
Mata Fariz terus memandangi tak berkedip foto-foto yang terpampang di dinding. Rahangnya merekat kuat menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di hatinya. Mukanya menjadi murung menilik satu persatu foto sang istri yang beradegan mesra dengan mantan kekasihnya, membuatnya ingin sekali meluapkan kemarahan saat ini juga. Seluruh perasaan teraduk-aduk. Sakit, kecewa, marah bahkan terluka menyatu dalam hatinya.
Zafira melihat reaksi murung di wajah Fariz. Gadis itu melangkah mendekati sang suami dan berdiri di sampingnya.
"Maafkan aku.., Aku belum sempat menurunkan foto-foto ini. Kemarin sebelum dan setelah akad, fikiranku sangat kacau. Aku tidak kefikiran tentang foto-foto ini. Jadi aku lupa menurunkannya," Zafira memandang ke samping mengamati sang suami yang berdiri mematung menatap pigura besar yang terpampang di hadapannya.
Zafira tahu, Fariz pasti sangat kecewa dan terluka melihat foto mantan kekasih istrinya masih terpasang di dinding kamar. Suami mana yang bisa menerima kenyataan ini? Zafira dapat merasakan perasaan Fariz saat ini. Dia pun jika di posisi Fariz, pasti akan merasakan hal yang sama. Hatinya pasti akan terluka ketika melihat foto sang suami bersama gadis lain masih terpasang di dalam kamar.
Fariz tidak menjawab. Demi menghilangkan rasa sakit di hati, dia membuang muka dari foto-foto itu. Membenturkan pandangan ke arah jendela yang tertutup tirai putih.
"Fariz, kamu marah padaku?," melihat sikap Fariz yang mendiamkannya, Zafira pun mencoba bertanya.
Pria itu masih tidak menjawab. Rasanya dia ingin sekali memarahi Zafira lalu melepas pigura itu dan menghancurkannya. Tetapi dia tidak memiliki alasan tepat untuk memarahi gadis itu apalagi sampai mengambil tindakan frontal. Zafira telah menjelaskan alasan mengapa dia belum menurunkan foto-foto itu. Dia mengatakan, kemarin fikirannya sedang kacau sehingga melupakan tentang foto itu. Tetapi alasan itu tidak serta merta dapat mendinginkan hati Fariz yang telah terlanjur dibakar cemburu.
"Maafkan aku, aku benar-benar lupa meminta bantuan Zafran untuk menurunkannya. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit hati," ucap Zafira pelan, merasa sangat bersalah.
"Iya, tidak apa-apa," Fariz menjawab singkat dengan raut muka tidak peduli, sambil meninggalkan Zafira, berjalan menuju pintu kamar mandi.
Pria itu tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya pada Zafira karena masih memasang foto mantan kekasihnya di kamarnya. Walau pun gadis itu mengatakan dengan alasan lupa dan fikirannya sedang kacau, Fariz tetap tidak bisa memakluminya. Kejadian ini tetap menorehkan rasa sakit dan kecewa di hatinya.
Zafira dengan cepat menyusul langkah sang suami dan menghadangnya tepat di depan pintu kamar mandi. Kini, keduanya berdiri saling berhadapan serta berpandangan. Zafira dapat dengan jelas melihat raut muka Fariz yang tampak muram dan berubah dingin padanya.
"Aku tahu, kamu marah dan kecewa padaku. Sekali lagi aku minta maaf.., Ini semua di luar sadarku. Aku mohon mengertilah, aku benar-benar lupa.., Tolong berhentilah marah seperti ini," ucap gadis itu penuh harap, masih dengan rasa bersalahnya.
Zafira sadar, semua ini memang kesalahannya. Seharusnya dia menurunkan foto-foto itu, sebelum memutuskan mengajak Fariz menginap di rumahnya. Tetapi otaknya benar-benar konslet dan tidak pernah sadar, jika foto Ronald masih terpasang di kamarnya.
"Aku butuh bantuanmu. Mau tidak membantuku?," sambung gadis itu lagi dengan muka penuh harap.
"Bantuan apa?," Fariz bertanya acuh tak acuh. Menatap istrinya pun tidak. Dia sengaja membuang pandangan ke sisi kanan sengaja menghindari tatapan gadis itu.
"Tolong bantu aku untuk menurunkan pigura itu sekarang juga. Aku ingin membuangnya dari kamarku," ujar gadis itu menjelaskan keinginannya.
__ADS_1
Fariz tercengang. Muka yang tadi tampak murung dan dingin, dalam hitungan detik merangkak berganti cerah. Hati pria itu menjadi gembira mendengar permintaan sang istri. Perasaan kecewa serta nyeri yang tadi menyusup di hati perlahan-lahan memudar dengan sendirinya. Dia tidak menyangka, Zafira secepat ini mengambil keputusan untuk segera menurunkan foto-foto mantan kekasihnya dari dinding kamar. Tadinya dia sempat ber-asumsi, sang istri masih membutuhkan waktu lebih lama untuk berfikir menurunkan pigura yang memajang dirinya bersama sang kekasih. Tidak itu saja, dia pun sempat ber-asumsi, Zafira merasa keberatan membuang semua kenangan bersama sang kekasih. Tetapi nyatanya, berbeda. Sang istri malah meminta segera menurunkan pigura itu saat ini juga.
"Fariz jawab? Mau kan?," kali ini gadis itu mulai sedikit memaksa.
"Iya, aku akan membantumu," Fariz mengangguk dengan wajah yang terlihat mulai berawan cerah.
Zafira pun langsung melukis sebuah senyuman di sudut bibir. Awalnya dia sempat menduga Fariz akan marah besar kepadanya, ternyata dugaan itu meleset. Sang suami justru bersedia membantunya membuang barang kenangan bersama sang kekasih yang masih menghiasi ruang kamarnya.
Gadis itu menggeser tubuh ke samping kiri, memberi jalan kepada Fariz untuk masuk ke kamar mandi.
"Ambillah wudhu'. Setelah selesai shalat Dzuhur, kita akan bersama-sama menurunkan pigura itu," ujar Zafira tersenyum hangat seraya mencolek hidung mancung pria itu kemudian pergi begitu saja meninggalkannya.
Fariz yang mendapat perlakuan tidak biasa dari sang istri, menjadi tertegun. Mukanya terlihat bengong, melongo tanpa mampu mengeluarkan sebuah kata. Kulit wajahnya pun memerah, mendapat kejutan manis dari sang istri.
Setelah selesai melaksanakan shalat Dzuhur bersama, Fariz mengulurkan tangan kepada sang istri. Dan tanpa harus menunggu lama seperti yang terjadi subuh tadi, Zafira segera menyambut uluran tangan itu dan menciumnya. Tidak bisa dibayangkan betapa bahagianya hati pria yang melihat perubahan dratis dari sang istri. Tadi pagi saat shalat subuh sikapnya masih terlihat ragu-ragu untuk menundukkan kepala mencium tangannya. Tetapi siang ini keraguan sang istri sudah sedikit berkurang. Tampaknya gadis itu sudah mulai membiasakan diri untuk selalu mencium tangan suaminya selepas shalat berjama'ah.
"Terima kasih," ucap Fariz tersenyum setelah sang istri melepas tangan yang menempel di hidung serta bibirnya.
"Sudah bersedia mencium tanganku," Fariz berkata dengan sangat jujur menguraikan isi hatinya.
"Ooh itu.., Kufikir apa," sang istri tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala, merasa lucu dengan perkataan suaminya.
Tak lama kemudian, sepasang pengantin baru itu memulai pekerjaannya.
Fariz dengan memanfaatkan postur tubuh yang tinggi, tanpa menggunakan bantuan kursi atau tangga, segera mengambil satu persatu pigura besar yang tertempel di dinding kamar.
Fariz bertugas menurunkan pigura, sementara sang istri bertugas membantu menyambut dari tangan Fariz dan meletakkannya di lantai.
Enam pigura sudah berhasil diturunkan oleh pria bertubuh jangkung itu. Saat akan menurunkan pigura terakhir, tiba-tiba benda besar itu terlepas dari tangan Fariz. Dan...
"Praanggh"
__ADS_1
Pigura itu jatuh dan menimpa punggung kaki Fariz. Pecahan kaca berserakan di lantai. Untung saja pecahannya tidak sampai mengenai kulit kaki pria itu.
"Akhh," teriak Fariz mengangkat kaki kanan yang tertimpa pigura dan memeganginya dengan kedua tangan.
"Fariiizz," Zafira yang sedang berjongkok menaruh salah satu pigura mendadak menoleh ke arah Fariz dan berdiri lalu sedikit berlari menghampiri suaminya.
"Ya Allah kakimu tertimpa pigura. Mengapa piguranya bisa terjatuh? Ayo aku bantu duduk di ranjang," Zafira berkata panik.
Raut wajah gadis itu tidak dapat menutupi kecemasan hatinya. Dia sangat cemas melihat pigura besar itu terjatuh dan menimpa punggung kaki sang suami. Tanpa membuang waktu Zafira segera memegang lengan kanan Fariz kemudian menuntunnya pelan berjalan ke tempat tidur. Fariz sedikit tertatih mencoba menapakkan kaki ke lantai yang memang terasa nyeri dan ngilu.
"Duduklah. Coba aku periksa kakimu. Mudah-mudahan lukamu tidak parah," Zafira membantu Fariz duduk di sisi tempat tidur kemudian dia pun duduk berjongkok.
Tanpa sungkan-sungkan, tangannya langsung menyentuh kaki Fariz dan segera memeriksa bekas pigura yang menimpa di punggung kaki sang suami.
"Kakimu tidak berdarah tapi memar dan bengkak. Sepertinya luka dalam," ujar Zafira mendongak melihat ke wajah Fariz yang duduk di tepi tempat tidur.
"Sakit tidak?," gadis itu bertanya dengan muka meringis. Fariz yang terluka, dia yang meringis.
"Sakit. Tapi untung saja kakiku besar jadi tulangku tidak sampai patah tertimpa pigura besar itu," sang pria masih berusaha membuat lelucon sambil sedikit meringis menahan ngilu yang tiba-tiba terasa.
"Huh kamu! Dalam keadaan seperti ini masih saja bisa becanda. Tunggu sebentar. Aku ambil salep memar dulu," Zafira beranjak mengambil salep memar di kotak minimalis P3K yang ada di sudut ruangan kamar.
Tidak sampai satu menit, Zafira telah kembali membawa salep memar dan langsung duduk berjongkok, mengobati memar di punggung kaki Fariz.
Fariz tercenung. Tertunduk melihat gadis yang berjongkok di kakinya. Dengan sentuhan lembut mengoleskan pelan-pelan salep di kakinya yang tampak memar kebiruan dan membengkak. Dia tidak menyangka, ternyata hidup satu rumah bersama Zafira membuat hidupnya terasa semakin indah dan berwarna. Walau pun sampai detik ini belum ada kata cinta terucap dari bibir gadis itu namun Fariz sudah cukup merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bisa melihat wajah Zafira setiap detik. Bisa berada di sampingnya setiap menit. Bisa merasakan perhatiannya setiap jam. Bahkan sesekali bisa merasakan sentuhan lembutnya yang menggetarkan hati serta memabukkan dirinya. Semua yang ada pada diri gadis itu telah menjadi candu baginya dan semakin membuatnya gila karenanya. Meski pun di saat-saat tertentu Zafira terlihat manja dan tidak mau mengalah dalam segala hal, tetapi di saat tertentu pula, dia bisa menjadi gadis yang sangat dewasa dan bersedia mengalah. Selain memang dia memiliki hati yang baik dan lembut, sikapnya yang penuh perhatian membuat Fariz semakin tergila-gila padanya.
Fariz terus menatap gadis yang masih berjongkok di kakinya, yang dengan telaten mengoleskan salep di luka memarnya. Hati pria itu benar-benar semakin mabuk dan gila mendapat pelayanan serta sentuhan lembut yang diberikan Zafira untuk dirinya. Dan tanpa sadar, bibirnya tiba-tiba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Zafira menjadi tercengang.
"Aku mencintaimu," ucap Fariz tertunduk mengamati rambut hitam istrinya yang sedang berjongkok.
"Hah?," Zafira tercengang.
__ADS_1
...*******...