Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
06 - SEBUAH PERHATIAN


__ADS_3

Di resto.


Zafira masih menunggu Ronald, hampir sepuluh kali gadis itu bolak balik melihat jam yang melingkar di tangannya, tiga puluh menit berlalu sejak Ronald pamit, belum ada juga tanda-tanda Ronald akan segera kembali menemui gadis cantik itu.


Zafira mengambil ponsel di dalam tas lalu menekan kontak Ronald, panggilan tersambung tetapi tidak ada jawaban dari Ronald.


Zafira menarik nafas panjang, kepalanya berputar ke seluruh ruangan, bola mata menyapu keadaan resto, berharap ada sosok Ronald di sana, namun harapannya sia-sia.


Namun mendadak mata Zafira menangkap satu sosok yang berjalan sedikit terburu-buru menuju meja, dimana tempatnya saat ini sedang duduk.


"Zafira..," panggil sosok itu, yang tidak lain adalah Fariz.


"Kamu? Mengapa kamu ada di sini?," Zafira bertanya dengan raut wajah penuh keterkejutan.


"Aku sengaja mengikutimu ke sini," Fariz menjawab jujur tanpa menutupi keadaan yang sebenarnya.


"Apa?," Mata bening Zafira membulat begitu saja saat mendengar perkataan jujur sahabatnya.


"Kamu sengaja mengikutiku? Kamu bukan bodyguard-ku, mengapa harus mengikutiku sampai sejauh ini?," Zafira bertanya heran dengan sorot mata penuh tanda tanya melihat Fariz yang masih berdiri di depan meja seperti seorang terdakwa.


"Boleh aku duduk?," Fariz mencoba meminta izin pada Zafira, karena sebenarnya dia menunggu tawaran dari Zafira agar menyuruhnya duduk tetapi sang gadis tidak kunjung memberikan tawaran.


"Iya boleh," Zafira mengangguk, tanda tidak keberatan jika Fariz duduk bersamanya.


Melihat Fariz telah duduk di kursi, Zafira tidak sabar menunggu jawaban sang sahabat.


"Sekarang katakan padaku, mengapa kamu ada di sini mengikutiku?," dengan mata teduhnya, Zafira menatap tidak berkedip pria bertopi hitam di hadapannya.


"Zafira, kamu harus dengarkan aku, jauhi Ronald, dia bukan pria yang baik untukmu," Fariz langsung berbicara pada inti permasalahan.


Zafira mengernyitkan dahi, ada raut keterkejutan di wajah cantik itu, bibirnya hendak menjawab ucapan Fariz, namun dia membatalkan niat, mata gadis itu tertuju tajam pada muka Fariz yang sepertinya kehausan karena terlihat menelan air liur berulang kali.


"Sepertinya kamu kehausan, aku pesankan air minum ya," tawar Zafira seperti biasa, selalu memberikan perhatian-perhatian kecil kepada Fariz, bukan karena dia menyukai apalagi mencintai Fariz tetapi karena dia menganggap Fariz adalah sahabatnya, teman masa kecil yang sudah seperti saudaranya.


Lain halnya dengan yang dirasakan Fariz, salah satu yang membuat Fariz kagum kepada gadis di depannya adalah sifat Zafira yang penuh perhatian, yang terkadang membuat Fariz sering menyalah-artikan perhatian gadis cantik itu.


Perhatian-perhatian kecil dari Zafira membuat hati Fariz bertambah kagum serta semakin menyukai gadis cantik itu, dari hari ke hari perasaan di dalam hati Fariz terhadap Zafira semakin tumbuh subur dan sepertinya takkan pernah berakhir.


Sifat perhatian yang dimiliki gadis itu menurun dari sang mama, Laras, yang selalu memperhatikan sang papa, Arga, dalam segala situasi dan kondisi, salah satu alasan yang membuat hati Arga luluh yang akhirnya jatuh cinta pada Laras.


"Tidak perlu, aku minum bekasmu saja," sahut Fariz meraih botol air mineral Zafira yang isinya masih tersisa seperempat.


"Eh jangan, ini bekasku, aku bisa memesankanmu minuman yang baru," Zafira berusaha melarang, mencoba mengambil kembali botol di tangan Fariz.


Namun Fariz menjauhkan tangan Zafira dari botol yang dipegangnya lalu dengan cepat meneguk habis air putih di dalam botol.

__ADS_1


Zafira hanya bisa melongo melihat tingkah Fariz kemudian menggelengkan kepala.


"Iiihh kamu ini, dipesankan minum tidak mau, malah mau-maunya minum bekasku, jorok!," gerutu zafira heran.


"Tidak apa-apa, aku tidak merasa jijik, minum air dari botol bekasmu akan terasa lebih manis, hehe, hehe..," Fariz terkekeh menggoda Zafira.


"Iiihh, tidak lucu," Zafira memanyunkan bibir menjadikan wajah Zafira semakin terlihat cantik di mata Fariz.


Fariz tanpa sadar, terus memandangi wajah Zafira dan menikmati setiap detik yang terlewati bersama Zafira, ini moment yang jarang terjadi, dia bisa berduaan dan sedekat ini dengan gadis pujaan hati.


"Terus.., lanjutkan penjelasanmu tadi, ada apa dengan Ronald? Mengapa kamu menyuruhku menjauhinya?," Zafira bertanya dengan tatapan serius.


Fariz yang masih terlena memandangi wajah Zafira menjadi tergagap saat Zafira kembali melontarkan pertanyaan padanya.


"Eh.., itu.., tadi aku sengaja mengikuti kalian dari sekolah, dan aku juga mengikuti Ronald sampai ke lantai bawah," jawab Fariz terbata, lalu membuang pandangan ke arah lain


"Iya benar, tadi Ronald izin padaku ingin menemui mamanya di bawah, dan aku sudah tahu itu, terus, apa masalahnya?," Zafira berkata santai tanpa menaruh curiga pada Ronald.


"Apa kamu yakin dia menemui mamanya?," Fariz kembali memfokuskan tatapan pada gadis di depannya, menatap Zafira tak berkedip.


"Iya, aku yakin, sebenarnya ada apa? kamu katakan yang jelas, jangan bicara berbelit-belit," Zafira mulai kesal.


"Ronald membohongimu, dia bukan menemui mamanya tapi menemui pacarnya, tadi aku melihat Ronald bersama seorang gadis dan membelikannya tas mahal," jelas Fariz memberitahu Zafira, berharap gadis itu bisa sedikit membuka jalan fikiran tentang penilaiannya terhadap Ronald.


Jika memang benar Ronald menemui pacarnya, itu berarti Ronald telah membohonginya.


"Tidak mungkin Ronald menemui pacarnya, aku yakin dia ke bawah untuk menemui mamanya," Zafira masih bersikukuh mempertahankan pemikirannya sendiri.


"Zafira, aku yakin, gadis itu pacarnya, aku bisa melihat kemesraan di antara mereka," Fariz pun tetap berusaha membuka fikiran sang sahabat.


"Aah, kamu ini, sengaja ingin memperkeruh suasana. Kalau pun Ronald bertemu pacarnya di bawah, mungkin mereka bertemu tidak sengaja, karena aku tahu, pacarnya yang kamu maksud itu pasti Citra. Ronald dan Citra sudah lama putus. Sekarang mereka hanya berteman, tidak lebih. Ronald sudah menceritakan semua itu padaku,"


"Aku heran, kamu masih saja percaya dengan playboy itu? mengapa kamu tidak mencoba membuka mata, jangan menaruh kepercayaan yang berlebih pada pria pembohong seperti dia," Fariz mulai kesal dengan sikap Zafira yang tidak mau mempercayai penjelasannya.


Fariz begitu mencemaskan Zafira, dia tidak ingin Zafira sampai sakit hati karena ulah Ronald yang pintar berdusta. Fariz terus berusaha menasehati sang sahabat namun sayangnya si gadis pujaan lebih mempercayai Ronald dari pada dirinya.


"Sudahlah Fariz, tidak perlu menjelaskan semua ini, karena Ronald sudah menceritakan tentang masa lalunya dengan Citra. Aku percaya, sekarang mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dan nanti aku akan menanyakan langsung pada Ronald, apa sebenarnya yang terjadi antara dia dan Citra di bawah,"


Fariz memijit pelipis, menatap heran pada gadis di depannya. Dan dia juga heran, apa kelebihan Ronald sehingga Zafira bisa sangat terpesona bahkan dengan mudahnya selalu mempercayai setiap kata yang meluncur dari mulut Ronald.


Namun Fariz tidak kehabisan cara untuk meyakinkan Zafira, dia merogoh ponsel dan menunjukkan beberapa foto kepada sang gadis.


"Coba kamu lihat ini, mungkin bisa membuatmu percaya padaku," Fariz memberikan handphone nya kepada Zafira.


Mata Zafira menyipit, melihat foto Ronald bersama Citra, dimana di dalam foto terlihat Citra sedang merangkul lengan Ronald.

__ADS_1


"Foto ini yang tadi kamu ambil?," tanya Zafira dengan mata masih fokus mengamati foto di layar handphone.


"Iya, sekarang kamu baru percaya kan dengan apa yang aku sampaikan?," Fariz sedikit lega karena telah memberikan barang bukti kepada gadis cantik itu.


"Maaf Fariz, aku tidak bisa percaya begitu saja hanya dengan melihat sebuah foto sebelum aku mendengar penjelasan langsung dari Ronald," ucap Zafira memberikan kembali handphone itu pada Fariz.


Muka Fariz tampak murung mendengar ucapan Zafira, dia mengambil handphone itu dan memasukkan kembali ke saku celana. Fariz merasa kecewa karena Zafira lebih percaya kepada Ronald daripada dirinya.


"Baiklah, aku tidak bisa memaksamu untuk mempercayai perkataanku, tapi pesanku, kamu harus lebih berhati-hati dengan Ronald, dia itu laki-laki licik," ucap Fariz mengalah.


"Iya, tenang saja, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, aku akan baik-baik saja," ucap Zafira tersenyum memandang Fariz.


Saat Zafira memandang muka Fariz, gadis itu tak sengaja melihat ke bibir Fariz, ada luka memar di sudut bibir sahabat tampannya itu.


"Mengapa bibirmu berdarah?," tanya Zafira sedikit cemas.


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil," jawab Fariz santai tak mempedulikan luka bekas pukulan Ronald.


Zafira membuka tas dan mengeluarkan tissue basah.


"Sini, aku bersihkan lukamu," Zafira berkata lembut.


Tanpa rasa canggung, Zafira mengulurkan tangan dan menyentuh bibir Fariz, tangan kiri memegang dagu dan tangan kanan membersihkan luka di sudut bibir sahabatnya dengan tissue basah.


"Perih tidak?," Zafira bertanya, pelan menyentuh luka memar itu.


Fariz tercekat, matanya terbelalak, jantungnya berdegup, sentuhan tangan Zafira mampu membuat hati Fariz berdetak tak menentu.


Untuk beberapa detik nafas Fariz sempat berhenti berhembus demi mendapat perhatian Zafira yang begitu manis.


"Perih tidak?," Zafira mengulangi lagi pertanyaannya.


"Ti-tidak..," jawab Fariz tergagap memandang lekat wajah cantik di hadapannya.


"Mengapa bisa memar seperti ini? Kamu habis berantem ya?," Zafira mencoba menebak.


Fariz yang tidak ingin berbohong, akhirnya mengatakan kejadian yang sejujurnya pada sang sahabat.


"Iya, tadi aku memukul Ronald, dan dia membalas memukul bibirku," ucap Fariz menjelaskan.


"Kamu memukul Ronald pasti karena kamu melihatnya bersama Citra? Benar kan?," tanya Zafira yakin. Lagi dan lagi Zafira menebak dengan tepat.


"Iya," Fariz menjawab seraya mengangguk membenarkan perkataan Zafira.


...******...

__ADS_1


__ADS_2