Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
73 - KESAL


__ADS_3

Makasih kak @Pisces97 - Jawa Timur, udah ngasih tips koin pisau lagi, nambah lagi saldoku 🤭🙏


*****


"Kita mampir ke supermarket sebentar. Aku mau membeli buah untuk oma," ujar Zafira saat perjalanan menuju ke rumah sang mama.


"Baik. Setelah lampu merah di depan, ada supermarket. Kita berhenti di sana saja," Fariz memberi saran.


Tidak sampai lima menit, mereka telah sampai di tujuan. Zafira terlihat mengambil satu troli dan mendorongnya.


"Biar aku saja yang mendorongnya," Fariz menawarkan bantuan. Zafira pun mengangguk.


Dua puluh lima menit mereka berkeliling mencari buah, roti dan biskuit, Fariz pun mengikuti Zafira menuju meja kasir. Dan mereka harus mengantri dua orang pembeli di depan mereka, sebelum giliran mereka. Kebetulan di belakang mereka tidak ada pembeli lain. Di saat sedang mengantri, Fariz segera membuka dompet dan mengambil credit card dari dalamnya.


"Mulai hari ini, aku yang akan menanggung semua kebutuhanmu. Dan aku juga yang akan membayar semua biaya yang kamu keluarkan. Ini untukmu. Kamu yang berhak memegangnya," Fariz memberikan credit card kepada istrinya.


Ada keraguan terbersit dari pancaran muka Zafira. Sepertinya gadis itu masih menimbang-nimbang harus memakai credit card suaminya atau harus memakai tabungannya saja. Dia masih belum mengambil credit card dari tangan Fariz.


"Aku tahu uangmu banyak. Tujuh keturunan pun tidak akan habis. Tapi kamu perlu ingat, sekarang aku suamimu. Apapun yang menjadi kebutuhanmu akan menjadi tanggung jawabku. Aku akan menanggung semua nafkahmu. Tapi kalau kamu tidak mau menerima kartu ini, maka aku akan mematahkan dan membuangnya," mata Fariz berkeliling menyapu seluruh ruangan. Zafira tahu, Fariz sedang mencari letak kotak sampah berniat membuang credit cardnya.


"Jangan!," Zafira menghentikan niat pria itu.


"Berikan padaku. Kartu ini milikku. Mengapa kamu berniat membuangnya? Belum juga aku menjawab "iya", kamu sudah mengambil keputusan sendiri!," ketus Zafira sambil membuka telapak tangan meminta credit card itu pada suaminya.


Fariz tersenyum lalu menyerahkan kartu miliknya kepada gadis itu.


Setelah Zafira melakukan pembayaran, keduanya pun keluar dari supermarket dengan membawa dua tas belanja. Fariz membawa semuanya. Benar kata pujangga, lebih baik dicintai daripada mencintai. Seperti yang terlihat saat ini, antara pria dan gadis itu. Fariz tidak membiarkan gadis yang dicintainya membuang tenaga untuk membawa belanjaan itu, sehingga dia memilih membawa semua barang-barang mereka. Padahal sang istri sudah meminta untuk membawa satu tas, tetapi sang suami tetap melarangnya. Zafira sangat beruntung mendapat suami seperti Fariz, yang sangat mencintainya dengan tulus.

__ADS_1


Baru saja mereka keluar dari supermarket, masih di koridor supermarket, tiba-tiba sebuah suara menghentikan mereka.


"Fariz!," suara itu memanggil nama Fariz.


Zafira serta Fariz mendadak menghentikan langkah lalu serempak memutar tubuh mencari suara yang memanggil Fariz.


Kedua bola mata Zafira membulat. Sedangkan Fariz dengan sikap tenang, tetap santai melihat sosok di depan mereka.


"Hai, Wilda?," sapa pria itu berjalan mendekati gadis yang beberapa tahun lalu pernah tergila-gila padanya dan sampai saat ini pun tetap sama.


"Apa kabarmu?," Fariz tersenyum mengulurkan tangan menjabat hangat tangan gadis cantik itu.


"Aku baik. Bagaimana denganmu? Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Wilda tersenyum begitu manis, menyambut jabatan tangan pria itu tak kalah hangat. Dia sempat melirik pada Zafira yang berdiri tak jauh dari Fariz tetapi tidak berniat menyapanya.


"Alhamdulillah, aku juga baik. Kamu semakin cantik," puji Fariz sengaja membuat ulah. Dia ingin melihat reaksi sang istri.


Fariz kembali mengalihkan pandangan pada Wilda dan kembali melanjutkan pembicaraan.


Saat Fariz telah mengobrol kembali dengan Wilda, Zafira mendadak menajamkan mata melihat pemandangan di depannya seraya mengatupkan gigi dengan rapat. Dia langsung membuang muka ke arah lain. Dia merasa malas menyaksikan sang suami bercengkerama dengan gadis yang dia tahu begitu menggilai-nya. Apalagi melihat Fariz yang dengan mudahnya memuji gadis itu, membuatnya kian gusar.


"Kamu bisa saja. Kamu juga semakin tampan dan matang sekarang. Aku hampir tidak mengenalimu. Tapi aku sangat hafal dengan postur serta bentuk tubuhmu, makanya aku langsung memanggilmu," Wilda balik memuji sembari terus memperhatikan Fariz dari atas sampai ke bawah.


Zafira tercekat begitu mendengar Wilda membahas bentuk tubuh Fariz. Hatinya menjadi panas. Zafira yang tadi membuang muka, tidak mau melihat kedua orang di depannya, tiba-tiba kembali mengalihkan pandangan menatap dengan sorot mata tajam pada Wilda yang tengah memandangi Fariz begitu lekatnya.


"Dari dulu Wilda tidak pernah berubah. Selalu mengejar-ngejar Fariz. Hari ini dia makin berani memuji Fariz di depanku bahkan membahas bentuk tubuh Fariz! Fariz juga, menyebalkan! Mengapa memuji-muji gadis tidak tahu malu itu!," rutuk Zafira kesal di dalam hati sambil menghentakkan kaki ke lantai.


Entah mengapa tiba-tiba saja hatinya merasa tidak suka saat Fariz dipuji bahkan memuji gadis lain. Ada rasa kesal di hatinya saat dengan hangatnya Fariz menyentuh dan menggenggam tangan Wilda. Walaupun genggaman itu hanya sekedar berjabat tangan biasa, tetapi mengapa hatinya merasa tidak rela.

__ADS_1


Zafira masih berdiri tanpa sedikit pun membuka suara. Dia termangu mengamati dua orang yang berdiri di depannya sambil terus berbincang tanpa memperhatikan kehadirannya di sana. Matanya melotot tajam seakan ingin menguliti mereka hidup-hidup.


"Sudah beberapa tahun berlalu, bagaimana sekarang? Apa kamu sudah menikah?," Fariz bertanya jujur, menanyakan status gadis itu tanpa tujuan apapun. Dia juga tidak berniat melihat ke arah sang istri.


Tadi dia sempat berkeinginan membuat Zafira cemburu dengan sengaja memuji Wilda tetapi sekarang tidak lagi. Dia sudah tahu, jika istrinya tidak merasa cemburu melihat kedekatannya dengan Wilda. Jadi, untuk apa dia harus melirik atau pun menoleh untuk memperhatikan perubahan muka Zafira. Dia sudah tahu jawabannya. Tidak ada perubahan apapun di wajah cantik itu.


"Belum Riz. Aku belum menikah. Sampai hari ini, sebenarnya aku masih mengharapkanmu," kali ini Wilda terang-terangan mengungkapkan isi hatinya pada Fariz.


Kembali Zafira terperanjat. Mulutnya membuka lebar diikuti dengan kedua bola matanya pun ikut melebar, tetapi dia secepat kilat membuang ekspresi mukanya yang tampak terkejut mendengar pengakuan Wilda yang mengatakan masih mengharapkan Fariz. Dia tidak mau Wilda apalagi Fariz sampai melihat reaksi keterkejutannya.


Kedua tangan yang sedari tadi terulur tiba-tiba terkepal. Rasanya dia ingin memberi Wilda pelajaran seperti yang pernah dilakukannya beberapa tahun lalu. Ingin mencengkeram mulutnya agar tidak sembarangan memuji dan mengungkap sebuah rasa pada suami orang. Tetapi hal yang wajar jika Wilda masih berani mengungkapkan perasaannya kepada Fariz, karena dia berfikir kalau Fariz masih single dan belum menikah dengan Zafira.


Beberapa detik kemudian, Zafira melihat Fariz memegang tangan Wilda lalu menariknya lebih menjauh. Sikap Fariz tersebut makin memancing kekesalan di hati gadis itu. Dia hanya mampu terdiam tanpa berani menunjukkan reaksi apapun di hadapan kedua orang itu.


Zafira tidak tahu apa yang dibicarakan mereka karena jarak keduanya yang menjauh darinya. Zafira semakin kesal dibuatnya. Harus melihat Fariz menggandeng gadis lain di depan matanya. Tangannya makin terkepal menahan segala gejolak yang membuat hatinya memanas dan merasa marah tanpa sebab.


Apa benar dia marah karena cemburu melihat sang suami bersama gadis lain? Atau dia marah karena merasa Fariz tidak menghargainya sebagai istri? Bergandengan tangan di depan matanya tanpa mempedulikan perasaannya saat ini.


Zafira terus menatap kedua orang itu dengan sorot mata tak berkedip. Tampak Fariz berbicara sedikit mendekati telinga Wilda dan setengah berbisik makin membuat hati Zafira begitu meradang. Telinganya dibuka dengan selebar-lebarnya berusaha mendengarkan pembicaraan mereka tetapi sayangnya dia tetap tidak bisa mendengar apapun.


"Wilda, aku sudah menikah dengan Zafira. Sekarang dia istriku. Aku sangat mencintainya. Jadi berhentilah berharap padaku. Banyak pria lain yang lebih pantas untuk mendampingimu. Terima kasih untuk perasaan yang kamu berikan padaku. Tapi maaf, aku tidak bisa menggantikan Zafira dengan gadis mana pun. Aku harap kamu mengerti," bisik Fariz di belakang telinga Wilda, yang berjarak kurang dari setengah meter.


Muka Wilda seketika berubah mendung. Dia ingin menjawab perkataan Fariz tetapi pria itu telah terlebih dahulu mengundurkan diri.


"Aku permisi," Fariz sedikit membungkukkan tubuh ke hadapan Wilda lalu kembali menghampiri istrinya yang telah lama menunggu.


Zafira cepat merubah ekspresi wajah. Dia refleks memasang wajah setenang-tenangnya saat melihat Fariz sedang berjalan ke arahnya. Dia tidak ingin Fariz mengetahui kalau sejak tadi dia merasa kesal menonton aksi kedua orang yang asyik melepas rindu.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2