
Zafira masih tertunduk melihat sosok yang ada di pangkuannya. Gadis itu pelan menarik lalu melepaskan tangannya dari genggaman Fariz yang masih menempel di bibirnya. Dia tidak ingin sampai membuat Fariz terbangun. Diletakkannya tangan Fariz di kasur lalu kembali menatap pria itu dengan lekat. Tangannya bergerak membelai pipi pria yang sudah tertidur itu. Kulit wajah Fariz pun terasa sangat halus. Tidak seperti kebanyakan pria, berkulit kasar, tidak enak disentuh. Namun gadis itu merasa betah menyentuh kulit suaminya. Kemudian tangannya berpindah meraba alis tebal Fariz secara bergantian, dari kanan ke kiri. Dari kiri ke kanan.
"Ternyata alismu tebal dan hitam. Tampan. Aku tidak menyangka, ternyata kamu sangat tampan. Apalagi saat tidur seperti ini," bisik hati gadis itu memuji.
Sesekali Zafira tampak tersenyum sendiri melihat wajah pulas di pangkuannya seraya terus membelai wajah serta mengusap alis tebalnya.
Setelah cukup lama memandangi dan memberi sentuhan sayang untuk Fariz, Zafira pun menurunkan kepala Fariz dari pahanya dan dengan sangat hati-hati menaruh kepala sang suami di atas bantal. Mengambil selimut untuk Fariz yang telah dia sediakan di atas ranjang dan menutupi seluruh tubuh pria itu.
Tepat di bagian memar, tampak gadis itu lebih berhati-hati memasangkan selimut, takut menyakiti bagian luka suaminya. Rupanya, Zafira memang istri baik sama seperti mamanya. Hanya saja benih cinta untuk sang suami belum sepenuhnya mekar di hati gadis itu. Pelan-pelan saja. Dan biarkan sang waktu yang akan menjadi air untuk menyiram rasa cinta itu agar terus tumbuh serta bersemi. Rasa cinta itu akan terpupuk seiring kebersamaan setiap hari.
"Selamat tidur pria keras kepala. Pria yang tidak pernah berhenti mengejarku. Terima kasih untuk semua cinta yang sudah kamu perjuangkan untukku. Jangan lelah menungguku," ucapnya tersenyum mengusap sekilas dahi sang suami.
Zafira pun segera masuk ke dalam selimut satunya dan tidur membelakangi Fariz. Dia tidak ingin tidur berhadap-hadapan dengan Fariz. Takut jika pria itu akan memeluknya kembali seperti malam pertama mereka. Bukan takut, lebih tepatnya gugup. Sebenarnya perasaan takut itu sudah mulai berkurang. Kemarin dia menyuruh tidur terpisah dengan alasan takut Fariz terlalu menempel di tubuhnya. Namun perasaan itu sedikit menghilang. Saat ini dia tidak terlalu takut Fariz menempelinya, yang terasa hanya perasaan gugup. Apalagi kalau sampai Fariz melihat kegugupannya, dia pasti akan sangat malu. Karena itulah, daripada Fariz sampai mengetahui perasaan yang mulai tumbuh di hatinya, lebih baik untuk beberapa waktu dia menghindari pria itu.
Baru dua hari hidup satu rumah bersama Fariz, sudah tiga kali bahkan lebih, Zafira merasakan kegugupan ketika bersentuhan dengan pria itu. Tetapi malam ini, rasa itu serta debaran aneh itu semakin kencang menerpa hatinya. Dan dia tidak mampu untuk berlari menghindarinya. Meskipun dia berlari sejauh mungkin, rasa itu akan terus mengejarnya tanpa henti. Baginya, Fariz adalah satu-satunya sahabat yang sangat disayanginya dan tidak mau kehilangannya. Lebih tepatnya, suami yang mulai dicintainya. Jika sampai pria itu menjauhinya, maka dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya.
Pukul 02:00 dini hari.
Di keheningan malam, saat semua penghuni bumi sedang terlelap dan larut dalam mimpi indah. Di salah satu kamar, terdengar suara ringisan seorang pria.
Fariz tiba-tiba saja terbangun dan membuka mata. Dia merasakan sakit dan rasa nyut-nyutan di kaki kanan di bagian memar. Dia sedikit menggerakkan ke kiri dan ke kanan telapak kaki berusaha menghilangkan rasa sakit.
Bisa dikatakan, mungkin ini adalah buah yang harus dipetiknya atas beberapa kebohongan yang telah dilakukannya kepada Zafira dalam kurun waktu dua hari ini. Dan kebohongan terakhir yang dia ciptakan adalah dengan berpura-pura terpeleset di kamar mandi dan mengelabui istrinya bahwa kakinya sakit akibat terpeleset. Malam ini, kaki itu mendadak sakit sungguhan, berdenyut-denyut membangunkan tidurnya.
Zafira yang masih terlelap tidur membelakangi Fariz, ikut terbangun mendengar ringisan di sampingnya.
Gadis itu membalik badan. Mengerjapkan mata berulang kali, melihat Fariz yang sedang menggerak-gerakkan kakinya.
__ADS_1
"Mengapa bangun?," Zafira segera mengangkat tubuh dan duduk. Sedikit beringsut mendekati pria itu.
"Kakiku sakit. Rasanya ngilu. Kepalaku juga agak pusing," kali ini pria itu berkata jujur. Tidak ada lagi kebohongan yang dibuatnya seperti beberapa jam lalu.
"Sakit?," ulang Zafira di antara rasa kantuk. Sebenarnya dia masih sangat mengantuk. Tetapi tidak mungkin dia melanjutkan tidur sementara Fariz sedang merintih kesakitan.
Zafira langsung membuka selimut Fariz sampai ke kaki. Mata gadis itu memperhatikan memar di kaki Fariz. Memar itu tidak membengkak. Masih sama, bahkan sedikit mengempis karena sebelum tidur sudah diolesi salep memar. Tatapan gadis itu menepi pada muka pria yang masih berbaring, yang terlihat agak pucat.
Zafira segera menyentuh kening Fariz, memastikan kondisi pria itu. Wajahnya seketika berubah cemas karena tangannya merasakan hawa panas dari kening itu.
"Ya Allah Fariz, badanmu panas. Kamu demam. Kakimu ini memang tidak ada luka tapi memar ini membuat rasa sakit di dalam. Karena itu badanmu menjadi panas. Aku akan menelepon dokter Rudy. Memarmu ini tidak boleh dibiarkan," Zafira beringsut, berniat beranjak dari ranjang menghubungi dokter keluarga.
"Tidak perlu memanggil dokter. Kamu menyimpan obat nyeri tidak?," mendengar perkataan Fariz, Zafira refleks menahan tubuh untuk turun dari ranjang, lalu menoleh bingung pada pria yang masih terbaring.
"Fariz, kakimu harus diobati. Kalau dibiarkan, takutnya ada infeksi dan sebagainya," Zafira mencoba membujuk suaminya agar mau menuruti sarannya.
"Fariz, kamu ini keras kepala sekali. Dokter tidak akan mengamputasi kakimu. Paling memeriksa memar dan memberimu obat penghilang sakit," Zafira tetap pada pendiriannya untuk memeriksakan memar Fariz pada dokter.
"Aku tahu. Tapi aku merasa kakiku masih bisa sembuh tanpa bantuan dokter. Ambilkan saja obat nyeri. Obat itu juga bisa menghilangkan sakit," sang suami pun tetap pada pendiriannya.
"Tapi aku cemas melihatmu sampai demam seperti ini. Aku takut memar ini akan semakin parah kalau dibiarkan dan tidak segera memeriksakannya ke dokter," Zafira mengusap memar Fariz untuk membantu meredakan sakit.
"Tidak perlu cemas. Kakiku hanya tertimpa pigura bukan dilindas ban mobil," Fariz mencoba menghilangkan kecemasan di hati Zafira.
Zafira menghela nafas, menghempasnya berat. Dia pun berusaha mengerti dan mengalah.
"Baiklah, kali ini aku mengalah. Aku akan menuruti keinginanmu dan memberimu obat. Tapi ingat! Kalau besok demammu masih tinggi, kamu harus diobati oleh dokter. Kalau tidak, aku akan benar-benar marah padamu!," ancam gadis itu mulai menunjukkan sikap ketusnya. Fariz membuatnya kesal, diajak berobat tetapi pria itu tetap bertahan dengan keras kepalanya.
__ADS_1
"Iya, aku akan menuruti semua perintahmu," pria tampan itu mengangguk meyakinkan Zafira.
Gadis itu segera turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
Tidak lama, dia telah muncul di depan pintu kamar dan menutup pintu kembali dengan membawa sebuah piring beserta sendok di tangannya dan meletakkannya di meja. Dia juga mengambil obat nyeri dan Paracetamol di kotak P3K yang ada di sudut ruangan.
"Kepalamu masih pusing?," tanya Zafira, duduk di samping Fariz seraya mengamati muka suaminya yang memang sedikit pucat.
"Masih," jawab pria itu kembali berkata jujur, tidak ada kebohongan lagi dalam ucapannya. Posisi pria itu masih seperti semula, berbaring memakai selimut.
"Bangunlah. Biar aku bantu," ucap Zafira sedikit membungkukkan badan, membantu Fariz untuk duduk.
Kedua tangan Zafira menempel di belakang pundak kanan dan kiri Fariz. Dengan mengeluarkan cukup banyak tenaga, Zafira menarik ke atas tubuh berat sang pria.
Sebenarnya Fariz masih bisa mengangkat tubuhnya sendiri tanpa bantuan Zafira tetapi karena Zafira yang menawarkan bantuan, dia pun tidak ingin menolak rezeki. Lagi dan lagi, pria itu masih memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tetapi dia merasa tidak memanfaatkan kesempatan. Bukan dia yang meminta bantuan tetapi Zafira-lah yang justru menawarkan diri untuk membantunya.
"Deg"
Keduanya secara bersamaan merasakan jantung mereka kembali bergema saat Zafira mengangkat tubuh dan berhasil membantu Fariz duduk. Sementara kedua tangan Zafira masih bergelayut di pundak sang suami. Tatapan mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat seperti adegan saat hendak berciuman di film-film Hollywood.
"Tubuhmu wangi sekali," Fariz berkata parau menatap sayu gadis di depan hidungnya. Pria itu masih sempat mencium aroma tubuh Zafira yang saat ini posisi mereka seperti dua sejoli yang sedang berpelukan. Terdengar hidung Fariz menghirup udara panjang, menghisap aroma tubuh Zafira.
Entah, apa yang ada di fikiran pria itu. Dia merasa tidak bisa menahan gejolak yang ada di hati untuk segera menyentuh gadis cantik di depannya, padahal kakinya sedang sakit. Seolah rasa sakit itu menjadi hilang saat melihat bibir ranum Zafira. Gerakan Fariz terlihat lambat tetapi semakin mendekat ke arah Zafira. Mata pria itu terkungkung pada bibir indah berwarna kemerahan yang berada tepat di depan matanya. Bibir itu terlihat mengatup tetapi sangat seksi di mata Fariz. Perlahan-lahan Fariz bergerak mendekatkan bibirnya ke bibir sang gadis. Hati pria itu seolah terbakar, semakin berdesir panas.
Tubuh Zafira tiba-tiba bergetar dan meradang. Hatinya menjadi gugup melihat bibir tipis itu semakin mendekati bibirnya. Dia tidak menyangka, Fariz secepat ini akan menciumnya.
"Ya Allah Fariz.., Apa yang kamu lakukan? Kamu mau menciumku? Mengapa secepat ini? Aku belum siap, Fariz. Tidakkah kamu bisa menunggu sedikit lebih lama. Mengapa kamu tidak sabaran sekali..," keluh hati Zafira dengan gestur tubuh terlihat sangat gelisah.
__ADS_1
...*******...