Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
60 - BANTU AKU


__ADS_3

Dan tampaklah seorang gadis mengenakan dress pink soft, berdiri di samping Zafran. Gadis itu tersenyum menganggukkan kepala kepada mama Laras. Melangkah maju dan mendekatinya, lalu mencium punggung tangan wanita cantik itu.


"Masya Allah, cantik sekali temannya Zafran," puji mama Laras tersenyum kagum, sambil menyentuh pelan kepala sang gadis.


Merasa disanjung, sang gadis pun menjadi tersipu.


"Tante juga sangat cantik," Alluna pun memuji dengan jujur.


Mama Laras masih dengan senyum hangatnya. Matanya kian berbinar mengamati gadis cantik itu. Hatinya merasa senang sang putra memiliki teman seorang gadis cantik. Dia menatap Alluna dari ujung rambut hingga berakhir pada sandal heels yang dipakai sang gadis. Sederhana tetapi sangat menawan.


"Nama tante, Laras. Kamu cantik sekali nak. Kalau boleh tahu, kalian kenal dimana? Mengapa tante tidak pernah melihat Zafran mengajakmu main ke rumah?," Mama Laras bertanya sambil terus menatap gadis cantik di depannya.


"Oohh, itu tante.., Hmm, tadi Alluna tidak sengaja hampir menabrak Zafran karena Zafran berlarian di tengah jalan. Kita pun berkenalan. Dan Zafran meminta bantuan Alluna menjemput Fariz di rumahnya dan mengantarkannya kemari," tutur gadis itu singkat, padat dan jelas.


"Astaghfirullah, untung tidak sampai tertabrak..," wanita cantik itu sempat terkejut mendengar penjelasan Alluna.


Manik mata mama Laras bergerak, tertuju pada anak tampannya yang nyengir kuda di samping Alluna. Sepertinya sang putra terlihat sangat bahagia berada di dekat Alluna.


Wanita itu tahu, jika sang anak sudah memutuskan untuk mengajak seorang gadis datang ke rumah dan memperkenalkannya kepada keluarga, itu adalah jawaban kalau sang anak menyukai gadis itu.


"Ternyata baru tadi pagi kalian bertemu. Tante fikir sudah lama. Tante senang berkenalan denganmu. Semoga kamu juga senang berteman dengan anak tante," sambung mama Laras kembali seraya mengusap-usap lengan kiri sang gadis.


"Terima kasih tante. Alluna juga senang bisa berkenalan dengan tante. Hmm, dan-dan juga Zafran," balas Alluna sambil melirik sekilas pria tampan di sampingnya.


Zafran pun tersenyum senang. Ada kelegaan tersendiri di hatinya mendengar perkataan Alluna. Jika Alluna merasa senang berkenalan dengan dirinya, itu tandanya jalan mulus sudah menanti di depan mata untuk lebih mengenal dan dekat dengan gadis itu.


Alluna masih menatap mama Laras dengan perasaan kagum. Hatinya merasa nyaman berada di samping wanita itu dengan sikapnya yang baik dan hangat.


"Tante Laras sangat baik dan lembut. Meskipun cantik dan banyak harta tapi sikapnya tetap ramah dan hangat. Betapa beruntungnya kalau aku bisa mendapatkan mertua seperti tante Laras," Alluna tiba-tiba saja mengkhayalkan sesuatu yang tidak-tidak tentang wanita cantik di depannya, sambil tersenyum dalam hati.

__ADS_1


Kegilaan mulai tercipta kembali di benak gadis itu. Baru saja berkenalan, sudah memikirkan mama Laras bisa menjadi mertuanya. Gadis ini memang sedikit unik. Terlihat cantik tetapi terkadang sering berfikir dan melakukan hal yang di luar nalar.


Selanjutnya, satu persatu Zafran memperkenalkan Alluna kepada sang oma, papa serta seluruh keluarganya, bahkan kepada Tina dan Rico. Semua orang menyambut hangat perkenalan dengan Alluna dan merasa jika Alluna gadis yang baik dan periang, sangat cocok dengan Zafran yang juga pria baik dan penyayang.


Tak terasa satu setengah jam berlalu dengan cepat.


Waktu telah menunjukkan pukul 10:00.


Setelah beristirahat sejenak dan mengisi perut untuk menjaga stamina agar tetap bugar saat di atas panggung, kedua pengantin pun telah siap berangkat ke gedung resepsi. Keduanya pun telah berganti kostum. Zafira terlihat anggun memakai gaun putih, yang panjangnya sekitar satu meter setengah, melebihi mata kaki, sehingga gadis itu harus sedikit menyeretnya saat harus melangkah. Meskipun gaun itu cukup panjang tetapi dia masih merasa nyaman menggunakannya dikarenakan panjangnya masih standar baginya dan masih leluasa untuk bergerak. Dan Fariz pun tak kalah tampan memakai jas setelan, senada dengan warna gaun Zafira.


Mobil pengantin segera melesat meninggalkan kediaman orang tua Zafira, membawa kedua pengantin itu menuju gedung resepsi. Keduanya duduk di jok belakang, dikemudikan oleh sopir yang juga mengenakan jas rapi berwarna hitam. Sementara mobil keluarga berada di belakang mengiringi mobil kedua mempelai.


"Apa gaunmu itu terasa berat?," seperti biasa Fariz selalu memberikan perhatian-perhatian kecil untuk Zafira. Mencoba menanyakan keadaannya.


Gadis yang ditanya hanya menggeleng. Matanya menatap kosong ke luar jendela.


Entah, apakah dia bisa menerima Fariz sebagai suami atau tidak? Namun yang jelas, untuk saat ini, dia masih menganggap Fariz tidak lebih dari seorang sahabat. Selain itu, dirinya juga masih merasa terpuruk. Kekecewaan kepada Ronald masih sangat membekas di hatinya. Rasa benci kepada pria itu membuat perasaan serta hatinya meradang, penuh amarah.


Dia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya setelah menikah dengan Fariz? Haruskah dia tidur dengan pria yang masih dianggapnya sahabat? Bagaimana dia melayani Fariz? Terutama urusan ranjang, layaknya hubungan suami istri pada umumnya. Dia benar-benar belum siap untuk melakukan itu. Mana mungkin dia melayani Fariz di atas ranjang sedangkan dia sendiri belum tahu, apakah ada cinta di hatinya untuk sahabatnya itu? Dan semua orang bahkan seluruh dunia pun tahu, kewajiban utama seorang istri adalah melayani suaminya di atas tempat tidur namun membayangkan hal itu saja Zafira merasa tidak sanggup, apalagi untuk melakukannya.


Segala pertanyaan serta keresahan terus bersemayam dalam diri gadis itu. Rasa ragu serta bingung kian menyelinap di hati yang membebani fikirannya.


"Sayang, mama yakin, kamu pasti bahagia hidup bersama Fariz daripada dengan Ronald yang sudah banyak membohongimu bahkan telah merusak keperawanan gadis lain. Fariz pria yang sangat baik. Mama, papa, Zafran, oma, bahkan dirimu sendiri tahu, dia sangat mencintai dan selalu ingin membahagiakanmu. Tidak apa-apa untuk sekarang belum ada rasa cinta di hatimu untuk Fariz. Tapi mama yakin, seiring waktu berjalan, setelah kalian tinggal serumah, kamu pasti akan mengenal Fariz lebih intim. Setelah itu kamu pasti akan merasa sangat bersyukur karena memiliki suami seperti dia. Kalau memang ucapan mama ini meleset dan salah, maka diri mama yang akan menjadi jaminannya. Kalau sampai di ujung waktu kamu tetap tidak bisa mencintai Fariz dan tidak merasa berbahagia hidup bersama Fariz, maka mama adalah orang pertama yang akan menemani serta mendampingimu mengurus gugatan cerai di Pengadilan Agama sampai tuntas. Sekarang tugasmu hanya meyakinkan hatimu. Menikahlah dengan Fariz. Dan ingat pesan mama, jadilah istri yang baik dan patuh kepada suamimu,"


Nasehat sang mama kembali melesat dalam benaknya, bergulung-gulung di kepala. Rasanya dia ingin berlari sejauh mungkin untuk menenangkan hati terlebih dahulu sebelum memutuskan menikah dengan sahabatnya. Namun itu tidak mungkin, pernikahan dengan Ronald sudah dibatalkan dan mau tidak mau dia harus menikah dengan Fariz demi memenuhi permintaan sang mama serta keluarga.


"Tadi aku membawakanmu buah naga merah kesukaanmu. Apa kamu mau memakannya?," Fariz kembali mengajak sang istri bicara, mengambil wadah segiempat yang ditaruhnya di jok depan di samping sopir.


"Tidak perlu. Aku sudah kenyang," sahut Zafira pelan tanpa menoleh kepada pria di sampingnya.

__ADS_1


Mendengar jawaban Zafira, Fariz menaruh kembali kotak buah ke tempat semula.


Beberapa menit berlalu, sang pengantin wanita masih bertahan dalam kebisuannya. Dia merasa enggan membuka mulut karena perasaan resah yang masih berkecamuk dalam dirinya. Dari mulai masuk ke mobil sampai menit ini, dia terus melayangkan pandangan keluar jendela. Tatapannya memang terarah keluar tetapi tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di luaran sana.


Fariz yang duduk agak berjauhan melirik sekilas pada sang istri. Pria itu tahu, suasana hati Zafira pasti masih belum membaik. Sedikit ragu, dia mencoba menggeser duduk lebih mendekat ke arah Zafira dengan maksud ingin menghiburnya.


Zafira yang menyadari pergerakan Fariz menggeser duduk ke arahnya, tiba-tiba membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.


"Fariz, aku mohon, jangan mendekat. Perasaanku sedang tidak tenang," suara itu terdengar lirih.


Fariz tertegun dan sontak menahan gerakan. Membatalkan keinginan untuk lebih mendekat duduk ke arah sang istri.


"Baiklah," Fariz menjawab pendek. Menarik nafas lalu kembali menggeser duduk menjauhi Zafira, dan memfokuskan mata memandang ke depan dengan perasaan sedikit kecewa.


Hanya memakan waktu kurang dari dua puluh menit, kedua pengantin telah berada di dalam gedung.


Selama resepsi berlangsung, tidak satu kali pun kedua pengantin itu terlibat pembicaraan. Zafira terlalu irit bicara. Hanya tersenyum pada saat menyalami dan berfoto dengan para tamu. Itu pun senyumannya terkesan dipaksakan demi menghargai para tamu yang sudah bersusah payah datang di acara pernikahannya.


Sebenarnya Fariz terus menerus mengajak Zafira berbicara tetapi gadis itu selalu menjawab pendek dan saat menjawab pun mukanya tampak tidak bersemangat, membuat Fariz serba salah, harus mengajaknya bicara atau mendiamkannya.


Selama di atas panggung pun, mata Fariz tidak pernah lepas memperhatikan bagian ujung bawah gaun Zafira. Dia merasa khawatir jikalau sang istri terinjak ujung gaun yang akan membuatnya terjatuh. Setiap menit Fariz mengawasi gerakan sang istri, menjaganya jangan sampai terinjak ujung gaun. Dan dengan penuh perhatian, pria itu juga selalu membantu menarik gaun itu di saat Zafira kesulitan menggerakkan kaki, melangkah bersalaman dengan para tamu.


Zafira dapat merasakan perhatian Fariz dan tatapannya sekali-kali mencuri pandang pada sang suami di saat pria itu sedang sibuk menarik ujung gaunnya.


"Fariz, aku tahu kamu sangat baik. Bantu aku untuk menumbuhkan rasa cinta di hatiku untukmu. Aku akan menuruti nasehat mama tapi tolong beri aku waktu," gumam gadis itu lirih dengan sorot mata sedih menatap sahabat yang kini telah menjadi suaminya.


Hingga sore hari, waktu telah menunjukkan di angka empat. Kedua pengantin sudah tampak lelah mengikuti berbagai acara yang ditampilkan. Dan setelah menyalami ribuan tamu yang datang, akhirnya kedua mempelai pun menyelesaikan tugas mereka dan dapat segera pulang ke rumah untuk meng-istirahatkan diri.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2