
Besok sore, pukul 17:30.
Zafira kedatangan seorang tamu jauh. Cesillia. Sepupunya yang tinggal di Thailand. Anak dari om Bram, kakak kandungnya papa Arga.
Zafira yang telah selesai mandi, langsung menemui Cesillia di ruang tamu. Tampak di atas meja telah tersuguh satu gelas minuman manis untuk gadis cantik itu, yang tidak lain bi Senah yang telah menyediakannya.
"Maaf ya, aku baru sempat datang hari ini. Kemarin saat hari pernikahanmu aku sedang berada di Jepang mengurusi bisnis papa," ucap Cesillia mencium dan memeluk saudara sepupunya itu.
"Iya tidak apa-apa. Aku juga sudah tahu dari om Bram," sahut Zafira mengerti.
Keduanya pun kembali duduk. Bola mata Zafira mengamati gadis yang duduk di depannya.
"Kamu sekarang semakin cantik. Kulitmu pun semakin halus dan putih. Bagaimana? Apa kamu sekarang sudah memiliki calon pendamping?," Zafira berbincang dari hati ke hati dengan saudaranya itu.
"Hehe, hehe.., Aku belum memikirkan hal itu. Aku masih sibuk bekerja dan menyelesaikan S2-ku. Urusan pria masih bisa difikirkan nanti,"
"Mengapa kamu belum memikirkan pernikahan? Umurmu sudah cukup matang untuk berumah tangga. Lagi pula kamu cantik, cerdas dan berwawasan luas. Pasti banyak pria yang tertarik padamu," Zafira menasehati.
Zafira terus memandangi sepupunya dengan cermat. Cesillia memang sangat cantik. Wajahnya bisa dikatakan masih ada kemiripan dengan dirinya. Hanya saja Cesillia memiliki rambut serta postur tubuh sedikit lebih pendek darinya. Umur mereka pun tidak jauh berbeda, hanya selisih satu bulan, lebih tua Cesillia.
"Iya, nanti aku akan memikirkan hal ini. Kamu tenang saja. Aku pasti mendapatkan calon pendamping sesuai kriteriaku," Cesillia tersenyum santai.
"Terus, berapa lama kamu di Jakarta? Selama di Jakarta, kamu menginap di rumah mama kan?,"
"Aku hanya satu minggu di Jakarta dan menginap di rumah tante Laras. Aku ke sini hanya ingin menemuimu dan mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Dan juga memberikan ini.., Hadiah kecil untuk pernikahanmu," ujar Cesillia menepuk kotak pipih dan lebar yang ada di atas meja.
"Apa ini?," Zafira mengusap kotak itu dengan mata berbinar senang.
"Bukan apa-apa. Jam dinding untuk di kamar kalian," jelas Cesillia.
"Wah, aku yakin jam dinding ini bukan jam sembarangan. Pasti harganya fantastis. Terima kasih kamu masih meluangkan waktu datang ke sini hanya untuk menemuiku dan membawakan hadiah mewah ini. Padahal jadwalmu sangat padat pastinya, tapi kamu masih sempat datang ke sini," ucap Zafira penuh rasa terima kasih.
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku akan mengatur kembali jadwalku setelah kepulangan dari Jakarta," Cesillia tersenyum.
"Oh ya, dari tadi aku tidak melihat suamimu. Apa dia tidak berada di rumah?," sambung Cesillia sembari menyeruput minuman di dalam gelas.
"Suamiku sedang mandi. Kami baru saja pulang kerja. Sebentar lagi dia pasti turun," Zafira memberitahu.
"Oh begitu. Ngomong-ngomong kalian honeymoon kemana? Pasti senang menjadi pengantin baru," Cesillia terkekeh menggoda sepupunya sambil meletakkan kembali gelas ke tempatnya semula.
"Tidak ada honeymoon. Kami belum melakukan hal itu karena..," Zafira tidak melanjutkan ucapannya. Dia masih enggan untuk menceritakan masalah rumah tangganya kepada sepupunya itu.
"Karena kamu tidak mencintainya? Benar kan?," Cesillia menjawab dengan tepat seraya mengangkat kedua alisnya.
Zafira tercekat. Perkataan Cesillia sempat membuatnya tercengang.
"Siapa yang memberitahumu?," tanya Zafira cepat. Menunggu jawaban Cesillia dengan muka tidak sabar.
"Papa yang memberitahuku. Papa sudah menceritakan semua kejadian sebelum acara akad nikahmu. Tragis memang dikhianati calon suami sendiri. Tapi untung kebusukan mantan kekasihmu cepat tercium sebelum pernikahan terjadi. Kamu melakukan hal yang benar. Jika aku di posisimu, aku juga pasti melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan. Lebih baik membatalkan pernikahan daripada harus melanjutkan pernikahan dengan pria pengkhianat dan tidak setia. Tapi aku masih belum percaya sepenuhnya tentang cerita papa sebelum mendengar sendiri dari kamu. Apa benar yang diceritakan papa? Kalau kamu tidak mencintai suamimu? Dan pernikahan kalian itu sebuah pernikahan tanpa cinta?," Cesillia bertanya serius, mencoba mencari tahu kebenaran cerita sang papa.
"Iya benar, aku tidak mencintai suamiku. Dia itu sahabatku dari kecil dan aku menganggapnya sama seperti Zafran. Selama ini tidak ada rasa cinta di hatiku untuknya. Aku tidak pernah berfikir kalau takdirku harus menikah dengannya. Aku mencintai mantan kekasihku dan bermimpi bisa menikah dengannya. Tapi takdir berkata lain, aku justru tiba-tiba menikah dengan sahabatku sendiri tanpa rasa cinta," terang Zafira menceritakan kisahnya dengan Fariz, dari awal sampai menikah.
Fariz yang berada di balik pintu mendengar semua percakapan kedua gadis itu, menjadi murung. Hatinya seakan tersayat mengetahui pengungkapan yang dicurahkan Zafira pada temannya itu. Fariz tidak tahu, kalau Cesillia merupakan sepupu Zafira karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
"Apa selama sepuluh hari ini Zafira hanya berpura-pura baik padaku? Bersikap baik padaku hanya untuk mengelabuiku? Ahh tidak mungkin! Zafira tidak seperti itu. Dia gadis yang baik. Tidak mungkin dia tega membohongiku dengan berpura-pura menjadi istri yang baik untukku? Mungkin saja selama sepuluh hari ini dia memang sedang belajar menjadi istri yang baik untukku dan ingin belajar mencintaiku?," batin Fariz mulai meragukan perasaan Zafira kepadanya.
Namun dengan cepat Fariz menepis segala keraguan di hatinya. Dia menyingkirkan seluruh prasangka buruknya terhadap Zafira. Dia pun berjalan perlahan mendekati kedua gadis itu.
"Iya benar. Zafira tidak mencintaiku. Dia menikah denganku karena terpaksa, karena kekasihnya sudah meniduri gadis lain," suara Fariz mengejutkan kedua gadis itu. Terlebih Zafira, dia sempat terlonjak saat melihat Fariz telah berdiri di hadapan mereka.
Kedua bola mata Zafira membelalak, memancarkan keterkejutan. Dia menjadi cemas melihat kedatangan Fariz. Dia yakin, Fariz pasti sudah mendengar semua pembicaraannya dengan Cesillia. Gadis itu merasa was-was dan tidak berhenti berdoa dalam hati. Mudah-mudahan Fariz tidak salah faham dengan pengakuannya yang baru saja diungkapkannya kepada Cesillia. Sebenarnya dia belum menyelesaikan ucapannya, bahwa dia sudah memiliki sedikit rasa kepada Fariz yang belum sempat diutarakannya kepada Cesillia karena Fariz sudah keburu datang.
"Kamu temannya Zafira? Cantik sekali," Fariz mendekati tamu Zafira sambil mengulurkan tangan ke hadapan Cesillia.
__ADS_1
Zafira terperanjat mendapati Fariz memuji gadis lain di depannya. Mata gadis itu terbuka lebar kemudian mendelik tajam kepada Fariz namun sang suami nyatanya masih berdiri memandangi Cesillia dengan perasaan kagum.
Cesillia berdiri dari duduk.
"Namaku Cesillia. Kamu bisa memanggilku, Cesil. Aku sepupunya Zafira. Anak om-nya Zafira, Bram," Cesillia menjelaskan lalu menerima uluran tangan Fariz.
"Masya Allah, kamu anaknya om Bram, sepupunya Zafira? Aku baru tahu, kalau Zafira memiliki sepupu secantik ini. Zafira tidak pernah menceritakannya padaku," Fariz menggenggam tangan gadis cantik itu sangat lama sambil terus memandanginya.
"Apa kalian akan saling bergenggaman tangan seperti itu? Memalukan sekali kamu Fariz, seperti tidak pernah melihat gadis cantik saja! Jaga sikap, kamu harus menghargai istrimu!," ketus Zafira merasa terganggu dengan pemandangan di depannya.
Telinganya menjadi panas harus mendengar Fariz memuji gadis lain bahkan memandanginya dengan sorot mata yang terkagum-kagum. Bukan itu saja, hatinya juga merasa tidak rela melihat Fariz menggenggam tangan gadis lain di depan matanya.
"Haha, haha, benar kata Zafira. Kalau sudah menikah, kita harus saling menghargai satu sama lain," Cesillia sontak tertawa mendengar peringatan Zafira.
Fariz segera melepaskan genggaman tangannya. Cesillia pun kembali duduk, masih dengan tawa di bibirnya memperhatikan sikap Zafira. Gadis itu tahu, kalau sepupunya itu tengah cemburu. Cesillia pun manggut-manggut sambil terus melukis tawa, melirik muka Zafira yang putih berubah merah.
"Namamu cantik sekali. Kalau boleh tahu, apakah kamu sudah memiliki kekasih?," Fariz masih berdiri tanpa berniat duduk.
Kembali mata Zafira terbelalak. Dia heran, mengapa suaminya jadi agresif seperti ini? Apakah dia menyukai Cesillia? Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Sampai kapan pun dirinya tidak akan rela melepaskan Fariz demi wanita lain. Ada apa dengan Zafira? Apakah dia benar-benar telah jatuh cinta pada Fariz dan tidak ingin pria itu tersentuh gadis mana pun.
Ya, dulu dia memang tidak mencintai Fariz. Tetapi sekarang dia tidak ingin melihat Fariz bersama gadis lain, apalagi sampai memujinya.
"Untuk saat ini aku belum memiliki kekasih. Walau sejujurnya, sudah banyak yang memintaku menjadi istri," Cesillia menjawab dengan sangat jujur.
"Kebetulan sekali. Itu artinya aku masih ada peluang untuk menjadi teman dekatmu. Tapi jangan pernah berfikir kalau aku ini pria yang genit apalagi nakal. Kalau sampai kamu berfikir seperti itu, berarti kamu salah besar. Kamu tahu Cesil? Puluhan tahun aku setia kepada Zafira, dari kecil aku mengharapkan dia membalas perasaanku. Dan kamu tahu? Sampai kami menikah pun, dia sama sekali tidak bisa mencintaiku. Jadi kamu sudah tahu jawabannya, jika aku mendekati seorang gadis, bukan karena aku pria yang tidak baik, tapi karena aku ingin mencari teman, siapa tahu teman baruku itu bisa menjadi temanku untuk berkeluh kesah," ucap Fariz tetap memfokuskan pandangan ke wajah Cesillia.
"Hah? Berkeluh kesah? Apa maksud Fariz? Jadi dia sekarang akan menggantikan posisiku dengan Cesil? Dia tidak ingin bercerita dan berkeluh kesah denganku lagi?," berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Zafira membuatnya meradang.
Dia menatap tajam kepada Fariz tetapi sayangnya pria itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Pandangannya tidak lepas dari Cesillia. Kedua tangannya terkepal saling bertaut. Hatinya bertambah gusar, menahan rasa cemburu yang menyesakkan dada.
Cesillia kembali melirik ke arah Zafira. Dia ingin mengamati reaksi sepupunya. Gadis itu kembali manggut-manggut. Tepat. Zafira sedang menahan perasaan cemburu. Tatapan tajam serta mukanya yang memerah, bisa langsung ditafsirkan oleh Cesillia, jika saudara sepupunya itu sedang marah. Dia marah karena merasa cemburu suaminya memuji dan memandangi gadis lain. Cesillia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat sikap Zafira seperti itu. Baginya sangat lucu.
__ADS_1
...*******...