
Hai ❤️
Jangan lupa Bintang 5, Subscribe dan Like nya...
kalau kalian terus membaca tulisan ini 🤗
Happy Reading 😘
*****
Saat Zafira menyelesaikan kalimatnya tentang rencana pernikahannya dengan Ronald, bertubi-tubi rasa sakit tertoreh di hati Fariz mendengar setiap kata yang meluncur dari bibir gadis itu.
Entah Zafira sadar atau tidak, jika apa yang terucap telah melukai hati Fariz namun pria itu berusaha memendam rasa sakit itu dan berlapang dada dengan keikhlasan hati menerima semua yang diutarakan Zafira, yang telah menjadi keputusan sahabatnya.
Fariz terdiam tak mampu mengatakan apapun. Hanya hatinya yang terus tersayat perih, menahan segala kesakitan itu dalam diam. Dia tidak memiliki hak untuk melarang keinginan Zafira. Segala keputusan ada di tangan gadis itu dan tidak seorang pun yang bisa merubah semua yang telah menjadi keputusannya.
"Fariz, aku tahu, kamu pasti kecewa dengan rencanaku ini. Maafkan aku..," desah Zafira pelan dengan sorot mata sayu.
Gadis itu berjalan beberapa langkah maju lebih ke depan, mendekati Fariz yang berdiri di hadapannya dengan muka suram. Muka itu tampak tidak bercahaya ibarat malam tanpa kerlip bintang, amat gelap menutupi dunia. Begitu pun raut muka Fariz, ketampanannya tertutupi dengan kesuraman yang jelas terpancar dari wajah itu.
Zafira berdiri tepat di depan Fariz hanya berjarak sekitar setengah meter. Wajah mereka bersejajar dan mata saling memandang tanpa bicara. Dalam beberapa detik Zafira masih sempat mengamati wajah Fariz yang murung tak bersemangat, diam seribu bahasa.
Tiada kata yang terucap. Hening. Sunyi. Hanya ranting pepohonan yang ada di dekat mereka saling bergesekan tertiup angin malam menyaksikan kedua insan yang tengah dilanda kebingungan serta kegundahan hati.
Saat keheningan itu tercipta, saat kedua mulut itu terkunci, saat kedua mata itu saling bertatapan penuh arti, tiba-tiba kedua tangan Zafira bergerak, terulur ke depan dan perlahan-lahan menyentuh pinggang Fariz lalu memeluk tubuh atletis itu.
Awalnya hanya memeluk biasa, terasa canggung dan renggang, namun lama kelamaan pelukan Zafira semakin rapat dan erat. Hangat, itulah yang kini terasa di kedua tubuh itu.
__ADS_1
Entahlah, apa yang terjadi dengan gadis itu. Tangannya bergerak begitu saja memeluk sang sahabat. Kakinya pun tak mau kalah ikut melangkah cepat mendekati Fariz seolah memahami apa yang diinginkan kedua tangannya.
Hati Zafira pun seakan mengerti dan menyetujui keinginan kedua tangan serta kaki. Hatinya tidak memberontak apalagi melakukan penolakan, dengan penuh keyakinan seolah menuntun dan menyuruh gadis itu untuk segera memeluk Fariz.
Fariz tercekat. Kedua kelopak matanya terbuka lebar menatap gadis yang kini telah menenggelamkan kepala di dadanya. Tak ada kata yang terucap baik dari bibir Zafira maupun dari bibir sang pria. Keduanya hanya diam saling membisu.
"Dug, Dug, Dug"
Suara degup jantung Fariz mulai bereaksi, terdengar bergaung, seolah akan merobohkan benteng hatinya.
Dari kecil mereka bersahabat sampai malam ini hubungan mereka tetap sama. Selama persahabatan, Zafira tidak pernah memeluk Fariz seperti ini. Tetapi entah mengapa malam ini tiba-tiba tangan, kaki serta hati gadis itu seakan bersepakat menyuruhnya melakukan hal yang selama ini tidak pernah dia lakukan.
Seumur hidup hanya tiga orang laki-laki yang pernah dipeluknya. Zafran, Arga serta Bram, sang paman yang ada di Thailand. Tetapi malam ini dia menambah lagi satu nama, Fariz, yang tercatat dalam daftar laki-laki yang telah masuk dalam pelukannya.
Zafira menyandarkan kepala di dada Fariz. Memiringkan wajah ke kiri. Pipi serta telinga kanan ditempelkan begitu rapat di dada Fariz. Telinganya dapat mendengar dengan saksama detak jantung Fariz. Gadis itu bisa menangkap detak jantung Fariz yang berpacu teramat kencang. Suara detak jantung itu terus mengalun seiring dengan hembusan nafas mereka yang nyaris tak terdengar.
Terbukti, saat dia melabuhkan pelukan di tubuh pria itu, seketika jantung Fariz berdetak lebih cepat dan keras. Zafira tahu, detakan itu bukanlah detakan normal pada umumnya, melainkan sebagai tanda bahwa di hati Fariz menyimpan sebuah rasa untuk Zafira yang membuatnya jadi merasa gugup. Sebuah rasa yang dinamakan cinta. Rasa cinta yang begitu besar yang berpuluh tahun terus tersimpan rapi di dalam hati pria itu.
"Fariz, apa detak jantungmu yang kencang ini adalah bukti bahwa cintamu sangat besar untukku? Sebesar itukah cintamu padaku? Tapi mengapa selama ini aku tidak pernah merasakan hal yang sama sepertimu? Mengapa selama ini aku selalu merasa kamu itu saudaraku?," Zafira membatin dalam kebingungan, tetap menempelkan telinga di dada Fariz, membukanya dengan lebar, mendengarkan detakan yang terus bergetar keras dari dalam sana.
Saat fikiran Zafira dipenuhi dengan banyaknya pertanyaan seputar perasaan Fariz serta perasaannya sendiri. Saat telinga Zafira masih menempel rapat di dada Fariz terus mendengarkan detak jantung sahabatnya, di saat itulah dia merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di hatinya.
Mendadak ada sesuatu yang terasa aneh pada diri Zafira. Hatinya menjadi sedikit berdebar meskipun debaran itu terasa halus dan samar-samar, berdebar pelan mengiringi irama detak jantung Fariz yang terus berdegup cepat dan keras masuk ke telinga bahkan sampai ke hati gadis itu.
Namun Zafira tidak mengerti perasaan apa itu? Dia berfikir jika hatinya merasa terkejut karena baru pertama kali ini berpelukan dengan seorang pria yang bukan muhrim serapat serta seintim ini.
Meski pun beberapa tahun gadis itu menjalin hubungan dengan Ronald, belum satu kali pun gadis itu berpelukan dengan kekasihnya. Apalagi serapat ini saat memeluk Fariz.
__ADS_1
Berkali-kali Ronald ingin memeluk Zafira saat di dalam bioskop, di mall atau di dalam mobil tetapi gadis itu tidak pernah mengizinkan, karena dia selalu mengingat pesan sang mama, Laras, boleh berpacaran tetapi dengan cara yang sehat.
Berbeda dengan malam ini, untuk pertama kalinya Zafira memeluk seorang pria bukan muhrim dan itu pun atas kemauannya sendiri tanpa disuruh apalagi dipaksa oleh siapa pun. Kedua tangannya terulur begitu saja memeluk Fariz. Kaki serta hatinya pun ikut melakukan hal yang sama.
Dan yang menjadi pertanyaan besar di hati sang gadis, mengapa tiba-tiba hatinya berdebar walau samar-samar saat mendengar detak jantung Fariz yang mengalun sendu memasuki indera pendengarannya?
Apa mungkin sebenarnya, tanpa Zafira sadari, ternyata ada cinta di hatinya untuk Fariz? Sejak kapan? Baru malam ini atau sejak dulu?
Bukan. Sepertinya bukan karena alasan itu. Jawabannya bukan itu. Bukan karena dia mencintai Fariz yang membuat hatinya berdebar. Lebih tepatnya mungkin karena dia tidak terbiasa berpelukan dengan seorang pria yang bukan keluarga sedarah sehingga membuat hatinya menjadi berubah aneh.
Gadis itu masih bingung dengan perasaannya sendiri. Dan dia tetap mempertahankan pendapatnya, bahwa dia tidak mencintai Fariz. Fariz sahabatnya, Fariz saudaranya. Dan selamanya akan seperti itu. Beribu pertanyaan serta kebingungan menari-nari di kepalanya.
"Mengapa hatiku berdebar seperti ini saat memeluk dan mendengar detak jantung Fariz? Ada apa denganku? Mengapa detak jantung Fariz membuat hatiku berdesir aneh?," lirih hatinya bertanya-tanya penuh kebingungan atas perasaan aneh yang tiba-tiba saja datang menyerangnya saat bersentuhan rapat dengan pria yang sudah dikenalnya sejak kecil itu.
Entah apa yang sebenarnya terjadi, biarkan waktu yang akan menjawab. Hanya satu yang pasti dan tidak dapat dipungkiri, bahwa gadis itu merasa sangat takut kehilangan sang sahabat dan ingin selalu berada di dekatnya meskipun nanti mereka telah sama-sama menikah dengan pasangan hidup masing-masing.
Fariz seketika beku bagaikan seonggok batu karang di lautan lepas. Dihempas ombak besar namun tetap tidak bergerak sedikit pun. Rasa gugup menguasai dirinya menjadikannya berdiri mematung tanpa daya.
Di balik rasa gugupnya, pria itu begitu menikmati pelukan Zafira. Sekujur tubuhnya berubah hangat. Di bagian depan, merasa hangat dengan wajah Zafira yang menyandar di dadanya yang diterpa hembusan lembut nafas sang gadis. Di bagian belakang pun terasa hangat dengan kedua tangan Zafira yang saling berkait memeluk pinggangnya.
Pria itu ingin terus seperti ini. Dia tidak ingin moment langka ini cepat berlalu. Malam tolong bantu Fariz, agar Zafira tidak segera melepaskan pelukan ini dan terus memeluknya seperti ini hingga mereka menua nanti.
Fariz merasakan getar-getar cinta semakin tumbuh bersemayam di hatinya. Hanya Zafira-lah satu-satunya sosok gadis yang diperkenankan Fariz duduk di singgasana hatinya. Takkan ada sosok lain yang mampu menggantikan posisi gadis itu.
Dan ini adalah pertama kalinya Zafira memeluknya setelah sekian tahun mereka bersama menjadi sahabat. Meskipun pelukan ini bukanlah sebuah pelukan atas dasar cinta, namun sanggup membuat hati pria itu merasa begitu bahagia, bagaikan terbang ke langit biru melayang bersama Zafira di atas awan.
Sesederhana itukah kebahagiaan Fariz? Hanya dipeluk oleh seseorang yang teramat dia cintai walau bukan pelukan cinta namun telah membuat hatinya melayang bahagia dan seketika melupakan rasa patah hati yang saat ini menghempasnya.
__ADS_1
...*******...