Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
67 - KECUPAN TAK SENGAJA


__ADS_3

Udah tau kan menulis itu gak gampang?


Menguras waktu, tenaga, fikiran dan juga merampas jadwal tidur.


Jadi, buat kalian yang udah membaca sampe di episode ini, itu artinya kalian menyukai cerita ini, tapi belum memberi Bintang 5, silakan tekan dulu...


Masa" membaca terus tapi gak memberi support kepada Author.


Jujur aku perhatikan kok kebanyakan pembaca itu pelit..🤥


Aku sering lihat di novel-novel Author lain pun begitu, mereka udah susah payah menulis lebih dari 80 episode bahkan lebih dari 100 episode tetapi yang memberi bintang 5 hanya 20 orang, 10 orang bahkan hanya 6 orang...


Sungguh terlalu....


Coba kalo posisi itu terjadi pada kalian, gimana rasanya ya? Udah cape2 nulis ratusan episode tapi yang ngasih bintang 5 hanya 10 orang, sedangkan yang membaca lebih dari 200 orang? Gak sebanding kan? 🤧


Kasian ya kadang-kadang sama Author, mereka susah payah menulis tp gak ada support dr pembaca...


So, aku menulis cerita ini khusus untuk para pembaca yg bener2 memberi support...


Bagi pembaca yg gak memberi support, lebih baik jangan membaca novelku ya🙏


Dan silakan cari novel lain yg lebih menarik untuk dibaca...


Dosa lho membaca ratusan episode karya orang tapi gak mau memberi support...


Aku kurang menyukai pembaca yang pelit...🙏


Karena aku menulis Bab demi Bab bukan sesuatu yg gampang... menguras waktu dan fikiran...


Gak sembarang nulis aja, terus langsung jadi, gak gitu...


Harus bener2 difikirkan dan dicari alur yang bagus dan nyambung... Bukan asal nulis...


Bagiku, gak masalah followers-ku sedikit, gak masalah pembacaku sedikit, tapi yang bener2 bisa memberi support.


Gak penting pembaca smpe ribuan tapi gak memberi support.


Happy Reading khusus pembaca yg memberi support ❤️❤️


Hargailah sebuah karya, karena gak semua orang bisa menciptakannya...


Makasih🤗

__ADS_1


*****


Zafira senyum-senyum sendiri memandangi wajah Fariz yang baginya sangat lucu, bisa tidur senyaman itu di tempat yang tidak seharusnya dijadikan tempat tidur. Dia belum melepaskan jemari dari rambut pria itu. Masih mengusapnya perlahan.


Tanpa Zafira sadari, rupanya dia sudah mulai melupakan rasa sedih serta sakit hatinya kepada Ronald. Insiden menyakitkan yang terjadi kemarin, sedikit demi sedikit mulai terkikis. Semalaman, pusat perhatiannya teralihkan karena adanya Fariz di sisinya. Sejak tadi malam berada di kamar ini, hingga subuh ini, orang yang ada di depan matanya hanyalah Fariz seorang. Sebelum matanya terpejam dan setelah mata itu terbuka kembali selepas tidur, wajah pria itulah yang pertama kali dilihatnya. Fariz juga yang tadi malam menjadi pendengar setia dan menjadi tempatnya menumpahkan segala kemarahan serta beban yang meradang di hati. Fariz pun dengan penuh kesabaran, rela menampung semua kemarahannya hingga membuat hatinya berangsur membaik dan jauh lebih tenang.


Tubuh Fariz terlihat bergerak. Awalnya meringkuk ke samping kiri menghadap Zafira, kini menjadi terlentang. Zafira terkejut dan refleks menarik tangan dari kepala pria itu. Dia tidak mau, Fariz sampai melihat kalau sejak tadi dirinya mengusap rambut tebal miliknya. Tidak lama kemudian, mata Fariz sedikit terbuka dan langsung terfokus pada wajah yang ada di depannya.


Fariz mengusap-usap mata. Mengerjapkan berulang kali, menatap wajah cantik yang duduk di lantai.


"Hai, selamat pagi," sapa Zafira menyunggingkan senyuman hangat untuk sang suami.


Gadis itu ingin menghibur Fariz, yang tadi malam sempat memperlihatkan sikap dingin padanya, saat turun dari ranjang lalu berpindah tidur di sofa. Pagi ini dia ingin memastikan apakah Fariz marah kepadanya atas kejadian tadi malam?


"Selamat pagi," suara pria itu masih terdengar serak sambil terus menatap Zafira tak berkedip. Dia masih memakai selimut tebal yang menutupi tubuh hingga ke dada.


Tiba-tiba perasaan Zafira menjadi tenang. Fariz menjawab ucapan selamat pagi darinya. Itu menandakan pria itu tidak marah padanya. Dia pun semakin bersemangat mengajaknya berbicara dan sedikit menggodanya.


"Kamu terlihat nyenyak sekali," sambung gadis itu memperhatikan muka Fariz yang terlihat sedikit kucel tetapi tidak mengurangi ketampanannya.


"Iya, aku merasa nyenyak tidur di sofa ini, ternyata empuk juga," sahut Fariz tersenyum sambil merapatkan selimut ke dada.


"Baguslah kalau begitu. Itu artinya selamanya kamu akan tidur di sini. Tidak perlu pindah ke ranjang lagi," Zafira menjulurkan lidah becanda.


"Tidak. Aku tidak mau terus-terusan tidur di sini. Meskipun sofa ini lumayan empuk, tapi tetap tidak senyaman dan sebebas di kasur. Aku tetap ingin tidur di ranjang bersamamu," Fariz berkata jujur mengungkapkan keinginannya, tanpa ada rasa malu.


"Iya boleh. Tapi tidak sekarang," jawab Zafira memberi angin segar.


"Terus kapan?," tanya Fariz cepat.


"Nanti. Tidak sabaran sekali kamu," ucap Zafira tertawa, sambil mengulurkan tangan menyentuh hidung Fariz kemudian memencetnya cukup keras.


"Hei, apa yang kamu lakukan?," Fariz mengusap-usap hidungnya yang terasa sakit akibat ulah istrinya.


Zafira tidak menjawab. Dia hanya tergelak melihat hidung suaminya yang tampak memerah seperti hidung badut. Setelah merasa puas menertawakan Fariz, gadis itu kembali berkata.


"Kamu tidak marah padaku?," kini raut mukanya berubah serius, tawa yang tadi menghias bibirnya berangsur menghilang.


Kejadian beberapa jam lalu membuat Zafira berfikir, Fariz pasti marah padanya karena telah menyuruhnya turun dari ranjang.


"Marah? Karena apa?," tanya Fariz mengerutkan dahi.


Fariz pura-pura tidak mengerti. Padahal dia faham betul, apa maksud dari pertanyaan sang istri. Tadi malam hatinya sempat tidak menerima sikap Zafira padanya. Tetapi saat dia terbangun, mendapati Zafira berada di depannya dengan membawa senyum hangat serta mengucapkan selamat pagi padanya, seketika membuat perasaannya berbunga-bunga lalu melupakan sikap Zafira yang sempat membuatnya kesal.

__ADS_1


"Karena aku menyuruhmu tidur di sofa," Zafira memelankan intonasi suaranya.


"Tidak. Aku tidak marah karena itu," Fariz mengeluarkan kedua tangan dari dalam selimut dan melipatnya di atas dada.


Senyum kembali mengembang di sudut bibir Zafira. Dia merasa lega mendengar jawaban Fariz. Setidaknya hari ini hubungan mereka masih berjalan dengan baik. Walau pun kenyataannya semalam, dia telah mengecewakan hati suaminya, meminta supaya tidur terpisah.


"Terima kasih, kamu memang baik. Itu salah satu alasan, mengapa selama ini aku mau bersahabat denganmu,"


Fariz mengangguk tersenyum. Pandangannya masih tak lepas menatap Zafira. Meskipun sikap Zafira terkesan masih menjaga jarak dengannya namun Fariz tetap merasa bahagia karena perhatian Zafira padanya tidak berkurang sedikit pun. Setidaknya dia masih memiliki harapan bisa meluluhkan hati gadis itu suatu hari nanti.


"Saat bangun tidur, kamu masih saja terlihat cantik," Fariz memuji Zafira. Kedua bola matanya menyapu bersih seluruh wajah istrinya.


Tangan pria itu terulur menyentuh pipi kiri Zafira. Membelainya lembut. Zafira sempat terhenyak sesaat dan tak mampu berkata-kata. Dia hanya terdiam, membiarkan saja Fariz menyentuhnya dan tidak menjauhkan wajah dari tangan itu apalagi berniat melarangnya. Dia tidak ingin menolak, karena jika dia melakukan itu, Fariz pasti akan merasa tersinggung. Gadis itu sudah memutuskan, tidak akan melarang Fariz untuk menyentuh area tubuhnya jika masih dalam batas normal. Dengan cara itu, mungkin saja benih cinta akan segera tumbuh di hatinya. Dia pun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar mencintai Fariz, seperti nasehat sang mama yang selalu menempel di kepalanya.


"Aku ingin setiap pagi saat terbangun dari tidur, orang pertama yang aku lihat, itu dirimu," ucap Fariz menatap lembut manik mata gadis di depannya tanpa melepaskan sentuhan di kulit wajah itu, mengusapnya pelan berulang kali dengan ibu jari.


"Baiklah, aku akan melakukannya," Zafira tersenyum, mengangguk, memberikan jawaban yang pastinya sangat membuat Fariz bahagia.


"Benarkah?," muka Fariz menjadi berseri.


"Iya benar," Zafira mengambil tangan Fariz yang masih menempel di pipinya, lalu menggenggamnya.


Fariz terkesiap melihat tangannya sudah dalam genggaman gadis itu.


"Bangunlah. Apa kamu mau terus berbaring? Apa kamu tidak ingin shalat berjama'ah denganku?," tanya Zafira berdiri dari lantai, menarik tangan Fariz agar segera bangun dari sofa.


Otak licik Fariz bekerja dengan cepat. Dia sengaja menahan tubuhnya agar tidak terangkat lalu sedikit menarik tangan Zafira ke arahnya. Zafira yang tidak menyadari kelicikan Fariz, terus menarik tangan Fariz lebih keras dengan maksud menyuruh Fariz segera bangun dari tempatnya berbaring. Memang terasa sangat berat mengangkat pria itu karena tubuhnya yang tergolong tinggi dan sixpack.


Istri seperti Zafira memang harus diberi pelajaran dengan cara yang licik karena jika tidak, dia akan terus menerus menghindari suaminya. Dan dengan liciknya, Fariz sengaja menarik tangan Zafira dengan sedikit hentakan.


Tubuh Zafira terlihat limbung. Kedua lututnya tertekuk di sofa. Dia masih berusaha bertahan di bibir sofa menggunakan lutut agar tidak terjatuh ke tubuh Fariz tetapi percuma, tenaganya tidak cukup kuat menahan tarikan tangan Fariz.


"Bruuggh"


Tak terhindari, Zafira terjatuh di atas tubuh sang suami. Dan bibir gadis itu tepat menempel di kening Fariz. Fariz pun tersentak. Dia yang membuat ulah tetapi dia sendiri yang menjadi gugup. Tetapi dia tidak merasa menyesal melakukan hal gila itu, karena dengan cara itu, dia bisa mengambil kesempatan untuk bersentuhan dengan Zafira. Fariz dapat merasakan bibir lembut milik Zafira mencium keningnya. Lebih tepatnya bukan mencium tetapi mengecup, itu pun karena tidak sengaja.


Fariz merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak saat tubuh Zafira berada di atasnya. Apalagi aroma wangi menyebar dari tubuh sang gadis, membuatnya merasa berada di tengah taman bunga, sungguh wangi dan menentramkan relung jiwa. Fariz ingin sekali memeluk gadis itu dalam dekapannya dan mencium seluruh wangi di tubuhnya hingga tak bersisa lagi. Namun itu tidak mungkin dilakukannya. Zafira pasti belum siap menerimanya.


Leher Zafira tepat berada di atas hidung Fariz. Pria itu mencium aroma wangi menyerbak dari leher sang istri. Tidak membuang kesempatan, dia segera menyesap aroma wangi itu. Menghirup sedalam-dalamnya. Betapa wangi tubuh Zafira. Padahal hidungnya tidak menempel di kulit leher Zafira tetapi aroma wangi sudah sangat menusuk indera penciumannya. Membuat hati Fariz semakin tidak menentu dibuatnya. Nafasnya mulai memburu. darahnya berdesir serta bergejolak menggetarkan rongga dada. Zafira dapat merasakan hempasan nafas Fariz menghangat di sekujur kulit lehernya, membuat bulu kuduknya seketika berdiri.


Zafira mengusap lehernya dengan satu tangan untuk menghilangkan rasa geli yang ditimbulkan akibat hembusan nafas Fariz yang terdengar memburu. Dia pun dengan susah payah mengangkat bibirnya yang masih menempel di kening sang suami.


Untung saja selimut yang dipakai Fariz cukup tebal dan masih menutupi sampai ke dadanya, sehingga dada Zafira tidak menempel langsung di dada sang suami. Zafira merasa bersyukur, masih terlindungi oleh benda tebal itu. Karena di balik dasternya itu, sebenarnya dia tidak memakai bra.

__ADS_1


Demi menghindari hal yang lebih gila, Zafira dengan cepat mengangkat tubuh dari atas tubuh pria itu. Dia berdiri membenahi daster, menarik-nariknya sampai ke lutut. Setelah itu, matanya menatap tak berkedip pada pria yang masih berbaring di sofa.


...*******...


__ADS_2