Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
72 - SATU SYARAT


__ADS_3

Fariz telah lebih dulu menghenyakkan tubuh duduk di kursi. Zafira masih berdiri di samping sang suami, mengambil spaghetti dari wadah mangkuk, memasukkan ke piring dan menyodorkan di depan pria itu setelah menaruh sendok serta garpu di atas piringnya. Kemudian dia berjalan memutari meja, duduk di hadapan Fariz, saling berseberangan.


Fariz melirik cangkir teh yang ada di sisi kirinya yang telah ditaruh oleh sang istri. Tanpa menunggu lama, dia segera mencicipi teh hangat itu. Untuk beberapa saat dia hanya terdiam. Satu kali tegukan, kemudian ditambah satu tegukan lagi dan diteruskan beberapa tegukan lagi. Hingga akhirnya terdengar suara pria itu berdecak menikmati aroma dan rasa manis dari teh buatan gadis itu.


Ini bukan pertama kali Zafira membuatkannya teh hangat. Sebelumnya pernah beberapa kali dia mencicipi teh buatan gadis itu. Tetapi pagi ini terasa sangat spesial baginya. Dan rasa teh itu pun terasa lebih nikmat dari biasanya. Walaupun Zafira hanya menaruh gula sedikit di dalam campuran teh itu tetapi di lidah Fariz terasa sangat pas dan nikmat. Kenikmatan spesial itu tercipta dikarenakan ini untuk pertama kalinya, dia mencicipi teh buatan Zafira sebagai pasangan suami istri.


"Ini semua seperti mimpi. Dulu aku selalu berharap Zafira menyuguhkanku teh hangat di setiap aku bangun tidur. Hari ini harapanku terwujud. Terima kasih Ya Allah. Engkau telah membukakan satu jalan untukku bisa hidup bersama gadis yang aku cinta," Fariz kembali menyesap teh hangat itu sampai habis tak bersisa setetes pun.


Terlihat kepalanya sampai terdongak ke atas saat menumpahkan teh itu ke mulutnya. Pria itu seakan-akan tidak rela membiarkan satu tetes pun tertinggal di gelas itu. Hatinya begitu bahagia hingga tak terasa satu gelas air teh begitu cepat berpindah ke perutnya.


Zafira melongo melihat Fariz telah menghabiskan isi di dalam cangkir. Dia pun berfikir, apa mungkin dia sudah salah membuatkan takaran teh untuk suaminya? Harusnya menggunakan gelas yang lebih besar, berukuran 500 mili atau bahkan yang 1000 mili?


"Cepat sekali tehmu habis. Apa perlu aku buatkan satu cangkir lagi?," tanyanya menatap heran pada pria itu.


"Tidak perlu. Aku hanya sedang menikmati teh buatan istriku untuk yang pertama kali. Kalau dulu yang membuatkanku itu sahabatku. Tapi hari ini yang membuatkannya istriku. Rasanya sungguh jauh berbeda. Lebih enak dan nikmat," gurau pria itu tersenyum menatap lekat gadis yang masih membiarkan rambut basahnya tergerai.


"Mulai lagi," sahut Zafira menggelengkan kepala, tidak meladeni pujian sang suami.


"Ayo kita sarapan," sambung gadis itu kembali.


Setelah masing-masing membaca doa di dalam hati, mereka pun segera memegang sendok serta garpu di atas piring.


Keduanya memulai sarapan. Fariz mengambil satu sendok spaghetti dan memasukkan ke dalam mulut. Mulai mengunyahnya perlahan-lahan seraya memutar mata ke kanan dan ke kiri mencoba menilai cita rasa spaghetti buatan sang istri. Sangat lezat. Fariz terus mengecap spaghetti itu dengan kunyahan yang lama. Iya, bumbunya terasa meresap sampai ke mie-nya. Rasa daging gilingnya pun tak kalah lezat. Manis, gurih, asin terasa pas di lidahnya. Rupanya Zafira sangat pintar memasak. Masakan yang dibuat dengan tangannya tidak kalah dengan spaghetti yang disajikan di restoran bintang lima.


Keduanya menyantap sarapan dengan saling berdiam diri. Fariz terus mencuri pandang pada sang istri yang tampak tenang menikmati sarapannya.


"Enak sekali masakanmu. Aku sangat menyukainya," pria itu kembali memuji.


"Hmm," Zafira hanya menjawab dengan gumaman karena tengah menyeruput mie yang ada di garpu, memindahkannya ke mulut.


Fariz begitu senang dengan perubahan sikap Zafira. Ini merupakan awal yang baik untuk rumah tangga mereka. Meskipun dia tahu, Zafira belum bisa memberikan nafkah batin untuk dirinya, tetapi untuk kewajiban-kewajiban lain seorang istri, Zafira tetap memenuhinya dengan baik. Hal itulah yang membuat Fariz semakin yakin dengan pernikahan ini. Dia yakin, suatu hari nanti pernikahan ini akan membawa kebahagiaan untuk dirinya maupun untuk diri Zafira.


Dan Fariz tidak pernah kehilangan harapan untuk meluluhkan hati gadis yang selama ini menjadi cinta pertama bahkan akan menjadi cinta terakhir baginya. Penantiannya tak akan pernah berujung. Akan selalu ada kesabaran menyertai dalam penantian itu.


"Terima kasih," ucap Fariz kemudian memecah keheningan di meja makan itu.

__ADS_1


Zafira langsung mendongak menatap pria di hadapannya yang masih sibuk mengunyah makanan di mulutnya.


"Untuk apa?," tanyanya ingin tahu.


"Sudah melayani semua kebutuhanku,"


"Iya, sama-sama. Tidak perlu harus berterima kasih. Sudah kewajibanku melakukan itu,"


"Iya terima kasih sudah menjalankan kewajibanmu dengan baik, walaupun untuk yang satu itu aku belum mendapatkannya..,"


"Uhuk, uhuk, uhuk," tiba-tiba saja Zafira tersedak. Muka serta telinganya menjadi memerah. Dia sangat faham arah pembicaraan Fariz, sehingga membuatnya terkejut.


Fariz refleks berdiri melihat sang istri yang tiba-tiba saja terbatuk-batuk. Gurat kecemasan tergambar di muka pria itu. Tangannya dengan cepat menyambar gelas air putih lalu memberikannya pada Zafira.


"Cepat minum dulu,"


Zafira yang masih terbatuk, tanpa dapat mengeluarkan kata, segera mengambil gelas dari tangan sang suami kemudian meminum air putih lebih dari lima teguk. Setelah dirasa lega, dia pun meletakkan kembali gelas di meja.


"Kamu tidak apa-apa?," Fariz masih berdiri mengamati Zafira.


Sepertinya Fariz sudah salah bicara sehingga membuat Zafira mendadak terbatuk-batuk. Dia pun tidak berniat melanjutkan pembahasan mengenai kewajiban Zafira yang satu itu.


"Ayo lanjutkan lagi sarapanmu," pinta Fariz seraya duduk kembali di kursi.


Selanjutnya, keduanya kembali menyantap spaghetti tanpa pembicaraan apapun. Fariz terus mencuri pandang kepada Zafira yang tentunya tanpa sepengetahuan gadis itu.


Beberapa menit berselang, sang gadis mengatakan sesuatu.


"Fariz, hari ini kita ke rumah mama dan menginap di sana. Aku kangen mama dan papa. Sekalian aku ingin mengambil sisa pakaianku. Kemarin mama hanya membawakan satu koper perlengkapanku. Kamu mau tidak?,"


"Tidak mau," sela pria itu pendek.


"Hah? Tidak mau? Mengapa?," Zafira menaruh sendok di piring, menatap bingung pria di depannya.


"Iya, tidak mau. Kecuali..," Fariz sengaja menghentikan kalimatnya dengan tujuan membuat Zafira penasaran.

__ADS_1


"Kecuali apa?," tujuan Fariz berhasil. Gadis itu tampak bertanya cepat, dengan raut wajah begitu penasaran.


Fariz tidak kunjung menjawab. Dia masih saja ingin membuat sang istri makin penasaran dengan kalimatnya yang belum tuntas diucapkan. Hanya bibirnya yang menyunggingkan sebuah senyuman yang sulit dimengerti oleh Zafira.


"Fariiizz?," Zafira terlihat mulai gusar. Gadis itu merasa kesal melihat senyuman di bibir sang suami.


"Kecuali kalau di rumah mama nanti, kamu mengizinkanku tidur satu ranjang denganmu," Fariz berkata santai sambil melanjutkan kembali seruputannya.


"Apa?," mata Zafira membola, mulutnya pun ikut terbuka menatap pria yang tengah asyik mengunyah spaghetti-nya.


"Dasar licik!," Zafira mendengus sambil menusukkan garpu di piringnya.


"Ya sudah kalau tidak mau. Kamu boleh ke rumah mama tapi sendiri. Aku tidak ikut. Nanti oma, mama, papa dan Zafran pasti akan banyak bertanya padamu. Kemana suami tampanmu? Mengapa tidak ikut? Kalian kan masih pengantin baru, mengapa kamu meninggalkan suamimu sendirian di rumah?," Fariz tertunduk menahan tawa, terus menyantap sarapannya.


Muka Zafira mulai terlihat kesal. Dia masih saja menusukkan garpu di piring yang isinya baru dihabiskan setengah.


"Kamu memang paling pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku baru tahu, ternyata kamu ini licik juga!," sungutnya kesal, tidak mau menatap pria di depannya.


"Terserah mau mengatakanku licik. Tapi aku pria yang paling setia," Fariz membela diri dan Zafira pun tidak bisa menangkis perkataan pria itu.


Zafira terdiam seribu bahasa mendengar perkataan suaminya. Dia sadar betul, Fariz memang pria yang sangat setia. Terbukti dari mereka kecil hingga dewasa, Fariz tidak pernah memiliki seorang kekasih pun. Meskipun tidak sedikit gadis yang mengejar bahkan mengharapkannya menjadi suami. Salah satunya Wilda, gadis yang pernah beradu otot dengan Zafira beberapa tahun lalu. Tetapi Fariz tidak pernah tertarik untuk melayani gadis-gadis itu. Waktunya hanya dihabiskan untuk menunggu satu cinta dari sahabatnya sendiri, Zafira Mutia Wibawa.


"Jadi bagaimana dengan tawaranku? Apa kamu setuju?," Fariz telah menghabiskan spaghetti di piringnya lalu meminum air putih.


Zafira berfikir sejenak. Jika dia tidak menerima tawaran Fariz, maka malam ini dia tidak akan bisa menginap di rumah sang mama. Kalau pun dia nekat pergi sendiri ke sana, pasti akan banyak pertanyaan yang akan menyerang dirinya. Dan dapat dipastikan, semua keluarga terutama mamanya akan menyalahkan dirinya. Gadis itu tahu, semua keluarganya sangat menyayangi Fariz. Fariz tidak hanya dianggap sebagai sahabat dan juga suami Zafira saat ini, tetapi sudah dianggap seperti anak, cucu serta saudara sendiri oleh keempat orang di rumahnya.


"Baiklah aku setuju. Tapi ada satu syarat dariku dan kamu harus mematuhinya. Kamu tidak boleh terlalu menempel denganku. Aku tahu kamu itu pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jadi kamu harus menjaga jarak saat tidur di ranjang denganku nanti," gadis itu memberi sebuah syarat, yang langsung disambut anggukan kepala serta senyuman puas dari pria di hadapannya.


"Baiklah, aku setuju dengan syaratmu. Sekarang habiskan sarapanmu. Setelah itu kita siap-siap. Aku akan segera mengantarmu ke rumah mama," ujar sang suami dengan senang hati memenuhi keinginan istrinya.


Fariz begitu bersemangat mengantarkan sang istri menginap di rumah sang mama. Kali ini, dia mempunyai kesempatan untuk mendekati istri cantiknya itu.


Dia pun tersenyum dalam hati sambil memandangi Zafira yang masih menyelesaikan sarapannya. Tujuan pria itu berhasil. Walaupun sang istri mengajukan sebuah syarat yang harus dia patuhi tetapi setidaknya dia punya kesempatan tidur satu ranjang dengan gadis cantik itu.


Tawaran yang dia berikan kepada Zafira memang terdengar licik. Bersedia mengantarnya asalkan gadis itu mau tidur satu ranjang dengannya. Apapun tawaran yang dia berikan, yang penting gadis itu menyetujuinya. Kembali pria itu tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2