
Sementara di sebuah kamar di tempat lain, setelah berkirim pesan dengan Zafira, Fariz segera mengambil wudhu' dan menunaikan shalat isya.
Lebih kurang sepuluh menit pria itu khusyuk membaca lantunan ayat dan menyelesaikan ibadahnya.
Dia pun masih duduk di atas sajadah, menengadahkan kedua tangan, bermohon kepada Sang Pencipta agar diberikan kelapangan hati untuk mengikhlaskan gadis yang dicintainya memilih pria lain untuk menemani sisa hidupnya.
"Ya Allah jika memang Zafira bukan jodohku, aku akan berusaha meng-ikhaskannya. Tolong bantu hamba untuk melupakannya. Setelah ini hamba tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup hamba karena harus melepaskan Zafira. Selama ini hamba terbiasa hidup dengan melihatnya setiap hari. Bantu hamba untuk tetap bisa hidup walau tanpa melihatnya," mata pria itu tampak berkaca-kaca menumpahkan segala beban hidupnya melalui doa dan kepasrahan diri.
"Jika memang Zafira bisa bahagia bersama pria pilihannya, maka hamba ikhlas melepasnya. Ini adalah pilihan terberat dalam hidup hamba untuk mengikhlaskan dan melepas gadis yang hamba cinta. Tapi hamba akan melakukannya demi kebahagiaannya. Tolong jaga dia dan bantu hamba sembuh dari luka ini. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin..," Fariz menutup rangkaian doanya, mengusap wajah yang tampak risau itu.
Fariz menghapus air mata dengan punggung tangan. Kemudian melipat sajadah, kain serta melepas peci dari kepala yang dipakainya lalu meletakkan semua benda tersebut di tempatnya semula.
Pria itu berjalan mendekati lemari pakaian. Dan mengambil beberapa lembar foto di dalam laci kecil.
Seraya duduk di tepian tempat tidur, Fariz mengamati foto Zafira yang ada di tangannya. Tampak beberapa foto Zafira bersama Fariz sedang tersenyum hangat menatap ke kamera memakai seragam putih abu yang kedua muka mereka masih terlihat imut dan lucu. Fariz tersenyum memandangi foto-foto jadul itu sambil mengenang kembali masa-masa sekolah mereka yang selalu terlihat akur.
Dan di antara beberapa lembar foto yang saat ini sedang dipandanginya, ada satu lembar foto yang menampakkan Zafira telah memasuki usia dewasa dan terlihat sangat cantik. Dengan rambut panjang, memakai dress sambil duduk memangku tas di pahanya, tak lupa sebuah senyuman manis menghiasi bibir gadis itu.
Fariz tersenyum memandangi foto itu sambil jarinya mengusap-usap wajah Zafira yang begitu cantik di matanya.
"Aku juga tidak tahu, mengapa aku terlalu mencintaimu, Zafira. Padahal aku sadar, di hatimu tidak ada sedikit pun rasa cinta untukku selain perasaan sebagai sahabat dan saudara. Tapi aku tidak pernah menyerah untuk itu. Aku selalu menaruh harapan besar padamu suatu hari nanti kamu bisa jatuh cinta padaku. Tapi hari ini aku mendapat jawaban dari semua penantianku. Semua yang kulakukan ternyata sia-sia. Kamu akan segera menikah dan memilih hidup bersama pria lain. Hingga detik ini kamu memang tidak memiliki sedikit rasa padaku. Aku yang salah terlalu memaksakan keadaan," gumam Fariz, menatap nanar wajah Zafira sambil terus mengusap foto gadis cantik itu dengan lembut.
__ADS_1
Seluruh jiwa dan hati pria itu menjadi hancur lebur bersama leburnya harapan dan mimpi yang sudah dibangun selama puluhan tahun. Hatinya terasa diremas sungguh keras hingga terbelah menjadi puing-puing kesedihan serta meninggalkan bekas luka yang teramat dalam. Entah kapan luka itu bisa sembuh. Biarlah waktu yang lambat laun akan menyembuhkan dan mengikis luka itu.
*****
Keesokan hari. Pukul 11.20 WIB.
Zafira tengah disibukkan dengan pekerjaan yang kemarin sempat terbengkalai karena harus menyelesaikan permasalahannya dengan Fariz. Matanya menatap layar laptop sedangkan satu tangan mengambil gelas air putih yang ada di meja lalu meneguknya hingga habis.
Di saat gadis itu tengah sibuk mengerjakan tugasnya, pintu ruangan diketuk.
Zafira langsung mengalihkan perhatian ke arah pintu yang diketuk.
Sorot mata Zafira seketika menghunus tajam dan bibirnya pun terkatup rapat diiringi muka masam ketika melihat siapa yang datang. Bibirnya pun tak berniat memberikan senyum sedikit pun kepada tamu yang masuk ke ruangannya.
Seorang pria tampan, berpostur tubuh berkisar 190 cm, berhidung mancung, mengenakan pakaian rapi dengan rambut tak kalah rapi dan licin muncul di depan pintu. Dengan gerakan pelan dia menutup kembali pintu. Pria itu tersenyum ke arah Zafira yang masih menajamkan mata menatap padanya.
Zafira dengan muka malas segera membuang pandangan tanpa membalas senyuman pria itu lalu memfokuskan kembali mata ke layar laptop dan melanjutkan pekerjaannya tanpa menyapa apalagi mempersilakan sang tamu duduk.
Pria tersebut dengan tetap menyunggingkan senyum melangkah masuk dan berdiri di depan meja sang gadis. Mata Zafira tetap tertuju pada layar laptop, tidak ingin memperhatikan tamunya.
"Honey, apa kamu sedang sibuk?," sapa pria tampan itu masih dengan senyum terukir di bibir.
__ADS_1
Zafira pura-pura tidak mendengar. Dia menulikan telinga dan tetap sibuk mengerjakan pekerjaannya. Hatinya masih teramat kesal serta marah pada sang pria.
Pria itu masih tersenyum mengamati Zafira yang tampak memasang muka kesal padanya. Dia tahu kalau kekasihnya itu sedang marah padanya. Dan dia tidak peduli dengan kemarahan sang kekasih, yang dia pedulikan, ingin segera berbaikan dan cepat melamar kemudian menikahinya agar hidup Fariz, pria yang menjadi saingannya akan hancur melihat gadis yang dicintainya menikah dengan pria lain. Itu salah satu tujuan utama yang ingin dicapai pria licik itu.
"Honey, aku minta maaf atas kejadian kemarin," ucap Ronald berdiri di depan meja sambil membungkukkan tubuh ke hadapan Zafira seperti orang Jepang yang sedang memberi salam.
Zafira tidak bergeming.
Ronald berjalan memutari meja lalu melangkah mendekati Zafira yang masih duduk di kursi menatap laptop. Pria itu memutar pelan kursi Zafira dan menghadapkan tubuh gadis itu ke hadapannya.
Zafira mendelik menatap tidak suka kepada Ronald. Namun Ronald berpura-pura tidak mengacuhkan delikan wanitanya dengan tetap memasang senyuman di bibirnya. Dia menekuk kedua lutut, duduk berjongkok di dekat kaki sang kekasih.
"Honey, aku mohon, maafkan aku atas kejadian di kantin kemarin. Aku tahu kamu marah karena aku telah menghina sahabatmu. Aku akan menebus semua kesalahanku kemarin asal kamu mau memaafkan aku..," ucap pria itu sungguh-sungguh di depan Zafira namun di dalam hati dia memiliki maksud tertentu, kedua tangannya menggenggam kedua tangan Zafira.
Zafira terdiam memandang pria yang berjongkok di kakinya. Saat matanya tengah menatap Ronald, pria itu pun membalas tatapan sang gadis. Hingga keduanya saling menatap tak berkedip.
"Honey, aku melakukan itu karena aku cemburu melihatmu bersama sahabatmu itu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan menghina sahabatmu lagi. Maafkan aku honey..," ucap Ronald kembali sambil meremas pelan jemari halus gadis cantik itu.
Zafira masih diam membiarkan Ronald terus meremas jemarinya tanpa melarang atau pun menolak.
...*******...
__ADS_1