Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
71 - BERDEBAR


__ADS_3

Lagi dan lagi, senyuman kembali terlukis di bibir pria itu memandangi punggung istrinya yang telah menghilang di balik pintu kamar.


Rasanya udara segar sudah mulai memasuki kehidupan rumah tangga mereka. Zafira telah terlihat mulai merubah sikap. Mulai dari membangunkan tidur di setiap pagi hari. Mengajaknya untuk shalat berjama'ah bahkan sudah menempatkan diri sebagai istri dengan mencium tangannya. Bukan hanya itu, sekarang gadis itu pun berniat memasakkan sarapan untuk dirinya. Ternyata menikah itu begitu indah. Memiliki istri yang baik, cantik dan bersedia mengurusnya dalam setiap hal. Fariz tersenyum lebar sambil memutar-mutar matanya ke atas dan ke bawah. Entah, mengapa dia jadi bertingkah seperti itu?


"Yeess! Yeess!," Fariz tiba-tiba saja melompat ke atas kasur lalu berguling-gulingan di sana. Ke kiri dan ke kanan tanpa melihat keadaan sekitarnya.


Pria itu jungkir balik kesana kemari semaunya. Berlompatan dan bergulingan persis anak kecil. Kemudian menghempaskan tubuh di kasur berulang kali, sehingga terlihat tubuhnya ikut terpental ke atas di kasur empuk itu. Meluapkan suasana hatinya yang sedang bahagia dan berbunga-bunga. Untung saja ranjang itu seharga puluhan juta. Jika tidak, dapat dipastikan akan roboh menopang badan besar itu, ditambah lagi dengan gerakan berloncatan dan bergulingan yang dilakukannya.


"Ada apa denganmu?," sebuah suara menyentakkan pendengaran Fariz, membuat aksinya sontak terhenti. Pria itu secepat kilat menoleh ke arah datangnya sumber suara.


Mata Fariz membulat. Betapa terkejutnya pria itu saat mengetahui sang istri telah berdiri di pinggir ranjang dengan muka bengong, mulutnya sedikit terbuka menyaksikan tingkah aneh dirinya. Bola mata Zafira sedang menilik penuh kebingungan melihat aksi yang baru saja dilakukan suaminya.


Fariz yang masih dengan posisi berbaring, segera mengangkat tubuh dan memposisikan duduk. Tangannya segera merapikan rambut yang tampak acak-acakan. Dengan wajah yang memerah, dia terus berpura-pura merapikan rambut itu dengan kepala tertunduk, menyembunyikan dari tatapan sang istri perubahan warna di raut mukanya.


"Kamu? Bukankah tadi kamu sudah keluar?," tanya Fariz melirik sebentar ke arah Zafira, kemudian membuang pandangan sambil mengusap tengkuk tak berani menatap mata Zafira yang terus terhunus menyimpan pertanyaan.


"Aku mau mengambil ikat rambutku ketinggalan di atas meja. Aku tidak bebas memasak jika rambutku tidak dikuncir. Kamu sendiri? Apa yang baru saja kamu lakukan di tempat tidur?," tanyanya sambil menyipitkan kedua mata merasa bingung melihat kelakuan Fariz yang benar-benar aneh di matanya.


Pria itu tampak masih mengatur nafas karena sedikit kelelahan setelah berjungkir balik, ditambah perasaannya merasa terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Zafira, yang tadi difikirnya telah pergi ke dapur.


Zafira masih menunggu jawaban sang suami. Dia melihat sendiri bagaimana pria itu melompat ke ranjang lalu jungkir balik di atas tempat tidur seperti anak kecil.


"Tidak ada. Aku hanya olahraga mengendurkan otot-ototku yang sedikit kaku," Fariz merenggangkan tangan ke depan lalu menggerakkan ke samping kiri dan kanan.


Zafira merasa bingung dengan jawaban Fariz. Tidak masuk akal. Tetapi dia tidak terlalu memikirkannya.


"Kalau mau olahraga mengendurkan otot jangan di tempat tidur. Cari tempat lain," gerutu Zafira mengerucutkan mulut sambil sedikit mendelik pada suaminya. Fariz hanya duduk terdiam melihat delikan mata sang istri.


Gadis itu melangkah ke meja mengambil ikat rambut. Sambil berjalan, dia menguncir rambutnya dengan sembarang. Kemudian tanpa menoleh sedikit pun pada pria di atas tempat tidur, berjalan kembali ke arah pintu, meninggalkan sang suami yang masih duduk seperti orang bodoh.


Fariz menghembuskan nafas dari mulut, merasa bodoh dengan sikapnya sendiri. Dia yakin, Zafira pasti melihat kelakuannya tadi.

__ADS_1


Zafira telah berada di dapur bersama bi Senah. Mereka sudah mulai memasak. Pagi ini, gadis itu mempraktekkan resep dari sang mama, memasak spaghetti dengan daging giling. Selama memasak, majikan serta pelayan itu tidak putus berbincang santai dan sesekali terlihat tertawa.


Kemarin, saat mendengar kabar dari Zafran bahwa Fariz akan segera menikah dan membawa istrinya ke rumah ini, bi Senah langsung pergi ke Supermarket terdekat membeli berbagai macam bahan makanan. Ayam, daging giling, seafood, buah, roti, mie, dan kebutuhan dapur lainnya, yang tak lain atas permintaan Zafran, yang tentunya telah memberi uang terlebih dahulu kepada bi Senah.


Selama berbelanja, fikiran bi Senah tak lepas dari calon istri Fariz. Dia sangat penasaran dengan calon majikan barunya itu. Hatinya merasa was-was memikirkan tentang siapa calon penghuni baru yang akan tinggal di rumah Fariz. Dia takut jika calon istri Fariz bermulut pedas dan tinggi hati. Tetapi apa yang menjadi fikiran serta ketakutannya berbanding terbalik dengan kenyataan. Penghuni baru itu sangatlah baik dan rendah hati. Baru satu hari bertemu, mereka sudah langsung akrab. Zafira tidak membatasi jarak antara dirinya dengan sang pelayan.


Hati bi Senah tidak berhenti bersyukur telah mendapatkan dua majikan yang begitu baik dan tidak pernah memandang statusnya yang hanya orang kampung, datang ke kota Jakarta dengan tujuan mengais rezeki recehan.


Tiga puluh menit lebih Zafira dan bi Senah berkutat di dapur. Akhirnya spaghetti buatan gadis cantik berhidung mancung itu telah siap dihidangkan dan disantap sang suami. Tidak lupa, Zafira memasak lebih untuk bi Senah dan mang Karman.


Setelah menata seluruh sarapan di atas meja makan, Zafira pun pergi ke kamar untuk membersihkan badan dari bau bumbu yang menempel di daster.


"Ceklek"


Zafira memutar handle pintu dan segera masuk dengan langkah cepat.


Mata Zafira terbelalak lebar. Mata Fariz pun tidak kalah membelalak.


"Aakkh," Fariz pun tampak terkejut dan langsung berbalik, menutupi tubuh dengan handuk.


Apa yang dilakukan Fariz? Dia dengan santai bertelanjang mengeringkan tetes-tetes air yang masih menempel di tubuh serta rambutnya. Saat tengah asyik mengeringkan di setiap inci tubuh selesai mandi, tiba-tiba Zafira masuk dan Fariz tidak menyadari kalau sang istri masuk tanpa mengeluarkan suara apapun.


Zafira membuka pelan tangan yang menutupi mata lalu dengan muka memerah dia menatap Fariz yang telah kembali memakai handuk dengan membelakanginya. Zafira hanya bisa melihat punggung pria itu yang memperlihatkan bentuk sayap-sayap yang tampak indah di matanya.


Untuk sesaat Zafira terpana melihat sayap-sayap indah yang terlihat di bagian bahu sang suami. Selain keindahan itu, kulit Fariz pun terlihat bersih dan putih. Gadis itu menelan saliva sambil tetap menatap pemandangan di depannya. Meskipun puluhan tahun dia bersahabat dengan pria itu, baru kali ini dia melihat bagian tubuh Fariz setelah mereka dewasa. Saat masih remaja, hanya sesekali Zafira melihat Fariz tidak mengenakan baju saat bermain di rumah mereka. Itu pun tidak bertelanjang dada, masih menggunakan singlet.


"Kamu sengaja ya?," Zafira membuang pandangan ke samping. Berpura-pura tidak ingin melihat padahal matanya tadi sudah cukup puas memandangi aurat indah suaminya yang selama ini belum pernah tersentuh matanya.


Zafira masih beruntung karena matanya tidak sempat melihat aurat bagian bawah milik Fariz, sehingga dia tidak mengetahui berapa besar ukuran benda pusaka milik sang suami. Masalah itu, tunggu nanti saja, saat Zafira benar-benar telah siap melihat dan disentuh oleh benda itu.


"Kamu yang masuk tiba-tiba tanpa suara. Harusnya mengetuk pintu dulu," ujar Fariz berjalan menuju lemari, mengambil baju serta celana di sana. Dia melirik ke arah sang istri yang masih membuang muka ke samping. Dengan cekatan, Fariz segera memasang seluruh pakaiannya.

__ADS_1


"Ini kan kamarku. Jadi untuk apa aku harus mengetuk pintu? Kamu seharusnya jangan seperti itu kalau mau mengeringkan tubuh," Zafira masih seperti biasa. Setiap kali berdebat selalu tidak mau mengalah dari sahabatnya itu, yang saat ini bukan hanya sahabat baginya tetapi telah menjadi suami.


"Lantas bagaimana? Haruskah aku meminta bantuanmu untuk mengeringkan tubuhku?," pria itu memutar balik badannya ke arah Zafira setelah selesai mengenakan pakaiannya.


"Iih tidak mau! Sudah, pergi sana ke dapur! Aku sudah menyiapkanmu sarapan. Aku mau mandi dulu," Zafira mengambil baju di dalam koper lalu membawanya ke kamar mandi.


Satu koper baju telah disiapkan mama Laras. Sang mama yang telah menyusun dan memasukkan baju anak gadisnya ke dalam koper itu setelah prosesi akad nikah selesai dilaksanakan. Sang mama juga yang telah menaruh semua peralatan mandi, bedak, lipstik, parfum, sampai ikat rambut pun tidak ketinggalan dimasukkan ke dalam koper. Perihal memperhatikan, mengurus, melayani serta menyenangkan hati suami serta anak-anaknya, mama Laras adalah ahlinya. Selama dia bersuami bahkan melahirkan dua buah hatinya, tidak satu kali pun dia gagal mengurus serta melayani ketiga orang yang sangat dicintainya itu, termasuk oma Mayang. Sampai detik ini pun, oma Mayang tetap menjadi salah satu seseorang yang diprioritaskannya untuk dijaga serta dilayaninya dengan segenap hati dan jiwa.


Sepuluh menit kemudian, Zafira mengintip dari pintu kamar mandi, memastikan tidak ada Fariz. Rupanya salah. Pria itu masih setia menunggunya di dalam kamar. Duduk di bibir ranjang sambil memainkan ponsel.


Zafira berdecak. Merasa bingung, mengapa Fariz masih di sini?


"Mengapa kamu belum ke dapur?," tanya Zafira setelah keluar dari kamar mandi.


Fariz melepaskan pandangan dari ponsel, menoleh pada Zafira yang telah berdiri tiga meter dari tempatnya duduk.


Fariz terpesona melihat gadis cantik memakai dress selutut berwarna biru muda. Pria itu mendadak meneguk saliva dengan kasar saat mendapati Zafira dengan rambut basahnya yang sudah menjadi candu baginya. Rasanya dia ingin sekali memeluk dan menciumi gadis itu sepuasnya. Pria itu benar-benar merasa terhipnotis setiap kali melihat Zafira selesai mandi dan membasahi rambut panjangnya.


"Aroma wanginya belum pergi ke dapur, jadi kecoanya masih menunggu di sini," goda Fariz meraba meja di samping ranjang tanpa menggunakan mata, meletakkan ponsel di atasnya. Tangan bergerak tetapi matanya masih terfokus pada wajah cantik di depannya.


"Kamu selalu terlihat cantik setiap kali selesai mandi," puji pria itu jujur dengan sorot mata melukiskan kekaguman.


"Dasar gombal," cibir Zafira tidak memperdulikan pujian Fariz.


"Siapa yang gombal? Kenyataannya seperti itu. Kamu benar-benar cantik dan aku tidak berhenti mengagumimu. Dari kecil sampai saat ini," sang suami berkata dengan sangat jujur.


Hati Zafira tiba-tiba berdetak mendengar kejujuran yang diungkapkan Fariz tetapi dia berusaha menahan diri agar tidak terbawa suasana dan menjadi tergoda dengan rayuan sang suami. Meskipun sebenarnya hatinya tidak dapat berbohong, ucapan Fariz membuat hatinya menjadi berdebar. Debaran halus itu tanpa diminta muncul begitu saja.


Demi menghindari pembicaraan yang akan membuat hatinya semakin berdebar, gadis itu pun segera mengajak Fariz untuk pergi ke dapur.


"Kamu masih mau tetap di sini? Apa kamu tidak lapar? Ayo kita sarapan," ajak Zafira sambil melangkah menuju pintu. Fariz segera beranjak dari bibir ranjang dan berjalan mengikuti langkah sang istri.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2