
Sepuluh menit berlalu. Zafira telah selesai mengeringkan rambut. Dia berjalan ke kamar mandi dan menjemur handuk basah di sana.
Zafira menutup kembali pintu kamar mandi dan melangkah ke tempat tidur. Dia duduk di pinggir ranjang berseberangan dengan Fariz. Fariz duduk di pinggir sebelah kanan, sedangkan dirinya duduk di pinggir sebelah kiri ranjang. Saling berseberangan. Fariz yang sedari tadi tidak melepaskan tatapan kepada Zafira, merasa lega melihat sang istri telah menghenyakkan tubuh di sisi tempat tidur.
Melihat Zafira telah duduk di tempat tidur, tanpa menunggu lebih lama, Fariz segera beranjak dari duduk mendekati sang istri. Berjalan memutari ujung ranjang lalu kembali duduk di pinggir ranjang, tepat di sebelah Zafira. Jarak keduanya hanya setengah meter.
Fariz menatap wajah cantik dengan rambut basah itu. Meniliknya setiap inci dan terus berdecak kagum di dalam hati memandangi betapa cantiknya ciptaan sang Maha Pencipta.
"Kamu cantik sekali," Fariz tanpa sengaja melontarkan sebuah pujian. Hatinya terlalu takjub melihat keindahan duniawi yang ada di hadapannya, sehingga pujian itu terlontar begitu saja dari mulutnya, membuat Zafira terdongak menatap pria di sebelahnya.
Mereka bertatapan. Fariz menyambut tatapan mata Zafira tanpa ingin melepaskan tatapannya dari mata gadis itu. Hatinya kembali tergetar saat kedua manik matanya berbenturan dengan mata sang istri. Setelah bertatapan beberapa menit, akhirnya Zafira membuang pandangan ke arah kaca rias dengan raut muka ditekuk.
"Baru kali ini aku melihat dengan jelas wajahmu setelah mandi. Ternyata kamu tetap cantik meskipun tidak ada lipstik atau bedak di wajahmu. Aku merasa ini seperti mimpi, bisa berada satu kamar denganmu," ucap sang suami dengan sangat jujur, mengungkapkan isi hatinya.
Zafira tetap menatap ke arah kaca rias tanpa memalingkan pandangan dari sana. Hanya telinganya terus terpasang lebar menyimak perkataan yang diucapkan suaminya.
Suasana hening. Zafira tetap diam. Dia tidak berniat mengeluarkan suara untuk melayani pembicaraan dengan sang suami. Selain memang tubuhnya sedang lelah, hatinya pun masih belum membaik atas semua insiden yang terjadi seharian ini. Sehingga membuatnya malas untuk bersuara dan lebih memilih mengunci mulut dengan rapat.
"Apakah kamu lelah?," tanya pria itu setelah melihat Zafira terus diam.
"Iya aku lelah. Aku ingin tidur sekarang," gadis itu berkata pelan, sambil beringsut ingin naik ke atas tempat tidur tetapi dengan cepat Fariz memegang tangan Zafira, membuat gerakan gadis itu tertahan dan sontak menatap Fariz dengan perasaan terkejut.
Sorot matanya seolah bertanya, mengapa Fariz menahan keinginannya untuk segera tidur?
__ADS_1
Gadis itu menjadi takut. Takut jika sang suami meminta hak dan memaksa untuk melayani hasratnya, sedangkan jangankan untuk melayaninya, memikirkan untuk berciuman dengan sang suami pun belum terbayangkan di benaknya.
Selain rasa takut itu, sebenarnya gadis itu sengaja mempercepat jadwal tidur karena ingin segera meng-istirahatkan tubuh serta hatinya yang terasa sangat lelah. Dia tidak ingin Fariz terlalu banyak mengajaknya berbicara, karena itu hanya akan menambah mood-nya makin memburuk. Sampai malam ini perasaannya masih belum tenang. Sedih, marah, kecewa, sakit hati bercampur menjadi satu dalam hatinya. Dia takut jika nanti keduanya terlibat pembicaraan, justru akan memicu percekcokan di malam pengantin. Dia tidak ingin hal itu sampai terjadi.
"Mengapa kamu cepat sekali ingin tidur? Apa kamu tidak nyaman berada di kamar ini bersamaku?,"
Zafira tidak menjawab. Hanya tangannya bergerak perlahan, melepas pegangan Fariz.
"Tolong jawab pertanyaanku," Fariz bertanya kembali
"Tidak ada yang perlu aku jawab," terlihat ekspresi wajah Zafira kian menampakkan kekakuan.
"Mengapa kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku? Apa kamu marah padaku karena pernikahan tiba-tiba kita? Sejak prosesi akad nikah, resepsi, sampai malam ini, kamu terus mendiamkanku? Sikapmu tiba-tiba dingin dan tidak menghiraukanku. Salahku apa? Apa kamu jadi membenciku gara-gara pernikahan kita? Tolong beritahu aku," pinta Fariz dengan wajah penuh tanda tanya.
"Tidak perlu banyak bertanya. Aku hanya ingin tidur," Zafira berkata sedikit ketus.
Terdengar helaan nafas keluar dari mulut Fariz mendengar jawaban Zafira yang terdengar ketus.
"Kalau aku tidak bertanya, aku tidak akan pernah tahu apa kesalahanku?," ujar Fariz kembali dengan suara pelan, yang dikeluarkan sangat hati-hati. Dia tidak ingin jika ucapannya semakin membuat perasaan sang istri menjadi lebih buruk.
"Tidak ada kesalahan apapun yang kamu lakukan. Aku hanya berfikir, mungkin kamu sekarang merasa senang dan puas," sebuah kalimat akhirnya meluncur bebas dari mulut Zafira tanpa menyaringnya terlebih dahulu dengan tatapan tetap membentur meja rias.
"Puas apa maksudmu?," Fariz bertanya cepat, tidak mengerti arah perkataan Zafira.
__ADS_1
"Kamu puas kan melihatku batal menikah dengan Ronald? Dan sekarang kamu puas akhirnya kamu yang berhasil menikahiku? Ini kan yang selama ini kamu harapkan?," mata yang tadi hanya tertuju pada meja rias, kini beralih menatap tajam pria di sampingnya.
Mata Fariz terbelalak. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan dengan jawaban jujur yang keluar dari mulut Zafira. Hati pria itu mendadak terasa sakit. Dia tidak menyangka sang istri mempunyai pemikiran seperti itu terhadap dirinya. Segala gejolak batin berperang dalam hati. Apakah benar keputusan yang diambilnya? Menikahi Zafira dan mengikat janji suci pernikahan dengan harapan gadis itu akan membuka hati lalu jatuh cinta padanya? Sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Harapan itu mungkin tidak akan menjadi nyata. Melihat sikap Zafira dalam satu hari ini membuat pria itu menjadi kehilangan harapan kembali. Harapan yang di saat prosesi akad nikah sempat tumbuh karena Allah telah memberinya satu anugerah bisa menikah dengan Zafira, kini seketika lenyap saat mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan gadis itu.
"Aku..," Fariz bingung harus menjawab apa. Mendadak otaknya menjadi buntu untuk menjelaskan sesuatu.
Gadis yang kini telah menghunuskan pandangan pada pria yang duduk di sebelahnya, kembali melanjutkan ucapannya. Rasa sesak yang memenuhi hati seakan menyuruhnya untuk memuntahkan semua yang terasa menyesakkan itu. Dia merasa rongga dadanya terlalu sesak menampung semua yang telah terjadi dalam satu hari ini. Mulai dari pengkhianatan Ronald yang terbongkar, disusul kehamilan Citra yang terungkap, hingga terakhir pernikahan tiba-tiba yang harus dilakukannya dengan sahabatnya sendiri. Semua itu telah meluluhlantahkan perasaan serta kebahagian yang ada di depan matanya.
"Selama ini kamu selalu mengancamku. Jika aku menikah dengan Ronald maka kamu akan meninggalkanku. Tapi apa kenyataannya sekarang? Kamu bukannya meninggalkanku tapi malah menikahiku!," suara Zafira mulai meninggi, menatap Fariz dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Sekarang kamu puas kan? Puas kan kamu bisa menikahiku?," tangis Zafira pun pecah.
Tanpa sadar dia memukul dada Fariz dengan kedua tangan. Entah, apa tujuan dari sikapnya itu? Apakah dia ingin meluapkan segala sakit hati serta amarah karena perbuatan Ronald padanya, yang sejak pagi berusaha ditahannya? Atau dia marah dikarenakan Fariz telah mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan menikahinya secara tiba-tiba? Entahlah, hatinya pun tidak dapat menjawab. Dia masih bingung dengan segala yang terjadi hari ini sehingga membuat fikiran serta hatinya tidak dapat berjalan secara normal sebagaimana mestinya.
Gadis itu terus memukul dada suaminya. Dan sang suami pun tidak berusaha menghindar apalagi melarang. Dia membiarkan saja Zafira melakukan itu. Mungkin dengan memukulinya, kemarahan serta rasa sakit di hati sang istri dapat sedikit berkurang. Meski pun pukulan bertubi-tubi itu cukup membuat sakit di dalam rongga dada namun pria itu tetap mencoba menahannya.
Lebih dari sepuluh kali pukulan demi pukulan diterima Fariz. Sampai akhirnya Zafira seolah tersadar sendiri dari perlakuan buruknya terhadap suami yang tidak bersalah itu. Dia pun terlihat menghentikan gerakan tangannya dan berangsur-angsur menurunkan ke pangkuan. Kemudian tertunduk lemas sambil terus menangis. Suara sesegukannya masih terdengar begitu keras di telinga Fariz sampai tubuh gadis itu tampak berguncang.
Fariz hanya menatap gadis di sebelahnya tanpa berani melakukan apapun apalagi menyentuhnya. Dia takut gadis itu akan semakin marah jikalau sampai dia berani menyentuh anggota tubuhnya dalam kondisi hatinya yang masih terbakar emosi.
Suasana kembali tenang. Keduanya pun membisu. Hanya suara isakan Zafira yang memecah kesunyian malam. Gadis itu masih tertunduk, menangisi kisah pilu perjalanan cintanya. Tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini untuk menumpahkan segala perasaan yang menikam hati, selain dengan sebuah tangisan.
Fariz ikut terdiam menunggu beberapa menit sampai Zafira berhenti menangis. Kini dia tidak ingin terlalu banyak bicara, karena akan sia-sia baginya mengeluarkan setiap kata. Bukan ketenangan yang didapat atas ajakan bicaranya kepada sang istri dengan tujuan mendamaikan dua hati, namun justru semakin memperkeruh suasana malam pengantin mereka.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu. Kini pria itu memilih diam sambil terus menatap zafira yang masih sesekali terdengar sesegukan. Dia terus menunggu tangisan itu reda dan memastikan keadaan hati serta emosi sang istri lebih tenang serta terkendali. Dia tahu, saat seperti ini, hanya diam yang akan menjadi jalan keluar paling baik bagi mereka. Karena jika dia terus memaksa mengajak Zafira berbicara dengan kondisi hatinya yang sedang terluka bahkan marah, maka dapat dipastikan emosi sang istri akan semakin memuncak, yang akan membuat terjadinya percekcokan di antara mereka dan berujung pertengkaran besar di malam pertama mereka tinggal satu rumah bahkan satu kamar.
...*******...