
Zafira menaruh kedua gelas air putih di atas meja. Menarik kursi lalu duduk, yang disusul Fariz duduk di kursi bersebelahan dengannya.
Gadis itu menyodorkan gelas berisi air putih ke hadapan Fariz.
Setelah membaca doa sejenak di hati, keduanya pun meminum air putih, menghabiskan isi di dalam gelas masing-masing.
Zafira segera berdiri dari kursi.
"Mau kemana?," Fariz ikut berdiri.
"Kalau kelamaan duduk di sini, nanti waktu subuh keburu habis," Zafira bergegas berjalan ke kamar. Tanpa diajak, pria itu tetap saja mengekor di belakang, bagai anak ayam mengekor induknya.
Setelah menyelesaikan ibadah dua raka'at, keduanya pun seperti kebiasaan masing-masing, menengadahkan tangan memanjatkan doa yang ada di hati masing-masing.
Baik Zafira maupun Fariz, sama-sama mengangkat kedua tangan, memejamkan mata dan meminta sesuatu kepada Yang Maha Kuasa untuk rumah tangga yang baru satu hari mereka jalani. Dimana rumah tangga ini bukanlah seperti rumah tangga pada umumnya, melainkan rumah tangga kilat yang harus mereka terima dengan ikhlas, terutama untuk diri Zafira.
"Ya Allah, bantu hamba untuk segera menerima pernikahan ini. Berikan kesabaran untuk suami hamba agar bisa menunggu beberapa waktu lagi. Dia pria yang baik dan hamba tidak ingin mengecewakannya. Aamiin," sebuah doa dipanjatkan Zafira untuk suaminya.
"Ya Allah, hamba sangat mencintai istri hamba. Permudah jalan kami untuk menjalankan pernikahan ini dan berikan ridho-MU untuk rumah tangga kami, Aamiin," Fariz berbisik di dalam hati, memanjatkan sebuah doa untuk sang istri.
Beberapa menit berselang, Fariz memutar tubuh ke belakang, menghadap istrinya. Tampak gadis yang wajahnya dibalut mukena baru saja menyelesaikan doanya.
"Terima kasih, sudah bersedia shalat berjama'ah denganku," ucap Fariz mengulurkan tangan kanan kepada sang istri.
__ADS_1
Zafira tercenung menatap uluran tangan pria itu. Ingatannya tiba-tiba kembali terbang pada kejadian kemarin pada saat prosesi akad nikah. Pak Penghulu menyuruhnya mencium tangan Fariz tetapi karena saat itu dia tengah terhanyut dalam lamunan, hingga mengabaikan instruksi pak penghulu.
Menit ini, dia kembali melihat uluran tangan Fariz untuk yang kedua kali setelah Ijab Qabul kemarin. Saat melihat uluran tangan Fariz, otak Zafira bekerja lebih cepat dan spontan memikirkan sesuatu yang terjadi kemarin. Bagaimana perasaan Fariz saat melihat sikapnya yang kemarin? Tidak segera menerima, menyambut dan mencium tangannya? Bahkan sengaja melepaskan kecupan Fariz yang saat itu masih menempel di keningnya, seakan-akan memberi kesan penolakan.
Sakit hati-kah dia? Kecewa-kah dia? Terluka-kah dia dengan sikapnya kemarin? Dari awal prosesi akad dimulai sampai selesai, Zafira sama sekali tidak mengikuti dengan khusyuk jalannya prosesi akad nikah tersebut. Itu merupakan bukti bahwa dirinya tidak menghargai acara sakral tersebut. Ditambah lagi pada saat resepsi pernikahan, Zafira tidak meng-indahkan kehadiran Fariz di sana. Berulang kali pria itu mengajaknya berbicara namun tak dihiraukannya. Fariz pasti sangat kecewa dengan semua sikapnya itu. Terlebih perlakuannya di malam pengantin, menyuruh pria itu tidur di sofa, pasti sangat mengecewakan hatinya. Tetapi hingga malam berlalu dan pagi pun menjemput, sikap suaminya tetap sama, tidak berubah sedikit pun padanya. Fariz tidak tersinggung apalagi marah dengan segala sikapnya itu. Sungguh luas hati pria itu. Atau mungkinkah perasaan sakitnya itu hanya dipendamnya dalam hati?
Kembali perasaan bersalah menyerang gadis itu. Jika ingin mengikuti hatinya, dia tidak ingin menyakiti Fariz. Tetapi apa yang dilakukannya kemarin saat ijab Qabul dan resepsi, itu dikarenakan hatinya masih terluka, bingung dan belum sepenuhnya menerima semua peristiwa menyakitkan yang bertubi-tubi menghampirinya. Namun hari ini, perasaan terluka itu mulai sedikit berkurang dan dia telah berangsur-angsur bisa menerima semua takdir yang telah digariskan padanya.
Fariz melihat Zafira hanya diam saja. Tidak ada pergerakan apapun yang ditunjukkan gadis itu. Zafira masih tercenung serta terdiam seribu bahasa, tanpa berniat menyambut uluran tangannya.
Dia bisa menarik kesimpulan, jika sang istri tidak bersedia mencium tangannya, sama halnya yang terjadi pada saat akad nikah kemarin. Tergambar jelas, raut muka kecewa dan sedih di wajah pria itu, tetapi dia masih berusaha menutupi kekecewaannya dengan memaksakan menarik sebuah senyuman di bibir.
"Baiklah, shalatnya sudah selesai," Fariz menarik kembali tangannya yang sedari tadi terulur di depan Zafira tetapi tidak direspon sedikit pun oleh sang istri.
Fariz melirik tangan Zafira yang telah bertaut erat, menggenggam tangannya, menahan keinginannya untuk berdiri. Dia pun terpaksa mengurungkan niat untuk berdiri lalu duduk kembali.
Mereka berpandangan. Mata keduanya saling bertatapan tanpa kata. Keduanya duduk berhadapan dengan mulut terkunci. Degup jantung Fariz masih seperti biasa. Mulai bertingkah aneh dan memalukan. Mulai terasa bergetar tak menentu.
Zafira perlahan-lahan menarik tangan Fariz kemudian membawanya ke ujung hidung dan bibir lalu mencium punggung tangan pria itu dengan lembut. Hanya sekilas. Itu dilakukan Zafira dengan begitu cepat. Tetapi cukup membuat Fariz merasa sangat tersentuh dan tercekat. Tidak ada kata yang terucap dari mulut Zafira. Dia merasa masih canggung melakukan itu. Pria yang selama ini hanya dianggap tidak lebih dari sekedar sahabat, kini berbalik arah menjadi suaminya, yang harus selalu dia hargai dan layani dengan sepenuh hati.
Fariz tak dapat berkata-kata. Matanya tak berkedip sedetik pun menatap Zafira. Hatinya pun merasa tidak percaya mendapati sikap istrinya yang mulai menunjukkan perubahan. Perasaannya kembali berbunga-bunga. Rasa cinta kian bermekaran, tumbuh subur di dalam hati. Bertambah satu lagi sikap Zafira yang menunjukkan bahwa dirinya mulai belajar menerima pernikahan mereka. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki. Begitulah yang kini terbersit di fikiran pria itu. Mungkin selama ini Zafira tidak menaruh cinta sedikit pun padanya, bisa jadi setelah ini, hati gadis itu akan terbuka selebar-lebarnya untuk dirinya. Keajaiban itu ada. Fariz percaya itu.
Zafira menjadi kikuk setelah mencium tangan Fariz. Dia tidak pernah menduga, kalau pada akhirnya, dirinya akan mencium tangan sahabatnya sendiri sebagai suaminya. Jika tidak mengenakan mukena, kemungkinan saja rona merah yang telah muncul di wajah bahkan menyebar sampai ke leher Zafira akan tampak jelas di mata Fariz.
__ADS_1
Mengapa gadis itu merasa menjadi sangat canggung berhadapan dengan Fariz di atas sajadah dan mencium tangan sahabat yang telah menjadi suaminya itu?
Hal yang belum pernah dilakukannya selama mengenal Fariz, subuh ini harus dilakukannya. Shalat berjama'ah, bahkan harus menundukkan kepala mencium tangan pria itu. Perasaannya menjadi campur aduk, antara canggung, malu, gugup, entah apalah itu. Berbagai macam perasaan mengaduk-aduk hatinya. Bahkan perasaan itu menjadi kian besar, sejak kejadian di sofa tadi. Apalagi beberapa menit lalu dia sudah mencium tangan suaminya atas kemauannya sendiri tanpa terpaksa apalagi dipaksa.
Di atas sajadah ini, dia telah menundukkan kepala kepada sahabatnya sendiri, yang selama ini selalu mengharapkan dirinya dan tidak pernah menyerah menanti balasan cinta darinya.
Zafira tidak bisa menunggu lebih lama lagi berada di atas sajadah berhadapan dengan Fariz. Dia semakin tidak bisa menutupi rasa malu. Demi menyembunyikan perasaan canggung serta malu yang kian menyeruak dalam dirinya, dia pun langsung beranjak dari atas sajadah. Meninggalkan Fariz yang masih duduk terbengong menatapnya. Dia melipat sajadah serta mukena.
Tak lama Zafira berjalan dengan muka sedikit tertunduk menghampiri Fariz yang tetap duduk termangu melihat sang istri yang telah melepaskan mukena.
"Sajadahmu? Aku akan melipatnya," gadis itu berdiri menunggu di samping pria yang sedang terdongak ke arahnya.
Fariz yang terdongak menjadi kian terdongak menatap Zafira, yang menawarkan bantuan kecil padanya. Semakin lama, Fariz semakin merasa begitu beruntung bisa memiliki istri. Terlebih istri itu adalah Zafira. Sosok yang sangat diimpikan sepanjang hidupnya. Ternyata tinggal satu rumah dengan orang yang kita cinta, jauh lebih membahagiakan daripada harus tinggal sendirian meskipun bergelimang harta sekalipun. Jabatan tinggi, mobil mewah, atau pun rumah megah belum cukup membuat bahagia, tanpa kehadiran seseorang yang kita cintai di dalam rumah.
"Fariz?," panggil Zafira setelah beberapa saat menunggu tidak ada jawaban dari pria yang duduk di atas sajadah.
Fariz tersadar dan langsung mengangkat tubuh. Berdiri.
"Biar aku saja yang melipatnya," ujarnya menarik lalu melipat sajadahnya.
"Baiklah, aku ke dapur dulu, mau membuatkan sarapan untukmu," tanpa menunggu jawaban sang suami, Zafira langsung berbalik, berjalan menuju pintu.
...*******...
__ADS_1