Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
10 - ADA KERESAHAN


__ADS_3

Hai BESTie-ku❤️


Ini episode terakhir kisah Zafira dan Fariz di bangku sekolah.


Episode selanjutnya mulai memasuki kehidupan dewasa dengan kisah cinta yang rumit.


Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, Hadiah dan Bintang 5.


*****


Satu demi satu mereka memilih helm yang terpajang di dalam toko, mulai dari bermotif boneka maupun yang polos.


Setelah mencari dari sekian banyaknya helm, akhirnya Fariz jatuh hati pada sebuah helm berwarna pink dengan motif boneka di bagian samping kanan dan kiri helm.


"Ini sepertinya cantik untukmu," Fariz mengambil helm berwarna pink dengan kaca pelangi.


"Coba lihat," Zafira merasa penasaran dengan pilihan Fariz.


Gadis cantik itu mengambil helm dari tangan Fariz dan menimang-nimang helm cantik itu. Memutarnya berulang kali, melihat dari segala sudut, lalu mengangguk-anggukkan kepala tanda menyukai pilihan sang sahabat.


"Pintar juga kamu memilih motif serta warnanya, aku suka..," bisik hati Zafira sambil terus mengamati helm pink di tangannya.


"Sebenarnya pilihanmu tidak terlalu bagus, tapi lumayanlah daripada tidak ada helm," ucap Zafira tersenyum simpul berkata lain di bibir lain di hati.


Gadis itu sengaja tidak memuji pilihan Fariz karena jika hal itu dia lakukan maka sahabatnya itu pasti akan semakin besar kepala dan merasa bangga dengan kemampuannya yang selalu bisa menyenangkan hati Zafira.


Padahal di dalam hati, gadis itu sangat menyukai helm pilihan Fariz. Warna serta motifnya sesuai dengan keinginannya, sangat lucu dan cantik.


Zafira tidak memungkiri, selama dia mengenal Fariz, Fariz selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya dan tidak pernah satu kali pun fariz membuat hatinya marah apalagi terluka.


"Hmm, aku tahu kamu menyukai helm pilihanku, tapi kamu tidak mau memujiku. Akui saja, aku pintar kan? Bisa memilihkan barang sesuai keinginanmu," ujar Fariz penuh percaya diri sambil mengukir senyum bangga di bibir tipisnya.


"Itu menurutmu, bukan menurutku," jawab Zafira sambil menjulurkan sedikit lidah ke arah Fariz yang disambut senyuman oleh sahabat tampan itu.


"Aku bayar dulu," sambung Zafira membawa helm itu kemudian berjalan ke meja kasir.


Namun dengan cepat Fariz merampas helm pink itu dari tangan Zafira. Zafira terkejut, dan langsung menoleh ke arah Fariz, menatap sahabatnya dengan mulut sedikit terbuka


Kini helm itu sudah berpindah tangan di genggaman Fariz.


"Apa yang kamu lakukan?," protes Zafira.


Fariz tidak menjawab dan dengan langkah tanpa dosa, dia membawa helm itu meninggalkan Zafira yang berdiri tercenung. Gadis itu merasa bingung melihat sikap Fariz.


Zafira berjalan mengikuti Fariz yang ternyata berjalan ke meja kasir.


"Kamu mau membayar helm itu?," tanya Zafira yang telah berdiri di samping Fariz.

__ADS_1


"Iya, biar aku yang membayarnya," sahut Fariz menaruh helm di atas meja kasir lalu mengeluarkan dompet dari kantong celana.


"Eh, kamu fikir aku tidak punya uang untuk membayar helm ini? Saldoku masih cukup banyak kalau hanya untuk membayar satu barang ini!," ujar Zafira ketus seraya menunjuk helm yang ada di tangan Fariz dengan mata mendelik menatap Fariz.


Fariz tersenyum melihat tingkah Zafira yang menurutnya sangat lucu membuat Fariz semakin gemas.


"Iya, aku tahu kamu punya banyak uang. Papamu pasti tidak pernah berhenti mengalirkan dana di rekeningmu. Tapi kalau aku mau membayar helm ini, kamu mau apa?," Fariz membalas ucapan Zafira dengan ketus seraya mengangkat kedua alis dan ikut mendelikkan mata ke arah Zafira, kemudian mengeluarkan ATM dari dompet dan memberikannya kepada petugas kasir.


Untung di kasir sedang sepi, tidak ada para pembeli yang mengantri, hanya ada Fariz dan Zafira, sehingga keduanya bisa leluasa saling berkomentar serta bebas berdebat.


Zafira yang masih berdiri di samping Fariz hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepala melihat tingkah Fariz yang terkadang membuatnya merasa terhibur.


Setelah menyelesaikan urusan di meja kasir, Fariz langsung mengajak Zafira keluar toko.


"Coba pakai helm-mu, aku mau melihatnya," pinta Fariz setelah sampai di pelataran parkir.


Zafira mengeluarkan helm dari bungkus dan segera memakainya, namun Zafira kesulitan mengaitkan tali helm itu.


"Sini aku bantu," ucap Fariz dengan cekatan langsung mengancingkan tali helm yang sedari tadi gagal dipasangkan Zafira.


Tanpa sengaja tangan Fariz menyentuh tangan halus Zafira yang masih memegang tali helm di bawah dagunya.


Fariz terdiam sejenak menatap Zafira, hati Fariz kembali berdebar.


Aneh memang, Fariz selalu merasa gugup tiap kali menatap mata apalagi bersentuhan dengan Zafira, namun tidak dengan Zafira, gadis itu tampak biasa saja setiap kali menyentuh atau pun disentuh oleh Fariz.


"Benar kataku, kamu cantik memakai helm pilihanku," decak Fariz kagum memandang Zafira lekat.


"Biasa saja aahh!," sahut Zafira tetap tidak mau memuji.


Fariz tersenyum mendengar jawaban Zafira yang ketus namun itu justru membuat Fariz semakin menyukai gadis itu.


Dua menit kemudian mereka telah kembali melanjutkan perjalanan pulang tanpa ada rasa khawatir aparat kepolisian akan memberhentikan kendaraan mereka.


"Terima kasih ya helm-nya," tiba-tiba terdengar suara Zafira dari balik punggung Fariz.


"Iya, kamu jaga baik-baik helm itu. Jika suatu hari nanti kamu sudah asyik dengan pacarmu, dan kamu memilih tidak mau berteman denganku lagi seperti yang tadi kamu katakan di resto, maka kamu bisa melihat helm ini jika sewaktu-waktu kamu merasa rindu padaku," ucap Fariz terdengar sayup-sayup di telinga Zafira.


"Kamu bicara apa? Mengapa bicaramu seperti orang yang mau berpamitan, aku tidak suka mendengarnya!," tukas Zafira kesal.


Hati Zafira merasa sedih mendengar ucapan Fariz itu. Sebenarnya apa yang Zafira katakan di resto tadi, itu hanya emosi sesaat, dia tidak benar-benar ingin memutuskan hubungan pertemanan dengan Fariz. Baginya Fariz adalah seorang sahabat yang sangat baik dan bisa diandalkan dalam segala hal. Memiliki Fariz dalam hidupnya sama seperti dia memiliki Zafran, saudara kembarnya.


"Zafira, kita tidak tahu jalan yang akan terjadi ke depan. Aku tahu, sampai hari ini kamu tidak pernah bisa menerima perjodohan yang telah disepakati orang tua kita. Karena itu, jika suatu hari nanti kamu menikah dengan laki-laki yang kamu suka, maka aku pasti akan menjauh darimu, jadi aku berharap kamu menjaga helm ini sebagai tanda bahwa dulu kita pernah menjadi teman baik,"


"Deegg"


Sebuah ucapan yang mampu membuat hati Zafira untuk pertama kali bergetar, ada resah menyelimuti kalbunya. Selama hubungan persahabatannya dengan Fariz, baru kali ini dia merasakan keresahan akibat kata-kata yang diucapkan Fariz itu.

__ADS_1


Zafira mencoba menela'ah ucapan Fariz, mengapa sang sahabat bisa mengucapkan kalimat seperti itu.


"Mengapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Apakah perkataanku di resto tadi membuatmu marah padaku?," Zafira bertanya di antara suara berisik kendaraan yang berseliweran di sekitar mereka.


"Aku tidak marah padamu, hanya kefikiran saja dengan perkataanmu tadi,"


"Kefikiran bagaimana maksudmu?," Zafira bertanya tidak mengerti.


"Seandainya perkataanmu itu menjadi kenyataan dan seandainya kamu nanti menikah dengan laki-laki pilihanmu, maka aku juga harus siap melupakan dan menjauhimu," ucap Fariz terdengar sedih.


Zafira termenung menatap lurus ke depan memikirkan perkataan Fariz yang baru saja terucap. Zafira juga tidak pernah tahu dengan siapa dirinya nanti akan berjodoh, namun yang jelas saat ini hatinya sudah terlanjur menyukai Ronald.


"Fariz, sepertinya kita tidak perlu terlalu memikirkan hal ini. Kamu itu pintar, baik dan tampan. Aku yakin, nanti akan ada banyak gadis yang menyukaimu. Percaya padaku!," ucap Zafira menghibur sang sahabat seraya menepuk pelan pundak Fariz dari belakang.


Fariz hanya terdiam. Ternyata benar, jika Zafira tidak pernah mengerti hati serta perasaannya.


"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku Zafira," batin Fariz sambil melajukan kendaraan dengan tatapan nanar ke jalanan.


*****


Satu tahun kemudian.


Zafira, Zafran serta Fariz telah lulus sekolah dengan nilai terbaik di sekolah.


Dan ketiganya pun mendapatkan beasiswa dari sekolah untuk melanjutkan kuliah di Universitas terbaik di Indonesia maupun di Luar Negeri.


Setelah melengkapi berbagai persyaratan untuk calon mahasiswa-mahasiswi yang masuk dalam daftar beasiswa sekolah, akhirnya saudara kembar serta sahabat mereka Fariz, berhasil dan lulus seleksi untuk melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia yang merupakan Universitas terbaik di Indonesia.


Zafira mengambil Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan Akuntansi.


Zafran mengambil Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan Manajemen.


Fariz mengambil Fakultas Teknik Elektro, jurusan Teknik Listrik.


Ketiganya sepakat tidak melanjutkan study keluar negeri dengan alasan masing-masing.


Zafira tidak siap jauh dan berpisah dengan mama dan papa yang sangat dicintainya, sehingga dia memutuskan untuk berkuliah di Indonesia saja, karena dia percaya di Indonesia masih banyak Universitas terbaik yang bisa dia jadikan tempat menimba ilmu, apalagi dengan kecerdasan yang dia miliki pastinya akan memudahkan dirinya untuk masuk ke Universitas Indonesia yang selama ini diimpikannya.


Zafran pun mengikuti jejak saudara kembarnya, memilih tetap berada di Indonesia.


Sedangkan Fariz, pasti sudah jelas alasannya, mengapa dia tidak melanjutkan study keluar negeri?


Alasannya hanya satu. Dia tidak ingin berpisah dari Zafira. Selama Zafira belum menikah, dia masih punya kesempatan untuk berteman dengan gadis itu dan masih berharap hati Zafira bisa berubah mencintainya.


Jikalau hati Zafira tetap tidak bisa berubah, setidaknya Fariz akan menggunakan kesempatan sebaik mungkin, agar bisa selalu berada di sisi Zafira dan menghabiskan sisa waktu bersama gadis itu sebelum gadis pujaannya itu benar-benar dipersunting oleh laki-laki yang dicintainya.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2