Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
34 - JALAN KENANGAN


__ADS_3

"Sejak kapan aku menjadi orang lain bagimu? Bukankah kamu menganggapku saudara. Itu artinya aku boleh tahu segala sesuatu tentangmu, termasuk urusan pribadimu," timpal Fariz tetap menginginkan jawaban jujur dari sang gadis dengan muka serius menatap Zafira.


Zafira tersenyum melihat keseriusan di wajah sahabatnya. Dia mengangguk-anggukkan kepala membenarkan perkataan Fariz.


"Belum pernah," akhirnya Zafira menjawab keingin-tahuan Fariz.


Saat mendengar pernyataan Zafira, Fariz mendadak senang. Menelusup perasaan lega di hati pria itu. Dia tidak menyangka gadis yang dia puja selama ini dan telah delapan tahun menjalin hubungan dengan kekasihnya, Ronald, ternyata belum pernah memeluk kekasihnya itu. Fariz menjadi bangga pada dirinya karena malam ini dia telah mendapat pelukan dari gadis itu meskipun status dirinya bukanlah seorang kekasih bagi Zafira.


"Sesuatu yang aneh, mengapa kamu tidak ingin memeluk kekasihmu sendiri?," Fariz memicingkan mata merasa heran.


"Mama yang melarangku. Mama selalu berpesan agar aku bisa menjaga diriku dengan sebaik-baiknya sampai aku halal dan menikah dengan suamiku. Setelah menikah, aku baru akan menyerahkan semua yang aku miliki untuk laki-laki yang sah menjadi suamiku," Zafira menjelaskan pesan sang mama yang selalu diingat dan dipatuhinya hingga umurnya yang sekarang menginjak dua puluh empat tahun.


Fariz manggut-manggut penuh kekaguman.


"Tante Laras memang luar biasa mendidik anaknya sampai kamu bisa tumbuh menjadi gadis yang baik dan pandai menjaga diri seperti sekarang ini. Aku yakin, dulu saat tante Laras muda, om Arga pasti sangat tergila-gila padanya," decak Fariz menjadi terkagum-kagum membayangkan masa muda sahabat mamanya itu yang sekarang sebagian sifatnya menurun pada Zafira yang telah membuatnya tergila-gila.


"Benar. Papa selalu bercerita padaku dan Zafran, kalau papa sangat mencintai mama dan sangat tergila-gila pada mama. Papa juga mengatakan tidak bisa hidup tanpa mama. Bagi papa, mama adalah nafas papa. Dan sampai sekarang aku masih melihat kemesraan mereka. Aku ingin mempunyai suami seperti papa. Baik, bertanggung jawab dan penuh cinta," pandangan mata gadis itu berbinar menceritakan sosok sang papa.


Zafira tidak pernah tahu hal yang sebenarnya terjadi di masa lampau. Siapa papanya? Dan bagaimana sikap kejam papanya kepada sang mama?


Di mata Zafira, sang papa adalah sosok yang bisa dijadikan teladan dan akan disayangi serta dicintainya seumur hidup tanpa mengetahui kenyataan di masa lalu kalau sang papa merupakan mantan monster bermata merah dan kejam.


Untuk hal satu ini, Laras tidak pernah menceritakan kepada anak-anaknya mengenai kekerasan rumah tangga yang pernah dialaminya di awal-awal pernikahan. Dia tidak ingin citra baik sang papa jatuh di mata anak-anaknya.


Laras hanya menceritakan kebaikan sang suami dan mengubur semua keburukan yang pernah dilakukan papa dari anak-anaknya dan tidak akan pernah membukanya kembali.


Sejak Arga berjanji akan berubah dan hingga saat ini pria itu selalu memberi yang terbaik untuk dirinya, sejak saat itulah Laras telah menjadikan Arga satu-satunya pria yang paling baik di dunia ini setelah almarhum ayahnya. Karena itulah, Laras tidak akan membuka aib suaminya meski pun kepada anak-anaknya sendiri. Dia ingin, anak-anaknya hanya mengetahui kebaikan Arga tanpa melihat sedikit pun cacat yang pernah dilakukan sang papa di masa lalu.


"Aku juga bisa menjadi seperti papamu," ucap Fariz kemudian sambil melirik Zafira.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu dan tergila-gila padamu, Zafira, sama seperti papamu yang sangat mencintai dan tergila-gila pada mamamu. Aku juga sama seperti papamu, aku tidak bisa hidup tanpamu dan bagiku, kamu adalah nafasku. Seandainya kamu mau dan ikhlas menjadi istriku, aku berjanji akan menghujanimu dengan penuh cinta seperti yang dilakukan papamu kepada mamamu," ucap Fariz tetapi hanya sanggup mengucapkan semua itu di dalam hati tanpa memiliki keberanian mengungkapkannya di depan Zafira.


"Oh ya? Benarkah kamu bisa seperti papaku? Aku tidak percaya!," ucap Zafira menjulurkan lidah.


"Bisa! Aku akan membuktikannya jika memang nanti kamu menjadi istriku," Fariz berkata dengan sangat yakin.


"Ah sudah ah. Mengapa jadi membahas mama dan papa? Ayo kita pulang, aku sudah sangat lelah," Zafira mengalihkan topik pembicaraan karena jika diteruskan pasti akan semakin panjang pembahasan seputar dirinya dan Fariz. Dan akan semakin lama mereka berdiri di pinggir jalan ini.


"Baiklah, kita pulang sekarang. Ini juga sudah malam, nanti orang di rumah mencarimu," Akhirnya Fariz pun mengikuti keinginan Zafira sambil melirik jam di tangannya yang telah menunjukkan pukul delapan lewat.


Zafira mengangguk tanda setuju dan segera berjalan ke arah mobil menuju pintu kemudi, Fariz pun mengikuti langkah gadis itu dari belakang.


Saat tangan Zafira menarik handle pintu mobil, dengan cepat Fariz mencegahnya dan menahan pintu mobil dengan tangan serta lutut sehingga Zafira mengurungkan niat masuk ke mobil.


"Ada apa?," Zafira bertanya heran menggerakkan kepala memandang Fariz yang berdiri di sebelah kanannya.


"Kamu lihat ini jam berapa?," ujar Fariz mengerakkan dagu menunjuk jam di tangan Zafira.


"Jam delapan lebih sepuluh menit. Memangnya ada apa?," Zafira bertanya tidak mengerti, karena kota metropolitan seperti Jakarta, jam delapan masih begitu ramai dan masih sering terjadi kemacetan di sana sini.


"Ini sudah cukup malam. Aku sangat mencemaskanmu pulang sendirian. Apalagi kondisimu juga sedang lelah. Aku yang akan mengantarmu pulang biar hatiku juga tenang melihatmu sampai di rumah dengan selamat. Kondisimu tidak memungkinkan menyetir sendiri ke rumah. Kita sekarang bukan berada di jalan menuju rumah. Perlu waktu lebih kurang tiga puluh menit dari sini. Tenagamu tidak cukup kuat untuk menempuh perjalanan karena wajahmu itu terlihat pucat. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu," ujar Fariz mengamati wajah gadis yang memang masih terlihat pucat karena kelelahan.


Pria itu membuka telapak tangan dan mengulurkannya ke arah Zafira.


"Sini kunci mobilmu," pinta pria itu masih dengan telapak tangan menengadah ke arah Zafira.


Zafira berfikir sejenak, kemudian memutar kepala ke arah mobil hitam yang terparkir di depan mobil Zafira.


"Bagaimana dengan mobilmu? Siapa yang akan membawanya? Sekarang zaman sudah tidak lagi aman, takut ada orang yang melarikan mobilmu," ujar Zafira memikirkan nasib mobil Fariz yang berada di pinggir jalan di tengah malam.

__ADS_1


"Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Aku akan menelepon dan meminta tolong sopir kantor untuk mengambil mobilku dan mengantarkannya ke rumahmu," jelas Fariz menenangkan kekhawatiran gadis itu.


Sekarang Zafira baru mengerti maksud Fariz sambil menganggukkan kepala. Gadis itu pun menuruti saran Fariz untuk mengantarnya ke rumah.


"Baiklah. Aku menurut," Zafira mengulurkan tangan, menaruh kunci mobil di telapak tangan Fariz.


Zafira memutar jalan dari depan mobil hendak masuk ke pintu sebelah kiri namun dengan langkah cepat Fariz mendahului langkah gadis itu dan segera meraih handle pintu mobil kemudian membukakan pintu.


"Masuklah," pinta pria itu seperti seorang sopir berdiri memegang pintu mobil.


"Aku kan bisa membukanya sendiri. Kamu tidak pernah hafal kebiasaanku," Zafira mendelik menatap Fariz.


"Aku sangat hafal kebiasaanmu, tapi saat bersamaku, izinkan aku yang membukakannya," pinta Fariz dengan sorot mata memelas.


Zafira terdongak menatap Fariz. Sungguh ucapan Fariz itu mampu membuat Zafira terenyuh. Apapun yang diucapkan Fariz dan apapun yang dilakukan Fariz untuknya selalu mampu membuat gadis itu merasa aman di setiap keadaan dan selalu merasa nyaman berada di samping sahabatnya.


"Iya baiklah, terserah kamu saja," ujar gadis itu mengalah dan tersenyum sambil berjalan melewati Fariz yang masih berdiri di samping pintu mobil persis seorang sopir yang menunggu majikannya masuk ke dalam mobil.


Saat Zafira hendak memasuki mobil dan melewati Fariz, rambut indah milik Zafira yang tergerai panjang di pinggang, beterbangan tertiup angin dan menyentuh hidung Fariz. Refleks pria itu terpejam menghirup aroma wangi yang menyebar dari rambut gadis itu.


"Ya Allah, wangi sekali. Kapan aku bisa memiliki dia?," bisik hati pria itu berdebar seraya menyesap wangi aroma Zafira yang membuat dirinya semakin candu kepada gadis itu.


Zafira melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil dan duduk di jok sebelah kiri. Tak lama Fariz pun menyusul masuk dan duduk di jok kemudi.


Dalam hitungan menit mobil mereka telah melesat cepat meninggalkan jalan yang telah menyimpan kenangan indah yang tak terlupakan.


Di jalan itulah pertama kali keduanya saling berpelukan, berangkulan lama, rapat dan erat, yang memunculkan debar halus dan samar-samar di hati Zafira.


Di jalan itu pula, pertama kali Fariz merasakan kebahagiaan yang teramat besar dipeluk oleh seorang gadis yang membuat jantungnya berdetak kencang dan juga telah membuat tubuhnya menegang untuk pertama kali karena elusan tangan seorang gadis di perutnya.

__ADS_1


Dan di jalan itu jugalah, tempat pertama kali Zafira bisa mendengarkan secara jelas detak jantung Fariz yang berdegup keras memasuki telinga hingga merasuki hatinya.


...*******...


__ADS_2