
Fariz Erlangga
Zafira Mutia Wibawa
*****
Gadis berkulit putih itu terlihat pasrah. Entah kemana sikap ketusnya selama ini? yang jika disentuh akan berontak dan menolak. Seperti yang selama ini sering dilakukannya terhadap Ronald. Saat sang kekasih berusaha ingin memeluk, mencium, selalu mampu ditolak dengan beribu alasan. Tetapi malam ini, saat menerima sentuhan lembut dari suaminya, sikap ketus itu ikut melayang bersama perasaan yang saat ini terasa terbang ke awan.
Menit berikutnya, Fariz meraba-raba jemari kanan Zafira yang masih terkulai kaku di kasur. Dia berhasil mendapatkan jemari itu meskipun hanya meraba dan tidak harus melihatnya karena matanya masih terpaut pada wajah cantik di atasnya. Fariz segera meraih tangan itu dan menempelkannya di hidung. Seluruh keberanian seolah telah terkumpul dalam diri pria itu.
Tanpa ada rasa malu atau pun takut, perlahan-lahan Fariz mencium tangan gadis itu dengan hidungnya sambil memejamkan kedua kelopak mata. Menyesapnya penuh cinta. Menghirup udara panjang di celah-celah jemari halus itu.
"Aku ingin tidur seperti ini," ucap sang pria terdengar pelan masih dengan mata terpejam. Zafira hanya terdiam mendengar keinginan pria itu.
Tangan Fariz tidak lepas terus menggenggam jemari Zafira, semakin menempelkannya ke hidung dan menyesap habis aroma wangi yang merebak dari tangan Zafira dengan indera penciumannya. Kegiatan itu dilakukannya terus menerus.
Setelah merasa puas, dia pun beralih. Kini pria itu mulai berani, mengecup lembut jemari halus itu menggunakan bibirnya. Awalnya dia hanya berniat menyesap aroma wangi yang menyebar dari celah-celah jemari lentik itu dengan hidungnya. Namun sekarang naluri ke-lelakian-nya menggiring untuk melakukan lebih. Pria itu mulai berani mengecup jemari Zafira berulang-ulang dengan bibir tipisnya.
__ADS_1
Jantung gadis itu bergetar keras tatkala merasakan bibir kenyal milik suaminya mengecup jari tangannya. Refleks dia memejamkan kedua mata seraya meringis lalu menghembuskan nafas pelan. Dia juga tidak mengerti, mengapa dirinya sangat menikmati sentuhan suaminya. Hatinya terasa ikut terhanyut dengan sentuhan lembut yang dilakukan pria beralis tebal itu.
Untung saja mata Fariz masih terpejam rapat sehingga tidak melihat respon Zafira yang tiba-tiba saja memejamkan mata dan meringis, saat bibir Fariz mengecup jemarinya.
Getaran itu ada. Rasa itu pun semakin bermunculan. Berkembang dan bersemi lalu tumbuh di jantung hati. Sisanya hanya menunggu sang waktu untuk meyakinkan hati bahwa rasa itu adalah cinta bukanlah rasa biasa. Jika hati telah meyakini segala rasa, maka di ujung penantian akan dituntaskan dengan penyataan cinta dari bibir sang gadis kepada prianya.
Zafira tidak ingin sampai salah mengartikan seluruh perasaan yang kini kian berkembang terhadap Fariz. Dan dia juga tidak ingin tergesa-gesa menarik sebuah kesimpulan bahwa saat ini dia telah jatuh cinta kepada sahabatnya itu. Dia baru merasa yakin dengan perasaannya, bahwa dia telah jatuh cinta kepada Fariz, jika hatinya yang berbicara diikuti bibirnya mengucapkan kata cinta kepada suaminya. Namun hingga detik ini, kata cinta itu belum meluncur dari bibirnya. Itu berarti dia belum sepenuhnya yakin dengan perasaan cintanya kepada Fariz. Apakah benar-benar cinta atau hanya sebatas sayang kepada sahabat?
Tetapi satu hal yang tidak dapat dia pungkiri. Setelah dua hari menikah dengan sahabatnya itu, getaran di hatinya semakin hari semakin menggelora setiap kali bersentuhan dengan Fariz. Beda hal saat dia masih bersahabat dengan pria itu. Dia terbiasa bersentuhan bahkan menyentuh Fariz tetapi itu terasa biasa. Tidak seperti saat ini, hatinya bergetar tak tentu arah menjadikan mulutnya kelu, kehilangan seribu kata.
Fariz terus mencium lalu mengecup jemari itu dengan mata tetap terpejam. Gemuruh suara di dadanya tidak menghentikan aksinya. Dia masih belum berani membuka mata. Dia tidak ingin saat membuka mata, ternyata ini hanyalah sebuah mimpi. Jika memang ini mimpi, dia tidak ingin segera terbangun dari tidurnya.
Malam ini tanpa penghalang sehelai benang pun, dia bisa menggenggam, mencium, mengecup dengan bebas jemari Zafira. Sesuatu yang langka dan tak pernah terbayangkan selama ini di benaknya.
"Jarimu wangi sekali," ucapnya masih dengan gerakan mencumbu tangan Zafira.
"Fariz sudah. Turunkan kepalamu dari pahaku," pinta Zafira terdengar lirih.
Paha gadis itu terasa geli karena gesekan kepala Fariz yang terus bergerak saat mengusap-usapkan jemari Zafira ke hidung, ke pipi bahkan ke bibir pria itu.
Zafira menggerakkan paha, berusaha menurunkan kepala Fariz dari atas pahanya. Tetapi Fariz tidak begitu saja mau melepaskan diri dari atas pangkuan gadis cantik itu. Enak saja mau menurunkan kepalanya. Susah payah selama berpuluh tahun, menunggu saat ini tiba, seenaknya gadis itu mau menyudahi begitu cepat. Jika sekali menempel di paha itu, Fariz takkan membiarkan kepalanya semudah itu turun dari atasnya. Ternyata Fariz bisa egois juga. Sifat egoisnya sebagai laki-laki muncul begitu saja jika sudah menyangkut urusan bermesraan dengan Zafira. Begitulah kira-kira.
__ADS_1
Pria itu seakan menulikan telinga dan berpura-pura tidak mendengarkan apa yang baru saja dikatakan Zafira. Pria itu terhanyut dalam kenikmatannya sendiri. Terus menempelkan jemari Zafira di pipi lalu mengecupnya sambil memejamkan mata meresapi kehangatan yang mengalir dari jari gadis berambut panjang itu.
Sebenarnya Zafira ingin menyudahi aksi Fariz namun hatinya menuntut "Jangan". Entahlah, mengapa Zafira tidak bisa menolak? Dia pun dengan sukarela membiarkan pria itu terus berbaring di pahanya sambil terus melakukan sentuhan-sentuhan yang terus meresahkan hatinya. Kemana perginya rasa marah? Mengapa dia diam saja saat pria itu bermain-main di paha, jemari serta wajahnya? Tidak ada yang bisa menjawab. Zafira pun masih bingung dengan perasaannya sendiri. Perasaan yang terus bersemayam dan semakin menyesakkan rongga dadanya. Berkelana-lah wahai kau rasa. Saat di penghujung jalan, kau menemukan tempat yang indah serta teduh, maka kau pasti akan berteduh dan singgah di sana untuk selamanya.
Hingga akhirnya, di beberapa menit berikutnya, aroma wangi yang tersebar dari celah-celah jari lancip-lancip itu membuat mata Fariz menjadi sangat mengantuk. Sepertinya sudah ada candu di tangan gadis itu yang membuatnya begitu cepat mengantuk.
"Aku ingin tidur," ucap pria berbibir tipis itu masih dengan menempelkan jemari Zafira di bibirnya. Tetapi kali ini, gerakannya terlihat melambat.
"Fariz, tidur yang benar. Jangan seperti ini," ucap Zafira menggoyangkan paha, mencoba membangunkan sang suami.
Fariz tidak menjawab. Matanya kian tertutup rapat. Dia tidak ingin berlari dari pangkuan itu. Hatinya terasa damai serta tenang berada di atas bantal hangat itu. Dan tubuhnya pun seakan terpasang paku yang menempel rekat di sana.
Sampai Lima menit berikutnya, Fariz benar-benar tidak bergerak. Entah tidur, entah pingsan karena terlalu terkejut dan senang.
Zafira menunduk mengamati wajah yang terpejam. Rupanya Fariz benar-benar telah tertidur di atas pangkuannya. Zafira tahu, pria itu sangat menikmati berada dalam pangkuannya dan dia tidak ingin membangunkannya.
"Fariz?," panggil Zafira sembari menepuk pelan pipi suaminya dua kali berturut-turut.
Tidak ada gerakan. Posisi tidur Fariz sangat lucu di mata Zafira. Tangannya masih menggenggam jemari Zafira dan menciumnya di bibir. Tiba-tiba saja gadis itu menarik sebuah senyuman yang sedari tadi lenyap. Sedari tadi dia tidak sanggup tersenyum. Jangankan tersenyum, mengeluarkan kata pun dia merasa tidak sanggup, karena perasaan gugup yang menderanya. Alasan dia tersenyum kali ini karena melihat posisi tidur Fariz yang menurutnya sudah seperti anak kecil memeluk boneka lalu tertidur.
"Kamu lucu sekali. Tidur saja masih memegang tanganku. Fariz, apa kamu takut kehilanganku? Aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan berusaha mencintaimu seperti kamu mencintaiku. Hanya saja, beri aku waktu untuk benar-benar bisa membalas semua perasaanmu dan ikhlas menerima pernikahan kita. Mudah-mudahan kamu bisa mengerti dan tidak memaksaku," ucapnya pelan, menatap penuh arti pada wajah tampan itu.
__ADS_1
...*******...