
Empat tahun kemudian.
Hari terus berganti, minggu pun bergulir dengan cepat, bulan pun merayap menjadi tahun.
Tanpa terasa sudah Empat tahun Zafira, Zafran dan Fariz menimba ilmu di Universitas Indonesia.
Kini usia ketiganya pun semakin bertambah dan sudah genap Dua puluh satu tahun, dengan wajah yang tentunya semakin cantik dan tampan.
Selama Empat tahun itu pula, Fariz masih selalu bertemu dengan Zafira, hanya saja frekuensi pertemuan mereka tidak setiap hari. Dalam satu minggu tiga sampai empat kali mereka bisa bertemu, dikarenakan setiap hari mereka sibuk mengikuti mata kuliah serta terkadang Zafira juga harus pergi bersama teman-teman wanitanya di kampus.
Jika ingin menuruti hatinya, Fariz ingin setiap hari bertemu dan menatap serta menikmati wajah Zafira, seiring berjalannya waktu, bukannya membuat Fariz merasa bosan berdekatan dengan Zafira namun sebaliknya, rasa cinta di hatinya semakin besar terhadap gadis cantik berkulit putih itu.
Pernah di beberapa bulan lalu, selama Lima hari Fariz tidak bertemu dengan Zafira karena gadis itu menginap di rumah oma Mayang dan tidak pulang ke rumah mama papanya.
Saat itu Fariz merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Hari-hari terasa hampa, setiap hari Fariz hanya bisa melihat aktivitas gadis pujaannya melalui story WhatsApp atau pun Instagram dan terkadang Fariz menelepon Zafira hanya sekedar menanyakan sudah makan atau belum?
Dan di hari ke Enam, dia mendapat kabar dari Zafran jika Zafira telah pulang ke rumah. Di malam harinya Fariz langsung datang ke rumah Zafira dengan alasan bertemu Zafran untuk bermain game, namun hal yang sebenarnya adalah dia ingin sekali melihat langsung wajah Zafira yang telah Lima hari tidak dilihatnya.
Walau hanya bertemu Zafira Lima menit, itu sudah cukup baginya mengobati rasa rindu. Dan Zafran pun sangat faham dengan perasaan sahabatnya terhadap saudara kembarnya, sehingga terkadang Zafran sendiri-lah yang sengaja membuat Fariz agar bisa bertemu dan mengobrol lama dengan Zafira di rumah.
Begitulah hari-hari yang dilalui Zafira dan Fariz, sang pria terus memupuk cintanya untuk sang wanita, sementara sang wanita tetap dengan perasaan semula, hanya menganggap sahabat sekaligus saudara.
Dan selama beberapa tahun ini pula, Fariz dengan sadar telah melihat kenyataan di depan mata kepalanya jika Zafira terus membangun cinta dengan kekasihnya Ronald, yang berkuliah di Singapura.
Setiap libur semester, Ronald pasti pulang ke Indonesia dan akan selalu menemui Zafira. Keduanya hampir setiap hari menghabiskan waktu bersama. Dan sudah barang tentu, Fariz tidak akan memiliki waktu untuk bisa bertemu Zafira.
Dan jalan satu-satunya agar bisa bertemu Zafira, Fariz setiap hari datang ke rumah Zafira, dan dengan alasan yang sama, bermain game atau sekedar mengobrol santai dengan Zafran.
Jika telah melihat Zafira, hati Fariz baru merasa tenang dan bahagia karena rasa rindunya bisa sedikit terobati walaupun tak jarang Zafira hanya lewat sekilas di depannya, masuk kamar dan tidak keluar lagi.
Begitulah Fariz melewati hari demi hari dengan mengemban perasaan cinta yang tidak berbalas. Memang terdengar mengenaskan, namun dia harus menerima semua yang menjadi takdirnya, harus mencintai seorang wanita, sahabatnya sendiri yang tidak pernah mencintainya. Ternyata begini rasanya mencintai tetapi tidak dicintai. Cinta bertepuk sebelah tangan. Sungguh menyakitkan.
******
Siang itu, di Kampus Universitas Indonesia.
Pukul 12:30.
Siang itu, bapak dosen dengan kacamata tebal serta rambut setengah botak baru saja keluar dari ruangan, dimana Zafira juga ikut mata perkuliahan tersebut.
Lima menit setelah sang dosen meninggalkan ruangan, gadis cantik berambut panjang itu pun membereskan peralatan belajar, tak lupa membawa paper bag yang berisi mukena, lalu keluar dari ruangan.
Saat sudah berada di luar,. Zafira melihat seseorang melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum menghias bibirnya yang biasa dia berikan setiap bertemu Zafira, senyum yang begitu tulus dan tak lekang dimakan waktu meskipun berpuluh tahun lamanya.
__ADS_1
Zafira tersenyum berjalan ke arah Fariz dan Fariz juga berjalan mendekati gadis pujaan.
"Mata kuliahmu sudah selesai?," tanya Fariz setelah keduanya berjarak satu meter.
"Sudah," sahut Zafira sambil menyibak rambut di dahi yang tertiup angin.
Fariz melihat itu menjadi terkesiap, Zafira memang selalu terlihat cantik di matanya. Semakin cantik dan akan selalu cantik.
"Kita ke masjid dulu, setelah itu baru makan, bagaimana?," tanya Fariz meminta pendapat gadis cantik itu.
"Baik," Zafira mengangguk lalu melangkahkan kaki menuju masjid yang diikuti Fariz.
"Bagaimana mata kuliah hari ini? Apa cukup melelahkan?," Fariz bertanya menoleh sahabat cantik di sampingnya.
"Yaah, begitulah, otakku terasa panas. Tadi pas di kelas, rasanya aku ingin sekali mandi dengan air es untuk mendinginkan kepalaku," jawab Zafira terkekeh. Fariz pun ikut terkekeh.
"Kamu membawa mukena?," tanya Fariz setelah mereka telah sampai di masjid kampus.
Entahlah, setiap bersama Zafira, Fariz banyak sekali bertanya kepada sang gadis, entah itu hanya menanyakan, sudah makan belum? sudah selesai belajar belum? sudah shalat belum? Dan lain sebagainya.
"Iya, ini aku membawanya," Zafira mengangkat paper bag yang ada di tangannya.
"Oh iya ya, aku tidak melihatnya tadi," Fariz mengangguk.
Lebih kurang Lima belas menit, mereka telah selesai melaksanakan shalat Dzuhur.
Zafira baru keluar dari masjid dan melihat Fariz telah setia duduk menunggunya di teras masjid.
Zafira berniat memakai sepatunya. Mata gadis itu berputar mencari sepatu berwarna coklat miliknya yang berjejer di antara puluhan sepatu lain.
Mata Zafira membulat, merasa terkejut melihat sepatu yang dia cari tampak kotor terkena tumpahan es cream tepat di dalam sepatu, sepertinya ada seseorang yang lewat dan tidak sengaja menjatuhkan lumeran es cream di sepatu Zafira.
Zafira bingung, bagaimana cara membersihkannya, karena tumpahan itu cukup banyak, mungkin hampir 2 sendok.
Dari tempatnya duduk, Fariz memperhatikan muka Zafira yang tampak kebingungan dan tak kunjung memakai sepatunya.
Pria tampan itu segera berjalan mendekati sang gadis.
"Ada apa? Mengapa mukamu seperti kebingungan?," tanya Fariz menatap heran pada Zafira.
"Itu lihat!," Zafira menggunakan bibir menunjuk ke arah sepatu yang ada di lantai.
Fariz langsung mengalihkan pandangan melihat ke lantai. Fariz yang sudah hafal betul bentuk dan warna sepatu Zafira ikut membulatkan mata melihat sepatu itu tampak kotor dipenuhi lumuran es cream di dalamnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu jangan panik begitu," ucap Fariz menenangkan sang sahabat.
"Bagaimana aku bisa memakai sepatu kalau ada es cream sebanyak itu di dalamnya? Siapa juga bawa es cream ke masjid? harusnya habiskan dulu es cream-nya baru ke masjid. Di masjid ini tempat suci, bukan tempat makan! mengesalkan!," gerutu Zafira manyun.
Fariz tersenyum melihat gadis cantik itu mengomel kian membuat hati Fariz semakin tertarik. Fariz duduk berjongkok lalu mengambil sepatu yang kotor itu.
"Sudah, jangan mengomel terus nanti wajahmu cepat tua. Kamu bawa tissue basah tidak?," Fariz mendongak ke arah Zafira.
"Tissue kering dan tissue basah di tasku semuanya habis. Kemarin kelupaan mau mampir ke mini market," Zafira
"Hmm, bagaimana mau membersihkan sepatu ini kalau tidak ada tissue? Mana es cream-nya lumayan banyak di dalam sepatumu," Fariz jadi ikut bingung menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari solusi.
Setelah beberapa detik berfikir, akhirnya pria pintar itu mendapat ide. Dia merogoh saku celana lalu mengeluarkan sapu tangan berwarna biru.
Fariz kembali duduk berjongkok mengambil sepatu zafira lalu hendak mengusapkan sapu tangan ke dalam sepatu, namun dengan cepat Zafira melarangnya.
"Fariz jangan!," suara Zafira mengejutkan Fariz.
Fariz sontak menghentikan niatnya lalu kembali terdongak menatap Zafira.
"Mengapa jangan? Aku hanya ingin membersihkan sepatumu, mengapa kamu melarangku?," Fariz bertanya mengerutkan kedua alis.
"Jangan mengorbankan sapu tanganmu hanya untuk membersihkan es cream itu," Zafira dengan kebaikan hatinya tidak tega melihat Fariz harus mengotori sapu tangannya hanya untuk membersihkan tumpahan es cream di sepatunya.
"Tidak apa-apa, di rumah masih banyak stok sapu tanganku, jadi kamu tidak perlu khawatir," jawab Fariz santai.
"Tapi Fariz..," kalimat Zafira terputus karena Fariz telah membersihkan bagian dalam sepatu Zafira dengan sapu tangan biru itu, menghapus sedikit demi sedikit tumpahan es cream itu hingga akhirnya kering dan bersih.
"Tunggu sebentar, jangan dipakai dulu," Fariz berdiri lalu membalikkan tubuh.
"Eh, kamu mau kemana?," panggil Zafira yang membuat langkah Fariz terhenti.
"Kamu tunggu di sini, aku mau mencuci sapu tangan ini dulu di toilet, tapi sepatunya jangan dipakai dulu!," Fariz mengingatkan kemudian berlari kecil menuju toilet.
Zafira hanya mampu terdiam. Ini untuk ke sekian kali dan tidak terhitung, perhatian serta bantuan yang dilakukan Fariz untuk dirinya.
Jauh di lubuk hati, Zafira sebenarnya menyukai Fariz, menyukai sifatnya yang lemah lembut, baik serta sangat memperhatikan dan memprioritaskan dirinya, namun Zafira merasa perasaan suka itu hanya perasaan biasa, karena setiap kali bertemu Fariz, gadis itu tidak pernah merasa deg deg-an atau merasa rindu seperti yang dia rasakan saat bersama Ronald.
Jika bersama Ronald, gadis itu sering merasa deg deg-an dan tak jarang sesampainya di rumah setelah pulang dari kencan, Zafira sering terlihat senyum-senyum sendiri membayangkan kencan yang baru saja dia lewati bersama Ronald.
Beda halnya saat dia bersama Fariz, hampir setiap hari dia bertemu dan bersama Fariz, tetapi dia tidak pernah merasa nervous atau terbayang-bayang wajah Fariz. Belum satu kali pun dia merasakan hal itu.
Entahlah, apa sebenarnya yang diinginkan hati Zafira. Namun yang jelas dia menyukai Fariz dan ingin selalu bersahabat dengannya serta tidak ingin jauh dari pria tampan itu.
__ADS_1
...*******...