
Setelah Fariz menunggu beberapa menit, isakan Zafira terdengar sudah mulai mereda. Namun wajahnya masih tetap tertunduk lesu menatap ke atas pangkuan. Untuk menegakkan kepala pun rasanya begitu berat baginya.
Fariz dengan sangat hati-hati kembali mengeluarkan sebuah suara. Dia harus berhati-hati mengajak gadis itu bicara, jangan sampai kalimat yang dia ucapkan membuat suasana hati gadis itu kembali memanas.
"Aku ke dapur sebentar, mengambilkanmu air putih. Bi Senah pasti lupa mengantarkan air minum untuk kita," ujar Fariz setelah beberapa menit berdiam diri dan melihat emosi Zafira sudah mulai stabil. Tidak ada jawaban dari Zafira, tetapi telinganya mendengar perkataan Fariz.
Fariz berjalan keluar kamar. Tak berapa lama, dia sudah kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu. Di tangannya membawa dua gelas air putih. Satu untuk Zafira, satu untuk dirinya. Dia meletakkan gelas untuknya di meja kecil di samping ranjang dan memberikan satu gelas lagi kepada gadis yang masih menangis.
"Minumlah dulu, biar tenggorakanmu lebih segar," Fariz menyodorkan gelas kepada Zafira.
Zafira yang sejak tadi hanya tertunduk lemah, sontak mendongak menatap pria yang berdiri di depannya. Matanya yang masih digenangi air mata, melirik gelas yang ada di tangan Fariz. Tanpa disadari, hatinya menjadi terenyuh mendapat perhatian Fariz, yang hingga detik ini tidak ada perubahan sama sekali. Padahal baru saja dia memarahi bahkan melakukan tindak kekerasan pada sahabat sekaligus suaminya itu tetapi Fariz tidak sedikit pun merasa tersinggung apalagi marah.
Dari kecil, remaja, dewasa, hingga saat ini di malam pertama mereka satu kamar menjadi suami istri yang sah, tidak ada perubahan sedikit pun dari cara pria itu memperhatikan serta memperlakukannya. Dia selalu bisa menenangkan serta membuat dirinya merasa nyaman berada di dekatnya. Bukan hanya itu, Fariz juga selalu berusaha mengalah setiap kali ada perdebatan kecil yang terjadi di antara keduanya. Dan perlakuannya saat ini membuat hati Zafira sadar dan menjadi merasa bersalah karena telah memukulinya hingga berpuluh kali dengan pukulan yang tidak bisa dikategorikan pelan.
"Ayo minumlah, biar perasaanmu menjadi lebih baik," ujar Fariz kembali, dengan terus menatap penuh cinta kepada sang istri. Tidak ada seorang pria pun di dunia ini yang bisa seperti Fariz, menjadi suami yang begitu tulus serta penuh perhatian bagi Zafira. Sangat mencintai Zafira dengan segenap jiwa raganya tanpa memikirkan perasaannya sendiri yang sering kali tersakiti oleh gadis yang sangat dia cintai.
Zafira mengangguk pelan menuruti perintah Fariz sambil mengusap menggunakan punggung tangan, tetesan air mata yang masih membekas di pipi.
"Terima kasih," ucapnya pelan, dengan kondisi hati yang sepertinya mulai lebih tenang.
Zafira mengambil gelas dari tangan Fariz dan langsung meminum air di dalamnya hingga hampir habis. Tenggorokannya sekarang jauh lebih segar.
__ADS_1
Ternyata perhatian serta sikap lembut yang diberikan Fariz mampu membuat suasana hatinya jauh lebih tenang. Dan tenggorokannya pun terasa sejuk dan dingin dengan air pemberian suaminya. Tidak salah jika Zafira selalu merasa nyaman menjadi sahabat Fariz selama berpuluh tahun lamanya, dikarenakan pria itu tidak pernah meninggalkannya dalam situasi apapun. Senantiasa memberikan perhatian dan selalu mampu membuatnya keluar dari segala situasi buruk yang menimpanya. Bukan hanya malam ini namun di hari-hari dan di tahun-tahun sebelumnya, dia selalu diperlakukan seperti ratu oleh sahabatnya itu.
Sebenarnya jauh di dasar hati, Zafira dapat merasakan ketulusan serta perjuangan Fariz untuk mendapatkan hati serta membahagiakannya. Namun Zafira masih belum menyadari akan perasaannya terhadap Fariz. Dikarenakan selama ini, waktu serta hatinya telah diserahkan seluruhnya kepada Ronald, sehingga membuatnya lebih memprioritaskan sang kekasih dan selalu menganggap Fariz tidak lebih dari seorang sahabat. Padahal yang sebenarnya adalah, sudah sejak lama ada sesuatu perasaan spesial di hatinya untuk Fariz, tidak hanya sekedar sahabat seperti yang dia fikirkan selama ini. Namun sayangnya, sampai detik ini Zafira belum memahami tentang perasaan yang tumbuh di hatinya itu dan belum sepenuhnya menyadari betapa berartinya seorang Fariz dalam hidupnya.
Setelah Zafira hampir menghabiskan isi di dalam gelas, Fariz pun mengambil gelas itu dari tangan sang istri dan meletakkan di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidur.
Kini hati gadis itu menjadi lebih tenang menerima perlakuan lembut Fariz. Hati yang tadinya diselimuti kekecewaan, kesedihan, kemarahan, atas peristiwa yang bertubi-tubi dialaminya di hari ini, kini sedikit terkikis. Meskipun segala rasa itu tidak mungkin hilang dalam sekejap mata. Namun setidaknya, cukup membuat beban di dadanya menjadi lebih ringan. Udara pun terasa lebih leluasa masuk ke saluran pernafasan, membuatnya dapat bernafas lebih tenang.
Zafira yang masih duduk di pinggir ranjang, dengan suara isakan yang masih tersisa, mendongak ke atas, menatap Fariz yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Dia pun segera beranjak dari duduk dan melangkah ke arah sang suami yang masih diam mematung. Dia berdiri menatap sejenak wajah suaminya kemudian perlahan mendekatinya.
"Fariz..," panggil Zafira tiba-tiba melingkarkan kedua tangan, merangkul tubuh suaminya.
Entah angin apa yang membawa gadis itu tiba-tiba saja bersikap lembut kepada Fariz, melabuhkan pelukan ke tubuh pria itu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Mungkin karena dia membutuhkan dada untuk bersandar, membutuhkan tempat untuk meringankan beban yang sedang dipikul, sehingga dia memilih dada suaminya untuk dijadikan tempat bersandar dan menangis.
Fariz tercengang dengan sikap Zafira yang tadi memarahinya, sekarang justru memeluknya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Fariz hanya diam tercenung, bingung ingin melakukan apa? Jantungnya mulai bertingkah aneh. Berdetak kencang tidak tahu waktu. Sekuat tenaga pria itu berusaha menenangkan perasaannya. Fokus ke Zafira. Ya, harus fokus pada gadis yang tengah menangis dan bersedih itu. Dia berusaha menyemangati dirinya sendiri agar tidak terbawa perasaan yang membuat jantungnya semakin keras berdetak.
"Aku lelah Fariz. Seharian ini aku sangat lelah. Aku membutuhkanmu untuk bersandar," Zafira menangis semakin keras. Dia tidak peduli Fariz akan berfikir apapun tentangnya. Dia juga tidak merasa malu harus menumpahkan segala tangis serta beban di hadapan sahabat yang telah menjadi suaminya itu.
Fariz mengangguk. Satu tangannya terangkat. Sedikit memberanikan diri dia mengusap pelan punggung Zafira.
"Menangislah biar hatimu lebih tenang. Menangislah biar segala bebanmu sedikit berkurang," ujar Fariz sambil terus mengusap punggung sang istri, mencoba menenangkan hati gadis itu, walau sebenarnya hatinya pun tidak tenang karena merasa gugup harus beradu kulit dan bersentuhan seintim ini dengan gadis yang selama ini telah menjadi candu baginya.
__ADS_1
"Maafkan aku.., Aku tidak pernah mendengarkan perkataanmu. Tidak pernah percaya dengan semua ucapanmu. Sekarang aku baru sadar, kalau semua yang kamu katakan itu benar. Ronald bukan laki-laki yang baik. Dia licik dan pintar menyembunyikan sifat aslinya. Maafkan aku tidak mempercayai kata-katamu delapan tahun lalu saat di Plaza Indonesia. Seandainya aku percaya dengan keteranganmu saat itu, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini," suara Zafira terdengar lirih menyatu dengan isakan.
"Iya tidak apa-apa. Tidak perlu meminta maaf. Semua sudah berlalu," kini tangan Fariz berpindah lebih ke atas, menyentuh kepala gadis itu dan mengelus rambutnya.
"Terima kasih," Zafira mempererat pelukannya.
Fariz semakin gemetar. Rasa gugup semakin menguasai dirinya. Dia ingin segera melepaskan pelukan namun sang istri tampaknya masih ingin berlama-lama berada di dalam dadanya. Memaksanya mengurungkan niat untuk segera melepaskan pelukan. Terkadang dia merasa kesal dengan dirinya, mengapa selalu merasa gemetar setiap kali bersentuhan dengan gadis itu.
Setelah beberapa menit dan merasa hatinya sudah lebih tenang, gadis itu pun melepaskan pelukan. Matanya tampak sembab, membuat Fariz menjadi refleks mengulurkan tangan mengusap kelopak mata Zafira yang masih meninggalkan bekas air mata. Mengusapnya dari mata kanan, berpindah ke mata kiri.
"Jangan menangis lagi. Aku akan selalu ada untuk menjadi temanmu," ucap sang suami menyelesaikan usapannya di kedua kelopak mata dan terakhir mengusap ke pipi, mengeringkan air mata yang juga masih tersisa di wajah putih itu.
Zafira mengangguk pelan tanpa mengeluarkan suara. Kemudian berjalan ke sisi tempat tidur dan duduk di sana.
"Aku lelah, aku mau tidur," ucapnya pelan sambil beringsut naik ke tempat tidur, membaringkan tubuh di atas ranjang, dengan posisi miring ke samping kanan, menghadap Fariz yang masih berdiri di tempatnya semula.
Mungkin saking lelah hati, lelah fikiran karena tragedi besar hari ini, yang cukup menguras air mata dan emosinya, ditambah lagi mata yang terus menangis, membuat tubuh Zafira terasa kehilangan banyak tenaga dan gadis itu pun langsung memejamkan mata.
Tanpa menunggu waktu lama, dia pun itu telah tertidur dan melupakan kebiasaannya memakai selimut sebelum pergi tidur. Padahal setiap malam gadis itu mempunyai kebiasaan menyelimuti tubuhnya terlebih dahulu sebelum memejamkan mata, untuk menghindari udara dingin dari semburan AC. Dan dia tidak pernah melepas selimutnya sampai terbangun dari tidur. Namun malam ini, dia melupakan kebiasaan itu dan juga melupakan satu hal, kalau saat ini dia telah memiliki suami, bukan lagi seorang gadis yang terbiasa tidur sendiri di atas kasur yang empuk.
...*******...
__ADS_1