Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
16 - ZAFIRA VS WILDA


__ADS_3

Hai ❤️


Yang blm Subscribe, Like, Bintang 5, jgn lupa ditekan ya...


Jangan pelit-pelit, aku kurang menyukai pembaca yang pelit🤨


*****


Siangnya, pukul 12:00.


Fariz seperti biasa sudah berdiri di depan kelas Zafira, tak lama kemudian gadis yang ditunggu pun keluar dari kelas.


"Shalat dulu ya," Zafira langsung mengayunkan kaki menuju masjid yang diikuti oleh sang sahabat.


"Tadi Zafran sudah meneleponmu?," Zafira bertanya menoleh sebentar ke arah Fariz yang berjalan di samping kanannya.


"Iya, katanya oma hari ini mau pindah ke rumah kalian? Apa kamu senang?," pria tampan itu ikut menoleh ke samping.


"Iya, aku senang oma akhirnya mau pindah ke rumah kita, rumah jadi semakin ramai. Kamu tahu tidak? Oma itu sangat baik dan tidak pernah memarahiku," jelas Zafira tersenyum membayangkan wajah oma Mayang yang begitu tenang.


"Oh ya? Termasuk kamu yang menolak perjodohan kita? Apa oma tidak memarahimu? Hehe, hehe," Fariz masih bisa menggoda Zafira.


"Tidak. Oma, mama, papa, Zafran tidak pernah memaksaku untuk menerima perjodohan kita. Mereka menyerahkan semua keputusan padaku. Makanya aku sangat menyayangi mereka," jawab Zafira masih dengan senyuman di bibir.


"Aku ke toilet dulu," ucap Zafira setelah mereka sampai di masjid.


"Iya, aku langsung ambil wudhu saja," sahut Fariz langsung ke tempat wudhu khusus pria.


Zafira dengan langkah pelan berjalan menuju toilet. Baru saja gadis itu hendak memasuki pintu toilet, Zafira berpapasan dengan Wilda yang tampak membawa botol air mineral di tangannya serta tas selempang pink yang diselempangkan di tubuhnya.


"Hai Wil," sapa Zafira tersenyum ramah.


Namun tidak dengan Wilda, jangankan menjawab sapaan Zafira, tersenyum pun tidak.


Wilda hanya melirik sekilas dengan sorot mata tidak bersahabat menatap Zafira. Wilda yang awalnya hendak keluar mengurungkan niat dan memutar tubuh masuk kembali ke dalam toilet.


Zafira menaruh paper bag berisi mukena di samping wastafel, kemudian masuk ke kamar toilet.


Tidak sampai lima menit di dalam kamar toilet, Zafira keluar dan mencuci tangan di wastafel. Gadis cantik itu merasa heran melihat Wilda masih berdiri di depan wastafel sambil memandangi Zafira dari pantulan cermin.


"Kamu belum selesai Wil?," Zafira kembali bertanya dengan sikap yang tetap ramah.


Wilda menoleh ke arah pintu keluar masuk toilet, tidak ada siapa pun yang masuk. Suasana toilet yang sepi menjadikan Wilda lebih aman untuk bereaksi.


Gadis itu mendekat ke arah Zafira yang masih sibuk mencuci tangan.


Tiba-tiba tanpa diduga, Wilda mengucurkan botol air mineral yang ada di tangannya ke arah dada Zafira, hingga air di dalam botol itu habis tidak bersisa.


Zafira terpekik mendapat perlakuan tidak sopan dari teman Fariz itu.


"Aww.., Hei Wilda! Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu menyiramku?," teriak Zafira mengibas air yang telah membasahi seluruh baju bagian depan.


Baju kemeja Zafira yang berwarna putih, berbahan katun tipis menjadi sangat menerawang saat tersiram air, sehingga bra yang melekat di tubuh gadis cantik itu menjadi sangat jelas terlihat dari luar.

__ADS_1


Zafira melotot memandang ke bagian dada, dia sungguh tidak percaya kini bajunya menjadi basah kuyup akibat ulah Wilda.


"Ini hukuman untuk gadis munafik sepertimu!," hardik Wilda membelalakkan mata.


"Munafik? Maksudmu apa?," Zafira bertanya tidak mengerti.


"Karena kamu sudah merebut Fariz dariku!," desis Wilda dengan muka merah padam.


"Apa? Merebut Fariz? Kamu salah! Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Kami hanya berteman. Tidak lebih," Zafira mencoba menjelaskan.


"Mulutmu berkata tidak! Tapi hatimu berkata iya! Dasar munafik!," bentak Wilda sambil mendorong tubuh Zafira.


Zafira mencoba menahan dorongan Wilda namun Wilda dengan liciknya menarik rambut Zafira sehingga sahabat Fariz itu meringis menahan sakit memegangi rambut dan kakinya terseret ke belakang karena dorongan Wilda, sehingga Zafira kini telah tersandar ke tembok dan tas yang ada di pegangan Zafira terjatuh ke lantai.


"Gadis munafik sepertimu sangat pantas mendapatkan ini!," hardik Wilda memperkeras tarikan di rambut Zafira membuat Zafira semakin meringis menahan sakit di kepalanya.


"Aww.., Lepaskan Wilda! Sakit!," teriak Zafira mencoba menarik tangan Wilda agar terlepas dari rambutnya, namun bukannya terlepas, Wilda justru semakin mencengkram rambut Zafira membuat Zafira semakin merasa kesakitan.


"Dan perlu kamu tahu, aku juga yang telah memasukkan es cream ke dalam sepatumu!," tambah Wilda kemudian dan tertawa penuh kemenangan.


Di antara menahan rasa sakit karena rambutnya ditarik keras oleh Wilda, Zafira masih bisa mendengar dengan jelas kalimat Wilda yang mengakui bahwa dirinya-lah yang telah dengan sengaja mengotori sepatunya beberapa hari lalu dengan es cream.


"Keterlaluan kamu Wil! Tega-teganya kamu berbuat kejahatan di masjid, di tempat suci! Kamu tidak takut dosa? Hah? Jangan-jangan kamu berada di masjid ini hanya menumpang buang air kecil saja bukan untuk beribadah!," bentak Zafira marah.


Dan kali ini, Zafira tidak mau kalah, dengan cekatan kedua tangannya ikut menarik sangat keras rambut Wilda, sehingga terjadilah tarik menarik rambut antara kedua gadis itu. Kedua tangan mereka menari di atas kepala sang musuh.


Postur tubuh Zafira yang lebih tinggi dari Wilda memudahkan gadis itu untuk melumpuhkan Wilda dan memberi pelajaran pada orang yang telah berbuat dosa di rumah Allah.


Dengan tangannya yang panjang, Zafira dengan mudah menjulurkan tangan kirinya ke arah box sabun cair yang menempel di dinding, menekan tombol dan menadah sabun itu ke telapak tangan, kemudian tangan Zafira bergerak cepat ke wajah Wilda dan mengusapkan sabun itu ke muka si musuh.


Hanya dalam hitungan dua detik, Wilda langsung menjerit karena matanya merasa perih, dan spontan tangan Wilda terlepas dari rambut Zafira.


Dengan mata yang masih tertutup serta suara teriakannya, Wilda membalikkan tubuh lalu seperti orang buta meraba kran dan segera menyalakannya.


Gadis jahat itu mencuci muka serta mata. Dia terus mencuci dengan air sebanyak-banyaknya sehingga dia tidak sadar jika seluruh bajunya telah basah terkena kucuran air dari kran.


"Rasakan! Aku membenci dan tidak akan memaafkan orang-orang yang telah berbuat kejahatan di masjid! Dan ini juga hukuman untuk orang yang telah dengan sengaja mengotori sepatuku!," bentak Zafira sambil memutar kran wastafel di sebelah Wilda lalu mencuci bekas sabun di tangannya.


"Selamat menikmati matamu yang perih! Aku bukan gadis lemah yang akan membiarkan orang menyakitiku tanpa sebab!," dengus Zafira lalu dengan tangan kanannya mengambil paper bag yang ditaruh di samping wastafel dan tidak lupa memungut tas yang masih tergeletak di lantai.


Kemudian gadis cantik itu melangkah keluar dari toilet meninggalkan Wilda yang masih dengan ringisan, berusaha mencuci matanya yang terasa sangat perih dan memerah.


Zafira masuk ke dalam masjid dengan baju basah di bagian dada, sampai ke bagian bra ternyata ikut basah, membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


Sepuluh menit melaksanakan shalat Dzuhur, Zafira tergesa-gesa keluar masjid dan tampak Fariz sudah berdiri menunggu gadis itu.


"Kamu lama sekali?," Fariz bertanya heran melangkah mendekati Zafira.


Zafira masih sibuk memakai sepatu.


"Mengapa bajumu basah?," tanya Fariz mulai cemas.


"Ayo cepat kita ke mobil!," pinta Zafira dengan langkah panjang berjalan meninggalkan Fariz yang masih berdiri dengan muka terbengong.

__ADS_1


Fariz mengejar Zafira dan berjalan di samping gadis itu.


"Bajumu itu tipis, menerawang dari luar. Malu kalau ada laki-laki yang melihat. Kamu gunakan paper bag itu saja untuk menutupi dadamu," Fariz masih saja sempat memperhatikan gadis pujaannya.


Zafira seketika tersadar, dan melirik sekilas ke dadanya. Benar saja, bra nya muncul di balik baju putih itu. Zafira pun menuruti perkataan Fariz segera mendekap paper bag itu ke dada lalu terus berjalan menuju parkir mobil.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, mengapa bajumu bisa basah seperti ini?," ulang Fariz menoleh ke arah Zafira.


"Wilda," jawab Zafira pendek.


Muka Fariz seketika terkejut mendengar nama yang diucapkan Zafira.


"Wilda yang melakukan ini padamu?," Fariz menebak.


"Iya," sahut Zafira dengan muka ditekuk.


"Keterlaluan! Mengapa dia bisa melakukan semua ini padamu? Katakan padaku!," Fariz mulai kesal.


"Dia cemburu padaku, dia fikir aku punya hubungan denganmu," sahut Zafira memberitahu.


"Hmm, sudah kuduga, dia pasti cemburu padamu! Gadis itu sudah lama mengejarku tapi aku tidak pernah mempedulikannya," jelas Fariz mengatakan hal sebenarnya pada Zafira.


Zafira diam saja. Kakinya terus melangkah cepat. Dia ingin segera sampai ke mobil.


Tak berapa lama mereka telah sampai ke sebuah mobil hitam Toyota Rush keluaran terbaru milik Fariz.


Dengan cepat Fariz membukakan pintu untuk gadis itu.


"Tidak perlu dibukakan, aku bisa membukanya sendiri," tolak Zafira.


"Keras kepala sekali. Tanganmu itu penuh dengan bawaan. Membawa tas, membawa paper bag, menutupi dada. Bagaimana bisa membuka pintu mobil ini?," tanya Fariz tidak menghiraukan perintah Zafira dan tetap saja membukakan pintu mobil untuk sang gadis.


Zafira tidak bisa membantah, karena yang dikatakan Fariz memang benar, kedua tangannya masih mendekap paper bag di dada.


Zafira segera masuk ke mobil dan Fariz pun dengan sigap menutup kembali pintu mobil.


Zafira duduk sambil bersungut berusaha mengeringkan bajunya dengan cara mengipas-ngipas dengan kelima jari.


Fariz yang sudah masuk ke dalam mobil, segera mengambil jaket hitam yang tergantung di jok kemudi.


"Ini untuk sementara pakai saja jaketku biar tidak kedinginan," ucap Fariz penuh perhatian.


"Ulurkan tanganmu, aku akan memakaikannya," sambung Fariz kembali.


Zafira tidak menolak, dia mengulurkan tangan kanan dan Fariz segera membantu memasangkan jaket itu di tubuh Zafira, memasukkan jaket ke tangan sang gadis, mulai dari tangan kanan kemudian tangan kiri lalu merapikan kerah jaket itu.


Karena jarak mereka hanya sekitar Lima belas centi, Fariz dapat mencium aroma wangi yang menyebar dari tubuh Zafira, membuat jantungnya kembali berdegup. Dan tanpa disuruh, mata Fariz refleks mencuri pandang menatap wajah Zafira yang masih tertunduk membenahi letak jaket di badannya.


Dan kembali darah di tubuh pria tampan itu seakan mengalir cepat, sementara jantungnya tetap saja berdegup memperhatikan wajah cantik Zafira.


Sampai kapan Fariz harus memendam rasa seperti ini? Rasa yang setiap hari disimpan dan ditelannya sendiri? Rasa yang sama sekali tidak pernah direspon dan dibalas oleh sang pujaan hati.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2