
Jangan membaca tetapi hanya membaca tanpa memberi apa-apa ya beb, gak boleh pelit kayak gitu... nanti rezeki kalian aku ambil, mengalirnya ke aku, bukan ke kamu...🤲ðŸ¤
Tekan Bintang 5 dan Subscribe ya beb...
Happy Reading
*****
Zafira Mutia Wibawa
Fariz Erlangga
*****
Sejak Ronald kembali ke Jakarta, waktu Zafira banyak tersita serta dihabiskan bersama Ronald. Fariz hanya bisa bertemu dengan Zafira di saat Zafira tidak memiliki janji atau sedang tidak bertemu Ronald. Dengan kata lain Faris hanya mendapat sisa-sisa waktu Zafira setelah Ronald mengambil hampir seluruh waktu gadis itu.
Hati pria itu rasa tercabik setiap kali melihat kebersamaan Zafira dengan Ronald namun dia tidak dapat melakukan apapun selain pasrah dan menerima kenyataan jika dirinya tidak akan pernah bisa merengkuh hati gadis yang dicintai, namun pria itu tetap memilih bertahan dengan perasaannya untuk terus mencintai Zafira meskipun gadis itu tidak pernah membalas perasaan cinta yang tulus dipersembahkan untuk dirinya.
Dua menit kemudian Zafira pun segera menelepon Ronald.
"Hallo honey, ada apa kamu meneleponku?," suara di seberang terdengar senang menerima telepon dari Zafira.
"Hallo too honey. Aku hanya ingin bertanya padamu, apa siang ini kamu memiliki rencana makan siang bersamaku?," tanya Zafira sambil memutar-mutar pulpen yang ada di tangan kanan seraya mengetuk pelan ke pelipis.
"Siang ini aku tidak bisa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Maaf honey, kamu tidak marah kan?,"
"Oh tentu saja tidak, aku mengerti dengan kesibukanmu. Kita berdua sama-sama sibuk jadi harus saling mengerti satu sama lain," jawab Zafira penuh pengertian.
"Kamu memang sangat baik honey. Istri idamanku. Aku akan segera menghadap orang tuamu dan melamarmu untuk menjadi istriku," ucap Ronald terdengar begitu serius ingin menjadikan gadis cantik itu sebagai istrinya.
"Iya aku setuju dengan rencanamu. Kita juga sudah lama saling mengenal, dari kelas dua SMA sampai sekarang. Sudah delapan tahun. Aku juga sudah merasa yakin padamu, yakin kalau kamu memang benar mencintaiku dan serius dengan hubungan ini, karena itu, aku tidak akan menolak jika kamu ingin menghadap mama dan papaku," sahut Zafira tak kalah serius.
"Baik honey, kamu percaya padaku. Aku akan mengajak orang tuaku ke rumahmu. Aku sangat serius dengan hubungan kita dan tidak akan pernah melepaskanmu. Hanya aku yang boleh mem-per-istri dan memilikimu..," ucap pria di seberang dengan begitu yakin yang terdengar manis di telinga Zafira.
"Baik honey, semoga dilancarkan semua niat baik kita, Aamiin..," ucap Zafira dengan hati riang mendengar kesungguhan sang kekasih.
Ronald yang kini telah semakin mapan serta tampan membuat Zafira semakin yakin jika hanya Ronald lah satu-satunya pria yang dia cintai serta mencintainya dengan tulus. Dan hanya Ronald yang tepat untuk mendampingi dirinya untuk menghabiskan sisa usia.
Ronald saat ini telah menjadi laki-laki yang dilirik banyak wanita dengan ketampanan serta kemapanannya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pria itu kini meneruskan usaha sang papa, usaha yang bergerak di bidang furniture. Usahanya itu pun tidak bisa dianggap remeh karena telah menyebar luas, tidak hanya di Indonesia tetapi diekspor hingga ke negara Asia.
"Terus siang ini kamu akan makan siang dimana?," tanya Ronald kemudian.
"Itulah alasanku meneleponmu. Aku ingin memberitahumu, Fariz mengajakku makan siang di dekat kantor," jelas Zafira.
__ADS_1
"Ck, ck, ckk... Aku heran laki-laki tidak laku itu! Dia salah satu pengagum setiamu yang tidak pernah kehabisan akal untuk selalu mendekatimu. Aku perhatikan, dia juga sepertinya tidak punya rasa malu! Terus mencoba merebutmu dariku! Padahal dia tidak ada apa-apanya dibanding aku! Sampai sekarang kamu tidak pernah menanggapi perasaannya tapi dia terus saja mencoba menaklukkan hatimu! Memalukan sekali temanmu itu!," Ronald tidak hentinya selalu menghina Fariz.
"Jangan bicara seperti itu. Fariz itu temanku, aku tidak mau kalau kamu selalu menghina dia," Zafira mencoba membela sang sahabat.
"Mengapa setiap kali aku berkata tidak baik tentang si pengagum beratmu itu, kamu selalu merasa tidak senang? Kamu selalu membelanya. Apa sekarang kamu sudah mulai mencintainya?," tanya Ronald dengan suara mulai meninggi dan terdengar cemburu.
"Itu tidak mungkin. Aku sudah menjalin hubungan begitu lama denganmu dan kamu juga sudah tahu bagaimana perasaanku terhadap Fariz. Aku tidak memiliki perasaan apapun selain perasaan sebagai teman. Kalau aku memang mencintainya, tidak mungkin kita bisa menjalani hubungan sampai sejauh ini," Zafira meyakinkan.
"Iya honey, aku percaya padamu. Kamu tidak mungkin bisa jatuh cinta dengan laki-laki tidak punya malu seperti dia. Dia tahu kalau kamu telah mempunyai kekasih tapi dia terus saja berusaha mendekatimu dengan berbagai cara. Lagi pula apa yang bisa dibanggakan oleh si pengagum receh itu. Dia tidak akan bisa menggeser posisiku di hatimu," Ronald berkata begitu sombong.
Jujur, hati Zafira merasa tidak terima Ronald menghina Fariz sedemikian rendahnya namun gadis itu tidak ingin berdebat dan dia pun segera menyudahi pembicaraan agar tidak semakin memanas.
"Baiklah honey, aku makan siang bersama Fariz dulu. Kamu juga jangan telat makan siang,"
"Baik honey. I love you," ucap Ronald.
"I love you too," Zafira menyudahi pembicaraan dan langsung menekan kontak Fariz lalu mengirimkan chat kepada pria yang saat ini sedang berhenti di lampu merah.
"Ronald hari ini sibuk di kantor, jadi tidak makan bersamaku. Aku tunggu di restoran tempat biasa. Aku sampai di sana dalam sepuluh menit," isi pesan Zafira.
Fariz melihat pesan masuk dan segera membalasnya.
"Baik. Kamu hati-hati menyeberang jalan," pesan Fariz mengingatkan.
"Baik," Zafira membalas kembali.
Setelah lampu merah berganti hijau, Fariz sedikit mempercepat laju kendaraan mengarahkan ke kantor Zafira.
"Sudah lama?," tanya sang pria duduk di kursi berhadapan dengan Zafira.
"Baru saja sampai," sahut Zafira melihat daftar menu.
"Aku pesan ayam dada penyet, gurame asam manis dan es jeruk. Kamu?," tanya Zafira bertanya pada pria tampan yang duduk di depannya dengan pakaian yang begitu rapi, kemeja biru panjang serta dasi yang masih terpasang kencang di leher.
"Samakan saja dengan menu yang kamu pesan. Apa yang kamu makan, aku juga pasti menyukainya," sahut Fariz sedikit merenggangkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Hmm, selalu perkataan ini yang selalu kudengar setiap kali kita makan berdua," Zafira menggelengkan kepala.
Zafira melirik sekilas pada Fariz memperhatikan dengan saksama wajah di depannya. Menurutnya, wajah Fariz sangat tampan, mata yang bening, alis tebal, hidung mancung, bibir tipis dengan rahang yang mulai terbentuk kokoh menandakan jika umur pria itu sudah cukup matang.
Beberapa menit Zafira menatap lekat Fariz hingga akhirnya dia tersadar dari ketidaksengajaan memandangi Fariz sedemikian lekatnya. Gadis itu refleks mengerjapkan mata berulang kali berusaha menyadarkan dirinya dan langsung mengedarkan mata ke sekeliling restoran.
Untung pada saat Zafira sedang menatap lekat Fariz, pria itu sedang sibuk menggulung kemejanya sehingga dia tidak sadar jika gadis cantik di hadapannya tengah memperhatikan dirinya.
Apa mungkin, seiring berjalannya sang waktu dan seringnya mereka bertemu dan bersama, membuat Zafira telah jatuh cinta pada Fariz. Dan tanpa Zafira sadari ternyata ada cinta di hatinya untuk sang sahabat?
Namun apapun yang dirasakan Zafira, gadis itu tetap saja bersikukuh mempertahankan pendapatnya, merasa kalau hubungannya dan Fariz hanyalah sebatas sahabat, dan akan selamanya seperti itu.
__ADS_1
"Kamu hari ini bawa mobil?," sang pria bertanya setelah selesai menggulung kemejanya dengan rapi.
"Iya, mengapa? Pasti kamu mau menjemputku?," tanya Zafira sambil tertawa menebak tanpa basa basi.
"Tanpa aku jawab, kamu sudah tahu jawabannya, hehe, hehe," Fariz pun ikut tertawa.
"Kamu itu tidak pernah bosan selalu membuang waktumu untuk mengantarku ke sana kemari," cetus Zafira menatap Fariz tersenyum.
"Tidak masalah. Aku melakukannya juga ikhlas dan senang," sang pria menjawab dengan jujur.
"Oh iya, apa sekarang kamu belum punya kekasih? Kamu sekarang sudah mapan dan usiamu juga sudah cukup matang untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis," Zafira mencoba mengorek informasi walaupun dia tahu, jika Fariz saat ini memang belum memiliki tambatan hati.
"Aku rasa tidak perlu menanyakan hal yang sesungguhnya kamu sudah mengetahuinya," gerutu Fariz dengan muka ditekuk.
"Iya, iya, itu saja emosi, nanti cepat tua!," Zafira menepuk pelan tangan Fariz.
Fariz hanya tersenyum mendengar perkataan Zafira.
"Itu! Makanannya sudah datang! Aku sudah lapar," Fariz menunjuk seorang karyawan restoran yang membawa nampan berjalan ke meja mereka.
Setelah semua pesanan telah disajikan di meja, Zafira pun segera mencuci tangan di wastafel yang ada di dekat meja mereka, disusul Fariz.
"Mari kita makan, jangan lupa berdoa dulu, biar makananmu tidak habis digerogoti cacing-cacing di perutmu!," celoteh Zafira membuat Fariz menggeleng lalu tersenyum.
"Iya," Fariz menurut lalu keduanya mengangkat tangan sedikit dan melafazkan doa sebelum makan.
"Sedikit saja makan sambalnya, nanti kepedasan, kamu kan tidak kuat pedas," Fariz mengingatkan.
"Iya, tenang saja. Aku hari ini sedang ingin makan yang pedas-pedas," sahut Zafira dengan santai.
Iya, hari ini gadis itu sedang datang bulan, jadi lidahnya menginginkan sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya itu makanan yang pedas, namun sayang, keinginannya itu tidak bisa diterima oleh lidahnya yang tidak penyuka pedas.
Dalam hitungan menit, muka serta bibir Zafira terlihat memerah. Suaranya juga terdengar mendesis. Telinganya juga mulai memanas. Hidungnya mengeluarkan air.
Fariz meletakkan sendok yang dipegangnya ke atas piring lalu menarik beberapa lembar tissue yang ada di meja.
"Mengapa? Kamu kepedasan?," tanya Fariz sangat faham dengan yang dirasakan Zafira, hanya melihat muka Zafira yang tampak memerah, Fariz yakin kalau sang gadis sedang kepedasan.
Tanpa berfikir panjang, Fariz menempelkan tissue ke hidung Zafira dan sedikit memencet hidung gadis itu untuk membersihkan lelehan air yang keluar.
"Deggg"
Hati Fariz bergetar. Pria itu baru sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan dan langsung menarik kembali tangannya.
"Bodoh! Apa yang aku lakukan!," rutuk hati Fariz.
Terkadang Fariz mengutuk dirinya sendiri yang sering kelepasan memperlakukan Zafira dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Sementara Zafira hanya melongo mendapat perlakuan manis Fariz yang tiba-tiba. Namun gadis itu tahu, apa yang baru saja dilakukan Fariz bukan sesuatu hal yang aneh. Itu merupakan hal yang sudah biasa, karena Fariz terlalu memperhatikan dirinya dalam segala hal.
...*******...