Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
54 - PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

Hai BESTie 😉


Gadis di bawah ini nanti yang akan menjadi istri Zafran.


Cerita mereka akan aku tulis di novel ketigaku, setelah Novel Zafira Fariz Tamat yaa...


Dan kisah Zafran juga aku tulis atas permintaan kalian ya, bukan atas kemauanku🤣🤣


Kalian yang komen dan minta dilanjutin tentang kisah anak Laras dan Arga, makanya aku coba wujudkan...


Jangan lupa Bintang 5


Dan Subscribe nya...


Happy Reading 😘


*****


Saat Ronald akan keluar dari pintu, dia melihat oma Mayang, Arga, Laras, Tina, Rico, Bram dan juga istrinya telah berdiri di depan pintu, menatap tak berkedip kepadanya.


Ronald semakin memperkuat pegangan di gorden jangan sampai terlepas dari perutnya. Jika tidak, rasa malunya pasti akan bertambah besar kalau sampai seluruh keluarga Zafira melihat boxer warna biru miliknya. Tanpa basa basi, dia pun dengan muka panik tergesa-gesa pergi dari ruangan itu.


Setibanya di luar ruangan, Ronald harus melewati rumah yang sebegitu luas, yang mana di setiap ruangan telah banyak tamu berdatangan untuk mengikuti prosesi akad nikah. Hatinya harap-harap cemas, takut jika ada teman yang mengenali wajahnya.


Dengan susah payah, langkah demi langkah Ronald melewati para tamu, maka satu persatu pula setiap mata mendadak berpaling padanya. Semua orang yang melihat sesuatu yang aneh berjalan di depan mereka, langsung menatap dengan tatapan bingung, melihat sesuatu yang berjalan mengenakan kostum yang tidak biasa, yang pasti di setiap toko tidak menjual setelan seperti yang dia kenakan. Jika pun ada yang menjual setelan itu, pasti harganya sangat mahal, karena setelan unlimited.


Demi mengakhiri rasa malu, Ronald terburu-buru meninggalkan kediaman Zafira, sambil menundukkan muka melihat ke lantai, berharap segera sampai ke mobil dan bersembunyi di dalam sana.


"Brugghh"


Nasib buruk kembali menimpa pria itu. Kaki yang sedari tadi dijaga dan sangat berhati-hati dalam melangkah, dengan tujuan agar tidak menginjak ujung gorden, akhirnya yang ditakutkan terjadi juga. Ujung gorden terinjak dengan kaki kiri hingga membuat tubuh tinggi itu tersungkur ke lantai.


Semua orang yang berada di sana merasa terkejut dengan suara yang cukup keras membentur lantai, apalagi disertai dengan melayangnya sebuah kain yang cukup panjang menutupi sesuatu yang jatuh itu. Seketika semua tamu mengarahkan pandangan pada sesuatu yang sudah terkapar di lantai.


"Eh, Bapak-bapak, Ibu-ibu ada benda yang jatuh. Benda apa ini? Mengapa besar sekali? Apa ini patung berjalan?," ujar seorang ibu-ibu yang berada di dekat Ronald sambil menyentil-nyentilkan ujung sandalnya ke tubuh Ronald.


Ronald geram. Mukanya pucat pasi. Insiden ini semakin membuatnya merasa malu. Refleks Ronald berdiri dan membenahi gorden yang terlepas dari pegangan tangannya.


"Ya Allah, patungnya bisa berdiri sendiri!," pekik ibu-ibu itu memundurkan tubuh dan terlihat panik, saat melihat Ronald berdiri, membuat para tamu yang lain satu persatu mulai mendekat ke arah Ronald.


Ronald tidak mempedulikan pekikan Ibu-ibu itu. Dia harus segera menjauh sebelum para tamu itu mengelilinginya. Dengan muka tertunduk, pria itu terbirit-birit meninggalkan para tamu yang masih berdiri dengan tatapan bingung.


Sementara di ruangan rias, Zafran mengambil jas di atas kursi dan melipatnya dengan rapi bersama celana putih yang tadi dilepaskan Ronald.

__ADS_1


Tampak oma Mayang, Laras, Arga, Tina, Rico, Bram serta istrinya masih berdiri melongo di depan pintu menyaksikan aksi yang baru saja dilakukan Zafran. Mereka tidak menyangka, Zafran yang terkenal lemah lembut dan santun, bisa menjadi laki-laki yang menakutkan di saat sedang marah.


Zafran mendekati keluarganya kemudian berkata kepada sang mama.


"Ma, itu anak mama, tolong dihibur. Kasihan, harus kehilangan calon suami yang super baik dan setia," Zafran tersenyum tipis, mengejek saudara kembarnya yang kini sudah duduk kembali di kursi dengan muka murung.


"Zafran!," Laras berbisik, sedikit membulatkan mata mendengar perkataan anaknya, memberi isyarat tidak boleh berkata seperti itu di saat Zafira sedang bersedih.


Zafran hanya tersenyum kecil menatap reaksi sang mama.


"Baiklah, Zafran keluar dulu dan akan segera kembali. Jangan lakukan apapun sebelum Zafran kembali," pesannya sambil berjalan keluar meninggalkan Zafira bersama keluarganya.


Sebelum Zafran keluar dari ruangan, dia sempat tersenyum melirik kepada sang papa yang berdiri di samping mamanya. Zafran mendekati lalu memeluk sang papa. Kembali keduanya saling berpelukan bagai Teletubbies seperti yang mereka lakukan saat mengintip di balik pintu tadi.


Awalnya, hanya mereka berdua yang mengintip di balik pintu, menguping pembicaraan Citra dan Zafira. Namun saat keduanya melihat kedatangan Ronald, keduanya pun bersembunyi di salah satu lemari tak jauh dari pintu kamar. Setelah Ronald masuk ke ruangan, Arga pun menyuruh Zafran agar mengajak keluarganya untuk ikut menyaksikan adegan selanjutnya.


"Kamu memang hebat anakku! Papa bangga padamu!," Arga memuji Zafran sambil menepuk punggung sang anak berkali-kali.


"Papa yang jauh lebih hebat, sudah mengerahkan anak buah papa tepat pada waktunya, sebelum akad nikah terlaksana. Karena kehebatan papa, sekarang bisa membuka mata dan fikiran Zafira dengan menunjukkan bukti yang akurat,"


Arga melepas pelukan tersenyum bangga menatap Zafran.


Setelah Zafran keluar, Laras dan seluruh keluarga berdiri mengelilingi Zafira yang duduk di kursi tanpa menunjukkan reaksi apapun. Citra yang masih berada di ruangan itu pun segera keluar setelah berpamitan dengan Zafira dan keluarganya.


Laras memeluk anaknya, mengusap kepalanya penuh kasih sayang. Calon pengantin itu memang sudah tidak lagi menangis namun Laras yakin, jika di dalam hati sang anak pasti masih membekas luka serta rasa kecewa yang sangat besar karena pengkhianatan yang sudah dilakukan calon suaminya.


Sementara itu, saking senangnya pernikahan sang adik gagal dilangsungkan, Zafran berlari secepat mungkin ke rumah Fariz. Dia sudah tidak sabar ingin menyampaikan berita bahagia ini kepada sang sahabat yang tengah patah hati di rumahnya. Dan karena terlalu bersemangat, Zafran tidak sadar kalau ternyata dia menggunakan kaki untuk berlari bukan menggunakan mobil untuk mengantarkannya ke rumah Fariz.


Di tangan kirinya mendekap jas dan celana putih milik Ronald, yang tadi dengan sangat terpaksa dilepaskan Ronald atas ancaman Zafran.


"Yees! Yees! Yeeess! Usahaku berhasil! Zafira batal menikah!," Zafran mengepalkan genggaman dan memukulkannya ke udara berulang kali.


Pria tampan itu terus berlari menuju rumah Fariz tanpa memperhatikan jalan di sekitar tempatnya berlari banyak berlalu lalang kendaraan, mobil dan sepeda motor.


Tiba-tiba...


"Ciiiiiiitttttt"


Suara rem diinjak mendadak.


Zafran terkejut bukan kepalang. Pria itu refleks mengulurkan tangan kanan ke arah mobil hitam dengan maksud meminta agar mobil itu segera memberhentikan kendaraannya, yang sudah berada tepat di depannya hanya berjarak satu meter. Sementara tangan kiri masih tetap setia mendekap jas putih untuk dihadiahkan kepada sang sahabat, Fariz.


Jantung Zafran sontak terhenti saat menyadari dirinya hampir saja tertabrak mobil. Nafasnya yang memang sudah tersengal karena berlari, semakin tersengal akibat sebuah mobil yang baru saja hampir merenggut nyawanya.

__ADS_1


Pintu mobil terbuka dan tampak seorang gadis keluar dari sana, sedikit berlari menghampiri Zafran.


Dan untuk kedua kalinya pula jantung Zafran nyaris terhenti. Nafasnya yang tadi tersengal kini seakan berhenti berhembus, melihat sosok bak bidadari yang tengah berjalan terburu-buru ke arahnya. Mata pria itu terbuka lebar demi melihat gadis cantik yang baru saja keluar dari mobil.


"Kamu tidak apa-apa?," begitu merdu dan lembut suara itu mengalun di telinga Zafran, membuat jantungnya berdegup tidak jelas. Antara mau berhenti berdetak atau justru berdetak semakin cepat.


Zafran tidak menjawab. Matanya masih terpesona dengan sosok cantik yang mengenakan dress se-lengan berwarna pink soft, dengan model kerah Shanghai, menutupi tulang leher sehingga tidak terbuka. Ukuran dress pun tidak terlalu pendek, melebihi bawah lutut dan memakai sepatu heels senada dengan dress. Kacamata hitam melintang di atas kening, memberi kesan modis tetapi tetap mencerminkan busana yang sopan dan tidak terlalu mengumbar aurat.


Gadis itu berkulit putih dan mulus. Sinar matanya memancarkan ketenangan. Rambut panjangnya dikuncir kuda dengan pita pink di belakangnya. Berhidung mancung dan memiliki bibir yang indah dipoles lipstik tipis. Zafran sungguh mengagumi keindahan yang ada di hadapannya saat ini.


Kini gadis itu telah berdiri tepat di hadapan Zafran.


"Haiii..?," tangan kanan si gadis melambai di depan muka Zafran mencoba menyadarkan pria yang sedari tadi melongo menatapnya.


Zafran kembali terperanjat. Sadar dengan apa yang terjadi. Pertama, hampir saja nyawanya melayang tertabrak mobil. Dan kedua, melihat seorang gadis turun dari mobil yang begitu cantik dan memikat hati.


"Apa kamu baik-baik saja? Tidak ada yang luka kan?," si gadis kembali bertanya dengan nada cemas mengamati seluruh tubuh Zafran dari atas hingga ke bawah.


"Tampan sekali," gumamnya dalam hati sambil terus memperhatikan Zafran, menatapnya mulai dari atas rambut, turun ke mata, turun lagi ke hidung, bibir, sampai ke ujung kaki.


"Benar-benar sempurna," gumam gadis itu kembali, tetapi hanya di dalam hati.


"I-iya, aku tidak apa-apa," jawab Zafran terlihat gugup.


"Alhamdulilah, kalau kamu tidak apa-apa. Lain kali, kalau kamu berlari di jalan raya, jangan lupa larinya di pinggir saja. Jangan di tengah jalan. Berbahaya untuk keselamatanmu dan keselamatan orang lain," sang gadis berujar dengan sangat lembut menasehati pria tampan yang masih terdiam menatap takjub pada gadis di depannya.


Melihat keadaan Zafran baik-baik saja, apalagi melihat reaksi Zafran yang hanya diam tak bergeming, gadis itu pun langsung berpamit diri.


"Baiklah, aku permisi. Hati-hati kalau kamu mau berlari lagi. Ingat! Di pinggir. Jangan di tengah," pesan sang gadis membalikkan tubuh menuju mobil.


Zafran tersentak. Mengapa gadis itu cepat sekali berlalu? Padahal matanya belum puas menikmati wajah cantik bak bidadari itu.


Dengan tergopoh-gopoh Zafran berlari mengejar gadis yang telah sampai di depan mobil.


"Tunggu!," teriak Zafran menghentikan gerakan gadis itu, membuatnya mengurungkan niat menarik handle pintu mobil.


Sang gadis berbalik melihat ke arah Fariz yang telah berdiri satu meter darinya.


"Ada apa?," dia bertanya menautkan kedua alisnya.


Zafran bingung. Mengapa dia menghentikan gadis itu? Untuk apa? Dia menggaruk kepalanya berusaha keras mencari alasan.


"Kamu hampir saja membuatku celaka. Jadi aku mau minta ganti rugi," Zafran berkata asal, karena hanya alasan itu yang saat ini terfikir di benaknya.

__ADS_1


"Hah? Ganti rugi? Bukannya salahmu sendiri berlari di tengah jalan? Mengapa jadi meminta ganti rugi padaku?," Gadis itu membolakan mata menatap bingung pada pria tampan yang menurutnya sedikit aneh itu.


...*******...


__ADS_2