
"Ada apa?," Fariz panik, segera mendekati Zafira.
Pria itu sedikit membungkuk, meneliti tubuh Zafira dari rambut hingga kaki, mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan istrinya.
Zafira pun tersentak dan baru menyadari sikap bodohnya. Refleks, dia menutupkan kedua tangan ke mulut dengan pandangan mata tertuju pada Fariz yang masih menunggu sebuah jawaban darinya. Dia menyesali kebodohannya. Bisa-bisanya dia berteriak tanpa berfikir terlebih dahulu. Mukanya menjadi merah karena merasa malu. Dia pun segera menetralkan perasaan, jangan sampai Fariz bisa membaca sesuatu yang baru saja dia fikirkan.
Bi Senah yang tengah asyik mencuci piring pun mendadak menghentikan pekerjaannya. Menatap majikannya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
"Tidak apa-apa. Tadi aku melihat ada kecoa di dekat kaki bi Senah," ucap Zafira mencari alasan, terpaksa berbohong demi menutupi rasa malu dari kedua orang di sana.
Dia menghindar cepat. Menjauhi Fariz yang sudah berdiri di dekatnya. Berjalan ke arah rak piring yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Fariz hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Zafira yang sempat membuatnya terkejut. Awalnya pria itu mengira, telah terjadi sesuatu dengan istrinya yang tiba-tiba saja berteriak histeris.
Bi Senah langsung membungkuk, melihat ke bawah, ke bagian kaki. Kepalanya celingak celinguk, matanya berputar mencari si kecoa. Tetapi dia tidak melihat apapun di sana. Tidak ada kecoa si biang keladi, yang telah membuat majikannya merasa ketakutan.
"Kecoanya tidak ada neng. Tidak ada apapun di sini," bi Senah masih memutar matanya ke seluruh lantai hingga akhirnya dia berhenti mencari karena tidak menemukan makhluk yang dia cari.
"Kecoanya sudah pergi bi. Untuk apa juga dia lama-lama di dapur ini, kalau tidak ada yang harus dia kerjakan di sini," sindir Zafira melirik pada sang suami yang masih berdiri di sana.
Fariz langsung tersenyum. Dia tahu kalau istrinya sedang menyindir dirinya. Pria itu pun berbalik menggoda Zafira dengan tujuan membuatnya semakin kesal.
"Kecoanya suka dengan aroma wangi bi. Mungkin di dapur ini ada aroma wangi, makanya dia menyusul ke sini. Kemana pun aroma wangi itu pergi, kecoa itu pasti akan mengikutinya. Bila perlu, dia langsung akan menggigitnya sampai ke dalam-dalamnya," Fariz mengerling mengamati gurat muka Zafira yang seketika tampak berubah.
__ADS_1
Zafira tersentak mendengar perkataan Fariz. Apalagi kalimat terakhir. Membuatnya kembali membayangkan sesuatu yang berbeda. Gadis itu mengerutkan mata dan memejamkannya. Kini kembali otaknya berhalusinasi ke hal-hal yang entah kapan akan terjadi. Dia membayangkan Fariz menyentuh, mengecup lalu menggigit lehernya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Dia pun langsung merinding dan sontak menyentuh leher, mengusap-usapnya berulang kali.
"Iiih," Zafira mendelikkan mata, menatap tajam pada Fariz yang masih mengerling padanya. Tatapan, senyuman bahkan perkataan Fariz berhasil membuatnya kesal.
"Aduh, mas Fariz. Dimana-mana kecoa itu tidak menyukai aroma wangi. Mereka biasa hidup di tempat-tempat yang kotor," celetuk bi Senah tidak mengerti.
"Kecoa satu ini berbeda bi. Dia suka yang wangi-wangi," Fariz tersenyum kembali melirik Zafira yang masih berdiri dengan tatapan tajam padanya.
Bi Senah tidak mengerti kecoa apa yang dimaksud Fariz. Dia tidak terlalu pintar menela'ah pembicaraan orang-orang kaya. Sehingga membuatnya hanya bisa memutar mata mencari tahu sendiri kecoa apa sebenarnya yang dimaksud Fariz. Sudahlah, daripada pusing-pusing memikirkan kecoa, mending melanjutkan pekerjaan saja. Fikir bi Senah.
Untuk beberapa detik ketiganya pun terdiam. Zafira membuang pandangan dari pria yang masih saja melirik ke arahnya. Bi Senah kembali berkutat dengan pekerjaannya, membersihkan beberapa sisa cucian piring. Sampai akhirnya Zafira kembali membuka obrolan.
"Oh ya bi, sarapan untuk Fariz pagi ini, biar aku saja yang membuatnya. Mulai hari ini aku yang akan bertugas memasakkan makanan untuk Fariz. Bi Senah bertugas untuk memasakkan mang Karman. Tapi kalau bi Senah mau, nanti sekalian aku saja yang memasakkan menu makanan untuk kita semua. Bi Senah bertugas membantuku di dapur sampai selesai," ujar Zafira sambil membuka pintu rak piring kemudian mengambil dua buah gelas dari dalamnya.
Fariz terbengong, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja disampaikan Zafira. Dia kian kagum dengan kepribadian gadis itu. Dan perasaan cinta semakin besar tumbuh di hatinya. Tidak salah dia memilih dan sangat menginginkan Zafira menjadi istrinya. Meskipun belum ada cinta di hati gadis itu untuk dirinya, tetapi dia tetap tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri untuk selalu melayani dan memprioritaskan suaminya.
Tidak hanya pelayanan serta perhatian Zafira yang membuat Fariz semakin cinta, namun kepribadian Zafira pun telah memikat hatinya. Dengan para pekerjanya pun gadis itu sangat perhatian. Dia bahkan tidak keberatan untuk memasakkan para pekerjanya. Dimana-mana pelayan yang memasakkan majikan, tetapi di rumah ini, majikan yang justru menawarkan diri untuk memasakkan pekerja di rumahnya.
Bagi Fariz, menikahi Zafira merupakan suatu keberuntungan dalam hidupnya. Selain memang dia sangat mencintai Zafira, banyak kelebihan lain pada diri gadis itu. Baik, perhatian, rendah hati, cantik serta pintar, yang takkan Fariz temukan pada diri gadis lain.
"Waah baik sekali neng Zafira. Beruntung mas Fariz mendapat istri sebaik neng. Selain cantik, baik, neng Zafira juga ramah. Sekarang mas Fariz sudah tidak membutuhkan bibi lagi untuk memasakkan makanan. Mas Fariz sudah memiliki neng Zafira, koki paling cantik sedunia. Masakannya juga pasti sangat enak," puji bi Senah sambil terus sibuk mencuci piring. Mulutnya berbicara, tangannya bekerja. Itulah bi Senah. Lincah dan cekatan dalam menyelesaikan semua pekerjaan, yang merupakan nilai plus di mata Fariz, membuatnya merasa puas menjadikan bi Senah sebagai pekerja di rumahnya.
Senyuman Fariz semakin lebar mendengar kalimat jujur bi Senah. Dia membenarkan dan tidak menampik semua perkataan wanita itu. Matanya pun terus berputar mengikuti gerak tubuh sang istri yang berjalan dari rak piring menuju dispenser. Pria itu sepertinya tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati wajah cantik Zafira.
__ADS_1
"Bi Senah bisa saja memuji," ucap Zafira tersenyum kecil sambil menuangkan air ke dalam gelas.
"Benar neng, bibi bicara kenyataan. Tapi neng, bibi masak sendiri saja neng untuk mang Karman. Soalnya tadi malam mas Fariz mengatakan pada bibi, di rumah ini akan ditambah satu orang security dan pelayan untuk membersihkan rumah. Jadi biar bibi saja yang memasakkan makanan untuk mereka," tolak bi Senah halus.
Sebenarnya bi Senah sangat senang mendapat tawaran dari Zafira tetapi sebagai pelayan yang punya rasa malu, dia tidak mau merepotkan majikannya harus memasakkan makanan untuk dirinya bahkan suaminya.
""Oh, baiklah bi. Terserah bibi saja. Tapi sewaktu-waktu, aku akan tetap memasakkan makanan untuk kalian. Jadi bibi tidak perlu sungkan ya..," Zafira tetap ingin menawarkan masakannya pada bi Senah dan pekerja lainnya.
"Baik neng, terima kasih banyak. Tidak salah mas Fariz menjadikan neng sebagai istri. Baik dan cantik. ck, ck, ck," ulang bi Senah berdecak kagum menyelesaikan cucian piring sambil membalikkan badan menatap Zafira yang baru selesai mengambil air dari dispenser.
Zafira dan bi Senah baru beberapa jam lalu bertemu dan berkenalan saat kumpul keluarga tadi malam. Tetapi mereka sudah tampak sangat akrab. Seperti sudah berpuluh tahun saling mengenal. Iya, karena sifat Zafira yang ramah dan selalu membaur dengan para pekerja di rumah maupun di kantor. Jadi tidak sulit baginya meng-akrabkan diri dengan bi Senah.
Baginya tidak ada perbedaan status dalam kehidupan sehari-harinya. Baik ras, agama, kedudukan, semua sama. Sang mama selalu mengajarkan dan menekankan, semua orang sama. Tidak ada yang kaya atau pun yang miskin. Tidak ada yang cantik, tampan atau pun yang jelek. Akan tetap sama di hadapan sang Pencipta.
Tidak salah jika Zafira tumbuh menjadi gadis yang sedikit banyaknya menuruni sifat sang mama, karena dia pun dididik dengan baik oleh wanita cantik yang telah melahirkannya itu. Dan beruntung, Zafira merupakan anak yang masih menjunjung tinggi didikan orang tua dan selalu berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
"Sama-sama bi. Sekarang aku penghuni baru di rumah ini. Jadi bibi akan menjadi temanku," ucapnya tersenyum menoleh sesaat kepada bi Senah, sambil berjalan ke meja makan membawa dua gelas air, yang masih saja ada ekor di belakangnya yang terus mengikutinya. Sang suami.
"Baik, terima kasih neng Zafira," ucap bi Senah menatap kepergian Zafira yang telah meninggalkan dapur yang disusul oleh pria tampan di belakangnya.
Wanita itu masih saja berdecak kagum seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sangat jarang bisa menemukan majikan seperti Zafira. Tidak hanya cantik tetapi juga sangat baik. Dia merasa beruntung bisa dipekerjakan di rumah ini, dengan kedua majikan yang sama baiknya.
Awalnya dia berfikir, Fariz adalah satu-satunya seorang majikan di kota Jakarta, kota yang paling besar di Indonesia, yang memiliki sifat baik dan perhatian. Rupanya masih ada satu orang lagi yang memiliki sifat yang sama dengan Fariz, yakni istrinya sendiri. Sungguh besar Kuasa Allah telah mempertemukan dan mempersatukan kedua orang baik itu.
__ADS_1
Wanita itu benar-benar sangat beruntung. Dia akan semakin betah tinggal di rumah besar ini. Jika perlu anak cucunya kelak akan dipekerjakan kepada kedua majikannya ini juga. Bi Senah tersenyum bahagia lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
...*******...