
"Alhamdulilah, sekarang kalian berdua telah sah menjadi pasangan suami istri," ucap Pak Penghulu yang disambut ucapan sama oleh seluruh orang yang ada di dalam ruangan.
"Alhamdulilah," semua hadirin serentak menyambut ucapan sang Penghulu.
Kemudian, prosesi akad nikah dilanjutkan dengan doa nikah serta penandatanganan dokumen pernikahan.
Lima belas menit berlalu, terdengar suara pak Penghulu kembali memberikan instruksi.
"Sekarang, silakan pengantin pria memasangkan emas kawin pada pengantin wanita," pak penghulu memandang ke arah Zafira dan Fariz secara bergantian.
Kedua pengantin itu terperanjat. Fariz seketika memandang istrinya. Begitu pun Zafira. Keduanya sama-sama merasa ini bagaikan mimpi. Merasa belum sepenuhnya percaya kalau mereka sekarang telah resmi menikah dan menjadi pasangan suami istri yang sah, karena sebelumnya mereka berdua hanyalah berstatus sebagai sahabat.
Fariz mematuhi petunjuk sang Penghulu, mengambil kalung berlian dari kotak perhiasan lalu segera mengalungkan di leher Zafira.
Saat pemasangan kalung pernikahan, pada umumnya sang pengantin wanita akan tersenyum bahagia melihat sang suami mengalungkan emas kawin di lehernya. Namun berbeda dengan Zafira. Muka gadis itu sama sekali tidak memberikan respon apapun. Terlihat datar. Dia seperti patung, hanya diam membisu. Fariz dapat melihat wajah datar sang istri, namun tidak mempermasalahkannya.
Kemudian Fariz memasangkan cincin mewah di jari manis Zafira. Cincin berlian dengan harga fantastis, yang terukir barisan bintang direfleksikan dalam deretan berlian round yang berjajar pada body bride ring.
Pria itu meraih tangan Zafira, lalu tersenyum saat tangan halus itu berada di genggamannya. Dia terus men-syukuri nikmat Allah yang telah mempercayakan dirinya menjadi suami Zafira untuk menjaganya seumur hidup.
Zafira pun melakukan hal yang sama, memasangkan cincin di jari manis sang suami tetapi tetap dengan muka yang datar tanpa sebuah senyum apalagi tawa.
Setelah semuanya selesai, tibalah waktunya sang pengantin wanita mencium tangan suaminya. Merupakan salah satu ritual yang wajib dilakukan setiap kali selesai Ijab Qabul.
"Silakan mempelai wanita mencium tangan suamimu," perintah pak Penghulu yang membuat semua mata tertuju kepada Zafira.
Zafira yang sedari tadi hanya menunduk dan melamun setelah selesai pemasangan cincin, ternyata tidak mendengarkan instruksi dari sang Penghulu.
"Zafira?," panggil Arga pelan menyentakkan lamunan sang pengantin.
"Eh iya, iya pa," Zafira spontan mengangkat kepala memandang sang papa yang ada di hadapannya.
"Kamu tidak mendengar apa yang dikatakan pak Penghulu?," Arga sedikit berbisik.
Zafira tampak bengong. Dia benar-benar tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan pak Penghulu. Selama prosesi Ijab Qabul, fikiran gadis itu tidak khusyuk. Berbagai lamunan bertengger di kepala. Fikirannya melayang entah kemana, berkecamuk merusak suasana hatinya.
"Mempelai wanita, silakan mencium tangan suamimu," ulang pak Penghulu yang menyadari jika sang mempelai wanita tidak mendengar instruksi pertamanya.
__ADS_1
Zafira tertegun sesaat. Dia langsung menoleh ke arah Fariz yang ada di samping kirinya, yang sedari tadi memiringkan tubuh sedikit ke samping kanan. Tangannya telah terulur menunggu Zafira menciumnya.
Zafira menarik nafas begitu dalam. Dengan ragu-ragu dan tampak bingung, dia meraih tangan Fariz, membawa dan menempelkannya ke bibir dan hidungnya. Mencium sekilas tangan sahabatnya yang saat ini telah berubah status menjadi suaminya, lalu segera melepasnya.
"Deg"
Hanya dicium seperti itu telah membuat jantung Fariz berdetak keras. Bahagia. Hanya kata itu yang kini menghiasi hatinya. Meski Zafira mencium tangannya hanya sekilas namun Fariz sudah sangat menikmatinya. Hatinya baru merasa yakin, kalau kini dia sedang tidak bermimpi.
Sekarang gadis yang ada di sampingnya, yang mencium tangannya, itu benar adalah Zafira, yang telah resmi dan sah menjadi istrinya, bukan hanya bayangan semu yang selalu hadir mengganggu benak serta tidur malamnya.
"Sekarang, silakan pengantin pria mencium pengantin wanita," kembali pak Penghulu memberi instruksi.
Fariz terlihat terkejut. Begitu juga Zafira. Refleks kepalanya terangkat, menatap pria yang ada di sampingnya. Sorot matanya seolah meminta supaya Fariz tidak melakukan apa yang diperintahkan pak Penghulu. Tetapi sayangnya, sang suami tidak mengerti dengan isyarat tatapan yang ditunjukkan sang istri.
Sedikit takut, pria itu dengan gerakan ragu-ragu menyentuh tengkuk Zafira, menundukkannya sedikit, lalu menempelkan bibir di kening gadis itu. Cukup lama.
"Deg"
Jantung Fariz kembali berdetak kencang. Iramanya menjadi tidak normal. Meskipun jantung itu berdetak sangat kencang, namun pria itu tampak begitu menikmati dan tidak ingin segera melepas kecupan di kening istri tercinta.
Namun keinginan Fariz tidak sama dengan keinginan sang istri. Tanpa disangka, tiba-tiba Zafira menarik kepalanya yang otomatis membuat kecupan Fariz terlepas. Fariz sempat terkejut dengan sikap Zafira yang seakan-akan memberi sinyal penolakan. Tetapi Fariz tidak tersinggung, pria itu justru menyunggingkan senyum sembari mengatur duduknya kembali.
Setelah beberapa menit menyelesaikan semua rangkaian prosesi akad nikah serta doa penutup, pak Penghulu serta para tamu segera menikmati hidangan yang telah disediakan di beberapa meja besar yang terdapat di sudut ruangan. Dan tak lama kemudian satu persatu tamu pun mulai meninggalkan kediaman Arga dan hanya tinggal keluarga inti yang tersisa.
Tampak Zafira meneteskan air mata dan berkali-kali menghapus buliran bening di wajahnya dengan tissue yang diberikan Fariz padanya. Entah, dia harus merasa bahagia, sedih, terharu atau menyesal dengan pernikahan ini. Dia juga tidak mengerti. Semua perasaan itu berbaur menjadi satu dalam hatinya membuat mata gadis itu tidak berhenti menangis.
Alluna yang masih berada di ruangan, ikut menyalami, memeluk Zafira serta mencium pipi pengantin cantik itu.
"Selamat ya Zafira. Semoga menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah dan Warahmah, Aamiin," ucap Alluna melepas pelukan, tersenyum hangat penuh keakraban.
Zafira sempat tertegun melihat tamu undangan yang baru pertama kali bertemu dan sama sekali tidak mengenalnya tetapi sudah menunjukkan sikap yang sangat hangat.
"Kamu?," raut Zafira tampak bingung. Dia ingin menanyakan identitas gadis yang baru saja memberinya selamat.
"Aku Alluna," jawab Alluna cepat, mencoba mengusir kebingungan di wajah pengantin wanita.
"Alluna," Zafira sedikit memutar mata mencoba mengingat, siapa gadis ini? Seingatnya, dia tidak memiliki teman SD, SMP, SMA, di kampus bahkan partner kerja yang bernama Alluna.
"Dia temanku," sambung Zafran yang dari tadi berdiri di samping Alluna.
__ADS_1
Pandangan Zafira mendadak teralih pada saudara kembarnya. Tampak alis gadis itu bertaut merasa semakin bingung.
"Oh, sejak kapan kamu mempunyai teman secantik ini? Biasanya kamu kemana-mana selalu sendiri," celetuk Zafira sedikit melupakan segala perasaan yang mengganggu hatinya, menatap penasaran pada Zafran, lalu berpindah kembali mengamati Alluna.
"Sejak pagi tadi," ucap Zafran penuh arti memandang Alluna yang sedari tadi tersenyum.
"Sejak pagi tadi?," Zafira semakin bingung mendengar kalimat Zafran. Namun Zafran diam saja, tidak menjawab pertanyaan sang adik. Dia menarik senyuman di sudut bibir melihat keingin-tahuan yang tergambar jelas di wajah Zafira.
Zafira memandangi Alluna dari atas rambut sampai ke ujung kaki. Gadis itu sangat mengagumi kecantikan Alluna. Mulai dari warna kulit yang putih, rambut yang terawat, postur tubuh pun sama tinggi dengan dirinya, bahkan cara berpakaian-nya pun sangat elegant walau tidak harus membuka aurat.
"Sangat cantik. Apakah dia kekasih Zafran? Sejak kapan?," fikir Zafira dalam hati, merasa kian penasaran.
Zafira menyukai gadis itu. Sepertinya Alluna gadis yang baik, tulus dan mudah berbaur dengan orang yang baru dikenalnya. Dan sebuah kabar gembira pastinya untuk keluarga besar mereka, jika Zafran dapat mempersunting gadis itu.
"Hai Zafira, selamat ya," beberapa orang teman sekampus Zafira datang menyerbu sang pengantin, memberi selamat dengan menyalami dan mencium pipi sang mempelai. Dan tak lupa mereka pun menyalami suami Zafira yang selalu setia berdiri di samping sang istri.
Melihat Zafira tengah sibuk bersalaman dengan para sahabat serta tamu yang hadir, Zafran langsung mengajak Alluna untuk memperkenalkannya pada orang tua
"Ayo ikut aku," ucapnya menyenggol sedikit bahu gadis itu dengan ujung jarinya.
"Mau kemana?," Alluna bertanya ragu.
"Ikut saja," ujar Zafran berjalan di depan Alluna. Gadis itu pun menurut.
Sesampai di tempat tujuan, Zafran langsung merangkul pundak seorang wanita cantik yang sedang sibuk mengobrol dengan para tamu serta keluarga.
"Ma," Zafran sedikit mencium bahu kanan sang mama.
Merasa terkejut dengan panggilan serta sentuhan seseorang di bahunya, wanita itu langsung memalingkan kepala menoleh ke samping kanan.
"Ada apa nak? Kamu manja sekali," mama Laras tersenyum menatap gemas sang anak.
"Zafran mau memperkenalkan mama dengan seseorang,"
Mata mama Laras membulat lalu memutar tubuh menghadap sang anak.
"Oh ya? Siapa gadis beruntung itu? Mama sudah lama menunggu kamu membawa seorang gadis dan memperkenalkan pada keluarga," ujar mama Laras dengan mata berbinar.
"Ini ma, namanya Alluna. Dia temanku," Fariz menggeser tubuh dan melangkah mendekati Alluna yang ada di belakangnya, lalu berdiri di samping gadis itu.
__ADS_1
Mama Laras segera memutar kepala mencari nama Alluna yang disebutkan Zafran.
...*******...