
Fariz masih menenangkan detak jantungnya agar kembali normal, namun sia-sia. Kali ini jantungnya tidak mau diajak berkompromi, terus berdegup dengan kencang sampai-sampai Zafira pun diam-diam mengetahuinya.
Hal yang wajar terjadi pada seseorang dalam kondisi terkejut, hanya bisa diam membeku seribu bahasa. Fariz tidak pernah menyangka gadis yang selama ini ingin sekali disentuh, dipeluk bahkan dimiliki seutuhnya tiba-tiba malam ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu tiba-tiba memeluknya dengan erat.
Baik Fariz maupun Zafira sama-sama merasakan aliran hangat yang menyeruak di hati serta tubuh mereka dalam penyatuan pelukan itu. Fariz sangat menikmati moment ini hingga tidak mampu berkata apapun lagi dan tidak ingin ini berlalu.
Zafira pun semakin dilanda kebingungan karena merasakan hatinya semakin bergetar berlama-lama menempelkan tubuh dengan pria itu. Dia sendiri juga merasa tidak mengerti dengan perasaannya yang tiba-tiba saja berubah aneh setelah mendengar detak jantung Fariz yang ditangkap oleh telinga kemudian masuk ke hatinya.
Debar-debar halus itu terus menyusup memasuki relung hati Zafira. Bersenandung indah seindah malam yang diterangi cahaya rembulan remang-remang yang menyembul di balik pepohonan, seolah ikut tersenyum menggoda Zafira yang seperti orang bodoh memikirkan perasaan yang berkembang aneh di hatinya.
Dan jangan pernah bertanya tentang perasaan Fariz. Pria itu ibarat orang yang tengah terguncang. Hati, jantung, jiwa, serta nafasnya tidak lagi normal. Tubuh rasa goyah dan lemas. Rasanya dia tidak sanggup lagi untuk berdiri, seakan semua tulang yang ada di dalam tubuhnya ikut lebur menjadi satu dalam pelukan erat Zafira.
Setelah sekian menit hanya berdiam diri tanpa kata, sang gadis memeluk, sang pria hanya berdiri tanpa melakukan apa-apa apalagi membalas pelukan itu. Dia hanya berdiri tegang seperti orang kehilangan akal sehat. Termangu serta mematung membiarkan gadis itu memeluk erat tubuhnya. Akhirnya sang gadis kembali bertanya.
"Apa kamu mau memaafkanku?," ulang Zafira masih dengan posisi mendekap dan membaringkan kepala serta telinga rapat di dada sang pria. Kedua tangan tetap dirangkulkan di belakang tubuh Fariz.
Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Zafira merasa nyaman memeluk Fariz. Apalagi mendengar detakan jantung pria itu yang terus bernyanyi indah di telinganya hingga merasuki hati.
Fariz masih belum menjawab. Lidahnya menjadi kelu. Suaranya pun seakan tercekat di tenggorokan tak mampu mengeluarkan kata. Namun di balik rasa gugup yang mendera, dia masih bisa menikmati betapa hangatnya pelukan yang mengalir dari tubuh gadis yang teramat dicintai.
Zafira memejamkan mata sambil menunggu jawaban Fariz. Ternyata bukan hanya Zafira yang terpejam namun pria itu pun melakukan hal yang sama. Matanya ikut terpejam meresapi hangatnya tubuh gadis yang telah menempel sempurna dalam dadanya sambil menghirup aroma wangi dari rambut dan tubuh Zafira.
Setelah beberapa menit mereka saling berpelukan, barulah tampak jemari pria itu sedikit bergerak.
Dengan perasaan ragu-ragu, kedua tangan Fariz yang sedari tadi hanya terulur ke bawah, perlahan-lahan bergerak ingin menyentuh pinggang dan meraih kepala Zafira namun mendadak terhenti. Dia masih belum berani. Keberaniannya belum cukup besar untuk menyentuh tubuh serta kepala gadis itu.
__ADS_1
Fariz mengepalkan genggaman, membukanya kembali. Butiran keringat telah merembes dari telapak tangannya, tak ketinggalan dahinya pun ikut mengeluarkan keringat. Segugup itu Fariz terhadap Zafira sehingga udara malam yang terasa sejuk tak mampu meredam keringat yang terus keluar dari pori-porinya, merembes dari telapak tangan serta dahinya.
Fariz mengepalkan kembali genggaman, membuka kembali dan terus diulang berkali-kali, mencoba menggali keberanian dalam diri untuk menyentuh gadis yang selama ini begitu diimpikannya.
Fariz melirik ke bawah mengamati kepala Zafira yang tenggelam di dalam dadanya. Gadis itu masih merasa nyaman berbaring di sana.
Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, tangan kiri Fariz bergerak memegang pinggang ramping gadis itu dengan gemetar. Tangan kanan pun ikut terangkat dan tak kalah bergetar, mengusap rambut gadis itu dengan perlahan-lahan.
Fariz mengusap dari pucuk kepala turun ke rambut Zafira hingga lima centi ke bawah, kemudian mengusap kembali ke pucuk kepala lalu turun lagi ke bawah hingga lima centi, seperti itu berulang kali dengan penuh cinta.
Fariz sengaja menghirup udara panjang dari atas kepala Zafira dengan tujuan agar aroma wangi sang gadis terus masuk ke indera penciumannya yang menjadi candu baginya.
Cukup lama mereka berpelukan, jika dihitung dengan perputaran waktu, mungkin lebih dari sepuluh menit keduanya begitu rapat saling menempelkan tubuh mencoba menyelami perasaan yang tersimpan di dalam hati masing-masing.
"Emm, Maaf, maafkan aku, aku tidak sengaja," ucap Zafira sedikit kikuk sontak melepaskan pelukannya dan melangkahkan kaki mundur dua langkah ke belakang menjauhi Fariz, sambil mengusap-usap rambutnya sendiri sementara matanya mencuri pandang melirik pria yang berdiri di depannya.
Fariz pun terlihat kikuk sedikit tergesa melepaskan tangannya dari pinggang serta kepala Zafira sambil mengusap tengkuknya berkali-kali dengan senyum yang jelas menahan sesuatu rasa, antara rasa malu, senang, bahagia bahkan lebih dari itu. Menahan rasa cinta yang tidak terucap.
"Tidak apa-apa. Mengapa harus meminta maaf?," Fariz bertanya heran menautkan kedua alis menatap Zafira penuh tanda tanya.
"Aku takut kamu menjadi tidak nyaman karena sikapku yang tiba-tiba tadi," ujar Zafira merasa tidak enak hati.
"Siapa yang mengatakan aku tidak nyaman? Kamu? Tebakanmu salah. Aku malah sangat nyaman dan senang. Kalau boleh jujur, aku ingin berlama-lama seperti tadi," Fariz bicara dengan sangat lancar tanpa menutupi perasaannya. Muka itu tampak sumringah mengatakan hal sejujurnya yang ada di hati terhadap gadis itu.
"Apa?," Zafira terkejut. Matanya membulat tajam melekatkan tatapan kepada Fariz.
__ADS_1
Fariz tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi dan putih semakin menambah ketampanan wajah Fariz. Muka suram yang tadi sempat tergambar di wajah Direktur Utama itu berangsur hilang berganti dengan rona kemerahan yang menandakan jika hatinya saat ini sedang berbunga-bunga.
"Iya, aku senang. Aku sangat senang mendapat pelukan tiba-tiba dari gadis secantik kamu. Memangnya tidak boleh?," goda Fariz sekarang sudah bisa tersenyum karena hatinya merasa sungguh bahagia.
"Oh jadi kamu senang aku memelukmu tadi? Pantas dari tadi kamu diam saja. Ternyata kamu menikmatinya. Dasar aji mumpung! Menyesal aku memelukmu tadi!," Zafira berpura-pura kesal sambil menunjukkan muka cemberut, mulai menunjukkan keakraban lagi dengan sahabatnya.
"Bukan aji mumpung, tapi beruntung," jawab Fariz tertawa menggoda Zafira.
Saking senangnya tertawa, bahu pria itu sampai ikut berguncang tergelak menggoda Zafira yang telah mengerucutkan bibirnya seperti yang biasa dia lakukan tatkala merajuk pada Fariz.
Fariz memandangi wajah Zafira yang tampak begitu cantik, cantik yang alami dan apa adanya, semakin membuat hatinya kepincut dan tak ingin berpaling dari gadis itu. Apalagi dengan kelucuan wajah Zafira yang memasang muka seperti Macdonald membuat hati pria itu menjadi sangat terhibur.
"Iih dasar kamu! Mencuri kesempatan! Pokoknya aku tidak rela! Aku menyesal telah memelukmu tadi! Dasar pria mesum! Pasti kamu tadi berfikiran yang macam-macam terhadapku! Dasar jorok!," ujar Zafira masih berpura-pura memasang muka kesal.
Padahal yang sebenarnya, dia juga menikmati pelukan itu. Bahkan dia merasa nyaman berlama-lama menyandarkan kepala di dada bidang Fariz dan terhanyut mendengar detakan jantung pria itu hingga memunculkan debar-debar halus dan samar-samar di hatinya.
Sepertinya tanpa Zafira sadari mulai ada perasaan suka kepada sang sahabat. Bukan rasa suka kepada sahabat yang selama ini selalu dia dengungkan, melainkan perasaan suka seorang wanita kepada seorang pria. Walaupun perasaan suka itu mungkin hanya sedikit atau seujung rambut, setidaknya getaran itu sudah ada. Dan mulai muncul.
Gadis itu melangkah kembali mendekati Fariz dan tanpa ampun mencubit perut Fariz sebelah kanan dan sengaja sedikit memelintirnya.
"Rasakan ini! Ini pembalasan untuk pria yang sudah berani berfikiran jorok terhadapku!," Zafira menyerang Fariz dengan tiba-tiba sambil tertawa tidak melepaskan cubitannya.
"Aduh aduh, ampun Zafira," Fariz mengangkat kedua tangan berusaha menghindari cubitan Zafira yang menarik kulit perutnya sehingga terasa pedas karena sengaja dipelintir.
...*******...
__ADS_1