Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
08 - PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

Hai BESTie-BESTie-ku🫰


Makasih buat kalian yang masih setia ngasih Like, Komen dan hadiah😚


Makasih juga buat kalian yang setiap hari aku peratiin ngasih banyak banget tontonan iklan. Luar biasa support kalian🙏


*****


Zafira berdiri terpaku menatap kepergian Fariz hingga pria itu hilang dari balik pintu resto, ada rasa sesal menyelinap di hati gadis belia itu karena telah menyuruh sahabatnya pergi.


Baru sekitar Dua menit Fariz meninggalkan resto, tiba-tiba handphone Ronald kembali berdering.


Zafira dan Ronald saling berpandangan dan Ronald segera mengambil benda canggih itu di dalam saku celana yang masih berdering kemudian melihat ke layar handphone.


"Siapa itu? Mama kamu lagi?," Zafira bertanya curiga.


"Bik Suti, pekerja di rumah omaku," jawab Ronald memberitahu.


Kali ini si pembasket itu berkata dengan jujur, karena di layar handphone nya tertera nama "Bik Suti".


"Sini, aku yang angkat!," Zafira mulai protektif pada Ronald.


Ronald tidak bisa menolak, dia memberikan benda kecil yang masih berdering itu kepada Zafira.


Zafira langsung mengambil handphone itu, menekan tombol angkat, lalu menekan tombol Loudspeaker.


"Bicaralah!," Zafira berkata dengan berbisik, mengembalikan handphone kepada Ronald.


Ronald menurut, dia mengambil handphone itu lalu mulai membuka pembicaraan dengan sang mama.


"Hallo bik Suti?,"


"Hallo mas Ronald, mas Ronald dimana?," suara bik Suti menanyakan keberadaan cucu majikannya.


"Aku sedang di mall, ada apa bik Suti meneleponku?," Ronald menanyakan perihal bik Suti meneleponnya.


"Mas Ronald, lambung oma kambuh lagi, persediaan obat sisa sedikit. Oma menyuruh bibik menelepon mas Ronald dan meminta mas Ronald ke apotik Kimia Farma sekarang juga. Tolong belikan obat magh yang biasa mas belikan, mas Ronald sudah tahu kan nama obatnya?," terdengar suara di seberang berkata panjang lebar.


"Iya bik, aku sudah tahu nama obatnya, aku segera ke apotik sekarang, katakan pada oma, tunggu sebentar, aku akan segera ke rumah oma," jawab Ronald cepat, lalu mematikan sambungan.


"Zafira, maaf ya aku tidak bisa mengantarmu pulang, kamu naik taxi saja, tidak apa-apa kan?," Ronald bertanya dengan sangat hati-hati, takut gadis itu akan marah karena menyuruhnya pulang menggunakan taxi.


Namun di luar dugaan, gadis itu tidak keberatan dengan permintaan Ronald.


"Iya, tidak apa-apa, aku mengerti, aku bisa naik taxi. Kamu pergilah sekarang, kasihan oma kamu butuh obat," ujar Zafira dengan penuh pengertian yang menuruni sifat mamanya, Laras. Tanpa marah sedikit pun, Zafira berbesar hati menyuruh Ronald secepatnya pergi ke apotik dan rela pulang menggunakan taxi.


"Makasih Zafira, kamu memang sangat baik, selalu mengerti kondisi orang lain, itu yang membuatku sangat tertarik padamu," puji Ronald menggenggam tangan halus Zafira.


Namun Zafira dengan sopan, menarik pelan tangannya dari genggaman Ronald.


"Ya sudah, pergilah, oma kamu menunggumu," suruh Zafira.

__ADS_1


"Baik, aku pulang dulu, kamu hati-hati di jalan ya, nanti aku akan meneleponmu," ujar Ronald segera berlalu dari hadapan Zafira dengan sedikit berlari keluar dari resto.


Zafira mengangguk seraya mengantar kepergian Ronald dengan kedua ekor mata sampai si pembasket itu hilang di balik pintu resto.


Zafira mengambil tas serta paper bag yang berisi seragam sekolah yang ada di atas meja lalu berjalan keluar dari resto.


Saat telah keluar resto dan kakinya mulai menapaki eskalator, Zafira tiba-tiba memikirkan keberadaan Fariz, kemana sahabatnya itu? Apakah masih berada di mall atau sudah pulang ke rumah?


"Fariz, kamu dimana? Kamu pasti marah padaku," bisik hati Zafira menyesal.


Zafira terus mengayunkan kaki dengan fikiran yang berkecamuk memikirkan Fariz. Dan kini gadis itu telah sampai di lobby mall.


Hati Zafira tertegun. Perasaaan senang mengalir dalam hatinya saat mata gadis itu menemukan sesuatu di depannya yang berjarak sekitar Delapan meter dari tempatnya berdiri.


Dari kejauhan, mata Zafira menangkap sosok yang sedang duduk di kursi tunggu yang tersedia di lobby.


Terlihat Fariz sedang duduk sambil menatap kosong ke depan mengamati pengunjung mall yang berlalu lalang di depannya.


Zafira dengan langkah panjang mendekati sang sahabat. Tampak Fariz sedang melamun. Buktinya saat Zafira telah berdiri di depannya, pria itu sama sekali tidak menyadarinya. Zafira tahu, pasti Fariz masih memikirkan ucapannya tadi. Gadis itu menjadi merasa sangat bersalah kepada sahabatnya.


"Fariz," panggil Zafira yang telah berdiri di hadapan sang sahabat.


Fariz yang tidak melihat kehadiran Zafira seketika terkejut. Kepalanya terdongak menatap pada wajah di atasnya, namun tidak ada kata yang meluncur dari bibir Fariz. Dia kembali menatap ke depan tanpa mempedulikan kehadiran Zafira.


Zafira duduk di kursi tepat di sebelah Fariz yang kebetulan masih kosong.


"Kamu belum pulang?," Zafira bertanya sambil menoleh ke arah samping dimana Fariz duduk.


"Fariz.., kamu dengar aku kan?," Zafira menggoyangkan bahu sahabatnya.


Tidak ada respon. Fariz seakan tuli.


"Kamu jahat, aku panggil tidak menjawab," sungut Zafira merengek.


Fariz tetap tidak bergeming dan tidak mempedulikan rengekan Zafira. Dia masih teringat dengan ucapan Zafira di resto tadi yang baginya sudah sungguh keterlaluan, menyuruhnya pergi, memilih ingin pulang bersama Ronald, bahkan sampai mengancam tidak ingin berteman dengannya lagi.


Fariz beranjak dari kursi kemudian berlalu meninggalkan Zafira yang masih duduk. Pria itu keluar dari lobby mall dan dengan langkah cepat berjalan menuju parkiran motor.


Fariz sengaja mempercepat langkah dengan tujuan supaya Zafira tidak mengikutinya. Namun keinginannya meleset, justru Zafira tidak tinggal diam, segera mengejar sang sahabat yang sedang marah padanya.


"Fariz tunggu!," Zafira terus mengekor di belakang Fariz namun si sahabat tetap tidak menggubris panggilan Zafira.


Zafira akhirnya berhenti memanggil Fariz, tetapi dia tetap tidak berhenti mengikuti langkah Fariz dari belakang.


Zafira mempercepat langkah dengan sedikit berlari mensejajari langkah Fariz kemudian menghadang jalan sang sahabat.


Fariz menghentikan langkah, melirik sekilas pada gadis yang berdiri di depannya, kemudian membuang pandangan pada orang-orang yang berseliweran di samping mereka.


"Fariz, mengapa kamu berjalan cepat sekali? Aku lelah mengejarmu," tanya Zafira masih berdiri tegak di depan Fariz.


Fariz masih diam, menggeser langkah ke samping kemudian kembali melanjutkan langkah.

__ADS_1


Zafira menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Fariz yang sulit diajak berbaikan. Gadis itu akhirnya diam, dan dia terus mengikuti Fariz menuju ke tempat parkir.


Beberapa menit saling beriringan serta berdiam diri, akhirnya mereka sampai di parkiran motor.


Fariz berjalan mendekati motornya dan hendak menaiki motor merah itu namun dengan cepat tangan Zafira menarik lengan Fariz.


"Minggir sini!," Zafira menarik tangan Fariz ke samping agar tidak menghalangi para pengunjung mall yang akan mengambil motor.


"Maafkan aku..," ucap Zafira mengatupkan kedua tangan di depan dada.


Wajahnya tampak memelas, menatap penuh harap pada Fariz.


Fariz melirik sejenak mengamati wajah Zafira yang di matanya memang selalu terlihat cantik.


"Ayo jawab.., kamu mau kan memaafkan aku? Tolong maafkan aku, aku memang salah sudah menyuruhmu pergi, tapi aku menyesal..," ucap Zafira masih dengan raut wajah penuh penyesalan.


Baik di bibir dan di dalam lubuk hati, Zafira memang sangat menyesal telah memperlakukan Fariz seperti tadi. Fariz berniat baik namun dia justru mengecewakannya. Dan hati Zafira takkan bisa tenang pulang ke rumah sebelum mendapat maaf dari sahabat yang sudah seperti saudaranya.


"Ayolah Fariz.., maafkan aku," ucap Zafira tanpa sungkan meraih tangan Fariz lalu menggenggamnya.


Zafira yang tampak biasa saja, namun berbeda dengan Fariz. Fariz mendadak tercekat, rasanya dia kehilangan keseimbangan tubuh saat tangan halus Zafira tiba-tiba menggenggam tangannya.


Fariz terlihat menelan saliva dan berusaha menenangkan perasaannya.


Selama persahabatan mereka yang telah berjalan puluhan tahun, baru kali ini Zafira menggenggam erat tangannya.


"I-iya.., aku memaafkanmu..," ucap Fariz terbata.


"Alhamdulillah, terima kasih ya, kamu memang baik..," Zafira semakin erat menggenggam tangan Fariz yang tampak mulai berkeringat.


Fariz seketika menghentakkan genggaman tangan Zafira, bukan karena dia masih marah pada Zafira tetapi dia tidak mau Zafira sampai merasakan tangannya yang mulai gemetar.


"Ya sudah, aku mau pulang. Kamu pulang naik apa? Ronald tidak mengantarmu?," tanya Fariz berusaha menetralkan suasana hati.


"Ronald pulang duluan, oma-nya menyuruh dia membeli obat," jelas Zafira.


"Oh begitu, terus.., kamu pulang naik apa? Dijemput mas Mardi?," Fariz kembali bertanya dengan rasa khawatir, karena tidak mungkin dia meninggalkan Zafira sendirian di parkiran motor.


"Tidak, aku pulang naik taxi saja. Kasihan merepotkan mas Mardi harus menjemputku di sini,"


"Baiklah, kalau begitu ikut aku saja," ujar Fariz menawarkan.


"Memangnya kamu membawa helm untukku?," Zafira mengarahkan pandangan mengamati motor Fariz tetapi dia hanya menemukan satu helm yang berada di atas jok motor.


"Tidak, tapi nanti kita beli saja di toko helm," jelas Fariz santai.


"Tidak mau!," Zafira menjawab cepat.


"Aku tidak mau ikut denganmu. Berbahaya naik motor tidak menggunakan helm. Kalau mama papa sampai tahu, aku pasti akan dimarahi. Lagi pula kalau ada polisi yang melihat kita, kita pasti akan ditilang," tolak Zafira menolak tawaran Fariz.


"Percaya padaku. Insya Allah tidak akan terjadi apapun dengan kita. Mama papamu juga tidak akan tahu. Toko helm-nya tidak jauh, paling Lima belas menit dari sini. Nanti kita jalannya minggir-minggir saja. Dari sini ke toko helm juga tidak ada lampu merah, jadi perjalanan kita akan aman," Fariz menenangkan kecemasan Zafira.

__ADS_1


...******...


__ADS_2