
Kedua orang penguping itu masih saja setia berada di balik pintu. Setelah tadi, saking gembiranya mereka melakukan adegan saling berpelukan seperti Teletubbies melihat reaksi Zafira saat mengetahui kebenaran tentang calon suaminya.
Memang terlihat kejam, saat Zafira tengah mendapat luka, kedua orang itu malah tertawa bahagia. Tetapi mereka lebih memilih melihat Zafira terluka sekarang dari pada harus melihat Zafira makin terluka setelah tinggal satu atap bersama Ronald.
"Zafira, apa sekarang kamu masih ingin melanjutkan pernikahan ini setelah tahu kebusukan Ronald?," tanya Citra ingin tahu, masih dengan posisi berlutut di depan pengantin itu.
Hati Zafira kembali sakit mendengar pertanyaan Citra. Saat ini fikiran serta hatinya benar-benar sedih dan kecewa karena mendapat pengkhianatan bertahun-tahun lamanya dari pria yang selama ini dia beri kepercayaan penuh. Mungkin ini adalah sebuah karma karena dia telah menyia-nyiakan Fariz, pria yang selalu mencintainya dengan tulus dan tidak pernah satu kali pun meninggalkannya dalam kondisi apa pun.
Kini Zafira tidak tahu, apa yang harus dilakukannya saat ini? Ingin melanjutkan pernikahan, rasanya tidak mungkin. Hatinya sudah amat terluka karena pengkhianatan Ronald. Dan dia juga tidak sudi harus tinggal satu atap dengan pria yang licik dan pintar menyembunyikan kebusukannya.
Citra yang sedari tadi tak sabar menunggu jawaban Zafira, akhirnya kembali membuka fakta yang kali ini penuturan Citra benar-benar telah meluluhlantahkan hati serta jiwa calon pengantin itu.
"Demi kebaikanku dan juga kebaikanmu, tolong batalkan pernikahan ini. Aku hamil, Zafira," ucap Citra kemudian, terdengar sangat pelan, takut jika Zafira menjadi shock dan pingsan saat mendengar penyampaiannya.
"Duarrrr"
Bagaikan tembakan meriam jatuh tepat menghantam di atas kepala Zafira menghancurkan seluruh isi di kepala serta organ tubuhnya demi mendengar kata terakhir yang diucapkan Citra.
Rasa ada sembilu yang teramat tajam membelah hati Zafira, menjadi potongan-potongan kecil hingga membuat hatinya berdarah dan terluka. Perlahan-lahan sembilu itu terus merayap, menyayat dan mengiris hatinya sehingga yang tertinggal kini hanya kepedihan, kekecewaan, penyesalan serta keterpurukan berbaur menjadi satu dalam dirinya.
Entah harus menyesali diri bahkan membenci dirinya sendiri karena terlalu percaya pada Ronald. Selalu menganggap Ronald laki-laki yang jujur dan mengabaikan semua larangan serta nasehat seluruh keluarganya bahkan sahabatnya sendiri, Fariz.
Wajah yang tadi telah dirias dengan maxe up yang sebegitu cantik dan menakjubkan, tiba-tiba bermuram durja. Awan mendung berkabut luka menutupi wajah pengantin itu. Matanya yang sejak tadi sekuat tenaga ditahan untuk tidak menangis, kini pun mulai terlihat berembun, meneteskan guliran air bening, setetes demi setetes, mengalir dari kedua sudut matanya.
Dada gadis itu terasa sesak. Rasanya dia kesulitan untuk bernafas saking tidak sanggupnya mendengar berita yang baru saja disampaikan Citra.
Dia tidak menyangka, Ronald tega membohonginya hingga bertahun-tahun lamanya. Nyeri sekali terasa di dalam dadanya. Sehingga dia meremas dadanya yang terbalut kebaya putih itu, menahan agar rasa sakit itu tidak terlalu menusuk rongga dadanya.
Beberapa menit kemudian, sang pengantin pun tak bisa menahan semua lukanya. Suara tangisannya pun pecah. Dan dia sesegukan hingga tubuh ramping itu tampak berguncang.
__ADS_1
Citra yang masih berlutut di kaki Zafira menjadi terenyuh melihat sang pengantin yang seharusnya berbahagia di hari pengantinnya tetapi justru sebuah tangisan keras yang harus ditumpahkannya.
Citra beranjak dan duduk di kursi yang ada di sebelah Zafira. Tanpa ragu-ragu gadis itu memeluk calon pengantin itu.
"Maafkan aku Zafira, maafkan aku.., Aku datang di waktu yang tidak tepat. Seharusnya aku mengetahui ini lebih awal. Aku menyesal sudah membuat hari pengantinmu menjadi tangisan. Semoga kamu kuat melewati ini semua," sesal Citra yang dia pun tidak mampu menahan tangisnya. Gadis itu menjadi ikut menangis, bisa merasakan luka hati yang ditanggung Zafira.
Kedua gadis itu saling menangis dan Citra tidak hentinya membantu menguatkan hati sang calon pengantin.
Setelah beberapa menit mereka menumpahkan air mata, terdengar suara tangis keduanya pun sudah mulai mereda. Zafira melepaskan pelukan dan memandang lekat gadis di depannya.
Zafira tahu, Citra gadis yang baik. Dia dapat merasakan sentuhan tulus dari Citra saat memeluknya tadi.
"Terima kasih Citra. Kamu gadis yang baik. Kamu tidak perlu meminta maaf atau pun merasa menyesal. Justru aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu datang pada waktu yang tepat dan telah menyelamatkan hidupku sebelum aku benar-benar masuk ke dalam jurang yang tidak tahu sedalam apa, yang akan menguburku hidup-hidup di sana," ucap Zafira memeluk kembali Citra, menumpahkan tangisan dan dua menit kemudian melepaskannya kembali.
Keduanya kembali duduk terdiam. Menenangkan hati serta fikiran masing-masing.
Citra mencoba mengamati Zafira, sepertinya emosi calon pengantin itu telah mulai stabil. Dia berusaha berbicara kembali, dari hati ke hati.
Zafira menelan saliva kasar, memandang Citra tak berkedip.
"Iya, aku sudah lebih tenang. Apa yang ingin kamu tunjukkan?," Zafira mengusap air mata dengan punggung tangan.
Citra membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop yang berisi kertas di dalamnya.
"Aku akan menunjukkan ini agar kamu lebih percaya dengan ucapanku dan tidak menganggapku hanya mengarang cerita bohong seperti yang biasa dilakukan Ronald. Lihatlah ini!," Citra memberikan amplop putih itu kepada Zafira dan dengan cepat Zafira mengambilnya. Dia merasa tak sabar ingin membaca isi di dalam kertas itu.
Dengan tangan gemetar serta menarik nafas sedalam-dalamnya, gadis itu perlahan membuka amplop dan mengeluarkan kertas di dalamnya. Sedikit demi sedikit dia melebarkan kertas itu. Hatinya merasa takut, namun rasa ingin tahu yang besar mengikis ketakutannya.
Setelah kertas itu berhasil terbuka lebar, mata Zafira pun tak kalah lebar, terbelalak demi melihat tulisan di kertas itu. Tangan gadis itu terkulai lemas, jatuh ke pangkuannya.
__ADS_1
Positif. Tulisan itu yang tertera di kertas putih yang diberikan Citra. Hanya satu kata itu yang dibaca Zafira, namun mampu membuat hatinya berserakan terporak-poranda.
Matanya kini kembali meneteskan buliran air bening yang terus mengalir dan semakin deras jatuh ke wajah yang sudah diselimuti kesedihan itu.
Hatinya hancur. Kepercayaannya telah terkhianati. Waktu panjang yang telah dihabiskannya untuk menjalin hubungan dan mengenali sifat Ronald, ternyata belum cukup membuatnya dapat menyelami sifat asli sang calon suami.
Jika waktu bisa diputar kembali. Dia tidak ingin mengenal Ronald. Terlalu banyak kerugian yang ditelannya. Dia telah membuang waktu sepanjang delapan tahun serta melukai hatinya sendiri dengan kebodohannya yang telah mempercayai pria pendusta seperti Ronald.
"Dan perlu kamu tahu, aku juga berkuliah di Singapura. Satu apartemen dengan Ronald, hanya beda kamar. Dan setiap malam Ronald sering ke kamarku..," ucap Citra terhenti karena Zafira telah memotongnya.
Meski pun Citra belum menyelesaikan kalimatnya tetapi mampu membuat Zafira terpukul.
"Astaghfirullahal adzim Ya Allah.., Jadi kalian sering melakukan itu?," Zafira terperanjat dengan mulut tak lagi tertutup. Mulut itu sontak terbuka membentuk huruf O.
Otaknya langsung melayang ke sebuah apartemen yang ditempati Citra dan membayangkan kedua orang itu sedang bergumul, bertukar keringat panas di atas tempat tidur tanpa memakai sehelai kain pun.
Zafira memejamkan mata, kemudian secepat kilat membuang bayangan menjijikkan itu dari benaknya. Dia benar-benar jijik harus membayangkan kelakuan Ronald yang sudah seperti pelacur laki-laki.
"Iya, kami sering melakukannya. Tapi Ronald menyuruhku meminum pil KB. Dia melarangku hamil. Tapi setelah kembali ke Jakarta, aku berubah fikiran. Dan tanpa sepengetahuan Ronald aku sengaja tidak meminum pil itu, dengan harapan aku bisa hamil dan segera meresmikan hubungan kami ke jenjang pernikahan. Mengingat hubungan kami yang tidak bisa dikatakan hanya sebatas cinta monyet, aku pun memilih jalan untuk tidak meminum pil itu lagi. Dan hasilnya kamu bisa lihat sendiri. Perutku...," Citra tidak melanjutkan kalimatnya.
Gadis itu membuka sedikit blouse yang dipakai, memperlihatkan perutnya yang tampak memang mulai membuncit walaupun belum terlalu kelihatan besar.
"Astagfirullahal adzim..," ucap Zafira berulang kali sambil menggeleng-gelengkan kepala, menatap prihatin pada perut Citra yang mulai membuncit.
Zafira benar-benar tidak menyangka dengan semua berita buruk yang datang tepat di hari pernikahannya. Dan jauh di ujung hati, calon pengantin itu merasa kasihan kepada Citra yang telah berbadan dua namun belum juga meresmikan pernikahan. Zafira menatap Citra dengan perasaan iba.
Sekarang Zafira tidak hanya mengasihani dirinya sendiri tetapi dia juga ikut mengasihani nasib Citra, ikut merasakan penderitaan gadis itu yang harus menanggung beban karena ulahnya sendiri.
"Sekarang katakan padaku, bagaimana kamu tahu alamat rumahku dan bagaimana kamu tahu kalau hari ini adalah hari pernikahanku?," tanya Zafira mengamati gadis di sebelahnya.
__ADS_1
...*******...