Ternyata Ada Cinta

Ternyata Ada Cinta
55 - MENJEMPUT FARIZ


__ADS_3

Hai, aku mau nyolek kak @Pisces97 bentar ya... Dan ngucapin makasih udah rajin ngasih Like, Komen, bintang 5 serta ngasih tips "Koin Pisau"


Sehat selalu untukmu dan juga untuk semua pendukung di novel ini 🤲❤️


*****


"Eh iya ya, aku yang salah, lari di tengah jalan. Tapi apapun itu, aku mau minta tolong padamu. Tolong antarkan aku ke rumah sahabatku, tidak jauh dari sini," tunjuk Zafran meluruskan tangan menunjuk ke arah rumah Fariz.


"Mengapa aku yang harus mengantarmu? Kamu bisa jalan kaki ke sana," gadis itu masih mencoba menolak.


"Tolong jangan berdebat. Waktuku sudah tidak cukup. Aku harus segera sampai ke rumah sahabatku. Tolong antarkan aku sekarang. Ini urgent!," pinta Zafran memelas, dengan nada serius, karena dia baru melihat jam di tangan dan baru sadar jika waktu telah hampir menunjukkan pukul delapan.


Gadis cantik itu melihat kepanikan di wajah Zafran. Dia merasa tidak tega menolak permintaan seseorang yang membutuhkan bantuannya. Meski pun dia tidak mengenal Zafran, tetapi saat pria itu meminta bantuan, hatinya tidak tega untuk mengatakan "tidak".


Tanpa berfikir lebih lama, gadis itu pun menganggukkan kepala.


"Baiklah, aku akan mengantarmu. Ayo cepat naik!," gadis itu pun segera membalikkan tubuh.


"Terima kasih," senyum Zafran mengembang merasa senang karena memiliki sedikit waktu untuk menahan gadis itu agar lebih lama berada di dekatnya. Selain itu, dia juga bisa cepat sampai ke rumah Fariz dan membawa sahabatnya itu untuk menjadi pengantin pengganti bagi adiknya.


Tidak salah jika Zafran menyukai gadis itu saat pandangan pertama. Selain wajahnya yang memang cantik, hatinya pun tidak kalah cantik dengan fisiknya. Di kota metropolitan seperti Jakarta, sangat sulit menjumpai gadis cantik, kaya, modis, namun masih mau meluangkan waktu serta tenaga untuk membantu sesamanya.


Gadis itu pun segera masuk ke pintu kemudi, disusul Zafran masuk di pintu samping. Satu detik kemudian, mobil pun segera melesat menuju kediaman Fariz.


"Gadis ini baik sekali. Wajahnya juga sangat cantik," batin Zafran setelah berada di dalam mobil sambil mencuri pandang gadis yang sedang menyetir di sampingnya.


Tidak sampai lima menit mobil itu sudah sampai di depan pekarangan rumah orang tua Fariz.


Gadis itu mematikan mesin mobil, menunggu Zafran membuka pintu dan keluar dari mobil. Tetapi sudah satu menit berjalan, tidak ada tanda-tanda pria itu akan keluar dari mobil.


"Mengapa kamu belum keluar?," tanyanya menoleh ke samping, mengamati Zafran yang masih memegang jas di pangkuannya.


"Kamu harus ikut denganku," Zafran menjawab sejujurnya.


"Apa?," kembali gadis itu merasa terkejut membulatkan mulut, mendengar permintaan Zafran yang menurutnya semakin aneh.

__ADS_1


"Mengapa aku harus ikut denganmu? Kamu ini pria yang aneh. Kita saja tidak kenal, tapi kamu sudah ingin mengajakku ke tempat yang aku tidak tahu," gadis itu enggan memenuhi permintaan Zafran. Diberi hati, minta jantung.


Zafran secepat kilat mengulurkan tangan ke arah gadis itu.


"Zafran. Iya, namaku Zafran. Namamu siapa?," tanpa ragu-ragu memperkenalkan diri dengan senyuman yang dibuat setampan mungkin demi memikat hati gadis cantik itu.


Gadis itu tidak menyambut uluran tangan Zafran. Hanya matanya melirik memperhatikan tangan pria itu yang dengan penuh semangat terulur kepadanya. Kedua alisnya berkerut, menatap bingung dengan tingkah Zafran yang menurutnya sejak tadi terlihat selalu aneh.


"Hei, mengapa kamu tidak menyambut salam perkenalanku? Kamu akan berdosa kalau menolak seseorang yang ingin menjalin silaturahmi denganmu," Zafran sedikit memberi ceramah membuat gadis itu menggelengkan kepala, namun di sudut hati, dia juga merasa terhibur dengan kelakuan Zafran yang sok akrab itu.


Gadis itu pun tersenyum mengulurkan tangan menyambut perkenalan Zafran.


"Alluna," jawabnya singkat, langsung melepaskan genggaman dari tangan Zafran.


"Masya Allah, nama yang cantik secantik wajahnya," refleks Zafran tak sengaja bergumam yang suara gumaman itu terdengar di telinga Alluna.


"Apa yang kamu katakan?," Alluna mencoba bertanya.


"Ah tidak, lupakan saja!," Fariz menjadi malu sendiri harus memuji gadis yang baru saja bertemu dengannya.


"Baiklah. Tugasku sudah selesai. Sekarang silakan turun. Aku mau pergi," ujar Alluna kemudian.


"Memangnya kamu mau kemana pagi-pagi seperti ini?," hati Zafran tergerak ingin mengetahui tujuan gadis itu.


"Hari ini aku sengaja tidak masuk bekerja, ingin melihat nenekku di rumah tante,"


"Tidak bisa. Kamu harus menemaniku dulu masuk ke rumah sahabatku. Setelah itu, kamu baru boleh pergi. Aku sangat memerlukan bantuanmu. Kamu tahu tidak? Sahabatku itu sedang patah hati karena ditinggal menikah oleh adikku. Untung saja sebelum Ijab Qabul, aku berhasil membatalkan pernikahan adikku dengan calon suaminya dan mengusir pira kotor itu dari rumah. Jadi aku ke sini ingin menjemput sahabatku dan membawanya ke rumah. Aku dan keluargaku memintanya menikah dengan adikku, sebagai pengantin pengganti untuk adikku," jelas Zafran panjang lebar sambil terus mengambil kesempatan memandangi wajah cantik yang duduk di sebelahnya.


Entah mengapa juga Zafran menceritakan semua ini kepada gadis yang baru saja ditemuinya. Namun dia tidak dapat membohongi perasaannya, kalau dia sudah merasa sangat percaya kepada gadis di sampingnya itu, seakan mereka telah lama bertemu. Terasa seperti sudah saling mengenal bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun lamanya.


"Haahh??," mulut Alluna mendadak terbuka lebar mendengar penjelasan Zafran, yang sudah seperti cerita di novel-novel atau berita-berita di stasiun televisi.


Gadis itu sering menonton berita televisi serta membaca novel yang banyak menceritakan sebuah pernikahan batal di detik-detik prosesi ijab qabul. Entah itu dikarenakan calon mempelai memiliki idaman lain, entah itu lari dengan kekasihnya dan banyak alasan-alasan lain yang membuat batalnya pernikahan.


Bahkan yang lebih tragis, calon mempelai meninggal di beberapa hari menjelang pernikahan. Entah dikarenakan sakit atau pun kecelakaan. Begitulah yang diketahui Alluna tentang alasan batalnya sebuah pernikahan. Apa yang dilihatnya di televisi atau yang dibacanya di novel, menurutnya hal yang masuk akal, karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki.

__ADS_1


Tetapi dia tidak menyangka dan luar biasa baginya, kali ini cerita itu terjadi di depan matanya.


"Apa benar yang baru saja kudengar? Ini kisah di novel atau memang kisah nyata? Seorang gadis batal menikah di detik-detik Ijab Qabul dan calon mempelai pria digantikan oleh pria lain? Aku merasa masuk ke dalam dunia novel," gadis itu memasang ekspresi muka melongo, menatap tidak percaya pada pria yang telah menyampaikan berita mengejutkan baginya.


"Ini bukan cerita novel. Ini terjadi dalam keluargaku. Sang mempelai wanita, dia adikku. Dia adalah saudara kembarku," Zafran menjelaskan lebih detail untuk meyakinkan gadis yang masih berkutat dengan rasa tidak percayanya dengan cerita yang baru saja didengarnya.


"Haaahh?," kembali gadis itu tercengang, mulutnya entah sudah ke berapa kali membentuk bulatan O. Mengapa setiap yang disampaikan Zafran selalu membuatnya merasa terkejut.


"Kamu memiliki saudara kembar? Benarkah itu?," tanyanya kemudian, sedikit memanjangkan leher mendekati wajah pria itu, mengamatinya dengan lekat di setiap inci yang terpahat di muka kokoh itu.


Ternyata pria tampan di depannya ini memiliki saudara kembar. Dia semakin penasaran dengan wajah saudara kembar Zafran. Di benaknya, pastilah saudara kembarnya itu sangat cantik, sama seperti kakaknya yang memiliki wajah rupawan.


"Kakaknya saja setampan ini, pasti adiknya juga sangat cantik. Itu artinya kedua orang tuanya juga cantik dan tampan. Hmm, mengapa aku semakin penasaran dengan keluarga pria ini," bisik hati gadis itu sambil terus memutar mata menyapu bersih wajah pria yang duduk kikuk di depannya.


Zafran menjadi gugup karena wajah Alluna terlalu dekat mengitari wajahnya seakan ingin menciumnya, dengan bola mata terus berputar, seakan mencari sesuatu di sana.


Alluna menyadari dan mengerti kegugupan yang tercermin di wajah Zafran. Dia pun segera menarik kepalanya kembali menjauhi pria itu.


Rasa penasaran dan ingin tahu yang begitu besar membuat gadis itu tertarik untuk mengikuti kisah cinta adik Zafran yang batal menikah.


"Baiklah, aku akan menemanimu," akhirnya Alluna mengambil keputusan untuk ikut Zafran masuk ke dalam rumah Fariz.


"Yeesss!!," refleks Zafran mengepalkan genggaman merasa senang mendengar jawaban sang gadis. Jawaban inilah yang dari tadi dinantikan pria itu.


Alluna menoleh cepat pada pria di sampingnya. Dia merasa heran melihat tingkah Zafran yang tampak kegirangan, namun malas untuk terlalu banyak bertanya.


Dan tanpa menunggu lebih lama, gadis itu pun keluar dari mobil, disusul Zafran yang terus tersenyum sumringah dengan membawa jas di tangannya.


Keduanya dengan langkah pelan masuk ke dalam kamar Fariz. Mengapa Alluna se-gila itu? Dengan mudahnya mau mengikuti langkah Zafran? Dia tidak mengenal Zafran, baru bertemu beberapa menit lalu. Tetapi dia telah mengambil keputusan gila mau menemani pria itu masuk ke rumah orang yang tidak dikenal.


Bagaimana jika pria yang baru dikenalnya itu membawanya masuk ke kamar lalu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan? Misalnya merampas keperawanannya, setelah itu melakukan sesuatu yang lebih tragis yaitu memutilasi dan membunuhnya?


Namun semua praduga buruk itu sama sekali tidak terlintas di benak sang gadis. Alluna memiliki keyakinan yang begitu kuat dalam hati tentang pria itu. Dengan menilik wajah Zafran yang apa adanya, tenang, bijak serta terlihat terdidik, gadis itu yakin, jika Zafran adalah laki-laki yang baik dan tidak mungkin akan mencelakainya. Alasan itulah yang membuatnya berani mengikuti langkah pria itu memasuki sebuah kamar. Tepatnya kamar laki-laki. Dasar Alluna, otaknya sudah mulai gila sepertinya.


...*******...

__ADS_1


__ADS_2