Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
76 - SELALU MEMBUAT CEMAS


__ADS_3

Zafira sontak menghentikan olesan di kaki Fariz dan refleks mengangkat kepala ke atas. Mulutnya sedikit menganga menatap Fariz yang saat ini sedang tertunduk menatapnya. Mata mereka bertemu. Saling bertatapan. Lalu Zafira pun segera memutuskan pertautan mata yang saling bertatapan. Dia tersenyum mengangguk lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Terima kasih. Aku sangat beruntung dicintai pria sebaik kamu," suara itu mengalun sayup-sayup dari balik wajah tertunduk yang tengah mengolesi memar di kaki Fariz.


Fariz menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Tadinya dia berharap, Zafira akan mengucapkan kata cinta untuk dirinya. Rupanya tidak. Entah, harus berapa kali Fariz mengucapkan kata cinta untuk Zafira dan menunggu balasan dari gadis itu? Satu bulan? Dua bulan? Atau 1 tahun lagi? Tetapi dia juga tidak akan memaksa, jika Zafira memang belum siap mengucapkan kata itu. Lagi pula pernikahan mereka baru berjalan satu hari. Waktu masih begitu panjang untuk mengetuk pintu hati dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya.


Setelah selesai mengoles di sekitar kulit yang membengkak, pelan Zafira mengangkat satu persatu kaki Fariz ke atas tempat tidur.


"Istirahatlah. Aku akan membersihkan pecahan kaca itu," ujarnya berdiri lalu berjalan menaruh kembali salep di kotak P3K.


"Aku akan membantumu," sahut Fariz menawarkan diri.


Sontak langkah Zafira terhenti. Berbalik melihat pria yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Tidak perlu. Kakimu masih bengkak. Istirahat saja," sang istri melarang. Dia mengkhawatirkan keadaan kaki Fariz. Jika tidak diistirahatkan dan terus dibiarkan bergerak, takutnya akan semakin membengkak dan sakit.


Fariz tidak mendengarkan larangan sang istri. Kakinya bergerak hendak turun dari ranjang.


"Jangan membantah! Kalau tidak, nanti malam aku tidak akan mengizinkanmu tidur di ranjang!," ancam Zafira mendelikkan mata indahnya pada Fariz yang telah menjulurkan kaki ke bawah.


Fariz terkejut dan gerakannya pun terhenti. Dia segera menarik kembali kaki naik ke atas ranjang. Ancaman gadis itu mampu menjadikannya seperti suami takut istri. Begitu takutnya pria itu tidak diizinkan tidur satu ranjang dengan sang istri, membuatnya kembali duduk diam di ranjang.


"Heran. Kamu ini keras kepala sekali," rutuk Zafira melirik sekilas pada pria di ranjang, kemudian melanjutkan langkah menuju kotak P3K, kemudian berjalan keluar mengambil sapu serta serok sampah.


"Hati-hati membersihkan pecahan kaca itu. Jangan sampai tanganmu terluka," pesan Fariz berkata dari atas ranjang.


Zafira mengangguk. Mulai menyapu dan mengumpulkan pecahan kaca ke dalam serok sampah, kemudian memasukkan ke dalam kotak sampah.


Setelah itu, dia mulai membuka semua pigura satu persatu. Mengeluarkan foto di dalamnya. Merobek foto itu menjadi dua bagian. Bagian foto Ronald dirobek menjadi sobekan-sobekan kecil, kemudian dimasukkan ke dalam kotak sampah. Sedangkan foto dirinya dirapikan lalu disimpan ke dalam laci.


Fariz yang melihat itu menjadi lega. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu Zafira di kamar itu. Setidaknya Fariz bisa bernafas tenang sekarang karena telah melihat sendiri bagaimana sang istri menyingkirkan kenangannya lalu membuangnya ke dalam kotak sampah dan menjadi satu dengan tumpukan sampah-sampah kotor lainnya.


Setelah makan malam selesai, Zafira dan Fariz masih berbincang-bincang di ruang tengah bersama mama Laras, papa Arga serta Zafran. Oma Mayang telah kembali ke kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


Pukul 20:30 Wib.


Zafira masuk terlebih dahulu ke kamar. Menggosok gigi, mencuci muka dan mengambil wudhu'.


Sepuluh menit kemudian, sang suami pun menyusul masuk dan melihat muka Zafira telah dibasuh dengan air. Dia tahu, kalau sang istri baru selesai menggosok gigi dan hendak menunaikan shalat Isya'.


"Aku ambil wudhu' dan menggosok gigi sebentar," ujar Fariz langsung masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai menunaikan shalat Isya' dan telah bersiap tidur.


Gadis berambut panjang itu telah lebih dulu naik ke atas ranjang. Sang suami masih sibuk menyisir rambut di depan kaca. Jika difikir-fikir, untuk apa malam-malam menyisir rambut? Nanti juga saat tidur pasti akan acak-acakan kembali. Terkadang sikap Fariz terlihat aneh dan di saat tertentu terkadang juga berubah licik. Dia ingin tampil rapi di depan Zafira. Apalagi malam ini sang istri sedang berbaik hati memperkenankannya untuk tidur satu ranjang dengannya. Jadi dia harus terlihat rapi dan wangi agar besok-besok sang istri tetap mengizinkannya tidur satu ranjang dengannya.


Pantulan kaca digunakannya untuk melirik gadis di atas ranjang. Gadis itu tengah memasukkan kaki ke dalam selimut. Sudah menjadi kebiasaannya setiap malam harus memakai selimut di saat AC dinyalakan. Karena tubuhnya tidak dapat menahan udara AC yang terlalu dingin, dapat membuat tubuhnya menggigil, gemetaran bahkan jatuh sakit.


Fariz menjadi sedikit kesal, melihat sikap acuh Zafira. Wanitanya itu pergi tidur tanpa mengajaknya naik ke ranjang. Jangankan mengajak, mengucapkan selamat malam pun tidak.


Tiba-tiba mata Fariz menangkap gadis itu membuka kembali selimut, mengurungkan niat untuk merebahkan diri. Fariz terus memperhatikan gerak gerik gadis itu dari pantulan kaca. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke kotak P3K, mengambil sesuatu di sana.


"Hampir saja aku lupa. Kakimu harus diobati lagi sebelum tidur. Duduklah," Zafira telah berada di samping Fariz, meminta pria itu duduk di kursi di depan meja rias.


Zafira kembali mengoles salep ke punggung kaki Fariz. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Baik istri maupun suami, keduanya saling berdiam diri.


"Sudah selesai," ujar Zafira setelah meratakan salep di seluruh bagian memar.


"Terima kasih," pria itu melayangkan pandangan melirik daster yang dikenakan Zafira. Berbahan kaos halus sebatas lutut. Sangat pas di ukuran tubuhnya dan warnanya pun sangat serasi dengan kulitnya yang putih.


"Sangat cantik," gumamnya dalam hati, terus menatap gadis itu.


Zafira yang tidak menyadari tatapan Fariz, segera berjalan, menaruh kembali salep ke tempat semula, kemudian mencuci tangan di kamar mandi.


Tak lama kemudian, gadis itu naik kembali ke atas ranjang tanpa melirik sedikit pun pada pria yang masih terduduk bengong di kursi. Satu kata pun tidak keluar dari bibirnya, untuk mengajak suaminya tidur, apalagi menawarkan pada sang pria untuk naik ke ranjang. Gadis itu berfikir, bukankah tadi pagi saat sarapan, dia telah menyetujui keinginan Fariz untuk tidur di ranjang dengan satu syarat, tidak boleh menempel dan harus menjaga jarak. Jadi, untuk apa malam ini membahasnya lagi? Kalau pun Fariz ingin tidur, tinggal naik saja ke ranjang.


Zafira telah menutupi semua bagian tubuh dengan selimut hingga ke dada. Dan memiringkan tubuh membelakangi Fariz yang masih duduk termangu.

__ADS_1


Otak licik pria itu kembali bekerja aktif untuk memikirkan sesuatu. Dia harus membalas perbuatan Zafira yang telah mengacuhkannya. Dia kesal, sang istri tidak mengucapkan selamat tidur dan tidak mengajaknya naik ke ranjang.


Fariz berjalan ke kamar mandi. Kakinya memang masih terasa sakit saat menapak di lantai. Sehingga dia berjalan memang sedikit tertatih. Tidak lama kemudian sang pria mulai melancarkan aksi balas dendamnya kepada istri yang telah mengacuhkannya.


"Aakh," suara teriakan dari kamar mandi.


Zafira yang belum tertidur, refleks mengangkat kepala dari bantal ketika mendengar teriakan itu. Matanya mencari keberadaan Fariz di kursi, tidak ada. Gadis itu langsung mengeluarkan badan dari selimut dan segera mencari Fariz di kamar mandi.


"Fariz? Mengapa kamu berteriak? Apa yang terjadi di dalam?," Zafira bertanya mulai cemas sambil menempelkan telinga di daun pintu.


"Masuk saja," suara pria itu memberi perintah.


Zafira mengernyitkan dahi. Fikiran buruknya muncul kembali. Jangan-jangan Fariz akan berulah lagi. Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Gadis itu curiga Fariz tidak mengenakan pakaian. Bisa saja pria itu sengaja melepaskan seluruh pakaian dan menyuruhnya masuk ke dalam untuk melihat tubuhnya yang memiliki sayap-sayap indah di bahunya.


Mendadak, hati gadis itu tiba-tiba saja terasa berdesir, mengingat kejadian tadi pagi, saat matanya menyapu sayap-sayap indah di tubuh Fariz. Rasa yang aneh mulai muncul di fikiran serta hatinya. Namun dengan cepat Zafira menepis pemikirannya itu.


"Untuk apa kamu menyuruhku masuk?," tanya Zafira dengan suara curiga. Dia tidak ingin menuruti perintah Fariz sebelum tahu dengan jelas apa tujuan sang suami menyuruhnya masuk.


"Bantu aku. Aku terpeleset. Kakiku sakit," terdengar suara ringisan dari dalam menahan sakit.


Zafira terkejut dan semakin cemas. Dia pun langsung mendorong pintu tanpa memikirkan Fariz memakai baju atau tidak. Hal yang terfikirkan saat ini di kepalanya adalah luka Fariz. Dia takut terjadi sesuatu pada memar di kakinya. Dia tahu, memar itu masih bengkak. Jika dia jadi Fariz, mungkin saja dia sudah menangis saat tertimpa pigura besar itu. Dikarenakan Fariz laki-laki, dia lebih kuat menahan sakit dan masih tetap bisa berjalan walaupun terpincang-pincang. Jika dia di posisi Fariz, mungkin saja kemana-mana dia akan meminta gendong, ke dapur, ke kamar, ke ruang tamu bahkan ke kamar mandi.


Zafira berdiri di depan pintu dan melihat Fariz sudah terduduk di lantai dengan kedua kaki terjulur ke depan.


"Ya Allah Fariz. Ada apa lagi denganmu? Mengapa bisa terpeleset seperti ini? Kamu selalu saja membuatku cemas," sang istri terlihat panik, tergesa-gesa menghampiri Fariz.


Fariz merasa senang melihat kepanikan di wajah Zafira dan mendengar kata cemas yang diucapkannya. Sekarang dia semakin yakin, bahwa lambat laun dia akan berhasil meluluhkan hati batu sang istri. Terlihat dari reaksi Zafira saat ini, istrinya itu tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.


Zafira berjongkok dan langsung meraih tangan kanan Fariz dan menaruhnya di bahu.


"Ayo, aku bantu berjalan. Ada-ada saja kamu! Baru satu hari tinggal serumah, sudah banyak kejadian yang membuatku cemas! Tadi ditimpa pigura. Sekarang terpeleset di kamar mandi. Lama-lama jantungku bisa lepas melihat kejadian seperti ini setiap hari," Zafira mengangkat tubuh Fariz sambil mengomel seperti emak-emak yang kehabisan uang belanja.


"Aduuuhh.., Mana badanmu berat. Bahuku rasa mau patah. Uuuhh..," ringis Zafira berusaha keras untuk berdiri. Dia merasa kesulitan mengangkat beban tubuh Fariz yang memang jauh lebih besar jika dibandingkan tubuhnya.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2