
"Iya, aku akan melakukan itu. Secepatnya aku akan mencari calon istri dan akan segera mengenalkannya padamu," jawab Fariz asal saja. Dia juga tidak tahu istri mana yang akan diperkenalkannya pada Zafira. Berkenalan dengan gadis pun enggan, bagaimana mau memperkenalkan seorang istri kepada Zafira?
"Itu artinya kamu nanti akan melupakanku dan akan sibuk dengan istrimu?," Zafira mengungkapkan pertanyaan yang mengganjal hatinya.
Fariz mencoba memikirkan jawaban untuk pertanyaan Zafira. Dia belum menemukan jawaban yang tepat, karena dia saja tidak tahu apa yang akan dia lakukan nanti setelah Zafira benar-benar telah menikah.
Melihat Fariz hanya diam tanpa memberi jawaban apapun kepadanya, Zafira merasa semakin tidak tenang dan kembali mempertanyakan unek-unek di hatinya.
"Fariz, mengapa kamu tidak menjawab? Apa benar setelah kamu menikah nanti, kamu akan melupakanku dan akan sibuk dengan istrimu? Apa kamu masih ingat, waktu itu kamu pernah mengatakan kalau aku menikah, kamu akan pergi dari kota ini? Apa benar kamu akan pindah dari kota ini seperti perkataanmu beberapa waktu lalu? Tolong katakan, kalau semua itu tidak benar? Kamu tidak benar-benar ingin melakukan itu kan?," Zafira sengaja menyerang berbagai pertanyaan kepada Fariz dan menatap Fariz penuh selidik. Dia ingin Fariz memberikan jawaban yang jelas kepadanya dan memberi kepastian agar hatinya bisa tenang.
Fariz sempat terkejut mendengar pertanyaan Zafira. Pria itu mengerutkan kedua alis mencoba berfikir dan mengingat kembali perkataan yang pernah dia ucapkan kepada Zafira.
Setelah beberapa detik mencoba mengingat, akhirnya ingatannya pun kembali terang. Dia ingat, waktu itu pernah mengatakan kepada Zafira bahwa jika suatu hari nanti gadis itu menikah, dia akan pindah dari kota ini untuk melupakan Zafira. Dia tidak menyangka, ternyata sang gadis masih tidak melupakan ucapannya itu dan tetap mengingatnya sampai hari ini.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melupakanmu. Nanti aku dan Zafran akan meluangkan waktu untuk selalu menemuimu. Baik, sekarang aku menarik kembali ucapanku waktu itu. Aku berjanji, tidak akan pindah dari kota ini dan akan tetap berada di sini," ujar Fariz terpaksa menarik kembali kata-kata serta keinginannya untuk meninggalkan kota ini karena tidak ingin membuat Zafira bersedih.
Gadis itu pun langsung menyunggingkan senyum sumringah. Dia merasa sangat senang mendengar jawaban Fariz. Sekarang dia telah mendengar sendiri, pria itu sudah menarik kata-katanya dan berjanji tidak akan pindah dari kota ini, membuat hatinya menjadi tenang.
"Terima kasih, kamu memang sangat baik. Jangan pernah tinggalkan aku meskipun nanti aku telah menikah. Aku butuh kamu dan Zafran, karena selama ini aku sudah terbiasa dengan keberadaan kalian. Jika nanti aku ada masalah, aku pasti sangat membutuhkan kalian," ucap Zafira pelan dengan menyimpan harapan besar kepada sang sahabat untuk selalu ada di dekatnya.
"Kamu tenang saja. Aku akan selalu ada untukmu," Fariz memberi jawaban yang membuat hati Zafira semakin tenang.
Tergambar senyuman bahagia di bibir Zafira mendengar jawaban Fariz yang meyakinkan hatinya bahwa pria itu akan terus ada di dekatnya.
"Sekarang aku baru bisa tenang dan merasa bahagia menyambut hari pernikahanku. Sekarang aku lega karena kamu sudah berjanji tidak akan menjauhiku dan tidak akan pindah dari kota ini. Terima kasih, Fariz. Kamu memang sahabat terbaikku," ucap gadis itu tersenyum senang menatap sesaat pria di sampingnya kemudian kembali mengalihkan mata, memandangi air danau yang bergemercik terlempar keras karena hembusan angin yang tiba-tiba bertiup kencang.
Hembusan angin yang cukup kencang membuat Zafira refleks memejamkan mata menghirup udara di sekitarnya sambil sedikit mendongakkan kepala menikmati sentuhan angin yang menyapu wajah serta tubuhnya.
__ADS_1
Pria tampan yang berada di samping Zafira mengamati gadis yang saat ini terpejam menghirup udara sore yang menyejukkan jiwa tanpa menyadari kalau sikapnya yang seperti itu tengah ditatap lekat oleh sang pemuja abadinya.
Fariz terpana melihat kecantikan Zafira yang saat ini masih terpejam dengan kepala sedikit terdongak. Gadis itu sepertinya sangat menikmati sejuknya hembusan angin di pinggiran danau. Memperlihatkan lekuk lehernya yang putih dan jenjang. Hidung mancung. Bibir indah yang terkatup rapat. Rambut panjang tergerai di pinggang tertiup angin beterbangan ke sana kemari mengeluarkan aroma wangi hingga menusuk ke hidung Fariz. Semakin membuat hati pria itu terkesiap dan membesarkan bola mata memandangi Zafira dengan sepuasnya.
Mungkin sore ini adalah waktu terakhir dia bisa sedekat ini dengan Zafira dan bisa memandangi serta menikmati wajah cantik serta bau wangi dari tubuh itu.
"Mengapa kamu begitu cantik, Zafira? Aku tidak bisa melupakanmu. Wajahmu, matamu, bibirmu, aku tidak sanggup melupakannya. Mustahil bagiku melakukan itu. Aku tidak sanggup membayangkan semua milikmu menjadi milik laki-laki lain," batin Fariz menjadi takut, hatinya kembali rasa teriris.
Pria itu merasa disuguhkan buah simalakama. Dimakan mati Ibu, tidak dimakan mati Bapak. Dia tidak tahu, apakah harus mengikhlaskan Zafira atau tidak? Hatinya belum siap melakukan semua itu.
Hati Fariz tercabik perih. Jantungnya berdenyut nyeri, kembali rasa sakit itu menyinggahinya.
Tidak ada pilihan lain, dia harus belajar mengikhlaskan Zafira demi kebahagiaan gadis itu walau harus mengorbankan perasaannya sendiri.
Tak ingin larut dalam kesedihan yang terus menikam hati, pria itu pun tiba-tiba melepaskan tawa.
"Lucu ya kita. Dulu kita masih sama-sama kecil bermain di taman dan danau ini. Kita lomba kejar-kejaran dan main petak umpet. Tapi sebentar lagi kamu akan segera menikah. Tidak terasa, cepat sekali waktu berlalu," Fariz tertawa sambil mengusap air matanya.
Ternyata tanpa disadarinya, air bening telah menetes dari pelupuk matanya. Hatinya begitu sedih membayangkan Zafira di pelaminan bersama laki-laki lain. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya setelah melihat Zafira menjadi milik orang lain.
Taman dan danau ini menjadi saksi bahwa cintanya kepada Zafira dari dulu hingga hari ini tetap tidak pernah berubah.
Air mata yang tadi hanya mengalir di sudut mata, kini ikut menetes di pipi. Dan dengan gerakan terburu-buru Fariz menghapusnya. Beruntung Zafira tidak melihat itu karena masih asyik memejamkan mata.
Gadis itu pun kembali membuka mata sambil membenahi rambut panjangnya yang disibak angin menutupi sebagian wajahnya.
"Iya, benar-benar lucu. Waktu itu aku selalu menjadi pemenang saat kita lomba kejar-kejaran," Zafira pun ikut tertawa mengingat masa kecil mereka.
__ADS_1
Hal yang sebenarnya, bukan Zafira yang menang tetapi Zafran dan Fariz yang selalu berpura-pura mengalah demi membuat gadis itu senang.
Fariz menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Zafira yang menurutnya sangat lucu. Sampai sekarang Zafira tidak tahu kalau sebenarnya dia sengaja dibuat menang oleh saudara kembar serta sahabatnya.
Fariz melirik jam di tangannya.
"Ayo, kita pulang sekarang," ajak pria itu kemudian.
Zafira mengangguk dan mereka pun berjalan beriringan menuju mobil.
Saat keduanya telah sampai di depan mobil, seperti biasa Fariz langsung membukakan pintu mobil untuk sang gadis dan mempersilakannya masuk.
"Masuklah," perintah Fariz masih berdiri di samping pintu mobil.
Zafira menurut dan segera melangkahkan kaki memasuki mobil, namun dia mengurungkan niat masuk ke mobil dan berbalik kembali menghadap Fariz.
" Fariz, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih sudah merestui pernikahanku," ucap Zafira memegang tangan pria itu, menatapnya lekat.
Tubuh Fariz menghangat saat tangan halus itu menyentuh tangannya. Namun dia tidak ingin menatap gadis di depannya. Dia takut rasa cintanya akan semakin sulit dihilangkan jika terus menatap gadis itu.
"Iya," Fariz mengangguk tersenyum.
Zafira melepaskan genggaman tangannya dan setelah meninggalkan senyum untuk Fariz, gadis itu pun segera masuk ke dalam mobil.
Tak lama kedua mobil itu berjalan saling beriringan. Mobil Honda Civic berwarna putih berada di depan. Sementara Pajero Sports berwarna hitam mengekor di belakangnya.
Setelah Fariz mengantar Zafira hingga ke depan pintu pagar dan memastikan gadis itu selamat sampai di rumah, pria itu pun kembali melanjutkan perjalanan menuju pulang ke rumah.
__ADS_1
...*******...