Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
58 - SAH


__ADS_3

Bestie, apakah kamu menyukai cerita ini?


Tekan Bintang 5 nya ya...


Sebagai support kalian...


Jangan kira menulis itu gampang. Harus diketik yang rapi, jangan sampe ada typo, penempatan titik koma dan tanda baca juga harus teratur, biar mata kalian gak pusing dan enak membacanya.


Selain itu, harus berfikir setiap hari, nyari ide menarik untuk dituangkan di bab demi bab, biar ceritanya nyambung dan bagus..


Jadi jangan pelit-pelit untuk memberi support ya beb 😌


Makasih...


Happy Reading 😘


*****


Ruangan prosesi akad nikah sudah dipenuhi oleh para keluarga serta tamu undangan, termasuk ada Alluna si gadis cantik yang menjadi tamu dadakan di keluarga itu.


Alluna duduk bersebelahan dengan Zafran, di sebelah Zafran duduk mama Laras, di sebelah mama Laras duduk oma Mayang, di sebelahnya lagi istri Bram, anak laki-laki serta menantu Bram dan dua orang keponakan Zafira. Mereka duduk di deretan kursi yang paling depan, berjejer khusus para keluarga.


Di depan Alluna telah tersedia meja dan kursi khusus mempelai pengantin, pak Penghulu, Wali nikah serta Saksi, yang telah didekorasi secantik mungkin menggunakan kain putih berenda, pita, lampu hias serta bermacam bunga dan dedaunan hijau.



Suasana begitu hening. Acara akan segera dimulai.


Alluna memperhatikan wajah Zafira dari tempat duduknya saat ini. Deretan kursi Alluna berada di samping kanan Zafira, sehingga Alluna dapat dengan mudah melihat wajah sang pengantin. Meskipun posisi sang pengantin sedang tertunduk tetapi Alluna masih bisa mengamati dengan jelas raut muka gadis itu.


"Benar dugaanku. Saudara kembar Zafran benar-benar cantik. Pantas saja Fariz sangat mencintai dan tergila-gila padanya," decak Alluna bergumam di dalam hati, mengagumi kecantikan Zafira sambil terus menatap calon pengantin yang terus tertunduk itu.


Rupanya Alluna tidak sadar, jika dirinya pun tak kalah cantik dengan Zafira. Jika disandingkan, keduanya memiliki nilai yang sama. Kecantikan mereka mencapai angka 85 persen, di atas rata-rata wanita cantik pada umumnya.


Selepas memandangi Zafira, Alluna mengalihkan dan melayangkan pandangan pada dua raut wajah yang sangat menarik perhatiannya, yang sama sekali belum diperkenalkan Zafran padanya. Walau pun begitu, dia sudah dapat menebak, jika dua orang itu merupakan orang tua Zafran dan Zafira.


Kedua wajah itu memiliki persamaan garis wajah dengan Zafran dan Zafira, membuat gadis itu punya keyakinan penuh kalau kedua orang itu memiliki satu aliran darah dengan kedua anak kembar itu.

__ADS_1


Alluna melirik sesekali kepada mama Laras yang duduk tepat di sebelah Zafran, dengan raut wajah tenang, kulit putih dan bersih persis kulit Zafira. Wanita cantik itu memakai kebaya coklat muda, bawahan kain batik keemasan, dengan sanggul sederhana menghiasi belakang rambutnya. Maxe up-nya memang tidak terlalu tebal tetapi tetap memancarkan pesona kecantikan wajahnya yang natural.


Setelah mencuri pandang pada mama Laras, tatapan Alluna singgah pada papa Arga yang duduk di hadapan Zafira, memakai jas hitam seragam dengan Zafran. Pria itu memiliki alis tebal dan memanjang, hidung yang mancung dengan lingkaran muka yang terpahat sempurna, sangat mirip dengan Zafran.


"Keluarga yang sempurna. Mereka semua sangat cantik dan tampan," batin Alluna kembali berdecak kagum, bergantian memandangi satu persatu keluarga Zafran seraya mengangguk-anggukkan kepala merasa takjub.


Kini pengantin pria telah memasuki ruangan dimana akan dilangsungkannya prosesi akad nikah. Fariz, yang didampingi kedua orang tuanya, Tina dan Rico, berjalan lambat melangkah mendekati meja pengantin.


Fariz begitu tampan memakai jas putih dengan kancing ke-emasan di bagian dada. Dasi kupu-kupu berwarna putih terpasang rapi di leher. Untung saja tinggi serta ukuran badan Fariz hampir sama dengan Ronald, sehingga jas yang tadi sempat dikenakan Ronald, sangat pas di tubuh pengantin pria itu tanpa harus menggulung atau pun melipatnya.


Senyuman bahagia tampak tersungging di bibir Fariz. Wajah itu tampak bercahaya menandakan jika hatinya saat ini sedang berbahagia. Kusut, pucat, murung, kelam, yang tadi sempat membuat gelap mata serta mukanya, seketika berubah menjadi bersinar terang saat mendengar kabar yang dibawa Zafran, bahwa Zafira telah membatalkan pernikahannya.


Derap langkah kaki ketiga orang itu sontak membuat semua pandangan beralih ke arah mereka. Suasana yang tadi hening seakan semakin hening menyaksikan pengantin pria yang tampak begitu tampan dan menawan.


Mata Fariz langsung berputar mencari sesuatu. Dan pandangannya tertuju pada gadis berkebaya putih yang telah dikelilingi oleh beberapa orang penting di sampingnya. Pak penghulu, Arga, Bram serta Tyan.


"Deg"


Hatinya tiba-tiba saja berdetak keras saat mendapati wajah cantik yang selama satu bulan ini tidak tersentuh matanya.


Fariz terus berjalan sambil terus memandangi calon istrinya, mendekati meja yang di atasnya telah dipenuhi berkas-berkas pernikahan, kotak perhiasan, air mineral serta beberapa pas kembang yang ikut menghiasi meja pengantin itu.


Fariz begitu terpesona melihat keanggunan Zafira hingga matanya tak dibiarkan sedetik pun berpaling dari wajah itu. Keanggunan itu semakin terpancar karena sang pengantin mengenakan kebaya putih dan memakai sanggul yang telah dihiasi bunga melati di belakangnya. Pria itu merasa takjub dengan kecantikan Zafira, laksana titisan bidadari, duduk di kursi seraya menunduk menatap meja.


Saat mata itu terus melotot tanpa berkedip, saat itulah terdengar sesuatu yang terseret.


"Bruuggh"


Kaki Fariz tersandung ujung karpet yang hampir membuat tubuhnya terjungkal jika tidak bertahan di kursi yang diduduki oleh Tyan, membuat Tyan terkejut lalu terdongak cepat melihat ke belakang kursi.


Semua mata mendadak melihat ke arah Fariz, termasuk Zafira.


Tina dan Rico yang berdiri di samping Fariz tak kalah terkejut dan langsung membantu sang anak, yang tubuhnya terbungkuk berpegangan pada kursi yang diduduki Tyan. Namun sebelum menerima bantuan kedua orang tuanya, dengan cepat Fariz menetralkan suasana, langsung mengangkat badannya kembali tegap berdiri.


Zafira hanya menoleh sekilas kepada Fariz kemudian kembali menundukkan muka ke meja seakan-akan tidak mengharapkan kehadiran Fariz menjadi pengantin pengganti.


Zafran yang sejak tadi mengamati gerak-gerik sang sahabat, menarik sebuah senyuman lalu menggeleng-gelengkan kepala, memperhatikan sahabatnya yang tampak begitu takjub melihat kecantikan saudara kembarnya.

__ADS_1


Dia tahu, jika sedari tadi pandangan Fariz hanya terfokus kepada Zafira, sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya, sehingga membuatnya tidak menyadari jika kakinya telah menyentuh ujung karpet yang hampir membuatnya terjerembab ke lantai.


Kini Fariz telah duduk di kursi tepat di samping kiri Zafira. Pria itu melirik lekat gadis yang tertunduk. Dari sikap Zafira, Fariz tahu jika gadis itu tidak menghiraukan kehadirannya. Namun pria itu tidak peduli, apapun sikap Zafira kepadanya, dia akan menerima dengan lapang dada dan ikhlas.


Baginya yang terpenting saat ini, dia sudah sangat bahagia karena bisa selalu dekat dan hidup satu rumah bersama gadis yang sangat dicintainya.


Rasa rindu Fariz seketika terbayarkan saat mendapati wajah Zafira. Satu bulan penuh, dia tidak melihat wajah yang selalu dirindukannya. Selama satu bulan dia mengobati rasa rindu hanya dengan memandangi foto-foto gadis itu.


Hari ini hatinya merasa sangat bahagia. Benar-benar bahagia. Seumur hidup, ini kebahagiaan terbesar yang pernah dia rasakan. Akhirnya Allah telah mengabulkan doa yang dipanjatkannya siang dan malam agar membukakan jalan untuknya dapat bersanding dengan Zafira. Dan akhirnya jalan itu pun terbuka, keajaiban itu benar memang ada. Tanpa disangka dan dibayangkan, hari ini Allah telah menentukan bahwa dirinya-lah yang akan menjadi jodoh Zafira.


Setelah pengantin pria duduk di samping kiri pengantin wanita dan suasana kembali tenang, pembacaan ayat suci Al-Qur'an pun segera dilantunkan oleh Qari Abdulllah.


Lebih kurang sepuluh menit, pembacaan ayat suci Al-Qur'an telah selesai dilantunkan. Fariz pun mengalihkan pandangan ke depan. Menatap Arga yang duduk tepat di depannya sambil menganggukkan kepala, memberikan isyarat jika akad nikah akan segera dilaksanakan.


"Bagaimana, pak Arga? Apa sudah bisa kita mulai?," pak Penghulu bertanya menatap sang wali nikah.


"Sudah pak Penghulu. Mari kita mulai," ucap Arga dengan yakin dan bersiap memulai acara.


Arga menggerakkan tubuh, mengatur posisi duduk senyaman mungkin, lalu mengulurkan tangan ke hadapan Fariz yang segera disambut Fariz, menggenggam erat tangan Arga.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Arga sambil menarik nafas dalam.


"Bismillahirrahmanirrahim," Fariz pun ikut melafadzkan kata tersebut dan ikut menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


"Fariz Erlangga Bin Rico Sandy Erlangga, Saya nikahkan engkau dengan anak kandungku bernama Zafira Mutia Wibawa Binti Arga Trilaksana Wibawa dengan emas kawin dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!," Ucap Arga dengan cepat dan tegas tanpa satu kata pun yang salah.


"Saya terima nikahnya Zafira Mutia Wibawa Binti Arga Trilaksana Wibawa dengan emas kawin dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!," ucap Fariz tak kalah tegas, lancar dan lantang mengucapkan Ijab Qabul tersebut dengan satu kali nafas.


Pria itu berhasil mengucapkan Ijab Qabul tanpa bernafas, menyelesaikan lafadz dengan suara yang lantang.


Mengapa Fariz begitu lancar, tegas dan lantang melafadzkan Ijab Qobul itu? Bagaimana tidak? Karena hatinya sangat, sangat bahagia pagi ini. Sudah lama pria itu memimpikan saat ini bisa menjadi nyata bukan hanya sekedar angan-angan serta khayalan yang selalu dilakukannya di atas ranjang sebelum tidur malam. Namun hari ini khayalan itu telah menjadi kenyataan, yang dia sendiri merasa ini hanyalah mimpi.


Sejak tadi dia mencubit semua bagian tubuh memastikan apakah ini hanyalah mimpi? Dan ternyata, dia merasakan sakit di setiap bekas cubitan itu. Itu artinya dia tidak sedang bermimpi.


Dan jangan lupa selain memang pernikahan ini sudah lama dia impikan, dia juga merupakan mahasiswa lulusan Cum Laude di kampusnya jadi bukan sesuatu yang sulit baginya untuk menghafal Ijab Qabul tersebut tanpa harus berlatih berhari-hari bahkan berminggu-minggu.


"SAH?," tanya sang Penghulu menoleh kepada Bram dan Tyan selaku saksi.

__ADS_1


"SAH!," ucap Bram dan Tyan serempak, yang disusul suara "SAH" dari para tamu yang hadir meng-Aamiin-kan.


...*******...


__ADS_2