Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
24 - SIA-SIA SUDAH


__ADS_3


Masya Allah, makasih ya buat kalian yang selalu setia memberi support serta dukungan dari Novel pertamaku dan Novel keduaku ini.


Karena kalian, aku bisa naik dari Author Silver menjadi Author Gold, Makasih ♥️


*****


"Sebenarnya tidak terjadi sesuatu dengan Zafira dan Fariz, tante. Tadi kita baik-baik saja. Tapi saat Fariz makan siang bersama Zafira di restoran di dekat kantor Zafira, tiba-tiba Ronald datang dan merusak makan siang kami. Dia menyuruh Fariz menjauhi Zafira bahkan memberitahu rencana pernikahan Zafira dan Ronald dalam waktu dekat. Mungkin itulah yang membuat Fariz menjadi marah dan tidak mau berbicara dengan Zafira," Zafira menjelaskan tanpa menutupi apapun hal yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Fariz.


Tina terperanjat.


"Apa? Kamu mau menikah? Kapan?," tanya Tina beruntun tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.


Wanita itu benar-benar terkejut mendengar berita yang disampaikan Zafira. Dan untuk sesaat wanita itu terdiam berusaha menenangkan perasaannya yang mendadak resah.


Bagaimana tidak resah? Anak si mata wayangnya harus mengalami takdir cinta teramat pahit, gadis yang sejak kecil dikagumi serta dicintainya memilih menikah dengan pria lain.


"Belum tahu tante. Ini baru rencana Zafira dan Ronald saja, belum pasti kapan tanggalnya. Mungkin beberapa bulan ke depan, soalnya Ronald dan orang tuanya juga belum datang menemui mama dan papa. Maafkan Zafira ya tante, Zafira tidak bisa menerima perjodohan yang sudah disepakati oleh tante dan om Rico dengan mama papa," jelas Zafira dengan suara penuh penyesalan.


Tina tercenung mendengar ucapan Zafira. Di satu sisi, dia tidak ingin menyalahkan gadis itu tetapi di sisi lain, dia juga merasa iba melihat keadaan sang anak.


Sebagai seorang ibu, Tina dapat merasakan apa yang kini tengah dialami Fariz. Wanita itu yakin, saat ini sang putra pasti sangat terluka mendengar berita bahwa gadis yang dia cintai akan segera menikah dengan laki-laki lain, namun Tina berusaha berbesar hati dan harus menerima keputusan Zafira dengan ikhlas.


"Iya, sudah tidak apa-apa nak, nanti tante yang akan menasehati Fariz. Apapun yang menjadi keputusanmu mudah-mudahan bisa membuatmu bahagia. Tante juga tidak bisa memaksamu untuk menerima perjodohan dengan Fariz. Kalau kamu tidak mencintai Fariz, itu juga bukan salahmu. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam situasi ini. Tante hanya berharap kamu bisa bahagia dengan siapa pun yang menjadi suamimu nanti," Tina berdoa ikhlas untuk anak sang sahabat.


Hati Tina begitu baik, wajar jika dari berpuluh tahun lalu hingga detik ini, Laras memilih bahkan menjadikan Tina sebagai saudara.


Dan Zafira pun pasti akan sangat beruntung jika memiliki mertua sebaik Tina yang tidak pernah menyalahkan Zafira karena telah menolak perjodohan dengan anaknya, bahkan wanita itu juga tidak pernah membedakan Zafira dengan Fariz, tulus menyayangi Zafira seperti dia menyayangi Fariz.


"Terima kasih tante. Tante baik sekali. Nanti Zafira ke rumah. Zafira mau menemui Fariz dan menjelaskan semua. Zafira tidak mau Fariz menjauhi Zafira setelah mendengar rencana pernikahan Zafira," ujar gadis itu memberitahu.


"Iya sayang, kamu bisa ke sini kapan pun kamu mau. Tante setuju, kamu jelaskan baik-baik dengan Fariz mudah-mudahan dia bisa mengerti. Nanti Tante juga akan ikut menasehatinya. Sekarang baru jam tiga, kamu ke sini setelah pulang kerja?,"

__ADS_1


"Sebentar lagi tante, sekitar satu jam lagi. Zafira shalat Ashar dulu di kantor dan menyelesaikan sedikit pekerjaan, setelah itu langsung ke rumah,"


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan ya nak, jangan ngebut! Assalamu'alaikum," pesan Tina menutup pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam tante,"


Pukul 16:05.


Zafira sudah berada di dalam mobil. Gadis itu terus saja memikirkan Fariz. Semua isi di dalam kepalanya dipenuhi tentang Fariz. Bahkan Ronald yang telah berpuluh kali meneleponnya tidak dihiraukan. Gadis itu masih merasa kesal dengan sikap Ronald yang menurutnya sudah melampaui batas.


Zafira tahu jika Fariz pasti sangat terluka dengan kejadian ini, apalagi mengetahui rencana pernikahan Zafira.


Sementara di rumah orang tua Fariz.


Fariz duduk termenung bersandar di kepala ranjang menatap kosong ke depan. Matanya melihat pada layar televisi yang ada di dinding namun fikirannya melayang jauh kepada Zafira.


Wajah Zafira yang begitu cantik, senyumnya yang begitu menawan serta sikapnya yang lembut dan terkadang di saat marah menjadi terlihat lucu serta menggemaskan, semua itu terbayang di pelupuk mata pria itu.


"Aku bodoh sekali! Selama ini aku terus berharap kamu bisa mencintaiku dan membalas perasaanku, tapi hari ini aku mendapat jawaban atas semua penantianku. Kamu memilih laki-laki lain untuk menjadi suamimu. Sia-sia sudah apa yang aku perjuangkan selama ini. Aku bahkan telah membeli rumah serta apartemen untuk masa depanku bersamamu nanti. Aku berharap bisa menghabiskan sisa umur denganmu. Aku juga bermimpi akan pindah dari rumah mama papaku dan bisa hidup bersamamu di rumah yang sudah aku persiapkan untukmu. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kamu sama sekali tidak pernah mempedulikan perasaanku. Bahkan kamu sekarang telah mengambil keputusan untuk menerima lamaran laki-laki lain daripada belajar mencintaiku," bisik hati Fariz sambil mengusap kasar mukanya yang kini tampak benar-benar kusut.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku meng-ikhlaskanmu dan pergi menjauhimu? Apa aku sanggup hidup tanpa melihat wajahmu? Ya Allah bantu Hamba-MU melewati semua ini," bisik Fariz nelangsa, menengadahkan kepala ke atas.


Beberapa menit kemudian, Tina masuk ke kamar Fariz dan melihat sang anak sedang duduk berselonjor kaki bersandar di kepala tempat tidur. Sang mama duduk di pinggir ranjang.


"Nak, apa yang terjadi denganmu dan Zafira?," Tina bertanya namun Fariz tidak menyadari kedatangan Tina, pria itu masih terhanyut dalam lamunan.


"Fariz?," panggil Tina dengan suara sedikit diperkeras.


Barulah pria itu tersadar dan dengan raut muka terkejut mengalihkan pandangan kepada wanita yang duduk di dekatnya.


Fariz diam, menatap Tina sejenak. Tetapi mulutnya masih sangat berat untuk mengeluarkan sebuah kata. Sang mama sangat mengerti dengan kondisi anaknya.


"Sayang, mama sudah tahu dari Zafira. Baru saja dia menelepon mama menanyakan keberadaanmu. Dia juga sudah menceritakan permasalahan kalian berdua," jelas Tina menatap nanar sang putra yang masih berdiam diri.

__ADS_1


Sang mama mengulurkan tangan kanan lalu mengusap kepala Fariz. Ada rasa sakit di hati wanita itu melihat keadaan sang anak yang begitu terpuruk.


Namun Tina tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada seorang pun yang bisa memaksa hati Zafira agar bisa mencintai Fariz. Dan tidak ada seorang pun yang bisa mencegah hati Zafira agar berhenti mencintai Ronald. Semua perasaan cinta yang ada di hati Zafira, Zafira-lah yang merasakan, dan hanya dirinya jua-lah yang bisa menentukan kemana hatinya akan berlabuh dan memberinya kebahagiaan.


Fariz hanya terdiam. Tanpa diberitahu sang mama pun, Fariz sudah bisa menebak Zafira pasti akan mencari dirinya. Zafira bukan tipikal gadis yang berhati keras, namun sebaliknya. Sosoknya sangat lembut serta penuh perhatian, dan barang mustahil Zafira akan membiarkan Fariz menghilang begitu saja dari pelataran parkir dengan kondisi marah tanpa mencari tahu keberadaannya.


Fariz hafal, Zafira akan melakukan berbagai cara supaya bisa berbaikan dengan dirinya. Itu adalah salah satu sifat Zafira yang membuat Fariz jatuh cinta pada gadis itu.


Saat ini Fariz hanya ingin sendiri dan tidak ingin mengeluarkan suara meski pun sang mama telah mengajaknya berbicara.


"Nak, dengarkan mama.., Kamu tidak bisa menyalahkan Zafira sepenuhnya. Zafira itu anak baik. Selama ini apa pernah dia bersikap jahat padamu? Tidak pernah kan? Dia menganggapmu sahabat dan saudara, itu adalah hal yang wajar karena kalian tumbuh dan besar bersama. Kalau pun dia tidak memiliki perasaan seperti yang kamu rasakan, kamu tidak harus menyalahkannya. Dia mau menjadi sahabat dan menganggapmu saudara, itu sudah lebih dari cukup. Dan kamu beruntung memiliki saudara seperti Zafira. Dia selalu baik dan memperhatikanmu serta mama dan papa. Jadi saran mama, berbaikanlah. Semua masalah, kamu pasrahkan kepada Allah," ucap Tina sambil terus mengusap rambut anak semata wayangnya.


"Jika memang Zafira itu jodohmu maka tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kalian. Pasti akan ada jalan untuk kalian bersatu. Tapi kalau Zafira bukan jodohmu, sekuat dan se-gigih apapun kamu memperjuangkannya, kalian tidak akan pernah bisa bersama. Berserah diri dan berdoalah kepada Allah agar diberikan jalan terbaik untuk hidupmu dan juga hidup Zafira. Kamu mengerti kan maksud mama?," ucap Tina kembali menasehati sang anak yang kini duduk termangu.


Saat Tina dan Fariz sedang berada di dalam kamar, mobil Honda Civic berwarna putih milik Zafira telah memasuki halaman rumah. Tampak seorang Security berbadan tegap telah menutup kembali pagar rumah.


Zafira yang memang telah terbiasa keluar masuk rumah ini, langsung membuka pintu depan yang memang tidak terkunci.


Gadis itu berjalan masuk dan mengelilingkan pandangan mencari tuan rumah namun tidak ada siapa pun yang ditemukan. Dia berfikir, jika Tina sedang beristirahat di kamar dan gadis itu tidak ingin mengganggu waktu istirahat sahabat mamanya itu.


Zafira segera melangkah menuju kamar Fariz dengan membawa tas kerja di tangan kanan.


"Tok, tok, tok"


Zafira mengetuk pelan pintu kamar Fariz.


Spontan Fariz serta Tina menoleh ke arah pintu.


"Itu pasti Zafira," bisik Tina memberitahu Fariz. Mata Fariz masih tertuju ke daun pintu.


"Sudah. Jangan terus mendiamkan Zafira, tidak baik. Apalagi dia sudah bersusah payah datang ke sini. Kasihan. Dari pagi sampai sore dia bekerja, dan pulang bekerja langsung ke sini demi menemuimu. Apa kamu tega memperlakukan gadis yang kamu cintai seperti ini?," bujuk Tina tetap berusaha mendamaikan sang putra dengan calon menantu, itu pun kalau berjodoh.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2