
"Ada apa? Apa yang terjadi?," tanya Fariz masih setengah sadar, sambil beranjak dan duduk di sebelah Zafira. Dia menajamkan mata ke arah gadis yang duduk di sampingnya yang sedang memegangi selimut menutupi tubuhnya.
"Kamu masih bertanya? Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu tidur satu ranjang denganku? Mengapa kamu menjadikan tubuhku seperti guling dan seenaknya memelukku tanpa seizinku?," rentetan pertanyaan menyerang Fariz. Zafira menyelidik muka sang suami dengan perasaan tidak sabar menunggu jawaban keluar dari mulutnya.
Muncul pemikiran buruk di benaknya terhadap sang suami. Zafira mengira, suaminya itu telah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menggunakan kesempatan untuk memeluknya di saat dirinya sedang tertidur lelap. Zafira dengan ekor matanya terus mengamati Fariz per-setiap inci di muka mengantuk itu.
Fariz terperanjat menerima rentetan pertanyaan yang meluncur cepat dari mulut sang istri. Dia mencoba mengingat kembali kejadian sebelum tidur. Dia juga tidak sadar, sejak kapan dia memeluk Zafira?
Seingatnya, tadi dia berbaring di samping Zafira, terus tidak melakukan apa-apa selain memandangi serta mengagumi wajah gadis itu. Ya, dia sempat mengatakan bahwa dia mencintainya tetapi hanya sebuah kata, tidak ada kecupan atau pun ciuman yang dilakukannya. Menciumnya pun tidak, apalagi sampai berani memeluknya seperti guling? Kemudian dia sempat merenung beberapa menit dan akhirnya tertidur dengan posisi terlentang. Setelah itu, dia benar-benar tidak sadar, apa yang terjadi berikutnya, mengapa sampai memeluk Zafira dan menjadikan tubuhnya seperti guling?
Sebenarnya yang terjadi beberapa jam lalu, setelah Fariz tertidur, tubuh Zafira kembali bergerak pada posisi pertama, yakni memiringkan tubuh ke kanan. Dan tak lama kemudian, Fariz yang sudah terlelap ikut menghadap ke kanan dan tangannya mencari guling dengan mata terpejam. Tangan itu meraba-raba dan menemukan sebuah guling, kemudian mendekapnya erat ke dalam pelukan. Kakinya pun tak tinggal diam, ikut memeluk erat guling itu, yang tanpa disadari, guling itu ternyata tubuh Zafira.
Dan tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh teriakan keras Zafira, memaksanya terbangun dari tidur dan susah payah membuka mata yang masih sangat mengantuk.
"Maafkan aku, aku juga tidak sadar apa yang terjadi. Aku tadi hanya tidur di sampingmu dan tidak tahu mengapa tiba-tiba saja sudah memelukmu. Namanya juga orang sedang tidur. Tidak sadar. Mana tahu apa yang dilakukan. Aku benar-benar tidak sadar sudah memelukmu," Fariz menjelaskan sambil mengusap-usap matanya serta menguap berulang kali.
"Alasan saja. Aku yakin, kamu pasti sengaja memelukku saat aku sedang tidur. Mencuri kesempatan," rutuk gadis itu mendelik sang suami.
"Aku berkata jujur. Aku tidak sadar melakukan itu. Sekarang aku tanya, saat tidur, apa kamu bisa melihat hal-hal yang terjadi selama kamu tidur? Tidak kan?," Fariz mencoba membela diri. Dia tidak mau jika sampai Zafira mencurigainya seperti yang ada di fikirannya. Memang sejujurnya, dia sangat ingin memeluk tubuh gadis itu, tetapi itu hanya keinginan saja, dia belum berani melakukannya.
__ADS_1
"Eeh, kamu malah balik bertanya. Huh! Kebiasaan!," Zafira mendengus mengerucutkan bibir semakin mendelikkan mata ke arah sang suami.
"Kamu tidak bisa menjawab kan? Itu artinya, saat kamu tidur, kamu juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan tadi. Bisa saja kamu tiba-tiba memelukku tanpa sadar," Fariz masih mencoba membela diri dan mempertahankan sudut pandangnya.
"Huh, aku tidak pernah mencuri kesempatan. Kalau aku ingin memelukmu, aku memelukmu saat kamu tidak sedang tidur. Aku tidak sepertimu, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sengaja memelukku saat aku sedang tidur nyenyak," Zafira tidak mau mengalah, sama seperti kebiasaannya dari kecil yang selalu tidak mau mengalah kepada Fariz maupun Zafran.
Mungkin dikarenakan dia adalah anak perempuan sendiri sehingga membuatnya sedikit manja dan mau menang sendiri. Beruntung Fariz dan Zafran selalu mengerti sifat Zafira tersebut. Keduanya sebisa mungkin selalu mengalah demi membuat anak perempuan itu tertawa bahagia.
"Terserah, kalau kamu tidak percaya dengan penjelasanku," Fariz mengangkat kedua bahu.
"Iya, aku tidak percaya. Kamu pasti sengaja memelukku dan seenaknya menjadikanku seperti guling. Lagi pula, siapa yang menyuruhmu tidur di dekatku? Harusnya kamu tidur di..," cerocos Zafira sambil memutar kepala ke seluruh ruangan, mencari sesuatu. Dan pandangan tertumpu pada satu tempat.
Mata pria itu mengikuti arah gerakan jari telunjuk Zafira. Dia pun kembali terkejut sembari mengerutkan kedua alis, lalu menatap Zafira penuh kebingungan.
"Mengapa kamu menyuruhku tidur di sofa? Ini tempat tidurku, jadi aku harus tidur di ranjang ini," Fariz masih mempertahankan keinginannya tidur di ranjang. Bukan tanpa alasan, sejujurnya dia ingin selalu berada di samping gadis itu. Bukankah dia membeli rumah serta ranjang ini memang dipersiapkan agar bisa tinggal dan tidur bersama Zafira?
Selama ini dia terus berkhayal, bisa tidur bersama dengan Zafira di ranjang ini. Tetapi malam ini, justru gadis yang diharapkannya tidur bersamanya di atas ranjang ini, dialah yang menyuruhnya turun dari tempat ini dan menginginkannya tidur di sofa. Benar-benar miris nasib pria itu.
"Jika kamu masih tidur satu ranjang denganku, maka kamu pasti akan mencuri kesempatan lagi. Aku tidak mau kamu seenaknya memelukku dan menjadikanku seperti guling. Aku tidak mau kejadian tadi terulang lagi," Zafira menjelaskan tujuannya menyuruh Fariz tidur di sofa.
__ADS_1
Fariz tertegun. Helaan nafasnya terdengar berat. Keduanya pun saling diam dalam beberapa menit, sampai akhirnya Fariz mengatakan sesuatu.
"Aku tahu, aku bukan laki-laki yang kamu harapkan untuk menjadi pendamping hidupmu. Tapi kamu harus tahu, meskipun kamu menolak, aku sekarang adalah suamimu," kali ini Fariz berbicara serius, terlihat kulit mukanya sedikit memerah.
Zafira melihat perubahan di raut muka sang suami yang tampak memerah di balik kulitnya yang putih. Zafira pun terdiam. Kalimat apa yang harus dia lontarkan untuk menjawab perkataan Fariz? Dia memejamkan mata sepersekian detik, mencoba mencari kalimat yang halus agar tidak menyinggung perasaan Fariz.
Meskipun dia belum bisa menerima pernikahan ini tetapi dia tetap ingin menjaga perasaan Fariz dan tidak ingin menyakiti hati sang suami dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Apapun yang terjadi di antara mereka saat ini, Fariz tetaplah sahabat yang sangat disayanginya. Dia tidak ingin menyakitinya. Mungkin dia hanya butuh waktu menumbuhkan rasa cinta di hatinya, seperti nasehat yang diberikan sang mama padanya sebelum akad nikah mereka tadi pagi. Dia selalu mengingat nasehat sang mama dan ingin menuruti perkataan mamanya untuk belajar mencintai sahabatnya itu serta menjadi istri yang baik dan patuh kepada suami. Dia ingin mewujudkan nasehat sang mama. Hanya saja dia masih memerlukan waktu untuk menata hati dan menumbuhkan benih-benih cinta untuk sang sahabat.
Situasi mereka memang sulit. Fariz yang selama ini sangat mencintai Zafira dan menginginkan gadis itu menjadi istrinya, sudah barang tentu menjadi begitu bahagia bisa menikahi Zafira dan menjadi suaminya. Namun bagaimana dengan Zafira sendiri? Dia yang selama ini telah menaruh hati dan mencintai Ronald bertahun-tahun tetapi pada akhirnya harus menikah dengan Fariz. Dia yang selama ini hanya menganggap Fariz tak lebih dari seorang sahabat dan saudara, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi seperti malam ini? Tiba-tiba menikah dan harus tidur bersama dengan sahabatnya sendiri? Jangankan untuk melakukan hubungan suami istri layaknya pengantin baru di saat malam pertama, dipeluk seperti tadi saja masih membuat Zafira merasa belum siap. Gadis itu memang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan semua situasi ini, keadaan yang terjadi di luar keinginannya.
Namun apapun yang telah terjadi pada diri dan hidupnya, mau tidak mau, siap tidak siap, dia harus menerimanya. Pernikahannya yang batal dan harus menikah dengan sahabatnya sendiri memang masih sulit dipercaya. Semuanya berubah drastis hanya dalam hitungan jam.
"Fariz, kamu juga tahu, kalau pernikahan ini keinginan keluarga kita. Mama papaku dan mama papamu yang menghendaki ini semua, bukan keinginanku. Sampai detik ini aku masih menganggapmu sahabatku, tidak lebih. Aku butuh waktu untuk menerima semua keadaan ini. Jadi aku harap kamu bisa memahami situasiku..," jelas Zafira pelan dan dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin Fariz sampai menyalah-artikan ucapannya dan menjadi tersinggung.
"Tapi kamu harus tahu, aku menginginkan pernikahan ini. Dan jujur, aku merasa bahagia bisa menikah denganmu. Sekarang hubungan kita tidak sekedar sahabat, tapi lebih dari itu, kamu sekarang adalah istriku..," Fariz menjelaskan, mencoba membuka jalan fikiran Zafira.
"Iya, aku tahu itu. Tapi jangan terlalu memaksakan kehendakmu Fariz. Aku butuh waktu untuk beradaptasi dengan keadaan ini. Aku butuh waktu untuk menerima status dan hubungan kita. Aku juga harus belajar mengikis status sahabat yang sudah melekat dalam diriku yang tidak mudah aku hilangkan dalam sekejap mata," Zafira berkata pelan, sambil menatap Fariz yang duduk tercenung.
Fariz ingin menerima dengan ikhlas setiap kata yang diucapkan Zafira tetapi hatinya tetap saja merasa kecewa mendengar penuturan jujur sang istri. Zafira telah mengungkapkan isi hatinya bahwa sesungguhnya saat ini dia belum bisa menerima status pernikahan mereka. Itu artinya Fariz harus berbesar hati untuk memahami permintaan sang istri yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan keadaan serta hubungan baru mereka.
__ADS_1
...*******...