengerti, jika sesuatu yang dijalani dengan rasa tulus dan ikhlas, tak jarang akan menumbuhkan benih-benih cinta di hati tanpa disadari, seperti yang saat ini dialami dua sejoli yang tengah berpelukan melewati malam yang sunyi.
...*******...