Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
66 - IBA


__ADS_3

Sepertinya Fariz tidak perlu menunggu lebih banyak lagi penjelasan dari Zafira. Ucapannya tadi sudah sangat jelas mengatakan bahwa saat ini mereka harus tidur terpisah, tidak boleh satu ranjang. Fariz pun sudah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, jika Zafira masih belum bisa menerima status serta hubungan baru mereka, jadi sudah sepatutnya dia tidak memaksakan kehendak dan harus memenuhi permintaan Zafira agar tidur terpisah dengannya.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Fariz beringsut dan segera turun dari ranjang sambil membawa bantal. Berjalan menuju sofa dan langsung menaruh kepala di atas bantal, merebahkan tubuh di sofa. Untuk mengurangi rasa dingin yang menyebar di ruangan itu dan menusuk kulit, Fariz sengaja melipat kedua tangan di atas dada.


Zafira menghela nafas panjang, menghempaskannya berat, melihat Fariz telah berpindah tidur. Sejujurnya, ada rasa bersalah di hatinya telah menyuruh Fariz tidur di sofa. Dia tahu, Fariz pasti sangat kecewa dengan permintaannya untuk tidak tidur satu ranjang dengannya.


Zafira menarik selimut dan mengeluarkan tubuh dari sana. Sedikit beringsut dan ikut menyusul turun dari ranjang. Dia berjalan ke arah lemari pakaian, membuka pintu lemari lalu mencari sesuatu di sana.


Setelah mencari di beberapa bagian lemari, dia mengambil selimut tebal yang tersusun rapi di antara tumpukan handuk serta seprei. Gadis itu mendekati Fariz yang sudah memejamkan mata dengan melipat tangan di atas dada. Zafira dengan sangat hati-hati menyelimuti tubuh pria itu.


"Untuk apa kamu menyelimutiku?," tanya pria itu dengan mata tetap terpejam. Meski mata itu tidak terbuka, tetapi dia tetap dapat merasakan sebuah perhatian yang diberikan Zafira untuknya.


"AC nya sangat dingin. Nanti kamu kedinginan," Zafira menarik ujung selimut, menyelimuti bagian kaki sang suami yang belum tertutup.


"Untuk apa kamu mempedulikanku? Sebaiknya tidak perlu melakukan itu," suara Fariz terdengar datar, tanpa berniat membuka mata untuk menatap lawan bicaranya.


Zafira tertegun mendengar ucapan Fariz. Gadis itu berfikir, mungkinkah Fariz marah padanya? Jika itu memang benar, maka dia tidak akan menggubris kemarahan suaminya.


"Mengapa kamu bicara seperti itu? Selama ini kita tidak tinggal serumah, tapi kita selalu saling mempedulikan. Apalagi sekarang kita sudah tinggal satu rumah bahkan satu kamar, itu artinya kita harus lebih saling mempedulikan. Dan jangan lupa, sampai saat ini kamu tetap sahabatku, jadi sudah kewajibanku memperhatikanmu," ucap Zafira jujur, masih berdiri di samping sofa mengamati pria yang masih memejamkan mata.

__ADS_1


Mengenai perasaan cinta yang belum tumbuh di hatinya, lebih tepatnya tanpa disadarinya, sebenarnya sudah tumbuh tetapi belum sepenuhnya bermekaran, dia akan memberikan waktu kepada hatinya untuk lebih memahami bagaimana sesungguhnya perasaannya terhadap Fariz.


Biarkan waktu yang akan membuat hatinya terus belajar agar bisa mencintai sang sahabat yang kini telah menjadi suaminya, seperti yang dikatakan sang mama, Laras. Dia terus menempelkan nasehat sang mama di benak. Setelah tinggal satu rumah dengan Fariz dan mengenalnya dengan intim maka dirinya pasti akan merasa sangat bersyukur karena telah memiliki Fariz. Nasehat sang mama itulah yang akan dijadikannya pedoman agar bisa terus belajar mencintai dan menerima Fariz menjadi suaminya.


Hal yang terpenting baginya saat ini adalah tetap harus memprioritaskan Fariz, melayaninya dalam segala hal. Menjadi istri yang baik dan patuh seperti yang diinginkan sang mama. Tetapi perlu digaris-bawahi, melayani dalam segala hal tidak termasuk hubungan suami istri di atas ranjang. Untuk hal satu itu, ada pengecualiannya, dia belum dapat melakukannya. Mungkin suatu hari nanti, setelah hatinya bisa menerima pernikahan ini, semuanya pasti akan terwujud.


"Iya satu kamar, tapi aku disuruh turun dari atas ranjang dan dipaksa tidur di tempat sempit ini," ucap Fariz menarik selimut ke atas, menutupi seluruh muka sampai kepala.


Zafira terdiam mendengar ucapan Fariz. Kalimat sang suami seakan menyampaikan sebuah makna yang dipendamnya di hati. Sebuah makna yang meng-artikan bahwa Zafira tidak menjalankan kewajiban seorang istri di saat malam pengantin mereka, seperti yang lumrah diberikan sang istri kepada suaminya. Tetapi di malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri, Zafira justru melakukan hal sebaliknya. Bukan bercumbu mesra melayani sang suami namun malah menyuruhnya turun dari ranjang. Memilih tidur terpisah. Dia di ranjang besar, sang suami di sofa, di tempat yang sempit.


"Akuu...," Zafira kembali ingin menjelaskan sesuatu tetapi dengan cepat Fariz memotong kalimatnya.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Tidurlah, sudah malam," Fariz berkata cepat, seraya merubah posisi tidur. Dia membalikkan tubuh, kali ini membelakangi Zafira sambil menarik selimut hingga menutupi tubuh serta seluruh kepala.


Tidak ada seorang pria pun yang sanggup ditolak oleh istrinya menyangkut kebutuhan biologis. Penolakan menyangkut urusan ranjang merupakan salah satu masalah sensitif dan tidak semua pria bisa menerimanya dengan lapang dada. Karena alasan itulah membuat Zafira memutuskan tidur terpisah dengan Fariz. Dia ingin menjaga perasaan sang suami jangan sampai terluka karena penolakannya. Jalan terbaik bagi mereka berdua adalah tidak tidur satu ranjang. Jika mereka tetap memaksakan hal itu, maka besar kemungkinan hasrat Fariz akan cepat terpancing jika setiap malam tidur berdekatan dengan dirinya. Apalagi tubuh keduanya sampai menempel erat seperti yang baru saja terjadi.


Menurut pemikiran Zafira, lebih baik untuk sementara waktu mereka berpisah tempat tidur, untuk menjaga hasrat Fariz agar tetap terkontrol. Dengan demikian, kemungkinan Fariz menuntut haknya juga akan semakin kecil. Karena, untuk saat ini, Zafira belum siap memenuhi kewajiban satu itu. Jika waktunya tiba, setelah dia merasa yakin, maka dia sendiri yang akan menyerahkannya kepada Fariz.


Setelah beberapa menit tercenung menatap onggokan tubuh Fariz yang tertutup selimut hingga kepala, Zafira pun berjalan meninggalkan pria itu. Pergi ke kamar mandi dan tak lama gadis itu telah melaksanakan tahajjud, seperti yang selalu diajarkan sang mama.

__ADS_1


Keesokan subuh. Pukul 04.15.


Zafira yang sejak kecil telah dididik sang mama selalu bangun subuh, seperti biasa jam empat, terkadang jam empat lebih, matanya sudah mengerjap. Namun dia tidak langsung bangun, masih merilekskan tubuh dan berleha-leha beberapa menit di tempat tidur.


Lima menit berlalu, dia membalikkan tubuh ke samping. Memeriksa di sekitar ranjang. Fariz tidak ada. Iya, semalam dirinya-lah yang telah menyuruh suaminya itu agar tidak tidur satu ranjang dengan alasan tidak mau sang suami menjadikan tubuhnya sebagai guling.


Gadis itu mengangkat tubuh, memutar kepala ke arah sofa. Dia melihat Fariz masih meringkuk di sofa. Perasaan iba mengalir di hatinya. Tubuh Fariz yang besar dan tinggi pasti sangat kesulitan berbaring di sofa itu, tidak leluasa bergerak di sana.


Zafira menghempaskan kembali kepala di bantal sembari menarik nafas berat. Memandangi langit-langit kamar. Matanya menatap kosong ke atas. Setelah beberapa menit, dia pun memejamkan mata, memikirkan semua yang terjadi semalam. Fikirannya kembali berkecamuk.


Tangannya mengusap-usap kening lalu memijitnya pelan. Apa benar, semua yang telah dilakukannya tadi malam? Menyuruh Fariz tidur berjarak dengannya bahkan lebih parahnya, menyuruh pria itu tidur di sofa? Meskipun dulu, Fariz dan dirinya merupakan sepasang sahabat tetapi tidak untuk saat ini. Fariz adalah suaminya, yang seharusnya dilayani dengan sebaik mungkin.


Namun jauh di dasar hati, Zafira belum siap untuk berbagi ranjang apalagi melakukan hubungan suami istri dengan sahabatnya itu. Dia benar-benar belum siap. Ada rasa iba serta rasa bersalah mengusik hatinya. Dia sadar dengan posisinya sebagai istri dan dia pun tahu, laki-laki yang telah menikah dan sudah memiliki istri, sudah pasti sangat menginginkan hal itu.


Setelah beberapa menit bergulat dengan semua kebingungan di benaknya, gadis itu beranjak dari ranjang, berjalan ke arah sofa.


Dia menekuk kaki, duduk di lantai, di pinggir sofa dan memandangi wajah Fariz. Sepertinya pria itu masih tertidur dengan lelap.


"Fariz, maafkan aku terpaksa menyuruhmu tidur di sini," lirihnya dalam hati sambil mengulurkan tangan menyentuh kepala sang suami. Dibelainya rambut tebal itu sambil tersenyum menatap Fariz yang tampak masih bisa tidur dengan nyenyak walaupun hanya tidur di sofa.

__ADS_1


"Heran, padahal sofa ini tidak sebesar ranjang tapi kamu masih bisa tidur se-nyenyak ini. Kalau begitu, biar kamu tidur di sini terus, tidak perlu pindah ke ranjang lagi," gumamnya tersenyum geli sambil terus membelai rambut pria tampan itu. Zafira merasa lucu melihat Fariz yang tampak begitu nyaman tidur di sofa.


...*******...


__ADS_2