Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
19 - MENJEMPUT OMA


__ADS_3

Jangan membaca sekedar membaca, mana bentuk support kalian? Jadilah pembaca yang bijak.


Tinggalkan Subscribe, Vote, Bintang 5.


*****


Zafira dan Fariz berdoa sejenak, kemudian keduanya memulai makan.


Zafran yang sedari tadi mengamati sikap fariz kepada Zafira menjadikan lidahnya merasa gatal ingin menggoda si adik kembar. Pria itu tergesa-gesa ******* makanan lalu dengan cepat menelannya.


"Wah, wah, calon suami idaman. Tapi sayangnya Fira tidak pernah menerima perjodohan kalian. Tidak apa-apa Riz, kamu itu tampan, aku yakin nanti juga ada gadis yang mau menikah denganmu," Zafran menggerakkan ekor mata melirik Zafira sengaja memanasi hati kembarannya.


Seketika Zafira kembali menoleh ke kanan menatap Fariz. Dia tatap pria di sebelahnya itu dengan kedua bola matanya yang hitam. Sekilas Zafira bisa menangkap garis wajah Fariz yang memang tampan dan terlihat begitu tenang. Jika Fariz mau, tidak sulit baginya untuk mendapatkan seorang gadis bahkan puluhan gadis sekalipun.


Fariz tidak menyadari Zafira sedang menatapnya karena sibuk mengunyah makanan sambil tersenyum mengarahkan tatapan pada Zafran yang dia tahu kalau sang sahabat sengaja mengusili adik kembarnya.


"Itu lihat Riz, Zafira memandangi kamu!," Zafran berteriak sambil menunjuk ke arah Zafira.


Sontak Zafira langsung mengalihkan pandangan menatap ke depan dengan sorot mata tajam pada Zafran, diikuti juga oleh Laras, Arga serta Mayang.


Zafira yang menjadi malu dituduh seperti itu di hadapan Fariz serta semua keluarganya, langsung membela diri.


"Iiih Zafran, kamu ini apa-apaan sih! Memangnya tidak boleh mataku melihat sesuatu? Apa aku harus minta izin dulu setiap kali mau melihat oma, mama, papa dan juga Fariz?," gerutu Zafira mendelik ke arah Fariz.


Kelima orang yang mendengar perkataan Zafira tertawa bersamaan menatap gemas pada gadis berambut panjang dikuncir belakang yang kini sedang kesal sambil menusuk-nusukkan garpu ke cumi serta udang yang ada di piring.


"Sudah, sudah, tidak boleh makan sambil marah-marah seperti ini, ayo lanjutkan makannya," ucap Laras menasehati sang putri.


Mereka pun kembali diam, melanjutkan makan sembari sesekali berbincang santai satu sama lain.


Pukul 16:00.


Semua orang telah berkumpul di halaman rumah, siap akan meninggalkan rumah Mayang.


Mayang dengan raut wajah sedih berulang kali memandangi rumahnya. Hatinya begitu berat meninggalkan rumah yang telah menjadi tempat tinggalnya bersama mendiang suami serta anak-anaknya. Terlihat buliran bening menetes di wajahnya yang telah mengeriput.

__ADS_1


Laras terenyuh melihat air mata yang menetes di wajah sang mertua. Wanita cantik berkulit putih itu berjalan mendekati Mayang, mengusap air mata lalu menggenggam erat kedua tangan Mayang.


"Laras mengerti apa yang mama rasakan, tapi mama tidak perlu bersedih, mama tidak meninggalkan rumah ini. Laras janji, satu bulan sekali kita akan menginap di sini. Pokoknya Laras akan mengatur waktu untuk datang ke rumah mama serta ke rumah orang tua Laras di kampung. Mama jangan menangis lagi ya..," hibur Laras memeluk mertua yang sangat disayanginya sembari mengusap pelan punggung wanita yang telah semakin menua itu.


Mayang tersenyum bahagia di dalam dekapan Laras, hatinya yang tadi sedih serta cemas menjadi tenang saat mendengar janji yang diucapkan sang menantu.


Jauh di lubuk hati, Mayang sangat bersyukur bisa menjadikan Laras sebagai menantunya. Tidak pernah ada penyesalan dalam dirinya telah memaksakan kehendak pada Arga untuk menikahi wanita yang berstatus janda itu.


Di saat usianya semakin tua serta tubuhnya yang semakin rentan, Laras tidak pernah melupakan apalagi meninggalkannya bahkan semakin hari semakin memperhatikan dan memprioritaskan dirinya.


Itulah salah satu alasan Mayang merasa sehat, bugar, hidup senang serta panjang umur, dikarenakan dia memiliki menantu yang sangat menyayanginya ditambah lagi anak- anak serta cucu-cucunya yang selalu bersikap baik dan tidak pernah membuatnya sedih.


Termasuk Bram, anaknya yang berada di Thailand, meskipun tidak setahun sekali dia sempat pulang ke Indonesia dikarenakan kesibukannya mengurus perusahaan di sana, namun Bram tidak pernah absen menelepon serta video call memberi kabar keadaan dirinya serta anak dan istrinya melalui WhatsApp.


"Terima kasih nak, sekarang mama baru bisa tenang," sahut Mayang tersenyum melepas pelukan dan mengusap hangat wajah sang menantu.


"Baiklah sekarang sudah selesai semua. Mama kalian, pulang dengan oma. Tikno pulang bersama Rati dan Tami. Zafira pulang dengan Fariz. Papa dan Zafran pulang sendiri," Arga menjelaskan.


"Oh iya Tikno, kamu pulang ke kampung besok kan? Atau malam ini?," tanya Arga menoleh kepada Tikno yang telah berdiri di samping mobil Mayang.


"Besok pagi saja tuan," sahut Tikno.


"Baik tuan," Tikno mengerti sambil menganggukan kepala.


Kemudian Arga membukakan pintu mobil dan Laras membantu sang mertua masuk ke dalam Honda CRV miliknya. Setelah Mayang duduk aman di dalam mobil, Arga pun menutup pintu.


"Ya sudah, kalau begitu Zafira ikut papa saja, biar Fariz bisa langsung pulang ke rumahnya dan tidak repot harus mengantar Zafira pulang ke rumah," Zafira memberi ide.


"Kamu pulang dengan Fariz saja nak.., Fariz juga pasti tidak merasa direpotkan," Laras menimpali seraya memandang pada Zafira.


"Benar tante, Fariz tidak pernah merasa direpotkan. Mungkin Zafira yang merasa bosan diantar Fariz," Fariz menyindir Zafira dengan gamblang di hadapan semua keluarga Zafira yang membuat semua orang tersenyum dengan sindiran yang dilakukan Fariz.


Fariz tidak pernah menutupi perasaannya kepada Zafira di depan keluarga gadis itu. Sesekali di situasi tertentu, Fariz sering menunjukkan perhatian serta rasa cintanya kepada Zafira di hadapan keluarga sang gadis.


"Kalau Fira merasa bosan, kamu tinggalkan saja Riz! Masih banyak gadis cantik lain yang menunggumu!," Zafran kembali mengeluarkan kalimat pedas yang sengaja memancing agar si adik kembarnya menjadi cemburu.

__ADS_1


"Silakan saja, aku tidak pernah melarang Fariz mencari gadis lain. Aku juga cantik, banyak laki-laki yang mengejarku!," Zafira menjulurkan lidah ke arah Zafran.


Semua orang di sana termasuk para pekerja menjadi tertawa mendengar ucapan Zafira yang membalas pedas kalimat Zafran.


Tetapi tidak dengan Fariz, jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. Hatinya sedikit ngilu mendengar Zafira dengan santai menyuruhnya mencari gadis lain, membuktikan jika gadis cantik itu memang tidak pernah merasakan perasaan apapun padanya.


"Baiklah, Zafira ikut Fariz saja," sambung gadis cantik itu kemudian, menyetujui permintaan sang mama.


Dalam sepuluh menit, rumah besar dengan pekarangan luas itu telah sepi. Lima mobil mewah serta satu buah truck telah meluncur meninggalkan rumah itu menuju rumah Laras di kawasan Jakarta Utara.


Mobil truck itu membawa ranjang serta lemari pakaian Mayang. Mayang sengaja membawa ranjang serta lemari pakaiannya karena kedua barang tersebut merupakan sebuah kenangan baginya, yang dibeli saat mendiang suaminya masih ada, karena itulah kedua barang tersebut tidak mungkin ditinggalkan begitu saja oleh Mayang.


Selain kedua barang tersebut, Mayang juga membawa seluruh pakaiannya serta semua bingkai foto dari masa ke masa. Foto almarhum suami dan foto Arga serta kakak-kakak nya saat masih bayi sampai dewasa, yang akan dipasang di rumah anak dan menantunya.


"Apa benar kamu tidak keberatan kalau aku mencari gadis lain?," Fariz bertanya kepada Zafira saat di dalam mobil perjalanan pulang.


"Tidak. Aku malah akan merasa senang kalau kamu punya kekasih, sama sepertiku yang sudah memilih Ronald menjadi kekasihku. Tapi ada satu syarat! Kamu tidak boleh menjauhiku apalagi pergi dariku setelah memiliki kekasih! Harus tetap menjadi sahabat terbaikku!," pinta gadis itu tersenyum sambil menyikut lengan Fariz.


Fariz tidak bergeming, matanya serius melihat ke depan melajukan kendaraannya dengan pelan di belakang mobil Zafran.


Muka Fariz menjadi murung. Hatinya merasa kecewa mendengar perkataan Zafira. Entah telah berapa kali hati pria itu dikecewakan Zafira, mungkin tidak terhitung lagi, namun gadis itu tidak pernah sadar dengan kekecewaan demi kekecewaan yang telah dia torehkan di hati sang sahabat.


"Hei? Mengapa kamu diam saja? Apa kamu marah mendengar perkataanku?," Zafira sedikit menjulurkan kepala mendekati wajah Fariz, memperhatikan lekat wajah di sampingnya.


"Jangan terlalu dekat! Kamu itu belum mandi!," Fariz sedikit menjauhkan wajahnya dari Zafira, dengan tujuan agar gadis itu tidak sampai melihat raut mukanya yang murung.


"Bisa-bisanya kamu mengatakan aku belum mandi! Kamu juga sama!," gerutu Zafira menarik kembali kepalanya menjauh dari Fariz.


"Oh iya ya.., Aku lupa kalau aku juga belum mandi," sahut Fariz tersenyum melirik gadis di sampingnya yang telah memasang wajah cemberut.


Fariz tersenyum melihat Zafira yang mulai kesal. Apapun yang telah dikatakan atau pun dilakukan Zafira yang telah mengecewakan hatinya, Fariz tetap selalu bisa tersenyum.


Lebih kurang Tiga puluh lima menit, mereka telah sampai di rumah Laras.


Semua orang segera masuk ke dalam rumah dan Laras pun masih setia menuntun Mayang berjalan pelan-pelan menapaki teras rumah.

__ADS_1


Sopir truck beserta dua orang yang bertugas menurunkan barang dari truck segera bergerak cepat membawa seluruh barang yang ada di dalam truck dan memindahkannya ke dalam rumah.


...*******...


__ADS_2