Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
61 - MALAM PENGANTIN


__ADS_3

Sore hari, pukul 16:40.


Setelah menyelesaikan acara resepsi pernikahan, Fariz langsung memboyong Zafira ke rumahnya.


Lebih dari tiga puluh menit menempuh perjalanan dikarenakan terjebak macet di beberapa titik jalan, mereka pun sampai di tujuan. Seluruh keluarga dari kedua belah pihak ikut mengantar kedua pengantin menuju rumah yang akan mereka tempati.


Mobil kedua pengantin yang disusul beberapa mobil keluarga besar mereka, telah memasuki pekarangan rumah mewah milik suami Zafira.


Sebuah rumah yang tampak begitu cantik dan kokoh. Bercat putih dengan menampilkan batu alam hitam di beberapa sudut dinding rumah. Rumah itu sangatlah besar jika hanya dihuni untuk dua orang. Berlantai dua, memiliki lima kamar di atas dan empat kamar di bawah. Terdapat taman serta kolam renang. Memiliki pagar besi setinggi dua meter.


Laras dan Arga yang juga sudah mengetahui dari keterangan Zafran, bahwa Fariz telah memiliki rumah sendiri, merasa lega karena Zafira akan berada di rumah yang aman dan berada di tangan yang tepat. Hati kedua orang tua Zafira pun menjadi tenang melepaskan buah hati mereka untuk memulai hidup baru sebagai istri dari anak sahabat mereka sendiri.


Mengapa Fariz membeli rumah sebesar itu? Ada tujuannya. Kamar di lantai atas adalah kamar pribadinya dengan istri. Dua kamar tamu, disediakan khusus untuk kamar mama Laras dan papa Arga, satunya lagi khusus mama Tina dan papa Rico. Satu kamar lagi untuk Zafran. Dan satu kamar lagi untuk ruang kerja Fariz. Sementara oma Mayang akan ditempatkan di kamar bawah mengingat oma Mayang sudah tidak kuat lagi untuk menaiki tangga.


Fariz sudah memikirkan dengan matang untuk membeli rumah besar itu. Karena dia tahu, sewaktu-waktu orang tuanya beserta orang tua Zafira pasti akan berkunjung dan menginap bersama di rumah mereka. Mengingat mereka adalah sahabat, pasti akan sering menemui anak dan menantunya di waktu yang bersamaan.


Beruntung selama ini Fariz telah mempersiapkan semuanya. Dari jauh hari telah memperkerjakan bi Senah dan mang Karman sebagai penjaga dan membersihkan rumah.


Saat semua keluarga datang, rumah itu sudah dalam keadaan bersih, tertata rapi dan telah dihiasi dengan segala pernak pernik dekorasi pernikahan. Mulai dari kain dekorasi, lampion dan segala rupa bunga berwarna warni.


Kamar Fariz pun telah disulap menjadi sebuah kamar pengantin yang indah dan nyaman. Ada beberapa buah lilin diletakkan di setiap sudut ruangan. Tak lupa taburan kelopak bunga mawar merah telah disebar di atas ranjang berukuran king size itu. Harum wewangian aroma bunga menyebar di seluruh ruangan, membuat siapa pun yang berada di dalamnya pasti akan merasa betah dan nyaman berlama-lama di kamar itu.

__ADS_1


Ide siapa yang telah menghiasi kamar pengantin serta rumah Fariz? Tidak lain adalah Zafran. Dari subuh hingga sore, pria itu terlihat sibuk mengurus segala sesuatu, tanpa ada kata lelah apalagi mengeluh.


Setelah selesai akad nikah Zafira dan Fariz, Zafran pun tidak tinggal diam, langsung meminta bantuan Wedding Organizer yang bertanggung jawab mendekorasi rumah orang tua Zafira supaya segera menghias rumah Fariz. Zafran meminta pukul tiga sore rumah itu sudah harus selesai didekorasi dikarenakan kedua pengantin akan langsung menuju ke rumah itu. Dan dengan cekatan, petugas dari Wedding Organizer mengerjakan semua permintaan Zafran, yang tentunya dikerjakan oleh hampir sepuluh orang.


Hasilnya seperti yang terlihat, rumah Fariz berubah menjadi rumah pengantin dadakan yang tampak begitu indah dipandang mata.


Saat pertama kali melangkahkan kaki di rumah itu, Zafira sempat tercengang dengan kemegahan rumah berlantai dua yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Ada rasa penasaran terbit di benaknya, rumah siapakah yang sekarang dia masuki? Apakah rumah sang mertua, Rico atau rumah sang suami, Fariz? Namun karena suasana hatinya yang masih buruk, dia pun enggan bertanya. Hanya hatinya sempat membatin jikalau rumah ini sangatlah cantik dan megah.


Pukul 20:00.


Semua keluarga pun telah mengundurkan diri, karena mereka juga ingin memberikan waktu untuk kedua pengantin supaya lekas beristirahat dan menikmati malam pengantin.


Fariz telah terlebih dahulu mandi. Membersihkan seluruh badan dan memberi shampoo pada rambut tebalnya. Ini adalah malam pertama dia akan tidur bersama seorang gadis, yang mana gadis itu adalah sosok yang selama ini begitu didamba dan selalu diimpikannya menjadi istri. Selama ini, jangankan tidur dengan seorang gadis, membuka mata untuk gadis lain pun tidak pernah dilakukannya, selain terhadap Zafira.


Kini tubuh pria itu sudah lebih fresh dibanding sebelum mandi. Rambutnya pun sudah disisir rapi. Parfum mahal pun sudah disemprotkan di beberapa bagian tubuh. Dia ingin tampil wangi dan menarik di hadapan sang istri, siapa tahu dengan melihat ketampanan serta mencium wangi tubuhnya, hati Zafira menjadi luluh dan berubah mencintainya.


Pria itu duduk di pinggir tempat tidur menunggu sang istri yang masih berada di dalam kamar mandi. Dia juga telah memakai piyama putih kotak-kotak lengan pendek dan celana panjang. Tanpa melakukan apa-apa, tidak bermain ponsel, pria itu duduk menunggu Zafira menyelesaikan mandinya. Sepertinya Fariz sudah tidak sabar melihat sang istri masuk ke dalam kamar dan mengajaknya berbincang-bincang sebelum tidur.


Betapa bahagia hati Fariz saat ini. Mulai malam ini, dia bisa melihat wajah Zafira setiap hari. Dan malam harinya bisa tidur bersama gadis itu di atas tempat tidur yang sama. Selama ini dia selalu berkhayal Zafira bisa tidur di ranjang ini bersama dirinya, tetapi malam ini khayalan itu menjadi sebuah kenyataan bukan hanya sekedar angan atau mimpi.


"Tik, Tik, Tik"

__ADS_1


Jarum jam terus berputar. Sudah hampir tiga puluh menit Fariz menunggu Zafira keluar dari kamar mandi tetapi lama sekali. Gadis itu belum muncul juga di depan pintu. Fariz merubah posisi duduk, yang tadinya kedua kaki terjulur ke bawah, kini menarik kakinya ke atas kasur dan melipatnya. Tubuhnya disandarkan di kepala ranjang tetapi tetap duduk di pinggir ranjang, tidak beringsut ke tengah.


Beberapa menit kemudian. Suara pintu dibuka.


"Ceklek"


Pintu kamar mandi terbuka. Zafira keluar dari dalamnya dengan memegang handuk di tangan kanan. Memakai daster merah sebatas lutut. Rambut panjangnya terlihat basah. Rambut itu jatuh terurai ke pinggang dan sebagian lagi menutupi depan dadanya.


Ternyata dia sengaja membawa daster ke kamar mandi dan menggantinya di dalam. Karena tidak mungkin dia keluar hanya memakai handuk, memperlihatkan kulit tubuhnya yang mulus, sementara ada Fariz di dalam kamar. Dia masih merasa canggung melakukan semua itu. Apalagi sampai harus membuka pakaian di depan sahabatnya itu, mengekspos lekukan tubuhnya, rasanya dia belum siap melakukan semua itu. Karena ini adalah pengalaman pertamanya berada satu kamar dengan seorang pria, membuatnya jadi merasa risih dan canggung.


Wajah Zafira terlihat sangat segar setelah dibasuh dengan guyuran air. Tidak meninggalkan setitik maxe up pun di wajah putih dan mulus itu, semakin memancarkan raut alami dan cantik yang natural. Persis seperti sang mama, Laras, yang tetap terlihat cantik meski tanpa maxe up sekali pun.


Fariz tertegun melihat ke arah pintu kamar mandi. Kedua manik matanya menatap takjub gadis cantik di depannya tanpa berkedip. Hatinya terasa berdesir melihat wujud asli Zafira keluar dari kamar mandi dalam keadaan memakai daster serta dengan rambut basahnya. Ternyata Zafira secantik ini setelah mandi. Mukanya bercahaya dan bersih. Pria itu merasa Zafira terlihat lebih cantik tanpa memakai maxe up, terlihat alami dan tampil apa adanya.


Zafira berjalan tanpa melihat ke arah Fariz. Dia tidak tahu jika sang suami terus menghunuskan kedua mata pada dirinya. Zafira duduk di kursi, di depan meja rias sambil mulai mengusap pelan rambut basahnya menggunakan handuk. Gadis itu terus mengeringkan rambutnya sambil memikirkan sesuatu. Perabotan di kamar ini sangatlah lengkap. Ada sofa beserta meja, lemari pakaian besar, meja rias, dua meja kecil yang ditaruh masing-masing di samping ranjang, lemari es mini, televisi besar, AC, sampai laundry bag untuk pakaian kotor pun telah tersedia di kamar ini.


Dia berfikir, sejak kapan kamar ini diisi dengan perabotan selengkap ini? Sebenarnya ini rumah siapa? Tetapi sang gadis masih enggan menanyakan hal ini kepada Fariz dan lebih memilih menyimpan semua pertanyaan itu di dalam hati.


Gadis itu melirik dari pantulan kaca, terlihat Fariz duduk di pinggir ranjang sambil menyandarkan tubuh di kepala ranjang, sedang menatap dirinya. Gadis itu tidak mempedulikannya. Dia ingin segera tidur dan beristirahat. Tubuh, hati, fikirannya terasa sangat lelah. Dia ingin segera membawa semua lelah itu ke dalam tidur. Siapa tahu besok hati, fikiran serta tubuhnya dapat sedikit tenang dan rileks.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2