
Tubuh gadis itu masih bergetar, menahan segala perasaan yang nyaris menumbangkan pertahanan hatinya. Rasanya dia belum sanggup mendapat sentuhan bibir Fariz di bibirnya.
Mengapa Fariz ingin melakukannya secepat ini? Pertanyaan itu yang terus mengusik fikirannya. Baru saja dua hari mereka menjadi suami istri dadakan, Fariz telah berusaha menyentuh bagian-bagian terlarang di tubuhnya. Dan di tengah malam yang sunyi ini, pria itu berniat mencium bibirnya. Ini benar-benar di luar dugaan Zafira. Dia tidak pernah menyangka akan secepat ini.
Mengapa Fariz makin berani? Mungkin karena Zafira tidak memperlihatkan penolakan, membuat pria itu semakin bebas melakukan apa yang diinginkan hatinya. Fariz berfikiran, gadis itu telah memberi izin kepadanya untuk melakukan sesuatu yang lebih hangat, layaknya yang dilakukan pasangan pengantin baru yang dimabuk cinta.
Zafira pun tidak bisa menolak atau pun memarahi. Mengingat Fariz sekarang adalah suaminya, yang harus dilayani sebagaimana pelayanan seorang istri terhadap suaminya.
Bagaimana jika Zafira belum mau melakukannya? Apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin dia menolak keinginan Fariz dengan cara yang kasar. Jikalau dia ingin menolak, setidaknya harus mencari cara dan dengan sikap yang halus. Dia ingin menjaga hati sang pria, jangan sampai menyinggung perasaan apalagi sampai menyakiti hati suaminya. Dia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Tidak pernah terbersit niat di hatinya untuk melukai perasaan Fariz. Dulu saat bersahabat pun, dia selalu berusaha bersikap baik dan lembut kepada Fariz. Apalagi saat ini, Fariz bukan hanya sekedar sahabat baginya tetapi sudah menjadi suami. Sudah barang tentu, sikapnya harus jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Tetapi sepintar apapun Zafira mencari cara serta alasan, mencoba menghindari sentuhan Fariz, namun tidak di suatu hari nanti. Pertahanannya pasti akan bobol, karena dia tahu, pria di hadapannya itu tidak pernah menyerah dan selalu mencari celah untuk merayu dan meng-goal-kan gawangnya.
Zafira memiliki sebuah keinginan di suatu hari nanti. Saat dia benar-benar telah memiliki dan mengakui cinta terhadap pria itu, dia akan memberikan nafkah batin dan melayani Fariz dengan segenap hati untuk melayaninya di atas tempat tidur. Dari gelagat Fariz, dia sudah dapat menebak kalau pria itu sudah memiliki hasrat yang begitu besar kepada dirinya, yang tidak dapat dibendung lagi. Terbukti saat Fariz berbaring di pangkuannya. Sorot mata pria itu memancarkan hasrat yang dalam serta tangannya terus saja bermain menunjukkan jika gairahnya sudah di ujung batas.
Hal itulah yang membuat Zafira semakin bingung. Harus menghindar, takut Fariz marah dan terluka. Harus melayani, dirinya belum siap melakukannya. Dilema. Itulah yang terjadi dalam diri gadis itu.
Zafira terus memutar otak untuk mencari cara menghindari ciuman sang suami tetapi dengan sikap yang halus, jangan sampai membuatnya marah. Otak pintar Zafira langsung bekerja cepat. Dia sengaja terbatuk-batuk demi menghentikan hasrat Fariz.
"Uhuk, uhuk, uhuuuk," Zafira sedikit mencondongkan kepalanya ke belakang menjauhkan bibirnya dari bibir Fariz.
Tampak Fariz menghentikan gerakan. Spontan diam mematung. Alis hitamnya mengkerut menatap gadis di depannya. Hasratnya yang ingin mencium bibir Zafira seketika lenyap karena Zafira telah menjauhkan kepalanya. Pria itu tahu, batuk itu hanyalah alasan sang istri untuk menghindarinya.
"Iya, tubuhku pasti wangi. Kalau bau, itu kambing! Heran, di saat sakit pun masih saja genit. kamu tidak melihat? Aku kesusahan mengangkat tubuhmu. Berat sekali," gerutu Zafira berusaha mengalihkan perhatian Fariz dan segera melepas pegangan tangan di pundak pria itu.
Gadis itu bernafas lega, akhirnya bisa terlepas dari singa jantan yang kelaparan. Zafira sempat melihat gurat muka Fariz yang tampak berubah merah karena menahan hasrat yang sedang bergejolak.
Fariz membuang nafas kasar dan terpaksa melupakan niatnya, karena sang gadis telah beranjak dari kasur dan berjalan mengambil piring yang berisi sedikit nasi serta ayam goreng bumbu yang ada di meja.
Gadis itu kembali duduk di sisi tempat tidur, memegang piring di tangan kiri, sendok di tangan kanan.
"Ayo makan dulu. Perutmu harus diisi sebelum minum obat," Zafira menyuapi suaminya dengan satu sendok nasi dan suiran ayam goreng.
"Tapi aku malas makan. Perutku tidak lapar," tolak Fariz tidak mau membuka mulut. Dia merasa kesal karena terpaksa menghentikan ciumannya yang nyaris menempel di sasaran.
__ADS_1
"Fariz, jangan membantah. Tiga sendok saja. Tidak baik meminum obat dalam kondisi perut kosong. Nanti ada apa-apa dengan lambungmu," bujuk Zafira masih menyodorkan sendok ke mulut suaminya.
"Aku masih kenyang. Tadi kan sudah makan," Fariz memberi respon acuh. Hasratnya hampir terpenuhi tetapi gadis itu menghindarinya membuat suasana hatinya menjadi buruk.
"Tadi itu jam berapa? Habis Maghrib, jam tujuh. Sekarang kamu lihat jam berapa? Jam dua. Perutmu pasti sudah kosong lagi. Pokoknya jangan membantah. Kalau tidak, aku tidak akan mengurusimu lagi," Zafira meletakkan kembali sendok di piring, menghentikan pelayanannya untuk sang suami dan hendak beranjak.
Fariz terkejut melihat reaksi Zafira yang akan meninggalkannya.
"Jangan, jangan," ucap Fariz cepat yang mengurungkan niat Zafira mengangkat tubuh dari sisi ranjang.
"Baiklah, aku mau makan. Kalau kamu tidak mengurusiku, aku bisa mati," sambung pria itu jujur, raut mukanya dibayangi kecemasan. Cemas jika sang istri benar-benar meninggalkannya dan tidak ingin mengurusnya lagi.
Dia tidak dapat membayangkan jika Zafira benar-benar mewujudkan ucapannya tadi. Hidupnya pasti hancur harus kehilangan gadis itu. Dia telah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk mendapatkan gadis itu. Dia tidak sanggup harus kehilangannya. Baginya, Zafira adalah nyawanya. Cintanya. Dia tidak bisa hidup tanpa Zafira. Apapun yang diperintahkan dan diinginkan gadis itu, semampu mungkin akan dipenuhinya.
Tanpa diperintah, Fariz segera membuka mulut.
"Mana? Aku mau makan," ucapnya menganga, penuh semangat.
Zafira tersenyum mendengar keinginan Fariz untuk makan. Dan senyumannya semakin lebar melihat Fariz telah membuka mulutnya untuk disuapi makanan.
Fariz mengatupkan mulutnya kembali.
"Genit? Siapa yang genit? Aku tidak merasa seperti itu," pria itu meluruskan perkataan Zafira, berusaha membela diri.
"Oh tidak genit? Lantas, yang tadi itu apa?," Zafira urung memasukkan makanan di mulut Fariz karena masih sibuk berdebat.
"Tadi yang mana? Aku hanya ingin mencium istriku. Seumur hidup aku tidak pernah mencium seorang gadis pun. Baru kali ini aku ingin melakukannya, itu pun ditolak. Aku ingin mencium gadis yang aku cintai dan sudah sah bagiku, apa itu salah? Apa itu yang dikatakan genit?," sindir Fariz menusuk hingga ke sanubari sang gadis.
Zafira tertegun. Tak mampu menjawab. Tidak ada kalimat yang dapat dia ucapkan untuk mematahkan perkataan Fariz. Apa yang dikatakan Fariz semuanya benar. Dia tidak pantas dituduh pria genit jika ingin mencium istrinya sendiri.
Zafira pun masih terdiam mencerna kembali semua perkataan Fariz. Di balik diamnya gadis itu, ada gelombang indah menerpa lalu mengayunkan perasaan syahdu di relung hati. Gadis itu merasa bahagia mendengar kejujuran yang diungkapkan suaminya. Sekarang dia tahu, bahwa Fariz tidak pernah berciuman dengan gadis mana pun. Itu artinya Fariz dan dirinya sama. Belum pernah melakukan penyatuan bibir dengan gadis atau pria mana pun.
Tanpa Zafira sadari, hatinya saat ini berbunga-bunga dan merasa sangat bahagia, karena dirinya-lah menjadi gadis pertama yang akan mengambil first kiss Fariz. Dia tidak tahu, kapan dia akan melakukan penyatuan bibir dengan Fariz, namun yang jelas, dia merasa lega bibir Fariz tidak pernah tersentuh gadis mana pun.
__ADS_1
Cinta. Iya, gadis itu telah jatuh cinta pada suaminya. Meskipun dia belum menyadari semua, namun hati serta fikirannya mengatakan, ternyata ada cinta di hatinya untuk sang suami. Dia pun tidak dapat memungkiri, jika dia mulai mencintai pria itu. Zafira terus saja tersenyum tanpa menyadari jika pria di depannya menatap bingung padanya.
"Mengapa kamu tersenyum?,"
Zafira terkejut. Mengerjapkan mata berusaha membuang lamunannya.
"Oh, aku-aku tersenyum melihat rambutmu," Zafira tergagap sambil menunjuk ke arah rambut Fariz.
"Ada apa dengan rambutku?," sang suami langsung menyisir rambutnya dengan kelima jari. Dia tidak ingin terlihat kucel di mata Zafira.
"Sudah, sudah rapi. Kamu tidak perlu menyisirnya terus. Ayo makan sekarang. Buka mulutmu," sambung Zafira segera mengalihkan pembicaraan.
Fariz pun membuka mulut dan menerima suapan dari sang istri. Pria itu dengan cepat mengunyah makanannya. Dan hanya memerlukan beberapa menit, dia sudah menghabiskan tiga sendok nasi dan suiran ayam. Tetapi Zafira masih mengambilkan satu sendok lagi.
"Satu sendok lagi ya," Zafira membujuk dan meminta sang suami menghabiskan sedikit lagi sisa nasinya.
"Tidak mau. Aku sudah menghabiskan tiga sendok. Perutku sudah kenyang. Bukankah kamu tadi menyuruhku makan tiga sendok? Tapi mengapa menambah satu sendok lagi?," protes Fariz menolak, membuang muka.
"Setelah satu sendok ini, aku janji akan memberimu obat. Tapi sudahlah.., Kalau kamu tidak mau. Aku pergi ke kamar tamu saja. Aku mau tidur di sana. Enak lebih leluasa dan tidak sempit seperti di sini," gadis cantik itu pintar sekali mengancam, membuat prianya menurut.
Fariz yang tadi membuang muka, sontak mengalihkan pandangan kepada Zafira.
"Mana satu sendok lagi? Aku masih lapar," Fariz membuka mulut kembali dan Zafira tidak membuang waktu. Sambil tersenyum dia menyuapi nasi satu sendok serta suiran ayam. Pria itu pun dengan segera menghabiskan makanan di mulutnya.
Setelah Zafira selesai menyuapi makan dan memberinya obat, Fariz langsung membaringkan kembali tubuh karena dia ingin segera tidur agar rasa ngilu di kaki cepat berkurang.
Zafira menyelimuti tubuh Fariz. Setelah itu dia berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu'.
Lima belas menit berlalu, Zafira telah menyelesaikan shalat tahajjud. Gadis itu kembali naik ke ranjang. Dia melihat kelopak mata Fariz masih bergerak-gerak, menandakan kalau pria itu belum tidur.
"Mengapa kamu belum tidur?," tanya Zafira, masih dalam posisi duduk mengamati pria yang tidur terlentang.
"Mengapa masih bertanya? Kamu juga tahu, aku sedang sakit. Jadi susah tidur. Mau tidak kamu memelukku?," pertanyaan pria itu seketika menghantam isi kepala sang gadis.
__ADS_1
"Hah?" Zafira terbelalak. Mulutnya pun turut menganga demi mendengar permintaan Fariz yang membuat dadanya terasa mau pecah.
...*******...