
Keesokan hari.
Pukul 16:00.
Laras dan Arga baru saja sampai di rumah Mayang.
Hari ini Arga sengaja pulang cepat dari kantor karena hari ini adalah jadwal rutin mereka datang dan membesuk Mayang di rumahnya.
Keduanya langsung mencari Mayang di kamar. Tampak wanita yang telah memasuki usia 77 tahun itu sedang duduk bersantai di sofa sambil menonton televisi.
"Assalamu'alaikum mama," ucap Laras tersenyum memasuki kamar.
"Wa'alaikumsalam," sahut Mayang mengalihkan pandangan ke arah pintu.
Mayang tersenyum bahagia melihat kedatangan anak serta menantu kesayangannya.
Dua kali kadang tiga kali dalam satu minggu, sepasang suami istri itu rutin datang ke rumah Mayang untuk mengecek keadaan serta kesehatan wanita yang telah semakin menua itu dan terkadang mereka menginap mengajak kedua anak kembar, Zafran dan Zafira.
Meskipun telah berumur 77 tahun namun indera pendengaran serta penglihatan Mayang masih cukup baik, namun demikian, tetap tidak dapat dipungkiri umur adalah sesuatu yang tidak dapat kita cegah dan setiap manusia pasti mengalaminya, meskipun kita berlari sejauh mungkin menua adalah sesuatu yang pasti terjadi.
Begitu yang kini dijalani Mayang, meskipun indera penglihatan serta pendengarannya masih cukup baik namun tetap saja tidak sesempurna saat masih muda.
Kulit yang dulunya kencang kini sudah layu dan mengendur. Rambut yang dulunya hitam lebat kini telah memutih serta menipis. Gigi yang dulunya lengkap kini sudah terlihat renggang serta berkurang. Tenaga yang dulunya kuat kini terlihat rentan serta goyah.
Namun aura kecantikan wajahnya masih tersisa di usianya yang telah senja, wajah itu masih terlukis indah di balik garis-garis mengeriput yang memenuhi muka tua itu.
Laras duduk di sisi kanan sang mertua lalu segera mencium tangan, mencium kedua pipi serta memeluk mertua kesayangannya itu dengan penuh kehangatan serta kasih sayang, disusul Arga pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sang istri.
"Bagaimana keadaan mama? Sehat saja kan?," tanya Laras penuh perhatian memijit pelan pergelangan sang mertua.
"Alhamdulilah seperti yang kalian lihat, mama sehat dan masih kuat," ucap Mayang terkekeh.
"Alhamdulillah, Allah senantiasa memberi mama kesehatan seperti yang selalu kita doakan. Maksud kedatangan Laras dan mas Arga ke sini, mau mengajak mama pindah ke rumah kita," ucap Laras pada inti pembicaraan tanpa berbasa basi.
"Tapi nak, mama masih ingin di sini. Ini rumah peninggalan papa kalian, mama ingin menghabiskan sisa umur mama di sini," ucap wanita tua itu menatap Laras lekat.
"Iya ma, Laras dan mas Arga tahu keinginan mama, tapi kita juga tidak bisa membiarkan mama sendirian di sini, walau pun ada para pekerja di sini, tapi tetap saja menjadi beban untuk Laras dan mas Arga. Kita selalu kefikiran dengan kondisi mama di sini," ucap Laras lagi memberi pengertian pada sang mertua.
Mayang terdiam memikirkan kata-kata menantunya.
"Ma, ini sudah ke sekian kalinya, sudah puluhan kali Arga dan Laras meminta mama pindah ke rumah kita, tapi mama selalu menolak. Tolong mama fikirkan kembali," sambung Arga ikut menimpali.
Mayang tetap terdiam, dia masih memikirkan perkataan anak serta menantunya sambil menikmati pijatan Laras yang kini sudah berpindah ke bahunya.
"Baiklah, kalau mama memang tidak mau pindah ke rumah kita, bagaimana kalau kita saja yang pindah ke rumah mama? Nanti rumah kita di sana dijual atau dikontrakkan saja, karena Laras tidak bisa berdebat terus dengan mama, sementara usia mama sudah makin bertambah," ucap Laras akhirnya mengalah, memberi jalan tengah untuk mereka.
Arga dan Mayang tersentak bersamaan, mereka terkejut dengan ucapan Laras dan tidak menyangka jika Laras akan mengambil keputusan sebesar itu.
Bagaimana tidak, apa yang diucapkan Laras merupakan keputusan yang sangat besar. Sang menantu rela meninggalkan rumahnya demi menjaga sang mertua.
Padahal mereka tahu, jika Laras dan Arga memulai kehidupan baru mereka di rumah itu, setelah badai pernikahan yang hampir membuat mereka bercerai. Ditambah lagi kedua anak kembar mereka yang memang telah terbiasa hidup nyaman di rumah itu.
"Sayang, kamu yakin?," Arga bertanya seolah-olah tidak percaya dengan perkataan Laras.
"Iya, aku yakin sayang. Aku tidak mau membiarkan mama terus-terusan sendirian di rumah ini, sementara umur mama semakin hari semakin bertambah dan tenaga mama juga pasti akan semakin berkurang. Kita tidak bisa membiarkan mama tanpa keberadaan kita di saat tuanya. Kita harus selalu mengontrol serta mengawasi mama setiap hari. Kalau rumah kita berjauhan seperti ini, otomatis kita tidak akan bisa merawat mama dengan baik. Bukankah dulu aku sudah berjanji akan merawat dan mengurus mama di saat tua. Dan sekarang waktunya aku melaksanakan janji serta kewajibanku itu," ucap Laras dengan tulus.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu keinginanmu, aku menurut saja. Mana yang menurutmu baik, aku akan mendukung," ucap Arga menyetujui keinginan istri cantiknya.
Mayang masih tetap terdiam, otaknya masih berfikir keras, mencari solusi yang paling baik, karena kedua anak serta menantunya memang tidak pernah menyerah untuk membawanya pindah ke rumah mereka.
Gurat keriput di wajah Mayang sudah sangat terlihat jelas, menandakan bahwa usianya memang sudah sepantasnya untuk tinggal bersama anak serta menantunya.
"Baiklah, mama akan ikut kalian," ucap Mayang akhirnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
Laras dan Arga tercengang mendengar keputusan Mayang, keduanya saling berpandangan mendengar keputusan yang baru saja diucapkan Mayang.
Berpuluh tahun hingga Zafran dan Zafira tumbuh dewasa di usia sekarang telah lebih dari 21 tahun, mereka tidak berhenti membujuk bahkan merayu Mayang agar mau pindah ke rumah mereka, baru hari ini Mayang mau menuruti permintaan Laras dan Arga.
"Jadi mama mau pindah ke rumah kita?," tanya Laras memastikan keinginan Mayang.
"Iya sayang, mama sudah memikirkannya," ucap wanita tua itu dengan mantap.
"Ma, sebenarnya Laras tidak masalah kalau mama mau kita saja yang pindah ke rumah mama. Menurut Laras, dimana pun Laras tinggal, mau di rumah mama atau di rumah kita, semuanya sama. Tidak mengurangi kebahagiaan Laras," ucap Laras menghentikan pijatannya dan menggenggam tangan sang mertua dengan penuh kehangatan.
"Biar mama saja yang pindah ke rumah kalian. Mama kasihan dengan Zafran dan Zafira, mereka pasti sudah terbiasa dan merasa nyaman tinggal di rumah kalian. Kalau tiba-tiba mereka dipaksa pindah ke sini, takutnya hati mereka berdua akan menjadi sedih,"
Laras langsung mendekap erat Mayang.
"Ya Allah, mama masih saja memikirkan cucu-cucu mama, beruntung sekali Zafran dan Zafira memiliki oma sebaik dan penuh pengertian seperti mama," ucap Laras terharu masih memeluk Mayang.
"Tapi ma, mama tidak keberatan kan pindah ke rumah kita?," tanya Laras mencoba mencari tahu isi hati Mayang.
"Tidak sayang.., Mama juga berfikir, tidak mungkin mama terus-terusan tinggal di sini tanpa anak dan cucu-cucu mama. Perkataanmu tadi memang benar, umur mama akan semakin bertambah dan tenaga mama juga pasti tidak akan sebugar dulu jadi harus ada yang mengurus dan menjaga mama. Terima kasih nak, kamu memang menantu yang paling baik dan berbakti," ucap Mayang mengurai pelukan lalu mencium keningnya Laras.
Arga tersenyum bahagia menatap kedua wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya.
"Iya nak, kalau cucu-cucu mama tidak sempat menjemput, tidak apa-apa. Mereka juga pasti sedang sibuk kuliah. Oh iya, kamar di bawah masih ada yang kosong?," tanya Mayang kemudian.
"Masih ma, kamar yang dulu pernah Laras dan mas Arga tempati sampai sekarang kamar itu masih kosong, bersih dan tidak pernah ada yang menempati. Di bawah ada Empat kamar. Satu kamar Mardi dan istrinya. Mang Gatot, Bik Lina, Sapri, Imam sudah pulang kampung. Sekarang ada Ali dan Roby yang menjadi Security. keduanya belum menikah dan menempati satu kamar. Jadi masih dua kamar yang tersisa," Laras menjelaskan.
"Baiklah, mama akan menempati kamar kalian saja," sahut Mayang tersenyum.
"Iya ma, besok akan dibersihkan lagi. Terus bagaimana dengan pekerja mama di sini? Apa mereka akan pulang kampung atau ikut saja ke rumah kita? Kasihan kalau mereka dipulangkan ke kampung," tanya Laras prihatin.
"Di sini hanya ada tiga pekerja. Ada Rati, Tami dan Tikno. Tikno akan pulang kampung karena mau menikah. Rati dan Tami sepertinya yang akan ikut mama," ujar Mayang menjelaskan.
"Baiklah ma, Rati dan Tami ikut saja ke rumah kita. Bisa bantu-bantu istri Mardi memasak serta membersihkan rumah. Selama ini Mardi yang membantu istrinya membersihkan rumah serta kolam. Setelah ada Rati dan Tami, sekarang Mardi hanya bertugas menjadi sopir dan membersihkan kolam serta pekarangan rumah," ucap Laras kemudian.
Arga hanya duduk bengong mendengarkan percakapan kedua wanita itu, dan dia akan selalu setuju dengan semua keputusan sang istri, karena dia tahu, Laras sangat pandai mengatur segala urusan rumah tangga.
Ketiga orang yang saling menyayangi itu melanjutkan obrolan ke ruang tamu. Laras dengan penuh perhatian serta kasih sayang menggandeng sang mertua berjalan keluar kamar.
Arga yang sedari tadi memperhatikan sikap Laras, merasa sangat bahagia. Istrinya tidak pernah berubah, dari awal hingga detik ini sikapnya tetap sama, baik, perhatian dan tulus kepada semua orang di rumah termasuk kepada seluruh pekerja di rumah mereka.
*****
Keesokan pagi.
Pukul 07:00.
Arga, Laras, Zafira serta Zafira baru menyelesaikan sarapan.
__ADS_1
Kedua anak kembar itu telah bersiap berangkat ke kampus. Seperti rutinitas setiap pagi mereka akan berpamitan dengan mencium tangan kedua orang tua mereka.
Arga hari ini sengaja berangkat lebih pagi dikarenakan ada meeting dengan Client pukul 08:00.
Arga memakai jas biru navy, dasi putih bergaris serta sepatu hitam mengkilat yang telah disemir oleh sang istri. Wajahnya juga tampak seperti biasa, tetap tampan dan berwibawa, dengan rambut yang selalu disisir rapi.
Kepala rumah tangga itu ikut berjalan ke pintu depan beriringan dengan istri serta kedua anak kembarnya.
Laras memegang tas kerja Arga seperti sekian puluh tahun dilakukannya di setiap pagi saat mengantar sang suami ke kantor.
"Sayang, kalian nanti pulang kuliah jam berapa?," tanya Laras saat Zafran dan Zafira telah sampai di depan mobil Honda HRV hitam milik Zafran.
"Besok mata kuliah Zafira hanya dua ma.., Pagi sampai siang. Jam 12 sudah selesai, ada apa ma?," tanya Zafira ingin tahu.
"Besok mama dan papa mau menjemput oma, kalian ikut ya," pinta Laras kepada kedua buah hatinya yang semakin tumbuh dewasa dengan wajah cantik dan tampan.
"Iya ma Zafira pasti ikut," sahut Zafira senang.
"Kamu sayang? Kamu mau ikut juga kan?," Laras bertanya kepada putranya.
"Iya ma, Zafran juga ikut," sahut sang putra mengangguk.
"Nanti kalian beritahu Fariz, siapa tahu dia juga mau ikut menjemput oma," ucap Laras lagi.
Mendengar perkataan sang mama, mendadak ide cemerlang muncul di benak Zafran. Dia ingin agar hari ini Fariz bisa ikut dan bisa pulang bersama Zafira.
"Iya ya benar ma.., Nanti Zafira diantar Fariz saja. Soalnya hari ini mata kuliah Zafran hanya satu. Jam 10 Zafran sudah selesai kuliah dan bisa langsung pulang ke rumah oma. Masalah Zafira, biar Fariz yang mengantar. Sepertinya hari ini jadwal kuliah Fariz juga hanya sampai siang," ucap Zafran.
"Itu ide bagus, mama setuju," sahut Laras tersenyum senang.
"Kamu selalu menyuruh Fariz," sungut Zafira melirik ke arah Zafran. Sang saudara kembar hanya tersenyum simpul melihat wajah Zafira yang terlihat cemberut.
"Ya sudah berangkatlah, jangan ngebut," pesan Laras.
Setelah mengucapkan salam, si kembar itu pun masuk ke mobil dan meninggalkan rumah mewah itu.
"Aku juga berangkat ya sayang," pamit Arga mengambil tas kerja dari tangan Laras lalu mencium kening sang istri sambil memeluk sejenak tubuh yang masih tetap ramping itu.
"Iya sayang, hati-hati di jalan, jangan ngebut," ucap Laras sambil mencium tangan sang suami.
"Aku mencintaimu sayang," ucap Arga melepas pelukan dari tubuh sang istri.
"Aku juga mencintaimu sayang," balas Laras tersenyum mengantar keberangkatan Arga dengan lambaian tangan.
"Kamu itu sengaja membuat ide supaya Fariz bisa terus dekat-dekat denganku kan?," tanya Zafira saat mereka masih dalam perjalanan ke kampus.
"Memangnya mengapa? Apa ada yang salah dengan Fariz? Kamu lebih aman jika ada Fariz di sampingmu daripada si Ronald itu," sahut Zafran dengan jujur.
"Selalu saja begitu anggapanmu tentang Roland," dengus Zafira kesal.
"Iya memang begitulah kenyataannya, mau bagaimana lagi?," Zafran tersenyum mengangkat kedua bahu, meledek Zafira, membuat Zafira semakin kesal dengan ulah si kembarannya.
"Oh iya, nanti aku yang akan menelepon Fariz dan memintanya mengantarmu ke rumah oma," ucap Zafran mengedipkan sebelah mata kepada Zafira.
"Terserah kamu!," sahut Zafira tidak peduli, Zafran hanya menggeleng melihat tingkah adiknya itu.
__ADS_1
...*******...