Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
56 - JAS PENGANTIN UNTUK FARIZ


__ADS_3

Tampak Fariz masih di posisi semula, sama seperti saat Zafran pertama kali menemuinya jam tujuh tadi. Fariz masih duduk bersandar di pinggir tempat tidur, merenungi diri.


Alluna terus mengikuti langkah Zafran sampai pria itu ikut duduk di lantai, di samping Fariz. Dia berdiri memperhatikan lekat sosok pria di samping Zafran, yang mengenakan jas hitam tengah duduk terpekur dengan muka teramat kusut. Meskipun belum mengenal Fariz, namun hati gadis itu merasa iba melihat keadaan pria itu. Dia dapat merasakan keterpurukan yang dialami Fariz ditinggal menikah oleh gadis yang dicintainya.


"Ini untukmu!," Zafran menyodorkan jas ke arah Fariz, namun sang sahabat tidak meresponnya, membuat Zafran kembali menaruh jas itu di pangkuannya.


Fariz masih duduk tercenung memikirkan bagaimana hidupnya nanti sepeninggal Zafira.


"Riz, apa kamu benar-benar mencintai Zafira?," tanya Zafran merangkai sebuah pertanyaan yang ternyata mampu membuat pria murung itu tergerak dari duduknya saat mendengar nama Zafira disebut, langsung menoleh dan menatap tajam pada Zafran yang ada di sampingnya. Namun tetap saja mulut itu terkunci sedemikian rapatnya.


"Coba lihat apa yang ada di tanganku!," perintah Zafran sambil melirikkan mata ke arah jas yang dipegangnya.


Kornea Mata Fariz bergerak turun ke bawah mengikuti arah lirikan Zafran yang berakhir bertumpu pada sebuah benda yang ada di genggaman Zafran.


Fariz masih tidak mengerti maksud perkataan Zafran. Dia masih diam dengan mulut terkunci.


"Apa kamu tahu, benda apa yang aku bawa ini?," Zafran kembali bertanya untuk membangkitkan semangat dalam diri Fariz.


"Jas," hanya kata itu yang keluar dari mulut si pria patah hati, tanpa berniat bertanya untuk apa Zafran bersusah payah menunjukkan jas itu padanya.


"Memangnya kamu tidak ingin tahu, mengapa aku membawa jas ini kemari?," Zafran terus berusaha memperbaiki memory Fariz yang saat ini dia tahu, tidak berfungsi dengan baik alias error'.


Fariz yang otaknya sudah tidak sanggup untuk bekerja secara normal apalagi berfikir keras, hanya dapat menggelengkan kepala lemah, dengan sinar mata yang meredup seakan tak sanggup untuk membuka jelas penglihatannya. Sinar mata itu terpancar sayu memperlihatkan ketidak-semangatan dalam dirinya.


"Ini hadiah dariku, untuk pernikahanmu dengan Zafira," jelas Zafran memberitahu inti pembicaraan.


Demi mendengar kalimat yang diucapkan Zafran, sontak Fariz langsung memutar tubuh menghadap ke samping. Lalu dengan tenaga seakan-akan yang baru saja diberi makan dan minum susu, Fariz memegang kencang kedua bahu Zafran, kemudian memutar ke hadapannya. Kini kedua sahabat itu duduk saling berhadapan.


"Apa? Pernikahanku dengan Zafira?," secercah kehidupan tumbuh di dalam diri pria yang nyaris mati itu sambil mengembangkan senyuman di bibir pucatnya.


Dia mengulang ucapan Zafran. Ingin memastikan jika sang sahabat tidak membohonginya. Matanya seperti seringai serigala yang menantikan seekor mangsa di hadapannya, menatap tajam pria yang menggenggam jas di tangannya.

__ADS_1


"Iya, kamu akan segera menikah dengan Zafira. Zafira telah membatalkan pernikahannya. Sekarang saatnya kamu bersiap-siap menjadi pengantin prianya," Zafran memperjelas ucapannya.


Baru saja semangat Fariz berkobar, namun seketika kembali mengendur. Dalam hitungan detik secercah kehidupan yang tadi sempat tumbuh dalam dirinya mendadak kembali mati. Dia tidak mempercayai semua ucapan Zafran, yang menurutnya sangat mustahil diterima akal sehatnya. Pagi ini adalah acara akad nikah Zafira yang telah dirancang jauh-jauh hari oleh gadis itu, tidak mungkin bisa tiba-tiba batal hanya dalam hitungan menit. Dia yakin, Zafran hanya ingin menghiburnya seperti yang selalu dilakukannya di waktu yang sudah-sudah.


Tanpa diduga, Fariz mendadak mengangkat tangan lalu meremas kasar dagu Zafran dengan keras. Menatapnya tajam seakan ingin menguliti sahabatnya hidup-hidup. Sepertinya emosi pria itu menjadi turun naik, tidak terkontrol.


Alluna yang melihat itu terperanjat. Dia mengira kedua pria bertubuh sama besar dan tinggi itu akan melakukan adu jotos. Langkah kakinya hendak mendekati kedua pria itu dengan maksud melerai, namun Zafran dengan sekali lirikan dapat menyadari niat Alluna, segera menjentikkan ibu jari dan telunjuk membentuk huruf O, memberi isyarat semua baik-baik saja.


Alluna menghentikan langkah. Dia berdiri kembali menjadi penonton setia untuk kedua sahabat itu.


"Kamu ingin menghibur atau menghinaku? Jika kamu ingin menghiburku, tidak seperti ini caranya dan bukan waktu yang tepat! Tapi jika kamu ingin menghinaku, maka aku akan menghancurkan tulangmu! Hidupku sudah cukup terhina karena adikmu lebih memilih laki-laki lain daripada aku," setelah meluapkan emosi, cengkeraman Fariz pun tiba-tiba melunak kembali. Dan dia pun segera melepaskan tangan dari dagu sang sahabat, terkulai kembali di pangkuan.


Terlihat mata pria itu berair. Dia kembali duduk terpekur merenungi nasibnya yang tidak beruntung.


Zafran mengusap dagunya yang sedikit sakit akibat ulah sahabat yang tengah frustasi itu, lalu menggerakkan dagunya ke kanan dan ke kiri agar lebih rileks. Alluna hanya terdiam menatap Zafran. Tidak ada kemarahan di wajah pria itu. Justru dengan sikap Fariz seperti itu, membuat Zafran semakin tahu, betapa besar cinta Fariz kepada sang adik.


Alluna terkesima melihat sikap Zafran yang sama sekali tidak terpancing dengan perlakuan Fariz padanya. Ternyata pria itu memiliki hati yang luas untuk mengerti serta memahami kondisi orang lain.


Fix. Saudara kembar Zafran pasti sangatlah cantik dan memiliki sejuta kelebihan! Itu yang ada di fikiran Alluna.


"Riz! Aku kesini membawa berita bahagia. Aku sudah bersusah payah memperjuangkan semua ini untukmu. Sekarang berhentilah berputus asa seperti ini," hibur Zafran setelah melihat awan mendung kembali menyinggahi muka sahabatnya.


Alluna mencerna perkataan Zafran sambil terus menyelami sedikit demi sedikit sifat serta karakter Zafran. Hatinya menjadi tersentuh. Pria itu begitu baik, sikapnya dewasa dan sangat tulus dalam menjalin sebuah persahabatan. Dengan sahabat saja Zafran bisa setulus itu, apalagi dengan pasangan? Salah satu nilai plus Zafran telah tercatat di otak gadis cantik berpostur tubuh tinggi semampai itu.


"Bukankah sudah kukatakan padamu, jika memang Zafira jodohmu, maka akan terbuka satu jalan untukmu. Dan hari ini jalan itu sudah terbuka. Zafira telah mengambil keputusan membatalkan pernikahannya dengan Ronald. Dan apakah kamu tahu apa yang sudah aku lakukan? Aku sudah menghajar Ronald hingga babak belur dan mengusirnya dari rumah," Zafran menjelaskan lebih terperinci agar Fariz dapat segera membuka mata dan mempercayai bahwa apa yang didengarnya saat ini merupakan sebuah kenyataan bukan hanya sebatas ingin menghibur semata yang biasa dilakukan Zafran.


Bagai mendapat satu cawan air di padang pasir, di tengah teriknya matahari. Fariz yang sedari tadi merasakan kerongkongannya tersumbat serta kering, seketika terasa begitu dingin, saat air di dalam cawan itu mengalir membasahi kerongkongannya.


Fariz dapat merasakan angin surga berhembus menelisik ke dalam telinganya menyebarkan kesejukan hingga ke dalam hatinya saat Zafran mengatakan berita bahagia itu. Mata yang tadi nyaris menggelap dan kehilangan sinarnya, menutupi harapan serta mengubur mimpi, merangkak kembali cerah menerangi kornea mata serta menerangi seluruh penglihatannya.


"Fran, kali ini kamu sedang tidak ingin menghiburku kan? Karena saat ini aku sedang tidak membutuhkan hiburanmu," Fariz masih ragu dengan segala ucapan yang terlontar dari mulut sang sahabat.

__ADS_1


"Siapa yang mau menghiburmu? Kamu fikir aku wanita penghibur?," sungut Zafran mendelik ke arah Fariz.


Alluna tergelak mendengar kata terakhir yang diucapkan Zafran. Sambil menutup mulut, gadis itu menahan tawa agar tidak sampai pecah terdengar oleh kedua sahabat yang saat ini tengah berbicara serius.


"Dengar, aku juga lelah selama bertahun-tahun mendengarkan keluhanmu tentang Zafira. Hari ini saatnya aku menyelesaikan tugasku! Pakai ini!," Zafran menempelkan jas pengantin dan mendorong keras ke dada Fariz, mau tidak mau Fariz pun memegang lalu mendekap jas putih itu.


Pria yang sedang patah hati itu pun melebarkan mata menatap ke dada, mengamati seper-sekian detik benda yang disodorkan Zafran. Pria itu menatap nanar tak percaya pada jas pengantin yang saat ini sudah ada dalam dekapannya.


"Ini-ini benar jas pengantin untukku?," perasaan bingung menguasai fikiran pria itu seakan apa yang disampaikan Zafran hanyalah sebuah mimpi.


"Seperti yang kamu lihat! Apa ini mimpi atau bukan?," Zafran tersenyum tipis melihat muka yang tadi begitu kusut, sekarang berangsur cerah.


"Ya Allah ini seperti mimpi. Aku benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Ini bukan mimpi kan?," Fariz terus bertanya, lalu tiba-tiba memukuli wajah dengan kepalan.


"Duugg"


"Duugg"


"Duugg"


"Duugg"


Empat kali pukulan tangannya mengenai mukanya sendiri. Mulai dari muka sebelah kanan lalu berpindah ke kiri, masing-masing dua kali. Sehingga membuat muka putih itu sedikit membekas warna merah. Setelah merasakan sakit dan menyadari kalau ini bukanlah sebuah mimpi, pria itu pun menghentikan tindakan konyolnya dan langsung berdiri dari duduk.


"Aku kawin! Aku kawin! Haha, haha.., Aku kawin Fran dengan adikmu!," Pria itu tertawa senang, meloncat-loncat sambil menghamburkan jas yang ada di tangannya ke udara. Kemudian menangkapnya lalu melemparkannya kembali ke atas dan menyambutnya kembali. Begitu berulang kali.


Alluna tercengang. Mulutnya terbuka. Dan kedua matanya menjadi turun naik, melihat ke arah jas pengantin yang melayang ke atas dan ke bawah. Gadis itu menahan tawa, menyaksikan reaksi Fariz yang seperti tidak memiliki rasa malu. Ternyata benar, bahwa cinta itu dapat membuat seseorang menjadi hilang urat malu, kehilangan akal sehat bahkan menjadi gila.


Entah pria itu sadar atau tidak kalau di sana ada orang lain selain Zafran, yang saat ini sedang menontonnya dengan tatapan geli. Namun sepertinya Fariz tidak peduli. Saat ini dia tidak mempedulikan orang lain selain dirinya. Dia hanya peduli dengan perasaannya saat ini. Hatinya bagai melayang ke langit biru. Terbang tinggi sambil merangkul pinggang Zafira. Dia seakan tak ingin turun lagi dan ingin terus melayang bersama gadis yang dicintainya. Fariz benar-benar sudah seperti orang gila.


Zafran yang masih duduk di lantai, segera berdiri. Tersenyum tipis menyaksikan kebahagiaan sang sahabat. Ada rasa tenang menyusup ke relung hati pria itu, membayangkan Zafira memiliki suami seperti Fariz, yang telah mempersiapkan begitu banyak cinta serta kesetiaan untuk sang adik.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2