
Ronald semakin terdiam dan membeku. Dia tidak memiliki jawaban untuk perkataan yang dilontarkan Zafira. Rasa takut semakin menyelimuti hatinya, melihat sorot mata Zafira yang menampakkan kebencian, mengucapkan kata demi kata dengan penuh amarah.
Dia takut bukan karena tenaga Zafira lebih kuat darinya. Bukan karena itu. Jika dia mau, hanya sekali gerakan saja dia bisa langsung melumpuhkan gadis itu. Tetapi dia merasa takut, karena dia telah melakukan kesalahan begitu besar yang tidak mungkin termaafkan oleh gadis itu.
Bukan hanya itu saja, dia juga merasa takut kepada orang tua dan keluarganya. Apalagi kepada keluarga besar Zafira, karena bertahun-tahun telah membohongi dan mempermainkan hati gadis itu. Rasa ketakutan itulah yang membuatnya tidak berani melawan saat Zafira melakukan pukulan bertubi-tubi di wajahnya.
"Aku tidak menyangka, kepercayaan yang sudah aku berikan bertahun-tahun, malah kamu salah gunakan! Kamu mengkhianatiku! Kamu memanfaatkan kepercayaanku, Ronald!!! Delapan tahun aku menganggapmu pria yang baik, lembut dan penuh kasih sayang. Dan delapan tahun pula kamu selalu menunjukkan rasa cinta yang begitu besar padaku. Tapi ternyata kamu melakukan hal yang sama untuk gadis lain, bahkan lebih dari pada itu! Kamu telah menanam benih di rahimnya! Menjijikkan sekali kamu Ronald! Kamu benar-benar laki-laki busuk! Bagiku, kamu tidak lebih dari sampah! Laki-laki murahan!!," teriak Zafira penuh kemarahan sambil terus mendekat ke arah Ronald yang membuat Ronald semakin bergidik ngeri melihat sikap Zafira, sehingga membuatnya sedikit melangkah mundur menjauhi gadis yang tengah terbakar emosi itu.
Setelah jarak mereka berdekatan, tanpa diduga, gadis itu tiba-tiba saja menarik paksa jas yang dipakai Ronald. Dia merasa jas putih, bersih dan suci itu tidak pantas dikenakan oleh laki-laki kotor dan menjijikkan seperti Ronald. Sehingga membuatnya berfikir harus menyingkirkan jas putih itu dari tubuh kotor calon suaminya.
"Lepaskan jas ini! Lepaskaaan!," teriak Zafira tidak terkontrol. Rasa kecewa dan sakit hati telah membuatnya hilang kendali. Dia sudah terlalu muak melihat wajah penuh kepura-puraan calon suaminya.
"Lepaskan jas ini! Kamu tidak pantas memakainya! Dan sampai kiamat pun, aku tidak sudi menikah dengan laki-laki busuk sepertimu!," Zafira terus berteriak meluapkan rasa sakit hati, kecewa, amarah serta rasa bencinya pada pria yang telah menipu, membodohi serta mengkhianatinya selama bertahun-tahun.
Tidak ada lagi butiran air mata yang ingin ditumpahkannya. Air mata itu terasa sudah kering, terkuras tanpa sisa. Dia juga tidak ingin menghabiskan air mata untuk pria pengkhianat seperti Ronald. Kini yang tersisa hanya perasaan marah, kecewa serta rasa sakit hati.
Zafira terus menarik jas Ronald, berusaha menanggalkan dari tubuh pria itu. Tetapi Ronald berusaha memegangi jas itu dengan kedua tangan. Jauh di dalam hati, dia tidak ingin membatalkan pernikahan ini dan tetap ingin menjadikan Zafira sebagai istrinya.
Zafira tetap tidak menyerah. Dia masih terus menarik jas itu hingga tubuh Ronald pun ikut bergoyang akibat tarikannya. Tetapi Ronald tetap mempertahankan jas itu agar tidak terlepas dari tubuhnya. Apapun yang terjadi, dia tidak mengizinkan Zafira melepaskan jas yang dipakainya.
Tarik menarik pun terjadi antara kedua calon pengantin itu. Tidak satu pun di antara keduanya yang mau mengalah. Sampai akhirnya sebuah suara mengejutkan dan menghentikan aksi mereka.
"Lepaskan jas ituuu!!!," suara bentakan menggelegar memenuhi seisi ruangan, menjadikan ruangan itu seakan-akan ikut bergetar.
Zafira maupun Ronald terlonjak demi mendengar bentakan yang begitu memekakkan telinga. Keduanya sontak mengarahkan pandangan ke arah pintu. Termasuk Citra, gadis itu pun tampak sangat terkejut, sontak mengalihkan pandangan ke arah datangnya suara dengan tatapan bergidik melihat sosok yang muncul di depan pintu.
Zafira melepaskan tangannya dari jas Ronald. Begitu pun Ronald, demi melihat orang yang muncul di depan pintu, dia pun segera melepaskan kedua tangan yang sedari tadi memegangi jas yang menempel di tubuhnya.
Ketiga orang di dalam ruangan menatap terbelalak melihat satu sosok melangkah masuk dengan muka memerah, menandakan jika dirinya tengah terbakar amarah. Dan tanpa menunggu lama, sosok itu langsung menghampiri Ronald.
__ADS_1
"Bugghh, bugghh, bugghh"
Tiga pukulan keras menghantam pipi sebelah kiri, pelipis kiri, serta bibir kiri pria pengkhianat itu.
"Aakhh," Ronald mendadak merasakan penglihatannya berkunang-kunang saat hantaman keras singgah di pelipis kirinya. Untung saja pukulan itu tidak mengenai bola matanya, jika tidak, bisa saja Ronald mengalami kebutaan saking keras pukulan yang dilakukan pria itu.
Di saat penglihatan Ronald masih gelap dan berkunang-kunang, tiba-tiba satu hantaman harus diterimanya kembali.
"Bugghh"
Hantaman itu tidak mendarat ke wajah namun berpindah di perut, membuat tubuh Ronald terhuyung beberapa meter ke belakang. Untung Ronald masih bisa menyeimbangi tubuh sehingga tidak sampai tersungkur ke lantai.
"Uhuk, uhuk," Ronald terbatuk-batuk memegangi bekas tendangan itu. Dia merasakan sakit luar biasa di bagian perut hingga organ tubuh di dalamnya terasa terbuyar. Pria itu terus memegangi perut seraya meringis menahan sakit.
Baik Zafira maupun Citra terlonjak melihat aksi kejam yang dilakukan sosok itu tetapi mereka tidak berani melerai.
"Lepaskan jas ituuu!!," suara Zafran kembali menggelegar sambil mengangkat kaki ke arah Ronald, mengancam akan menendang kembali pria itu. Tetapi dengan cepat Ronald memundurkan langkah menjauhi Zafran.
"Baik, baik. Aku akan melepasnya," Suara itu tak lagi tegas, terdengar lirih di antara rintihan kesakitan.
Dengan masih menahan rasa sakit, Ronald pun melepas jas yang masih melekat di tubuhnya dengan susah payah. Belum sepenuhnya terlepas dari ujung tangan, Zafran segera merampas jas itu dan menariknya kasar.
Zafran meletakkan jas itu di kursi yang tadi diduduki Citra lalu berjalan mendekati jendela. Dengan gerakan cepat, Zafran melepas gorden itu dari penyangganya. Gorden sepanjang tiga meter itu pun dibawanya ke dalam dekapan.
Pria itu kembali mendekati Ronald dan melemparkan gorden berwarna coklat itu ke tubuh pria yang sedang memaksa menegakkan tubuh setelah merasa kesakitan mendapat hantaman keras di perutnya.
"Ganti celanamu!!," Zafran memberi perintah, mata terbuka lebar seakan ingin menelan Ronald hidup-hidup.
"Apaaa??," Ronald terlonjak menatap tak percaya kepada Zafran.
__ADS_1
"Tidak mungkin aku memakai kain ini," Ronald masih berani melontarkan sebuah protes sambil melihat gorden yang ada di tangannya.
"Kamu yang akan melepas sendiri? Atau aku yang akan memaksa untuk melepasnya?," ancam Zafran berjalan mendekati Ronald.
"Baik, baik. Aku yang akan melepasnya," sahut Ronald cepat, tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah Zafran.
Dia tidak ingin jika pria itu kembali melakukan pukulan ke tubuhnya. Hanya beberapa pukulan saja sudah cukup membuat tubuhnya tidak berdaya. Apalagi harus ditambah beberapa pukulan lagi, bisa-bisa hancur seluruh tulang belulangnya.
Kali ini dia tidak bisa menentang perintah Zafran dan segera melepas celana yang dipakainya.
Refleks, ketiga orang yang ada di ruangan memalingkan wajah saat Ronald mulai mengendurkan ikat pinggang dan menurunkan celana yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Zafran hampir saja mengeluarkan sebuah suara cekikikan saat melihat penampakan di depannya. Saat melihat Ronald telah mengganti celana dengan gorden coklat itu. Sekuat tenaga pria itu menahan tawa yang hampir pecah keluar dari mulutnya dan berusaha keras menahan tawa itu di dalam kerongkongan.
"Dia sudah seperti orang-orangan sawah yang kehilangan celana, haha, haha. Rasakan pembalasanku, Ronald! Kamu sudah menyakiti hati adikku!," Zafran tertawa dalam hati mengamati tubuh tinggi Ronald, yang kini hanya berbalut gorden di bagian bawah dan singlet menutupi bagian atas tubuh.
Zafira dan Citra terbengong melihat keadaan Ronald. Tidak ada satu pun di antara kedua gadis itu yang mampu berkata-kata. Antara shock dan lucu berbaur menjadi satu dalam hati keduanya.
Zafran merampas celana putih itu dari tangan Ronald sambil menghunuskan pandangan mematikan ke arah pria itu.
"Sekarang pergi dari rumah ini! Bawa orang tua serta keluargamu pulang! Dan ingat, ini menjadi urusanmu untuk menjelaskan kepada seluruh keluargamu mengapa pernikahan ini sampai dibatalkan! Kamu katakan yang sejujurnya kepada orang tuamu bahwa kamu telah menghamili gadis lain dan akan segera menikahinya demi menutupi aibmu, aib gadis itu serta menjauhkan keluargamu dari cemoohan orang! Dan jangan lupa! Tidak ada maaf untuk pria kotor sepertimu! Zafira gadis baik-baik, dia juga keturunan dari keluarga baik-baik. Dia sangat tidak pantas bersanding dengan pria kotor sepertimu. Dan kamu dengarkan perkataanku! Detik ini, pernikahan ini dibatalkan! Karena keluargaku tidak akan mau menerimamu menjadi bagian dari keluarga kami! Sekarang keluar!," hardik Zafran sambil mengarahkan telunjuk ke arah pintu.
Ronald yang sudah merasa malu dengan pakaiannya yang seperti orang-orangan sawah itu, tanpa mengatakan sepatah kata pun, langsung keluar terbirit-birit sambil memegangi gorden yang melilit di perutnya.
Pria itu tampak kesulitan berjalan karena harus menyeret ujung gorden yang menyentuh lantai. Jika tidak berhati-hati, bisa saja kakinya menginjak ujung gorden yang pasti akan membuatnya terjerembab dan jatuh.
Namun sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan itu, dia sempat melirik sekilas, secara bergantian pada Zafira dan Citra yang masih berdiri membisu, seakan mengisyaratkan bahwa dirinya meminta izin kepada mantan calon istri dan calon istri untuk membawa pulang gorden tiga meter itu.
...*******...
__ADS_1