
Mereka berjalan berdampingan keluar dari store perlengkapan wanita.
Fariz melirik ke samping memperhatikan gadis cantik itu mulai dari wajah, turun ke kemeja putih yang dipakainya hingga ke tangan.
Pria itu melihat banyak sekali barang yang dibawa sang gadis, mulai dari tas yang digantung di bahu kanan, kantong belanja berisi pakaian basah dijinjing di tangan kanan, serta jaket hitam didekap di tangan kiri.
Itulah salah satu yang dikagumi Fariz dari diri Zafira, meskipun Zafira adalah seorang anak dari keturunan kaya raya, hidup berkecukupan serta bergelimang harta namun dia begitu rendah hati.
Zafira tidak pernah membiasakan dirinya untuk manja apalagi sekehendak hati memerintahkan segala sesuatu kepada orang lain termasuk para pekerja di rumahnya.
Jika dia mampu melakukan sesuatu sendiri maka dia akan melakukannya tanpa harus menyusahkan orang lain.
Zafira tumbuh seperti itu karena ada sosok di belakangnya yang selalu tampil menjadi guru terbaik dalam hidupnya yakni Laras, yang selalu mendidik anak-anaknya untuk selalu mandiri serta rendah hati.
Selain itu, Zafira juga memiliki sifat baik serta lembut, itu pun menuruni sifat sang mama.
Salah satu contoh hari ini, Fariz telah menawarkan bantuan untuk membawakan kantong belanja berisi pakaian basah Zafira, namun sang gadis menolaknya dengan alasan bawaannya tidak berat. Padahal yang dilihat Fariz saat ini mau tidak mau membuat pria itu harus menggelengkan kepala.
Bagaimana tidak? Fariz melihat Zafira sudah seperti seorang pelayan yang membawakan barang majikannya, sementara Fariz hanya melenggang santai tanpa membawa sesuatu apapun. Di dalam hati, pria itu merasa tidak tega melihat Zafira harus kerepotan menjinjing barang sebanyak itu.
Pria itu sengaja memperlambat ayunan kaki, berjalan sedikit mundur mengikuti Zafira dari belakang kemudian melangkahkan kaki ke samping kiri sang gadis lalu berjalan berdampingan. Zafira yang melihat kelakuan aneh Fariz sontak menoleh ke kiri.
"Ada apa denganmu? tadi di kanan, sekarang pindah ke kiri? Sudah seperti setrikaan," Zafira memandang heran pria yang saat itu hanya tersenyum tipis mendengar ocehan Zafira.
Fariz tidak menjawab, hanya tangan kanan bergerak mengambil jaket yang masih ada di dalam dekapan Zafira sehingga jaket itu terlepas dari pegangan gadis itu.
Kini jaket hitam itu telah berpindah ke tangan Fariz. Pria itu sedikit merenggangkan tangan kanan diikuti tangan kiri kemudian segera memakaikan jaket hitam itu ke tubuhnya.
"Sepertinya lebih hangat memakai jaket ini," Fariz mencari alasan seraya merapatkan kedua sisi jaket itu.
Padahal yang sebenarnya adalah hatinya tidak tega dan tidak ingin membiarkan gadis yang dicintainya harus membawa barang yang cukup banyak.
"Jaketmu bau. Kamu tidak pernah mencucinya ya? Tadi aku hanya terpaksa memakai jaket itu," Zafira mencoba menciptakan lelucon sambil menutup hidung.
"Enak saja bau! Kamu tidak mencium parfum di jaket ini? Siapa pun yang menciumnya pasti akan merasa ketagihan untuk memakainya kembali," Fariz menjulurkan tangan kanan ke hidung Zafira, namun Zafira tetap dengan sengaja berpura-pura menutup hidung.
"Aku tidak ketagihan! Parfumnya biasa saja di hidungku," Zafira kembali berbohong, padahal memang benar yang dikatakan Fariz jika aroma jaket pria itu sangatlah wangi, menandakan jika si pemiliknya orang yang bersih serta rapi.
__ADS_1
"Awas saja besok-besok kamu memakainya lagi," ancam Fariz mendelik ke samping kanan.
"Tidak. Aku juga tidak mau memakai jaket bau itu," gelak tawa Zafira terdengar ceria. Pria di sampingnya pun ikut tertawa.
Sepuluh menit berlalu, mereka telah berada di dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah sang oma.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh lima menit, keduanya pun tiba di rumah Mayang.
Di halaman rumah tampak telah berjejer beberapa kendaraan. Mobil Laras, mobil Arga, mobil Mayang serta mobil Zafran telah terparkir rapi di sana. Dan juga tampak sebuah truck ikut berjejer di antara mobil-mobil mewah itu.
Laras sengaja membawa mobil sendiri dari rumah dikarenakan tidak mau membuat lelah sang suami harus bolak balik menjemputnya di rumah, dengan begitu dari kantor Arga bisa langsung ke rumah Mayang tanpa harus menghabiskan waktu menjemput istrinya.
Untuk saat ini tenaga sang sopir, Mardi, tidak terlalu dipakai. Dulu saat Zafran dan Zafira masih di bangku sekolah, tenaga Mardi dipakai setiap hari mengantar jemput kedua anak kembar itu.
Namun setelah Zafran dan Zafira duduk di bangku kuliah dan telah mendapat SIM, tugas Mardi pun otomatis berkurang dikarenakan anak majikannya itu sudah memiliki kendaraan masing-masing.
Hanya di waktu tertentu saja tenaga Mardi di pakai, misalnya mengantar ART ke pasar, atau pun mengantar Laras dan Arga pulang ke kampung menginap di rumah mendiang orang tua Laras, yang rutin mereka lakukan setiap satu bulan sekali dengan membawa anak kembar mereka bahkan tak jarang ikut membawa Fariz.
Jika Fariz ikut, maka Zafira akan tidur bersama kedua orang tuanya di kamar utama, sementara Fariz dan Zafran tidur di kamar satunya lagi.
Zafira keluar dari mobil begitu juga dengan Fariz. Keduanya memasuki rumah dan tampak orang-orang sedang duduk di meja makan.
"Kebetulan sekali kalian datang tepat waktu. Kita dari tadi menunggu kalian," sambut Laras tersenyum kepada kedua anak yang baru saja tiba di rumah.
"Iya lama sekali! Kalian darimana? Aku hampir mati kelaparan menunggu kalian!," gerutu Fariz menatap secara bergantian sang sahabat serta saudara kembarnya, membuat Laras, Arga serta Mayang mendadak tertawa.
Ke empat orang yang tengah duduk di kursi serentak melayangkan pandangan kepada Zafira dan Fariz yang masih berdiri di hadapan mereka.
"Tadi itu..," Fariz baru saja mau menjawab pertanyaan Zafran.
"Tadi itu kita ada urusan sebentar. Ayo kita makan, Zafira juga sudah lapar," potong Zafira cepat membuat ucapan Fariz mendadak terhenti.
Zafira sengaja tidak menceritakan kejadian di kampus. Gadis itu tidak ingin keluarganya menjadi cemas mengetahui perseteruannya dengan Wilda, terutama sang mama. Laras selalu mencemaskan keadaan anak-anaknya dan tidak akan pernah membenarkan hal-hal negatif yang dilakukan kedua buah hatinya.
"Ayo Fariz kita cuci tangan dulu," Zafira mengajak sang sahabat ke wastafel di dapur.
Kini ke enam orang itu telah duduk di meja makan.
__ADS_1
Di sisi kanan meja, Laras, Arga, Zafran duduk bersebelahan. Di sisi kiri meja, Mayang duduk sendirian. Masih ada dua kursi kosong di sebelah Mayang.
Zafira segera menghenyakkan tubuh duduk di sebelah Mayang, kemudian menyusul Fariz ikut duduk di sebelah Zafira.
Kini ke enam orang itu duduk saling berhadapan dan siap menyantap makan siang yang telah dimasak serta disajikan oleh Laras dibantu dua asisten rumah tangga di rumah Mayang.
Ada ayam, gurame dan bebek goreng, cumi saus tiram, udang goreng tepung, beberapa sayuran tumis dan rebus serta beberapa macam sambal.
Laras berdiri, mengisi satu persatu ke enam piring dengan nasi. Lalu memasukkan beberapa lauk dan sayuran ke dalam piring Arga serta Mayang, tak lupa memasukkan lauk dan sayur ke piringnya sendiri.
"Kalian bertiga, lauk dan sayurnya ambil sendiri ya," Laras kembali duduk.
Zafran yang memang sudah kelaparan langsung mengambil semua lauk serta sayuran yang dia suka dan menaruhnya di piring dengan porsi yang banyak, sehingga piring itu tampak kewalahan menampung nasi serta menu yang terlampau banyak.
"Ya Allah nak, makannya sedikit-sedikit dulu, nanti bisa nambah lagi. Kalau sampai makanannya tidak habis, kan mubazir," Laras mengingatkan sang putra.
"Pasti habis ma! Mama tenang saja!," ucap Zafran memejamkan mata dan mengangkat kedua tangan, berdoa sesaat kemudian langsung melahap makanan di piring tanpa menunggu lagi kelima orang di sana.
Semua orang tertawa melihat kelakuan Zafran yang seperti orang tidak makan selama satu tahun.
Menyusul kemudian Laras, Arga dan Mayang menyantap makanan di dalam piring masing-masing, dengan berdoa terlebih dahulu tentunya.
Zafira masih terbengong melihat Zafran, yang mengunyah makanannya dengan begitu lahap.
Saat gadis itu sedang asyik memperhatikan saudara kembar yang ada di hadapannya, Fariz dengan tanpa bertanya terlebih dahulu langsung mengambilkan sedikit udang goreng tepung, sedikit cumi saus tiram, ayam dada goreng, capcay serta sedikit sambal lalu menaruhnya di dalam piring Zafira.
Fariz sengaja tidak mengambilkan bebek, karena dia tahu, Zafira tidak menyukai bebek. Apa pun menu yang dimasak yang berbahan dasar daging bebek, dia tidak akan memakannya.
Zafira yang mendapat perlakuan seperti itu dari Fariz di hadapan semua keluarganya, sontak memandang ke arah kanan, menatap Fariz beberapa detik lalu kembali memfokuskan mata pada isi piring yang ada di depannya.
"Ini menu kesukaanmu, udang, cumi, ayam, capcay serta sedikit sambal," Fariz berkata seraya mengambil lauk serta sayuran kemudian menaruh di piringnya sendiri.
Semua mata tertuju kepada Zafira dan Fariz. Mereka terkejut, jika Fariz sangat hafal dengan menu kesukaan Zafira.
"Zafira, mudah-mudahan kamu bisa membuka hatimu untuk Fariz. Mama sangat menyukai Fariz. Mama yakin, kamu akan berbahagia jika memilih Fariz menjadi teman hidupmu," bisik hati Laras memperhatikan kedua anak yang ada di depannya.
...*******...
__ADS_1