Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
09 - SUNGGUH CANTIK


__ADS_3

Zafira berfikir sesaat.


"Yakin? Kita tidak akan ditilang?," tanya Zafira memastikan.


"Yakin!," jawab Fariz tegas.


"Baiklah kalau begitu, aku mau ikut kamu, tapi awas saja ya kalau ada apa-apa di jalan. Kamu harus bertanggung jawab pada mama dan papaku," ancam Zafira menaikkan alis seraya mengerucutkan bibir ke arah Fariz.


"Siap nona cantik! Apapun itu, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu! Bertanggung jawab untuk menikahimu pun aku mau! hehe, hehe," ucap Fariz menggoda Zafira, namun di dalam hati, Fariz sungguh-sungguh ingin perkataannya itu terkabul menjadi sebuah kenyataan.


"Iiiihh.., itu mau kamu! Tapi aku tidak mau menikah denganmu!," jawab Zafira sambil memegang ujung topi bagian depan Fariz, kemudian menariknya ke bawah, sehingga mata sang sahabat menjadi tertutup.


"Zafira!," Fariz mengulurkan kedua tangan berusaha menangkap Zafira yang telah bersikap jahil menurunkan topi hingga menutupi matanya.


Zafira yang berdiri tepat di depan Fariz berusaha mundur menghindari tangan Fariz yang hampir menyentuh mukanya. Dengan mata yang masih tertutup, Fariz dengan langkah panjang kian maju mencari keberadaan Zafira dan Zafira terus memundurkan tubuh hingga akhirnya...


"Bruuggh"


Tak dapat dihindari, tubuh Fariz yang sedang meraba dengan mata tertutup menabrak tubuh Zafira, sehingga tubuh gadis cantik itu tersandar pada sebuah motor yang berada di belakangnya.


Paper bag yang dibawanya terlepas dari pegangan dan jatuh ke lantai.


Kedua telapak tangan Zafira refleks bertahan di jok motor untuk menopang tubuhnya jangan sampai terjatuh ke belakang.


"Fariiizz!!," teriak Zafira.


Fariz yang merasakan menabrak sesuatu, langsung membuka topi dengan tangan kanan dan melihat keadaan di depannya.


Fariz terkejut melihat tubuh Zafira yang hampir terjatuh dan spontan tangan kirinya secepat kilat memegang pinggang Zafira yang nyaris terjungkal ke belakang dan menarik tubuh Zafira ke pelukannya.


Posisi mereka saat ini sangat dekat, tangan kiri Fariz masih melingkar sempurna di pinggang ramping gadis cantik itu.


Wajah Fariz begitu dekat dengan wajah Zafira, mata Zafira pun membulat menatap ke arah Fariz.


Untuk ke sekian kalinya di hari yang sama, Fariz merasakan dadanya berdebar tak menentu, setelah kejadian di resto tadi saat Zafira menyentuh sudut bibirnya membersihkan memar bekas pukulan Ronald, kini kembali terjadi rasa yang sama, debaran yang aneh yang semakin membuncah di hatinya.


"Ya Allah Zafira, kamu memang sungguh cantik. Bisa melihatmu sedekat ini membuat jantungku rasa mau runtuh. Pantas saja bertahun-tahun aku tidak bisa berpaling darimu. Seandainya kita dewasa nanti dan aku bisa menjadi suamimu, maka aku adalah laki-laki yang paling beruntung di dunia ini..," gumam Fariz di dalam hati menatap mata teduh Zafira serta menikmati wajah cantik gadis di depannya itu.


Degup jantung Fariz semakin keras, dia ingin terus menikmati wajah serta mata teduh Zafira namun tiba-tiba Zafira mendorong tubuh Fariz sehingga tangan Fariz yang tadinya memeluk pinggang Zafira seketika terlepas.


"Iiiihh Fariz!! Lepaskan aku! Kamu sengaja ya cari kesempatan!," desis Zafira kesal memandang fariz dengan muka masam.

__ADS_1


"Siapa yang cari kesempatan? Aku tidak sengaja. Kamu yang memulai. Kamu yang duluan menutup mataku dengan topi makanya aku jadi tidak bisa melihat," Fariz membela diri tidak mau disalahkan.


"Huh! Tidak mau mengaku, dasar egois!," sungut Zafira masih dengan muka kesal.


Fariz tersenyum melihat muka kesal Zafira makin menambah kecantikan wajahnya.


"Iya baiklah, aku minta maaf walau aku tidak bersalah," ucap Fariz mengajak Zafira untuk bersalaman tetapi gadis yang sedang kesal itu tidak menerima uluran tangan Fariz, mukanya masih cemberut, tidak ada senyum terukir di bibirnya.


"Kamu itu kalau cemberut seperti itu makin kelihatan cantik, hehe, hehe," Fariz tidak berhenti menggoda sang sahabat.


"Iiiihh! Tidak lucu! Ini rasakan!," Zafira menjitak kepala Fariz dengan jari tengah.


"Aduuhh," Fariz meringis memegangi bekas jitakan Zafira.


"Jitakanmu sakit sekali, padahal tanganmu halus, tapi ternyata jarimu keras seperti jari komodo," ringis Fariz mengusap kepalanya.


"Terserah mau bicara apa! Ayo pulang!," perintah Zafira ketus.


Zafira membungkuk, bermaksud mengambil paper bag yang tergeletak di dekat kakinya namun Fariz segera melarangnya.


"Biar aku saja yang mengambilnya," Fariz dengan cekatan membungkuk mendahului Zafira lalu mengambil paper bag di dekat kaki gadis cantik itu.


Zafira tertegun dengan perhatian sang sahabat. Di dalam hati, dia mengagumi pribadi Fariz yang baik serta sangat peduli padanya, namun rasa kagum itu hanya sebatas kagum kepada sahabat, tidak lebih, karena di hatinya saat ini hanya ada Ronald.


Itu artinya, selama ini Zafira hanya menganggap Fariz seperti saudara, dia menyayangi Fariz sama seperti dia menyayangi Zafran.


"Ini bawalah," Fariz memberikan paper bag pada Zafira yang la gsung disambut sang gadis.


Fariz berjalan ke arah motor dan mengambil helm warna merah kepunyaannya.


"Kamu saja yang memakai helm ini,"


"Mengapa aku yang memakainya? Kan kamu yang membawa motor," Zafira bertanya tidak mengerti.


"Biar rambutmu yang indah ini tidak berantakan ditiup angin," jawab Fariz sekenanya.


"Biarkan saja. Aku malah suka rambutku ditiup angin, biar tubuhku jadi lebih adem," Zafira sudah kembali ceria dan melupakan kejadian yang baru saja terjadi.


"Sudah! Jangan banyak bicara. Kamu ini cerewet sekali. Sini aku pakaikan," ucap Fariz mendekat ke arah Zafira lalu dengan gerakan cepat memasangkan helm merah itu di kepala sang gadis pujaan.


Zafira hanya melongo mendapat perlakuan Fariz dan tidak sempat untuk menolaknya karena Fariz telah terlebih dahulu memasangkan helm itu di kepalanya sebelum dia sempat melarangnya.

__ADS_1


Mau tidak mau gadis itu membiarkan saja perlakuan Fariz.


Dari balik helm itu, kedua mata Zafira melirik mengamati wajah Fariz. Mulai dari alisnya yang tebal, hidung mancung serta bibir tipis, hanya saja karena muka Fariz belum terlalu dewasa sehingga wajah itu terlihat belum sempurna ketampanannya.


Mungkin setelah umurnya bertambah beberapa tahun lagi, pasti wajah Fariz akan semakin kokoh dan tampan.


"Fariz, ternyata kamu tampan juga. Mama papa tidak salah memilihkanmu untuk menjadi jodohku ketika dewasa. Selain pintar, baik, kamu juga tampan, tapi maaf, aku tidak bisa menerima perjodohan kita, aku hanya menganggapmu teman dan saudara, maafkan aku..," bisik hati Zafira penuh sesal, terus menatap Fariz yang masih sibuk mengaitkan tali helm.


"Sudah selesai, sekarang kita pulang," ujar Fariz segera menaiki motor yang disusul oleh Zafira.


"Tas dan paper bag taruh di tengah saja," saran Fariz sebelum menjalankan motor.


"Iya," Zafira menaruh semua barang di tengah, antara dirinya dan Fariz.


"Kamu pegangan dimana?," tanya Fariz menoleh pada Zafira yang duduk di belakangnya, dia sangat mengkhawatirkan gadis itu.


"Di sini saja," Zafira memegang ujung baju Fariz.


"Baik, pegangan yang kencang, kita berangkat sekarang," Fariz mulai menjalankan laju motor dengan kecepatan pelan, keluar dari parkiran motor dan memasuki jalan raya.


Mata Fariz begitu jeli mengawasi situasi jalan di depan. Ini pertama kali dia membawa seseorang tanpa menggunakan helm.


Selama ini Fariz selalu patuh hukum serta rambu lalu lintas namun demi Zafira, dia rela melanggar semua itu.


"Jangan ngebut!," suara Zafira dari belakang, memberi pesan.


"Iya tuan puteri," jawab Fariz menurut, melajukan kendaraan dengan pelan.


"Kamu tidak memakai kacamata hitam?," Zafira bertanya dari balik punggung Fariz.


"Tidak," sahut Fariz singkat.


"Memangnya matamu tidak perih berkendaraan tidak memakai helm?," Zafira sedikit khawatir.


"Lebih perih hatiku saat melihatmu bersama Ronald," bisik hati Fariz sedih.


"Tidak apa-apa, tidak perlu mengkhawatirkanku," sahut Fariz mengacungkan Ibu jari ke arah Zafira.


"Baiklah kalau begitu, tapi pelan-pelan saja bawa motornya biar matamu tidak kemasukan debu," Zafira mengingatkan.


Fariz mengangguk dan tersenyum kecut, entah dia harus bahagia atau sebaliknya mendapat perhatian demi perhatian dari Zafira. Perhatian yang selalu dia salah artikan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di tujuan, keduanya pun segera melangkahkan kaki memasuki toko helm yang dimaksud Fariz.


...*******...


__ADS_2